
"yang romantis apa yang biasa??"
tanya Rangga cengengesan. ia tau bahwa kakak sepupunya tidak mau bau romantis romantisan.
"awas kamu ya."
Juna pun ikut cengengesan.
Rangga menjelaskan jadwal kerja Juna setelah selesai ia pun pamit berlalu dari ruangan Juna untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"aku harus cepet cepet selesaikan kerjaannya supaya aku bisa ketemu Malik."
gumam Juna semangat.
ia pun menyelesaikan pekerjaannya hingga malam tiba Juna baru keluar dari kantor perusahaannya. sampai rumah ia melihat sosok yang sangat ia kenal berdiri di pintu gerbang rumahnya. Juna menurunkan kaca pintu mobilnya.
"mau ngapain kamu kesini La. dari mana kamu tau rumah ku.??"
tanya juna dingin masih didalam mobil.
"aku kan kangen kamu kak Jun. masak gak boleh. dari sore loh aku berdiri disini capek tau."
jawab Ella dengan nada manja.
"salah kamu sendiri ngapain kerumah laki laki. aku gak peduli sama kamu La."
ucap Juna tegas. lalu ia mengklason mobilnya untuk dibukakan pintu gerbang dan masuk tanpa memperdulikan Ella diluar gerbang.
"pak Yanto kalau perempuan itu datang lagi jangan pernah hiraukan dia pak. jangan sampai dia masuk kedalam rumah. saya tidak mau."
perintah juna pada security rumahnya saat menghentikan mobilnya.mobil juna berhenti setelah gerbang ditutup kembali oleh pak Yanto
"baik tuan."
jawab pak Yanto.
juna pun melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"pak buka pintunya dong pak aku pacarnya kak Juna."
Ella mendobrak dobrak pintu gerbang rumah juna.
"lebih baik kamu pergi sekarang."
usir pak Yanto security Juna dengan tegas.
"awas kamu ya kalau aku sudah jadi nyonya dirumah ini aku jamin kamu akan aku pecat."
ancam Ella pada security dengan penuh keyakinan.
"gak usah mimpi. lebih baik kamu pergi dari sini daripada buang buang waktu tidak jelas."
ucap pak Yanto mencemooh.
"awas kamu ya."
ancam Ella lalu pergi dari kediaman Juna.
"udah capek capek aku kesini tapi gak ada hasil. kesel aku. tapi rumahnya gede banget kaya gitu berarti emang kak Juna kaya raya. aku gak akan melepaskan kamu kak. gak akan."
gumam Ella.
**
dikamar Naya gulang guling tidak jelas.
"hahh aku gak bisa tidur. gimana mau tidur orang kerjaannya makan tidur makan tidur doang. pagi tidur. apa lagi siang. dan sekarang aku harus tidur lagi. ya allah. bisa encok punggung aku kebanyakan tidur. gak bisa tidur."
Naya bergerutu sendiri.
tok tok tok.
"mbak belum tidur kan??"
"panggil Ridwan.
"ya bentar wan."
Naya bangkit dari atas ranjang membukakan pintu untuk adiknya.
"ada apa Wan??"
tanya Naya setelah pintu kamar dibuka.
"mbak ada martabak tu dari mas Rizky dateng kesini sama anak istrinya."
Ridwan memberi tahu.
"ya sudah ayo keluar. capek juga tiduran mulu."
jawab Naya menuju ruang tamu bertemu anak dan istri kakaknya.
"mas mbak."
sapa Naya pada kakak dan kakak iparnya. lalu duduk di kursi yang kosong.
"Nay katanya kamu hamil lagi Nay.??"
tanya mbak Nulu kakak ipar Naya isti Rizky.
"alhamdulillah iya mbak hehehe."
jawab Naya cengengesan.
"Farel kangen gak sama bulik?? udah besar ya mbak Farel."
Naya mengelus elus rambut keponakannya sambil bicara sama Lulu.
"iya dek alhamdulillah udah sekolah PAUD bulik."
jawab mbak Lulu memberitahu Naya. lulu sengaja memanggil dengan sebutan bulik agar anaknya terbiasa dengan panggilan saudaranya.
"pinter ya ponaan bulik hehehe."
Naya mencubit pipi keponakannya dengan gemas.
"bulik sakit tau??"
adu Farel.
Naya hanya tertawa menanggapi keponakannya.
"om Wan Wan kapan mau punya adik om. bulik saja sudah mau punya adik. kok om belum punya"
celetuk Farel. yang lain tertawa mendengar perkataan Farel.
"makanya nikah biar punya adik. iya gak Rel."
Naya meminta pembelaan dari Farel keponakannya.
"kapan kamu mau nikah Wan.?? nanti keburu semakin tua Wan."
Rizki menasehati.
"mau mas jodohin??"
Rizky menawarkan.
"gak usah mas. lagian aku juga sudah punya calon kok."
jawab Ridwan.
"mbak perawat itu ya Wan??"
celetuk Naya cengengesan.
"sok tau."
__ADS_1
Ridwan sewot.
"kalau iya tinggal bilang iya. kalau gak ya sudah kenalin kesini. gak usah pake sewot."
Naya cemberut.
"duh kalau bukan kakak ku sendiri udah aku lempar lu kelaut. untung kakak kandungku sendiri. dari mana dia tau kalau aku lagi deketin tu perawat. peka banget si ni orang. tumben biasanya juga tulalit. dapet hidayah dari peramal kali ya. makanya peka."
guman Ridwan dalam hati.
"mala melamun Wan benar gak yang dibilang mbakmu??"
tanya bapak Naya.
"gak melamun kok pak hehehe."
Ridwan cengengesan.
"gimana Wan udah ada calon belum. apa mau dijodohin aja.??"
tawar mas Rizky.
"ehmm gimana bilang nya ya bingung aku."
ucap Ridwan ragu.
"kenapa harus ragu nak. ibu tidak akan melarang kok. ibu akan setuju dengan pilihan kamu. asalkan kamu bahagia itu udah cukup nak."
ibu Naya memberi semangat.
"itu bu ya aku lagi deketin perawat yang waktu itu bu."
Ridwan malu malu.
huaaa hahahahaha.
Naya tertawa terbahak bahak.
"husss kamu itu dek. jangan gitu. kasian adikmu."
Rizky menasehati Naya.
"iya iya maaf."
Naya terdiam.
"tumben kamu peka Nay kalau adikmu lagi ngejar perawat itu. biasanya cuek cuek aja."
bapak Naya heran.
"iya nih mbak. biasanya juga tulalit."
Ridwan menanggapi.
"yee emang kamu pikir bakalan jadi tulalit terus. gimana sih. ada kalanya dong peka."
jawab Naya tidak terima.
"jadi beneran kamu lagi deketin mbak perawat itu wan. padahal mbak bercanda lohhh. terus terus mbak perawatnya itu mau sama kamu?? apa kamu ditolak?? terus terus namanya siapa orang mana. mau jadi istrimu??"
cerocos naya semangat.
"kamu itu ya Nay kebiasaan tanya itu satu satu biar gak bingung adikmu."
ibu Naya menegur. naya hanya cengengesan mendengar teguran ibunya.
"ya abis aku penasaran bu??"
Naya cemberut.
"ya ya bu aku juga penasaran sama kaya Naya."
jawab Rizky yang dianggukin Lulu istrinya.
"kalian itu sama saja. hehehe."
"jadi gimana Wan kapan mau bawa kesini kenalin bapak ibu??"
tanya bapak Naya tidak mau mengulur waktu.
he'em he'em.
jawab semua orang penasaran dengan tanggapan Ridwan.
"kapan ya pak soalnya belum bilang sih sama anaknya. Ridwan juga bingung pak. Ketemu aja cuma sekali setelah kepulangan mbak naya. masak mau langsung main lamar lamaran. gak enak dong pak."
jawab ridwan jujur.
"jangan lama lama keburu diserobot orang Wan. kamu kan tau dia cantik. kalau kejadian baru nyesel kamu."
Naya memberitahu.
"iya iya bener lebih cepat lebih baik."
Rizky setuju.
"ya nanti deh aku ngasih tau dia. maunya kapan."
ucap Ridwan
"secepetnya.
ucap Naya cepat. dianggukan semua orang.
"hey bumil gak usah banyak ngoceh makan tu martabak lalu merem udah malem."
Ridwan sewot.
"asiappp hehehe.
Naya cengengesan.
"kesel aku. untuk kakakku."
ucap Ridwan gemes.
hahahahahaha.
Naya hanya tertawa mendengar ocehan Ridwan. Naya tau walaupun Ridwan sering kesal tapi ia tau bahwa adiknya orang baik dan penyayang.
"kamu itu dek tertawanya terlalu lepas. hihihi."
celetuk Lulu menjawil pundak naya.
"abis lucu mbak."
Naya menanggapi.
"iya juga sih. hihihi. udah ahh kasian Ridwannya dibully mulu. hehehe."
Lulu cengengesan. dan mereka menikmati martabak yang dibawakan Rizky sambil mengobrol ringan. sesekali naya mengajak main keponakannya.
selesai mengobrol Rizky dan anak istrinya pamit untuk pulang karna sudah jam 22.10 malam.
"bu pak pulang dulu ya."
pamit Rizky mencium punggung tangan kedua orang tuanya. diikuti istrinya.
"mbah uti mbah kung Farel pulang dulu ya mbah."
ucap Farel dengan menggemaskan membuat mbah putri dan kakungnya menciumi dan mencubit pipinya karna saking gemasnya.
" bulik Farel pulang dulu ya??"
pamit Farel.
"iya sayang. hati hati ya. sekolah yang pinter."
__ADS_1
nasehat Naya. menciumi pipi keponakannya dengan gemas.
"iya bulik."
jawab Farel cengengesan. lalu ia berahli ke Ridawan.
"om wan wan pamit ya om. jangan lupa bawa buliknya om. biar aku punya bulik lagi dan adik lagi."
celetuk Farel dengan gaya anak kecil.
semua tertawa dengan tingkah Farel yang selalu meledek Ridwan.
"kalau bukan ponakan udah aku pites kamu Rel."
gumam Ridwan.
"iya sayang doain ya buliknya mau jadi bulik kamu nanti."
balas Ridwan cengengesan.
"mbak pulang dulu ya Nay??"
pamit Lulu kakak ipar Naya.
"ya mbak hati hati dijalan. kalau udah sampai ngabarin ya mbak."
jawab Naya.
"ok boss."
Lulu menanggapi adik iparnya.
"pulang Wan jangan lupa ngabarin kalau calonmu diajak kesini ya??"
Rizky memperingati adiknya.
"asiappp hehehe."
Ridwan cengengesan.
keluarga kecil Rizky pun berlalu setelah pamit kepada keluarganya.
Naya dan keluarganya pun masuk kedalam rumah setelah Rizky dan anak istrinya berlalu dari rumahnya.
"Nay Ryan gak telepon nak??"
tanya ibu Naya setelah mengunci pintu rumah.
"gak bu kan baru beberapa hari berlayar. belum mendarat bu. nanti juga kalau sudah sampai darat langsung ngabarin bu."
jawab naya.
"iya kalau tidak dicuci otaknya sama emaknya itu insyallah masih baik baik saja. semoga suamimu tidak amnesia ya Nay??"
ucap ibu Naya menyindir sebal teringat menantunya selalu percaya pada orang tuanya dan selalu menuduh anaknya perempuannya.
"ibu kok ngomongnya gitu sih bu. gak asik tau gak."
protes Naya.
"ibu kesel sama suamimu itu nay yang tidak pernah mau mendengarkan penjelasan istrinya. kamu gak tau kan kalau mertuamu itu sampai sekarang masih menggosipkanmu hamil anak orang lain. ibu takut suamimu percaya dengan perkataan orang tuanya Nay. kamu juga tau sendiri mertuamu itu seperti apa?? "
ibu Naya memberitahu.
"bu boleh jujur tidak??"
tanya Naya.
"ya boleh lah masak jujur tidak boleh. mau ngomong apa??"
ibu Naya tanya balik
"sebenarnya aku juga bingung dan takut dengan kehamilan ini bu. takut mas Ryan tidak percaya kalau aku hamil anaknya. ibu tau juga kan kalau ibu mas Ryan seperti apa. sebenarnya aku kurang setuju untuk hamil sekarang. tapi mas Ryan tidak membiarkanku ikut KB bu. jadilah aku hamil. sebenarnya kalau mas Ryan tetap percaya aku dan tidak gampang terpengaruh ibunya pasti rumah tangga kami akan baik baik saja bu. iya kan."
keluhan Naya.
"iya kalau suamimu tidak labilun mbak. tapi kenyataanya dia masih labilun lebih suka percaya dan nurut ibunya ketimbang percaya dan mendengar istrinya."
Ridwan tiba tiba muncul dan ikut duduk bersama ibu dan kakaknya.
"apa sih wan ikut nimbrung aja. kepooo."
ucap Naya kesal.
"apa mentang mentang aku belum nikah terus dikira aku tidak tau apa apa. gitu mbak??"
tanya Ridwan.
"siapa yang mikirnya kesitu. kamu tu ya sok tau banget deh."
Naya kesel.
"mbak pokoknya ya kalau mbak masih disakitin mas Ryan aku akan kasih dia pelajaran. aku bener bener gak rela mbak terus disakitin terus menerus."
ucap Ridwan tegas.
Naya hanya diam saja bingung harus jawab apa.
"sudah sudah tidak usah urusin rumah tangva Naya. yang penting kita berdoa saja semoga semuanya baik baik saja. Naya kamu harus istirahat jangan banyak begadang. dan kamu Wan istirahat besok berangkat kerja."
ibu Naya menyuruh anak anaknya untuk istirahat.
"iya bu."
jawab Ridwan dan Naya bersamaan. seperti anak TK yang nenurut dengan gurunya. lalu bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar masing masing.
"sms kak Juna gak ya?? tapi malam malam gini gak enak. pasti sudah istirahat capek kerja seharian. kata mas Gagas kan kak Juna orang sibuk. ya sudah lah bubuk aja. besok aja smsnya."
gumam naya.
"bikin story ah baru merem."
ucap Naya sambil mengetik diaplikasi hijaunya untuk membuat story.
[ met bubux]
selesai membuat story Naya pun memejamkan matanya dan terlelap.
Juna yang selesai menelepon temannya pun iseng membuka story diponselnya. dan melihat story Naya diponsel dan membalasnya. berharap naya belum tertidur dan bisa saling balas membalas lewat chatingan.
{met bubux juga my sunshine semoga mimpi imdah}
lalu mengirimkannya ke Naya
tapi sayang Juna menunggu 1 jam balasan dari Naya tak kunjung datang.
"kamu itu bener bener suka PHP in orang ya Nay. orang nunggu sampai sejam tapi kamu gak balas juga. mungkin juga kamu sudah tidur sih. emang akunya mungkin yang bodoh."
Juna tersenyum kecut. akhirnya Juna pun memutuskan untuk menuju ke alam mimpi.
***
keesokan pagi nya setelah Naya selesai membantu pekerjaan orang tuanya. ia pun membuka ponselnya untuk iseng iseng melihat story teman temannya. saat membuka aplikasi hijaunya naya menemukan Lulu dan Juna mengirim pesan ia pun membuka pesan satu satu.
{dek mbak udah sampai rumah ya. bilang ibu mbak pulang dengan selamat.}
{iya mbak alhamdulillah.} balasan untuk Lulu.
isi pesan dari Lulu kakak iparnya.
ia pun membuka pesan dari Juna.
{met bubux juga my sunshine semoga mimpi indah}
{maaf kak baru bales soalnya tadi malem langsung tidur setelah bikin story. kakak yang semangat ya kerjanya} tak lupa memasang emoji memelas dan tersenyum. lalu mengirimkannya ke Juna.
Juna yang sedang sarapan seorang diri karna memang Juna tinggal sendirian dirumah semewah ini. matanya teralihkan melihat ponselnya nyala sebuah pesan masuk. ia pun bergegas mengambil dan membuka pesan tersebut
__ADS_1