
Juna memperingati kedua adiknya agar memberi waktu untuk Naya dan temannya untuk duduk disatu barisan dan kedua adiknyw pun ngengangguk kecewa
"kak katanya kakak mau nikah?? sama siapa?? apa sama pak bos?? beneran dia udah nyatain perasaannya kekakak??"
Shifa membrodong banyak pertanyaan pada Naya karna penasaran Aryo sempat cerita ingin menyatakan perasaannya dan menjadikan ibu sambung Lintang walaupun Shifa yang sebenarnya naksir Aryo diam diam pun akhirnya menerima keputusan sang bos dengan pilihannya
"kamu kayak kereta api panjang banget pertanyaanya satu satu kenapa Fa??"
protes Naya cengengesan
"aku kan kepo kak??"
Shifa memonyongkan bibirnya dibalik cadarnya kekepoannya sudah meronta ronta
"kakak memang akan menikah tapi sama calon kakak yang dulu Fa bukan sama tuan Aryo, kakak ketahuan akhirnya disuruh pulang kami akan langsung melaksanakan akad nikah saja tanpa menundanya seperti dulu"
Naya memberitahu sekarang Lintang sudah mau duduk sendiri disebelah Naya setelah beberapa kali dibujuk tapi tangan Lintang tidak mau lepas dari tangan Naya masih takut Naya meninggalkannya
"kakak sih percaya aja primbon jaman dulu, yang namanya hari itu semuanya baik kak apa lagi dengan niatan baik, terus gimana dengan ini"
tanya Shifa kepalanya menunjuk ke Lintang yang duduk ditengah diantara Naya dan Shifa
"ya begitulah Fa, nanti pelan pelan saja Fa jangan langsung dilepas kasian dia takutnya trauma"
Naya menjelaskan Shifa mengangguk paham
tidak lama pesawat mereka pun lepas landas menuju bandara Jakarta
**
tidak lain dari pesawat pribadi yang berada di bandara Semarang bapak Juna dan keluarganya sudah stand bay berada didalam pesawat dan menunggu keluarga Naya dan keluarga Bagas tidak lama setelah turun dari mobil mereka langsung masuk kedalam pesawat yang disambut bapak Juna
"selamat siang pak bu?? mari silahkan langsung masuk"
ajak bapak Juna dengan ramah sang pramugari pun dengan sigap langsung mengarahkan mereka untuk duduk masing masih dengan sopan dan ramah
"Wan ini gak akan jatuh kan Wan??"
ibu Naya takut ia tidak pernah sekali pun naik pesawat terbang ia hanya melihatnya ditelevisi dan sekarang ia merasakannya sendiri menaiki pesawat rasanya nano nano
"ibu gak usah norak deh bu masak kayak gini doang ibu udah ketakutan sih??"
protes Ridwan kesal ibunya yang kelihatan orang kampung tidak pernah naik pesawat
"rasanya gimana gitu ya Wan, ibu cuma takut jatuh aja Wan"
ibu Naya memberitahu
"ya bu berdoa saja semoga selamat dan lancar sampai bertemu mbak Naya dan kembali lagi"
Ridwan mengingatkan ibu Naya pun mengangguk mengerti
di kursi yang lain pasangan yang sudah menikah enam bulan yang lalu masih seperti pengantin baru ditambah dengan kehamilan Intan yang sekarang berusia 3 bulan lebih membuat Bagas selalu memanjakannya
"aku gak sabar mas ingin mukul Naya habisnya main ngilang seenak jidat saja tanganku udah gatel"
celetuk Intan tidak sabaran
"sabar sayang mas gak mau ya kamu kenapa napa"
Bagas mengingatkan
"badanmu sudah bengkak aja gitu gak usah macam macam biar ibi saj yang balaskan untukmu Tan"
ibu Bagas menimpali ia duduk bersama Bagas dan Intan sekarang badan Intan sudah mulai melar akibat kehamilannya yang tidak bisa dikontrol nafsu makannya sejak hamil yang Intan rasakan hanya makan dan makan
"hehehe gak seru dong bu kalau ibu yang wakilin Intan lagi ngidam bu ingin mukulin Naya??"
kilah Intan cengengesan
"alasan kamu aja Tan mana ada ngidam mau mukulin orang yang ada kualat, nanti kita keroyok bareng bareng saja anak nakal itu ibu juga gemes dengannya membuat anak kesayangan ibu yang satu menderita"
ucap ibu Bagas
"aku bu maksudnya??"
__ADS_1
tanya Bagas tangannya menunjuk wajah sendiri
"Juna kan juga anak kesayangan ibu selain kamu Gas gak usah cembeuru kamu sudah punya Intan"
celetuk ibu Bagas Intan terkekeh mendengar ucapan ibu mertuanya
setelah menempuh perlanan kurang lebih 2 jam akhirnya pesawat yang Juna tumpangi sampai dibandara Jakarta dan langsung dijemput dua mobil dan langsung menuju masjid terbesar dan termegah diindonesia yaitu masjid Istiqlal yang terletak di Jakarta pusat tersebut setelah kesepakatan bersama Juna dan papanya untuk akad beberapa jam kedepan
pesawat Malik sudah sampai terlebih dahulu dan sudah berada dimasjid Malik sedang takjud dengan kemegahan masjid tersebut ia dijaga orang suruhannya Juna tersebut
"pak ini masjidnya besar banget ya pak Masyallah indah sekali"
ucap Malik memuji ciptaan allah ia berkeliling ditemani dua orang penjaganya
sang penjaga hanya mengangguk tersenyum
tidak lama mobil yang ditumpangi Aryo dan Juna pun sampai diparkiran masjid
"kak kok kesini??"
tanya Naya heran
"kita akan menikah disini Nay sesuai keinginan kamu yang menginginkan menikah dimasjid "
jawab Juna menatap Naya yang sekarang memilih memakai cadar tersebut
"semuanya sudah kakak siapkan sayang jangan khawatirkan semuanya"
lanjut Juna ia tidak ingin calon istrinya berpusing pusing ria
"sayang apa kamu tidak ingin melihat Malik??"
tanya Juna menatap lekat wajah Naya ia benar benar sangat mencintainya
Naya yang awalnya hanya melihat kedepan melihat sekeliling pun menoleh dan mata mereka bertemu satu sama lain
"Malik ada didalam menunggumu Nay, dia sangat merindukanmu sangat merindukan uminya"
ucap Juna lagi memberitahu anaknya ia tau Naya juga sangat merindukan buah hatinya Naya melepaskan gandengan tangan Lintang ia pun langsung berlari menuju dimana anaknya berada Juna mengikutinya dibelakang Naya dan yang lainnya Lintang yang menangis karna lepas dari genggaman Naya pun langsung diambil alih oleh Shifa ia tau hati Naya sahabatnya sangat merindukan anaknya Lintang yang belum mengerti apapun yang tidak ingin jauh dari Naya
"Malik"
teriak Naya saat melihat anaknya yang sedang duduk bersilah dengan tangan menengadah seperti sedang berdoa
Malik yang mendengar suara sang bundanya pun menoleh dan bangkit mereka berlari dan memeluk satu sama lain menumpahkan rasa rindu yang selama ini terpendam
mereka menangis bersama
Juna dan yang lainnya pun ikut meneteskan air matanya penuh hari walaupun berpisah beberapa bulan saja tapi bagi mereka berasa bertahun tahun
tidak lain dengan Sukma dan Stela mereka berdua terisak melihat ibu dan anak tersebut perihal mereka yang tau kisah mereka berdua
"umi pulang, Malik kangen umi"
ucap Malik setelah melepaskan pelukannya
"maafkan umi ya Malik, umi minta maaf"
Naya menyesali perbuatannya tidak bisa dipungkiri selama Naya meninggalkannya yang selalu ia pikirkan ialah Malik anak satu satunya selain Juna kekasih hatinya
"yang penting umi jangan pergi lagi ya??jangan tinggalin Malik lagi ya umi?? Malik sayang umi "
Malik menghapus air mata Naya dengan tangannya sendiri Naya mengangguk disela isakan tangisnya
"umi sekarang Malik sudah kelas dua loh umi, sebentar lagi akan semester doakan Malik dapat nilai bagus ya mi??"
lanjut Malik lagi
saat tangisan Naya sudah agak mereda Naya memperkenalkan Malik dengan Lintang
"Malik umi punya temen baru loh namanya Lintang gadis kecil yang cantik dan imut "
ucap Naya menggandeng tangan putranya Lintang yang melihat Naya menghampirinya pun minta diturunkan dari gendongan Shifa dan menghampiri mereka berdua ia sudah tau yang bersama baby sisternya adalah Malik yang ia sering lihat diponsel baby sisternya
"mbak Rani itu kak Malik kan??"
__ADS_1
tanya Lintang memastikan
Naya mengangguk tersenyum dibalik cadarnya
"halo kak Malik aku Lintang mbak Rani sering cerita tentang kamu loh?? kamu ganteng ya ternyata"
ucap Lintang dengan polosnya ia mencium punggung Malik karna Malik lebih tua lima tahun darinya Naya yang mengajarinya agar sopan dengan orang yang lebih tua darinya
"umi nemu anak dari mana?? kok comelnya sama kayak umi sih??"
protes Malik garuk garuk kepalanya yang tidak gatal
heran dengan uminya semua orang disekeliling ibunya semua karakternya mirip dengan sang ibu termasuk Stela yang ia temui
mereka semua terkekeh mendenngar ucapan Malik
Naya hanya nyengir kuda
"kak Malik biarkan mbak Rani tinggal barsamaku ya kalau kak Malik kangen dengannya tinggal datang saja dan kita main bersama ya ya ya??"
Lintang memehon dengan wajah memelas yang diimut imutkan agar Malik mengalah
" mbak Rani siapa lagi ini kok mbak Rani sih??"
Malik tidak mengerti apa yang dimaksud Lintang ia hanya menggerutu sendiri tidak jelas
"sayang mbak Rani itu umi, umi kerja dirumah Lintang memakai nama Rani bukan Naya kan nama umi Inayah Maharani jadi umi pake nama Rani nya biar gak ketahuan"
Naya menjelaskan dengan jujur agar anaknya mengerti
"benar Yah??"
tanya Malik pada Juna ia minta penjelasan dari calon ayah sambungnya tersebut
Juna mengangguk ia jongkok agar sejajar dengan Malik dan Lintang
"iya sayang makanya ayah susah mencari keberadaan umimu ayah tidak kepikiran nama panjang umi kamu dan berubah penampilan, maafkan ayah ya nak ayah terlalu bodoh"
sesal Juna memang tidak terpikirkan semua itu bahwa Naya hanya akan menggunakan nama belakangnya saja mengubah penampilannya saja
"ayah memang bodoh kebodohan ayah karna terlalu nenyayangi umi makanya ayah tidak kepikiran sampai kesitu, kenapa ayah cinta banget sama umi, umi itu cerewetnya minta ampun galak lagi suka sembrono, kok mau sih apa tidak ada wanita lain selain umi yah??"
ucap Malik tanpa dosa heran dengan Juna yang begitu setia menunggu uminya
Juna hanya terkekeh dengan ucapan Malik begitu dengan yang lain yang menyembunyikan tawanya agar tidak keluar
"heee anak tak ada akhlak ngatain uminya cerewet gini gini yang lahirin kamu tau, mau umi masukin kembali keperut"
ancam Naya sewot ia kesal dengan anak kandungnya sendiri yang buka aibnya
"jangan dimasukin dong mbak Rani kasian kak Maliknya yang ganteng ini aku kan mau jadi istrinya kelak nanti kita menikah ya kak Malik"
celetuk Lintang dengan polosnya ia bicara sesuai isi hatinya sambil berkedip kedip ke Malik
"whattt"
Naya terkejut begitupun dengan yang lainnya juga ikut terkejut mendengar ocehan Lintang yang menurutnya sangat lucu anak sekecil Lintang mengerti orang dewasa
"ini lagi anak kencur belum bisa cebok sendiri udah ngomong nikah nikahan aja gimana sih"
gerutu Naya heran
Malik yang mendengar merinding
"apaan sih masih kecil juga, belajar yang benar dulu dek Lintang nikahnya nanti saja kalau sudah gede udah bisa bahagiain mama papamu ya?? baru menikah"
Malik menasehati Lintang ia tidak tau bahwa orang tua Lintang sudah berpisah seperti orang tuanya
"aku kan gak punya mama kak Malik mbak Rani kayaknya gak mau jadi mamaku ya sudah aku cari mama lain lagi yang penting mbak Rani tetap bersamaku ya kak Malik pliss"
Lintang memohon
"enak saja ini umiku, jadi dia harus bersamaku"
Malik tidak mau kalah akhirnya mereka berdua berdebat memperebutkan Naya hingga keluarga Naya dan Bagas datang menghampirinyanya
__ADS_1