Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
istirahat selamanya


__ADS_3

Juna dan Bagas tersenyum melihat Ridwan


"sudah pulang Wan sana makan dulu"


ucap ibu Naya.


"ya bu"


Ridwan menurut.


"bu tadi aku kayaknya lihat mertua mbak Naya dikampung sini deh bu"


Ridwan memberitahu.


"iya tadi mampir kesini Wan bilang suruh ngaktifin hp mbakmu katanya Ryan gak bisa nelpon"


ibu Naya menjelaskan


"ohh"


Ridwan mengangguk


"gak cari gara gara kan bu??"


tanya Ridwan penuh selidik.


kedua orang tuanya hanya mengangkat bahu mereka tanda tidak tau


"sudah sana makan tidak usah ngurusin orang biarkan mbakmu yang menyelesaikan masalahnya sendiri selagi bisa"


ibu Naya memperingati.


"ya ya bu selagi gak bikin mbak kesayanganku kejer gak akan aku ngamuk bu"


ucap Ridwan pasti.


"aku masuk ya "


pamit Ridwan berlalu menuju ruang makan untuk mengisi perutnya.


ceklek


pintu kamar mandi terbuka Tata selesai mandi


"Wan udah pulang??"


sapa Tata selesai dari kamar mandi.


"iya mbak ini mau makan, mbak sudah makan belum?? monggo makan mbak??"


ucap Ridwan mengambil nasi dan lauk


"mbak udah makan tadi Wan, silahkan makan"


jawab Tata berlalu menuju kamar Naya.


ceklek pintu kamar Naya dibuka Tata dari luar


"kenapa hpnya cuma dipegang doang gitu"


tanya Tata heran melihat sahabatnya hanya memegam ponselnya bingung entah akan diapakan.


"kakak bingung Ta mau diaktifin gak ya diaktifin pasti ribut lagi dengan mas Ryan gak diaktifin entar emaknya kesini lagi. males kakak"


Naya mengadu


"rumah tangga yang rumit, maju salah mundur celaka"


gumam Tata masih terdengar jelas ditelinga Naya.


"pusing aku kak dengan rumah tanggamu, mas Ryan juga kenapa gak bisa ambil sikap selesain lah masalah sendiri jangan dikit dikit emaknya yang maju kalau gak bisa dihubungi, apa dia gak mikir kalau kakak juga butuh ketenangan dan berfikir dulu masak gak bisa dihubungi dikit emaknya nyamperin lucu kali lah kak suamimu itu, nemu dimana sih suami modelan kayak gitu gemes aku"


cerocos Tata.


Naya hanya mendengarkan ocehan temannya.


"Ta aku pratiin kayaknya kamu lama lama kayak aku ya cerewet"


celetuk Naya cengengesan


"hello kak aku tu lagi serius kamu mala cengengesan kayak gitu, kamu gak setres kan kak dengan masalah yang sedang menimpamu"


tanya Tata penasaran penuh lelidik, ia khawatir dengan keadaan temannya yang sedang hamil sedang ditimpa masalah rumah tangganya.


"kamu pikir kakak udah gak waras, kakak cuma stres aja tapi gak sampe gila, disisiku ada keluargaku kamu mas Bagas dan kak Juna yang selalu melindungiku, kakak akan selalu kuat Ta kamu jangan khawatir gitu ah"


Naya menenangkan


"ya abisnya rumah tanggamu masih diombang amibing begitu tapi masih sempat cengengesan kan bikin takut aja tau gak"


keluh Tata


"udah lah kakak gak akan kenapa napa kok kamu tenang aja ya jangan terlalu khawatir"


Naya masih menenangkan


"terus itu hp mau diapain??"


tanya Tata penasaran


"mungkin aku nyalain aja kali ya daripada entar emaknya kesini lagi bikin nyengol malas aku dengarnya"


jawab Naya


"terus kenapa gak dinyalain??"


tanya tata lagi.


"entar aja deh Ta nanti berisik kalau sekarang, masih ada kak Juna dan mas Bagas juga kan gak enak tau"


Naya memberitahu.


"terserah kakak aja deh gimananya"


jawab Tata


Naya hanya mengangguk tanda mengerti.


tak lama azdan magrib berkumandang Juna Bagas Ridwan dan Bapaknya melaksanakan sholat magrib berjamaah di mushola kampung sedangkan Tata Naya dan ibunya melaksanakan sholat dirumah

__ADS_1


selesai sholat magrib mereka pamit pulang kerumah masing masing, sedangkan Juna menunggu sopir menjemputnya


Naya masih berdiam diri dikamarnya daripada menemani Juna diluar takut menimbulkan fitna.


Juna ditemani Ridwan dan kedua orang tuanya mengobrol sambil menunggu sopir datang menjemputnya.


Naya menunggu Juna pulang baru menyalahkan ponselnya untuk pertengkaran kesekian kalinya bersama suaminya


"duh kenapa kak Juna gak pulang pulang, kalau aku nyalain nih hp pasti mas Ryan langsung ngajak ribut apa lagi ibunya tadi kesini lihat kak Juna dan Bagas bisa berabe aku"


Naya bicara pada diri sendiri.


tin tin


suara klakson mobil berbunyi yang diartikan mobil jemputan Juna telah tiba.


Naya langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri Juna untuk pamitan.


"mobil kakak udah datang??"


tanya Naya tersenyum


Juna hanya mengangguk membalas senyuman Naya


"pak bu Wan saya pamit terima kasih sudah mau menerima saya main kesini"


ucap Juna sopan


"sama sama nak bapak juga terima kasih kamu mau mampir kerumah sederhana ini"


jawab bapak Naya.


"Nay kakak pulang ya"


pamit Juna.


Naya hanya tersenyum mengangguk


Juna pun masuk kemobil dan berlalu dari kediaman keluarga Naya


Naya dan keluarga masuk kerumah kembali setelah mobil Juna menghilang dari pandangannya


tiba tiba mertua Naya kembali datang


"Naya kenapa belum diakrifin hp mu Ryan daritadi telponin kamu belum aktif aktif ibu disuruh kesini capek tau"


cerocos ibu Ryan.


Naya dan keluarganya yang masih diambang pintu pun akhirnya berhenti dan menoleh kesumber suara.


" masuk dulu bu, ini mau Naya nyalain hpnya, soalnya tadi batrenya loubaets jadi cas dulu"


Naya berbohong sebenarnya Naya menunggu tamu pulang biar tidak mendengar pertengkaran mereka


"gak usah, ya sudah kalau gitu ibu pulang sekarang"


ibu Ryan pun berlalu tanpa mengucap salam.


Naya dan keluarga bernafas lega melihat kepergian besannya.


"kebiasaan gak ngucap salam langsung nyelonong aja selesai menghilang gitu aja heran aku"


"maaf bu"


sesal Ridwan lalu masuk kedalam rumah. Naya pun ikut masuk kekamarnya menyalakan ponselnya yang dari kemarin ia matikan.


ceklek ceklek


Naya mengunci pintu kamarnya yang membuat semua orang khawatir dan menunggunya diluar kamar penuh was was


"bu mau diketuk aja apa bu"


ucap Ridwan khawatir.


"gak usah Wan kita tunggu disini saja lihat Nanti bagaimana mbak mu mungkin dia butuh ketenangan Wan"


bapak memberi saran


Ridawan dan ibunya hanya bisa mengangguk pasrah dengan saran ayahnya.


Naya yang didalam kamar mulai menyalan ponselnya dengan menarik nafas dan membuangnya, ia siap menghadapi semua pedebatan dengan suaminya hari ini.


saat ia ponselnya menyala ia melihat ratusan panggilan dan ratusan pesan dari suaminya.


"tuh kan kalau dia tidak bisa memaki lewat telpon pasti akan beralih lewat pesan, sungguh sakit melihat semua pesanmu mas"


ucap Naya berderai air mata membaca semua pesan yang dikirim dari suaminya.


"mau sampai kapan kamu seperti ini Nay, bercerai bagaimana dengan Malik pasti sulit menerimanya, Malik masih terlalu kecil untuk mengetahui orangtuanya berpisah bertahan sangat sakit untukku menerima semua perilakumu yang tidak penah berubah, judulnya pergi sulit bertahan sakit dong"


Naya cengengesan meratapi nasibnya masih dengan air mata mengalir dipipi mulusnya.


ia hanya menatap ponselnya tanpa melakukan tindakan apapun Naya pasrah dengan rumah tangganya sekarang akan seperti apa.


tak lama ponselnya berdering panggilan dari suaminya,


Naya dengan malas mengangkat panggilannya.


"assalamualaikum"


Naya mengucap salam dengan lemas.


"waalaikum salam Nay kenapa ponselmu mati kamu gak tau aku berulang ulang kali meneleponmu sampai ibu datang kerumahmu mau sampai kapan kamu seperti ini Nay?? mau sampai kapan kamu lari dari masalah hahh"


ucap Ryan menggebu gebu diseberang telepon Naya hanya mendengarkan dalam tangisannya.


"Naya kamu dengar aku kan??"


Ryan berteriak ditelepon karna tidak mendapat jawaban dari istrinya. Naya hanya diam menangis tanpa suara.


"Nay gugurkan kandunganmu aku tidak mau anak yang bukan darah dagingku, kalau kamu gugurkan kandungamu aku masih mau menerimamu jadi istriku Nay, aku akan memaafkanmu yang telah menghianatiku Nay, aku akan menerima semuanya seperti dulu Nay, kita hidup bahagia seperti dulu, ya sayang, aku sangat mencintaimu Nay, tolonggg aku masih sangat menyayangimu Nay"


cerocos Ryan membujuk Naya.


Naya masih diam membisu dalam tangisannya mendengarkan semua perkataan suaminya.


"Nayyy sayangggg kamu dengar mas kan Nay"


Ryan masih membujuk.

__ADS_1


tak lama Naya pun buka suara. ia menghela nafas agar dirinya bisa bicara


"mas dengarkan aku baik baik mas, aku tidak pernah berselingkuh darimu mas dan anak ini adalah anakmu bukan anak orang lain, kalau kamu memang tidak mau mengakui anak ini silahkan. aku akan membesarkannya sendiri bukankah kamu dulu pernah memperlakukanku seperti ini juga saat hamil malik, jadi terserah kamu sekarang aku membebaskanmu mas, silahkan ceraikan aku secepatnya karna aku capek menjadi istrimu mas aku ingin istirahat selamanya jadi istrimu. kamu tau kan maksudku jadi tolong pikirkan lagi semuanya, assalamualaikum"


ucap Naya panjang lebar lalu mematikan ponselnya sepihak.


Naya menangis terseduh seduh tidak menyangka suaminya tega menyuruh menggugurkan darah dagingnya.


yang diluar sangat mengkhawatirkan keadaan Naya yang tak kunjung keluar dari kamarnya yang terdengar hanya suara tangisan Naya dari dalam.


"bu apa aku dobrak saja ya bu pintunya kok aku jadi was was sama mbak Naya"


Ridwan sangat khawatir.


"biarkan mbakmu tenang dulu Wan, biarkan dia menumpahkan semua kesedihannya Wan mbakmu butuh ketenangan"


bapak masih kukuh membiarkan Naya menyendiri.


"tapi pak ibu juga khawatir dengan keadaannya pak Naya anak kita pak"


ibu Naya ikut membujuk sambil menangis mengkhawatirkan anak perempuannya.


"ibu tenang ya semua ini kan pernah terjadi sebelumnya bu waktu hamil Malik, bapak yakin Naya bisa menyelesaikannya bu, biarkan Naya tenang dulu ya Naya pasti baik baik saja Naya punya kita dia pasti kuat bu"


bapak masih meyakinkan.


mereka menunggu Naya sampai dua jam diluar tampa bergerak sedikit pun


**


dirumah Juna masih memikirkan perkataan mertua Naya yang blak blakan.


"bagaimana dengan keadaannya sekarang apakah dia baik baik saja kamu harus baik baik saja Nay aku sangat mengkhawatirkanmu Nay tapi aku juga tidak bisa apa apa aku harus bagaimana sekarang"


gumam Juna dalam kesepian.


ia berusaha terlelap memejamkan mata agar tidak memikirkan pujaan hatinya dan bertindak nekat lagi.


"lebih baik aku kasih tau ibu bahwa aku sudah sampai disini dari tadi pagi, daripada aku nanti dinyanyiin lagu nina bobok"


gumamnya lagi lalu mengambil ponsel dimeja dan menghubungi orang tuanya.


panggilan terhubung.


"assalamualaikum anak ibu yang durhaka baru kasih kabar sekarang ya kalau ibu tidak dikasih tau mamamu mungkin ibu tidak akan tau keberadaamu dasar anak nakal dari mana aja kamu seharian ini tidak kerumah ibu dan kasih tau"


cerocos ibu Juna diseberang telepon.


Juna yang mendengarkan pun menjauhkan ponselnya dari telinga karna ibunya berteriak teriak ditelepon.


"waalaikum salam, maafkan anakmu yang durhaka ini ibu suri, maaf tadi keasyikan bercanda tawa dengan Bagas Tata dan Naya dan berlanjut numpang makan dirumah Naya dan baru saja pulang ibu suri ku yang cantik jelita"


Juna merayu ibunya agar tidak naik lagi tensi darahnya.


"ohh bagus ya kamu mala main kerumah istri orang bukannya pulang kerumah ibu surimu ini, hahh mau ibu kutuk kamu kayak malin kundang hahh, dasar anak nakal kamu, cepetan kamu kesini sekarang juga"


ibu Juna masih berteriak menyuruh anaknya berkunjung.


"ampun ibu suri sekarang sudah malam, Juna mau istirahat saja mau ngapain juga Juna kesana sekarang Juna sudah makan dan kenyang bu"


kilah Juna agak takut mendengar teriakan ibunya diseberang telepon.


"mau ibu kutuk sekarang kesini cepetan titik"


ibu Juna mematikan teleponnya.


"waduhhh emakku ngamuk, bisa gawat ini kalau gak dituruti lebih baik aku kesana sekarang juga"


gumam Juna takut kalau ibunya sudah mengeluarkan taringya sudah kelar hidup Juna akan dinyanyikan lagu dari indonesia raya sampai nina bobok.


Juna bergegas mengambil kunci mobil dan berlari menuju parkiran mobil dan berlalu menuju rumah ibunya yang berada di kaliwungu.


tak lama Juna menempuh perjalanan menuju runah ibunya dan akhirnya sampai.


ia langsung masuk kerumah ibunya.


"assalamualaikum bu"


ucap Juna masuk kerumah orangtuanya.


"waalaikum salam bagus ya kamu bukannya sowan kerumah emakmu mala keluyuran, apa tadi itu kamu numpang makan dirumah Naya?? kantormu sudah bangkrut sampai numpang makan dirumah orang hahh dasar anak nakal "


jawab salam ibunya dan langsung menjewer telinga Juna dengan kencang seperti waktu kecil saat Juna nakal.


"aduhh bu sakit bu beneran sakit bu ampun bu ampun Juna salah bu ampuni Juna bu"


Juna merengek minta ampun pada ibunya yang ditertawakan adik dan keponakannya.


hahahahaha


"makan tu jeweran ibu emang enak mas udah tau ibu itu galaknya ngalahin iblis masih aja ngeyel hahaha"


Khoir mengejek kakaknya yang baru datang kena semprot ibunya.


"pak dhe kayak anak kecil masih dijewer sama embah putri hahaha."


ledek Nita dan Nito anak dari khoir.


"diam kamu khoir mau juga ibu jewer kayak masmu hahh"


bentak ibu Juna pada Khoir adik Juna.


seketika Khoir dan anak anaknya langsung terdiam.


"ayo nak masuk kena semprot mbah putri nanti ayo"


Khoir mengajak anak anaknya masuk dalam rumah.


"duduk sini"


perintah ibu Juna tangannya masih tetap mendarat ditelinga anak laki lakinya.


"iya bu, tolong lepasin kupingku bu sakit"


adu Juna dan berhasil sang ibu melepaskan tangan dari telinganya.


Juna langsung mencium punggung tangan ibunya karna daritadi belum sempat menyalimi ibunya.


walaupun ibunya kesal dengan anak laki lakinya tapi tetap menerima uluran tangan anaknya dan melepus lembut kepala anaknya.

__ADS_1


__ADS_2