
{sabar nenggg belum waktunya. emoji tertawa dipasang diakhir. lalu mengirimkannya ke Naya.
"kasian Naya ta. apa gak sebaiknya masuk kerja aja ya ta??"
Bagas berpedapat.
"tapi masih seperti itu mas kasian juga kalau kerja. takutnya kenapa napa kalau kerja. mas tau sendiri tu orang gak mau santai kalau kerja. terus kalau mas Juna tau pasti berabe. walapun mas Juna tidak akan marahin kita. tetap saja gak enak."
tata memberi tahu.
"coba deh nanti mas tanya sama juna. gimananya."
ucap bagas.
"iya mas. eh mas nanti malam mas disuruh mampir ke ibu jangan lupa katanya ada yang mau disampaikan gitu. tentang apa sih mas tumben??"
tanya tata penasaran.
"nanti juga kamu akan tau apa yang akan disampaikan oleh beliau."
jawab Bagas.
"tapi aku penasaran mas."
tanya Tata lagi.
"kepo lu. sana kerja aja. dasar emak emak. sukanya kepo."
Bagas sewot. langsung bangkit dari duduknya dan berlalu tanpa menghiraukan Tata.
"mas mas yee kabur duluan ngeselin. gak tau apa jiwa emak emak ku meronta ronta pengen ngepoin kamu huhhh. dasar untuk kakak ku kalau gak udah aku jitak kamu mas."
kesal Tata. lalu membenarkan berkas yang bermasalah. dan menyelesaikannya.
**
di kediaman yang megah. Juna sibuk membaca pesan Naya berkali kali sambil tersenyum cengengesan. ia melupakan sarapannya dan pergi ngantor. sampai Rangga pun ikut menjemput bos nya karna sangking herannya Juna yang biasanya tepat waktu mala belum menampakan batang hidungnya diruangannya. padahal ia tau ada rapat dipagi hari yang mengharuskan sang bos datang.
"assalamualaikum."
ucap Rangga sudah didepan pintu rumah Juna.
"waalaikum salam"
sahut asisten rumah tangga Juna yang bernama mbok lastri. mbok lasti sudah ikut Juna 15th lamanya. dan juna pun sudah menganggap mbok lastri seperti keluarga sendiri.
"ehh pak Rangga silahkan masuk pak."
asisten rumah tangga Juna mempersilahkan.
"mas Juna ada kan mbok??"
tanya Rangga masuk ke dalam rumah.
"ada pak itu masih dimeja makan. bapak mau siapkan kopi atau apa pak??"
mbok lastri menawarkan.
"gak usah mbok buru buru soalnya. kapan kapan saja mbok."
jawab Rangga.
"ya sudah mari saya kebelakang dulu pak silah temui pak juna.
Rangga hanya mengangguk dan menuju keruang makan Juna berada.
dari kejauhan Juna terlihat sibuk dengan ponselnya. dan Rangga berjalan cepat untuk menghampiri kakak sepupunya sekaligus bos perusahaannya tempat ia bekerja.
"mas sibuk amat sih ayo ngantor ada rapat juna."
ucap Rangga menepuk bahu Juna. sekilas Rangga melihat pesan pesan yang sedang dibuka oleh Juna.
" astagfirullah haladzim Rangga. ngagetin aja sih."
jawab juna kaget karna sedang asik asiknya membuka pesan dari pujaan hatinya mala dikagetin.
"mas jam berapa ini mas. ada meeting pagi ini. lupa??"
Rangga gemas memperlihatkan jam ditangannya.
"astagfirullah lupa aku Gga. ayo deh. berangkat sekarang"
Juna seponstan kala ingat ada meeting penting yang mengharuskan kedatangannya.
"sarapannya gak diselesaiin dulu mas??"
tanya Rangga.
""gak sempet."
jawab Juna bangkit dari duduknya langsung berjalan. Rangga mengikuti langkah kakak sepupunya. sampai teras rumah Juna dan Rangga langsung masok kedalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah kantornya.
Juna masih senyum senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmara.
"mas lagi kesambet kuntilanak ya. senyum senyum gitu."
celetuk Rangga.
"iya kuntilanak cantik hihihi."
Juna mala cengengesan.
__ADS_1
"ya allah ada apa dengan kakakku yang satu kenapa jadi begini dimana dia yang tegas dan berwibawa. kok ngilang secepat kilat menyambar sihh. tapi kayaknya dilagi chatingan sama seseorang kalau gak salah. tapi siapa ya. jadi penasaran.
batin Rangga dalam hati.
" lagi apa ya sekarang. gak papa kali ya aku telpon sekarang. biar tambah semangat kerjanya."
gumam Juna. Juna mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Naya.
panggilan terhubung.
"assalamualaikum kak."
Naya mengucap salam dengan semangat ceria.
hati Juna benar bahagia mendengar keceriaan Naya.
"waalaikum salam. lagi apa Nay kakak gak ganggu kan."
tanya Juna lembut.
Rangga dan supir didepan yang sedang mengemudi terkesiap mendengar suara lembut Juna. tidak biasanya Juna bersikap lembut kecuali dengan keluarganya. itu juga tidak selembut yang barusan diucapkannya. karna juna memang karakter yang dingin dan datar.
"gak kok kak. aku mala lagi boring. aku jadi pengangguran sosial sekarang kak. aku pengen kerja kak. boleh ya kak ya. aku masuk kerja lagi. aku janji gak akan capek. suerr deh. ya kak ya ya ya ya."
rengek Naya diseberang telepon seperti anak kecil yang sedang minta dibelikan sebuah mainan.
Juna terkekeh mendengar cerocos Naya seperti tivi yang susah dialihkan progam lainnya dengan remot.
"nanti ya Nay kalau kamu sudah hilang mualnya langsung masuk kerja. ya nurut ya sayang."
ucap juna dengan penuh kelembutan.
Rangga yang mendengar percakapannya merasa geli sampai bulu kuduk merinding.
"ini kakak ku bukan sih kok aneh."
gumam Rangga dalam hati.
"ihh kakak pake sayang sayangan segala. kakak gak kesambet apaan kan dijalan. masak ngomongnya alay gitu. geli tau."
jawab naya.
Juna terkekeh dengan ucapannya sendiri. bisa bilang sayang dengan santainya tanpa dosa.
Rangga cekikikan yang ditahan tangannya menutup mulutnya agar tidak keluar suara tawanya. mendengar suara Naya yang bilang kesambet dijalanan.
"orang seperti apa sih yang berani ngomong gitu. bisa naklukin manusia kayak ini juga lagi. apa nih kayak bukan kakakku. kakak ku kan kakunya minta ampun. kok bisa klepek klepek kayak gini. jadi penasaran sama tu orang."
gumam Rangga dalam hati.
"kak mala ketawa doang lagi. aku mau kerja kak. ya kak ya?? aku mohon kak bosen banget tau. aku janji deh aku akan nurut gak akan capek capek. aku akan jaga kandungan aku tetap sehat wal afiat. ya kak. kak Juna??"
Juna tersennyum mendengar rengekan Naya.
"andaikan kamu didepan ku pasti aku akan cubit pipi kamu yang cubby itu. memelukmu dengan hangat Nay."
Juna berbicara sendiri dalam hati.
"kak Juna."
Naya berteriak karna Juna tidak menanggapi rengekannya. tersadar pun malu tidak mendengarkan ocehan Naya.
"jangan ngambek dong bu. masak bumil ngambekan. ntar kalau dedeknya lahir galak gimana?? kalau kakak sih gak mau punya anak galak. kalau kamu mau ya sudah. awas ya kalau anakmu nanti galak."
ledek Juna.
Rangga dan supirnya kaget mendengarkan yang diseberang telepon sedang hamil dan bersikap manja pada Juna.
"apa jangan jangan mas Juna sudah hamilin anak orang. tapi masak sih. gak kelihatan mas Juna seperti itu. kalau hamil pasti sudah dinikahin. gak mungkin dibiarkan. wahhh teka teki ni. harus minta kebenaran. kepoin ahhh"
gumam Rangga dalam hati.
"iya sayang. nanti kakak pantau dulu kamu ya. kalau benar benar ok. baru masuk kerja lagi. persiapkan dirimu agar kamu masuk kerja. ok."
Juna memberi pengertian.
"ok deh. tapi kapan kak??"
tanya Naya.
Juna tersenyum medengarkan Naya diseberangbtelepon nurut. tapi masih tanya.
"nanti kalau kakak sudah selesai. kakak akan berkunjung kerumahmu. masakin kakak yang enak enak ya seperti Bagas dan Tata. kakak iri nihh. masak cuma mereka yang kasih makan sama kamu. kakak juga mau. ya Nay. kakak ingin merasakan masakan kamu. pasti enak. pokoknya kalau kamu siapin masakan buat kakak terus lihat kondisi kamu kakak akan ijinin kamu masuk kerja. ya sayang."
sekarang gantian Juna yang manja terhadap Naya.
tiba tiba Rangga tertawa terbahak bahak mendengar Juna alay jablay. karna Rangga berada disebelah Juna duduk dijok tengah.
hahahahaha.
"sejak kapan masku yang ini jadi manis manis manja kayak gini. biasanya juga kakunya minta ampun. hahaha."
celetuk Rangga tanpa dosa.
Naya yang diseberang telepon mendengar tawa Rangga.
"siapa itu kak ketawanya kayak genderuwo."
tanya Naya asal ceplos.
Juna bukannya marah sepupunya dikatain genderuwoh dia mala iku ikutan tertawa dengan perkataan Naya.
__ADS_1
hahahaha
"Naya Naya sudah perut kakak sakit tau mendengar perkataan kamu barusan. sudah jangan bikin kakak sakit perut dulu. kamu itu ya bener bener deh. kalau orangnya tau gak tau deh kamu bakal diapain sapa tu orang. sudah sudah orang sudah naik pitang ini."
Juna berusaha menghentikan tawanya.
"lah emang kok kak suaranya kayak genderuwo. apalagi kakak bilang sudah naik pitang. berarti bener dong genderuwo."
jawab Naya tanpa dosa.
Rangga yang mendengar dirinya disamakan dengar genderuwo pun langsung berhenti tertawa. ia memasang wajah sangar dan garang.
"masak aku dikatain genderuwo sih. setres apa gimana tu cewek. capek gini banyak yang ngantri juga. masak aku dikatain genderuwo. awas ya kamu kalau ketemu. kalau sampai kamu naksir aku saat ketemu. aku tolak kamu biar tau rasa."
gumam Rangga kesal.
"itu suara siapa kak kayak lalat gitu gak jelas banget deh."
Naya semakin ceplas ceplos.
Juna tertawa semakin lepas mendengarkan ocehan Naya.
ponsel Juna direbut oleh Rangga. dan sekarang ponselnya sudah ada ditangan Rangga langsung pakai mode lospeker.
"hey mbak kamu tu siapa sih ngomong kok gak disaring gitu. habis ngatain genderuwo beralih ke lalat. bikin kesel orang aja sih kamu tu. gimana bisa mas Juna ku bisa klepek klepek gitu kamu pake pelet ya?? orang mas Juna gak pernah tertarik sama perempuan kenapa tiba tiba jadi manja manja sama kamu sampai segala lagi. gila bener mantramu itu."
cerocos Rangga dengan kesalnya.
"ohh jadi ini suara ini yang tadi suaranya kenceng kayak angin ****** peliung itu. kamu itu yang disaring juga dong. nguping orang lain itu dosa. tau dosa tidak kesel aku jadinya."
Naya tidak mau kalah.
"orang duduk disampingnya juga ya pasti denger lah. apa lagi mas Juna alay alay jablay kyak gitu. siapa yang merinding. gimana sih."
Rangga tak mau kalah juga.
Juna yang berusaha merebut ponsel nya tidak sampai. akhirnya pasrah melihat perdebatan antara Rangga dan Naya.
"kenapa kamu yang sewot. siapa tau kak juna itu mau belajar romantis romantisan. jadi saat menikah nanti udah gak kaku. gimana sih heran aku sama kamu."
Naya tidak mau mengalah.
"ehh iya juga ya. kan udah aku jadwal kemarin. tapi kok kamu hamil. terus kalau mas Juna ikut perjodohan gimana nasib kamu.??"
tanya Rangga bingung.
"kak juna mau ikut perjodohan wahhh alhamdulillah. kak juna yang semangat ya. jangan lupa ngundang aku."
jawab Naya antusias.
Rangga semakin bingung dengan percakapannya yang muter tidak jelas.
"kamu aneh. sudah ahh males pagi pagi udah debat aja sama kamu."
ucap Rangga pusing.
"ini mas hanpone mu. Rangga menyerahkan ponselnya ke tangan Juna.
Juna pun menerimanya.
"ya sudah ya sayang kakak kerja dulu. sehat sehat ya dedek. kamu juga sayang harus jaga kesehatan kalau mau masuk kerja. ok."
nasehat Juna.
"iya kak assalamualaikum."
Naya memberi salam. ia tidak menghiraukan panggilan sayang dari Juna. karna tau Juna pasti bercanda agar dirinya ngambek.
"waalaikum salam."
balas Juna.
"mas aku nya yang bego atau orang itu yang setres mas. kok aneh banget hamil tapi mas mau ikut perjodohan mala seneng. kenapa gak minta tanggung jawab sama kamu. apa dia gak tertarik sama kamu mas. tapi masak gak tertarik diluaran sana banyak yang tertarik sama kamu. apa tu orang sinting."
cerocos Rangga heran.
Juna terkekeh melihat raut wajah bingung Rangga seperti orang linglung.
"gini ya rangga mas jelasin ke kamu agar tidak ada salah kesalahpahaman."
juna mulai menjelaskan.
"Naya itu sudah berkeluarga dan sedang hamil. jadi gak mungkin dong mas yang tanggung jawab dan dia juga tidak akan meminta pertanggung jawaban mas. anak yang ada diperutnya itu anak suaminya. mas mau tanggung jawab atas kehamilannya kalau suaminya mau melepaskannya dan menceraikannya. terus soal kebahagiaan dia tentang perjodohan aku. itu karna dia sering nyuruh ku untuk menikah supaya aku bisa move on dari dia. dia tau tentang perasaanku padanya. dia ingin melihat ku bahagia dan bisa melupakan perasaan ini dengan cara aku menikah Gga. biar dia gak merasa bersalah terus kalau sedang bersama. padahal kebahagiaan ku melihat rumah tangganya bahagia. hanya didekatnya saja aku sudah bahagia Gga. hanya itu. aku tau. aku juga sadar. bahwa cinta tak harus memiliki. walapun sakit saat dia bersama suaminya. tapi melihat senyuman yang terukir dibibirnya membuat rasa sakit itu hilang hingga berganti kebahagiaan."
juna menjelaskan panjang kali lebar.
"kali ini aku akan mencoba perjodohan ini. aku akan memantapkan hati agar Naya tenang."
ucap Juna pasti.
"ohh pantesan. aku pikir mas yang hamilin dia. apalagi dengan alay alay yang bikin merinding bulu jetek ku itu. pasti lah aku jadi traveling pikiranku."
Rangga membenarkan perkataanya sendiri.
Juna hanya tersenyum menanggapi Rangga.
lalu juna mengecek berkas yang akan disajikan untuk rapat nanti.
"kasian juga kamu mas. capek kaya banyak cewek ngantri ini mala nolak. apa gak salah dengan mata cewek itu. mengabaikan cowok kaya dan ganteng seperti mas Juna. banyak diluaran sana yang sudah berstatus menikah lebih melepaskan statusnya dan mengejar mas Juna. kenapa ni cewek gak tertarik sama abang ku ini. aneh sih. kalau bukan istri saleha atau sudah memantapkan hatinya untuk suaminya tanpa embel embel. berati hebat dong tu cewek sampai gak tertarik sama mas juna."
Rangga berbicara sendiri dalam hati sambil memerhatikan kakak sepupunya yang sedang sibuk dengan berkasnya.
__ADS_1