
mendengar adzan magrib. mereka sholat berjamaah dirumah naya.
selesai sholat tata dan bagas pamit pulang kerumahnya.
kak pulang dulu ya. jangan lupa besok masuk kerja"
tata memberitahu.
"siapp bu bos"
jawab naya tangannya diangkat didepan kepala seperti hormat sambil cengengesan.
tata dan bagas hanya geleng geleng kepala lalu masuk mobil. setelah berpamitan mobil mereka melaju meninggalkan kediaman naya dan menuju rumah mereka.
naya masuk rumah nenutup pintu dan menguncinya.
sampai dikamar naya termenung meratapi nasibnya ditinggal suaminya lagi.
huft
naya menghembuskan nafas kasar.
"mau sampai kapan seperti ini nay. tiap kali ditinggal pasti galau sendiri. udah lah nay yang penting kamu doain suami aja semoga baik saja. ayo semangat ah."
naya menyemangati diri sendiri.
setelah mendengar adzan isya' naya bergegas mengambil air wudhu lalu sholat. selesai sholat naya membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur tak lama ia mulai terlelap.
keesokan harinya naya bangun pagi dan siap siap untuk berangkat kerja ia harus memulai berangkat kerja sendiri dirumah sendiri melakukan apapun sendiri tanpa suaminya. seiring berjalannya waktu naya sudah biasa. dan tidak terasa waktu sudah berjalan 3 minggu setelah keberangkatan suaminya.
***
naya mulai sering tidak enak badan pusing mual.
" kamu kenapa sih kak kok tumben banget kayak gini"
tanya tata heran.
biasanya naya selalu sehat bugar.
" gak tau ta mungkin masuk angin kali ya tiga hari yang lalu kan q kehujanan ta"
jawab naya setelah selesai dari kamar mandi ruangan tata.
"mau aku kerokin kak. siapa tau sembuh"
tata menawarkan.
"boleh de ta "
naya menyetujui.
selesai kerokan dan jam istirahat berakhir pun melanjutkan kerjanya sampai jam kerja selesai.
kebetulan juna baru kembali dari bisnis di eropa dan mampir ke pabrik sebentar karna habis mengunjungi ibunda tercinta sekalian mengecek perkembangan pabriknya. walaupun ada niatan ingin melihat naya walau dari jauh. memastikan pujaan hatinya baik baik saja itu sudah lebih dari cukup bagi juna.
selesai berbincang bincang dangan bagas dan staf staf lain juna malangkahkan kakinya menuju keberadaan naya. ingin tau kabarnya.
setelah pertemuannya dengan ryan waktu di cafe juna hanya mendengar kabar naya dari orang suruhannya saja tanpa melihatnya secara langsung.
saat melihat wajah naya pucat pasih juna terkejut dan sedih.
"bagaimana bisa kamu jadi mayat hidup seperti ini nay hanya karna ditinggal suamimu. apakah kamu benar benar sangat mencintai suamimu nay." gumam juna dengan hati hancur.
tanpa ia sadari kakinya melangkah menuju kearah naya. tepat didepan naya juna berdiri. ia masih diam mematung memandang pujaan hatinya.
"kak juna apa kabar kak?? kakak katanya dari eropa ya?? kapan pulang??"
tanya naya tersenyum dengan wajah pucatnya.
"kamu kenapa?? apa kamu sakit nay?? kenapa kamu pucet begitu??"
juna bukanya menjawab pertanyaan naya mala bertanya balik karna sangat khawatir
"aku cuma masuk angin kak tiga hari yang lalu aku kehujan. tapi tadi udah dikerokin kok kak sama tata. bentar lagi juga sembuh. kakak gak usah khawatir"
jawab naya berusaha tersenyum walapun kepalanya sangat pusing
"sudah minum obat?? "
tanya juna masih khawatir
"kakak antar periksa ya nay??"
juna semakin khawatir melihat naya memegang kepalanya.
"pusing kak pusing banget kak."
naya meracau.
juna sangat khawatir ia memegangi pundak naya agar tidak terjatuh
"nay kamu kenapa. apa yang terjadi sama kamu nay. jangan membuatku takut nay"
ucap juna berkaca kaca.
naya hanya menggeleng gelengkan kepalanya pelan. tak menunggu waktu lama naya tidak sadarkan diri dipelukan juna.
juna semakin ketakutan melihat naya tidak sadarkan diri.
"kamu kenapa nay"
juna seperti akan menangis. bagas dan tata yang melihat naya tergeketak dipangkuan juna langsung berlari.
"naya kenapa jun"
tanya bagas panik
"aku gak tau gas naya pucat pasih seperti ini aku benar takut naya kenapa napa gas."
juna menangis.
bagas mengecek denyut nadi naya
"sebaiknya kita bawa kerumah sakit jun. semoga naya baik baik saja."
juna langsung membawanya kerumah sakit yang diikuti bagas. tata naik mobil bersama juna memangku naya.
sampai rumah sakit juna langsung menggendong naya ke ruang IGD tanpa menunggu perawat datang.
"suster tolong naya suster"
juna panik dan ketakutan
"ya pak. tunggu diluar dulu ya pak"
ucap suster rumah sakit.
juna pun menuruti perkataan suster rumah sakit ia duduk dengan gelisah. ditambah melihat satu orang dokter lagi masuk kedalam. membuat juna semakin gelisah.
"apa yang terjadi padamu nay"
juna bergumam sendiri. tapi masih terdengar oleh bagas karna mereka duduk sebelahan.
__ADS_1
"naya pasti baik baik saja jun."
bagas menyemangati.
juna mengambil ponsel dari saku celananya menghubungi orang suruhannya untuk menjemput keluarga dan mertua naya.
setelah selesai menghubungi juna menyimpan kembali ponselnya.
tak lama pintu IGD terbuka. dokter dan suster keluar ruangan. tata bagas dan juna langsung berdiri mendengar pintunya terbuka
"keluarga ibu naya??"
tanya suster.
deg deg deg
jantung juna bagas dan tata berdetak sangat cepat takut terjadi apa apa sama naya.
"bapak suaminya ibu naya kan pak"
tanya dokter rumah sakit.
juna hanya diam bingung harus bilang apa karna ditanyai tentang suami naya. akhirnya juna mengangguk pelan. agar cepat terselesaikan. dokter pun langsung menjelaskan keadaan naya. jantung mereka masih tak karuan takut kenapa napa.
"begini pak ibu naya hamil."
mereka tercengang mendengar perkataan dokter.
"selamt ya pak sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. usia kandungan ibu sudah menginjak 6 minggu pak. tolong dijaga baik baik janinnya ya. tidak boleh terlalu capek kalau bisa pak agar kandungannya sehat."
tutur dokter yang memeriksa naya.
"kandungannya sehat kan dok?? ibunya juga sehat kan??"
tanya juna sangat bahagia mendengar kehamilan naya.
"alhamdulillah ibu dan bayinya sehat semua pak. ada yang mau ditanyakan lagi pak??"
tanya sang dokter
"apakah sudah boleh menemuinya dok??"
juna bersemangat.
"nanti ya pak setelah dipindahkan diruang inap. mohon tunggu disana pak"
jawab suster memberitahu.
juna bagas dan tata langsung menuju ruangan yang akan ditempati naya.
"jun naya yang hamil kok kamu yang seneng??" tanya bagas tiba tiba setelah mereka duduk dikursi ruang tunggu.
"naya hamil gas."
jawab juna tersenyum bahagia.
"iya aku tau naya hamil tadi udah dijelasin sama dokter. terusss. naya hamil anak suaminya kan jun."
bagas mala bertanya balik.
"naya hamil gas. alhamdulillah naya hanya hamil." juna tidak menghiraukan ucapan bagas. ia bahagia sendiri atas kehamilan naya. tata dan bagas biasa biasa saja menanggapi kehamilan naya.
tak lama perawat dan naya datang dan memindahkannya keruang biasa. suster sibuk memasang alat naya.
setelah selesai suster pun pamit keluar untuk mengurusi pasien lain.
tata dan bagas duduk dikursi yang tersedia diruangan. hanya juna yang duduk disebelah naya menemani sampai naya sadar.
saat naya sadar juna bangun dan tersenyum pada naya.
tanya juna tersenyum.
"aku dimana kak"
tanya naya lemas.
"kamu dirumah sakit tadi kamu pingsan nay"
ucap juna lembut.
"pingsan??"
tanyanya bingung.
"kamu hamil. usia kandungannya sudah 6 minggu. janinnya juga sehat. alhamdulillah."
juna tersenyum bahagia.
naya hanya terdiam mendengarkan ucapan juna. ia harus bagaimana. suaminya sudah menuduhnya selingkuh lagi. apakah dia akan mengakui janin yang ada dirahimnya.
naya bingung harus bagaimana.
"nay kamu kenapa. kenapa kamu diam saja. apa yang terjadi sama kamu. jawab aku nay. kamu kenapa??"
juna memegang pipi naya dengan lembut. juna bingung mendengar kehamilannya. naya mala diam saja seperti orang ling lung.
naya mala bangun memeluk juna sambil menangis sejadi jadinya. juna hanya bisa membiarkan naya menangis didadanya sampai ia tenang. juna tau apa penyebab naya seperti ini hanya suaminya yang mampu membuatnya menangis seperti ini.
juna membelai rambut naya dengan lembut memberikan ketenangan.
bagas dan tata yang melihat adegan itu hanya diam pasrah karna mereka tau apa yang dirasakan oleh naya.
***
saat hujan turun bagas memergoki naya sedang menangis sambil menelepon suaminya. ia berusaha menjelasakan kesalahpahaman. tapi yang bagas dengar ryan marah marah. dan naya hanya menangis sesugukan. dan telepon dimatikan oleh ryan. naya berteriak berkali kali memanggil suaminya.
"sudah aku duga akan seperti ini jadinya."
haftttt
bagas menarik nafas dan menghempaskannya dengan kasar.
tata hanya diam saja tanpa bicara apa apa.
naya masih terisak dipelukan juna. juna hanya diam saja memeluk naya membiarkannya menumpahkan semua apa yang ia rasakan.
setelah naya tenang. juna kembali bertanya.
"apa kamu sudah bisa cerita nay??"
saat naya melepaskan pelukannya.
"kalau kamu ingin bercerita tolong ceritakan ke kakak apa yang terjadi sama kamu. kamu percaya kan sama kakak nay??"
naya diam memandang wajah juna. dengan tatapan kosong.
"nay apa yang terjadi sama kamu??"
tanya juna kembali.
naya masih diam membisu.
juna menghela nafas agar lebih tenang.
__ADS_1
"ok kalau kamu memang belum ingin cerita gak papa nay. tapi kalau kamu ingin cerita. ceritakan ke kakak ya. kakak akan mendengarkannya."
juna memberitahu
tiba tiba pintu diketuk dari luar.
tok tok tok
"masuk ucap juna"
lalu pintu dibuka dari luar.
"assalamualaikum. jawab bapak ibu naya yang diikuti oleh mertua naya. dan masuk kedalam.
"waalaikum salam"
jawab semua yang ada didalam.
"masuk bu"
juna bagas dan tata menghampiri orang tua naya dan mertuanya. juna bagas dan tata mencium punggung tangan ke dua orang tua naya dan mertuanya.
"kamu kenapa nak?? kenapa kamu pucat sekali?? kamu sakit apa nay??"
tanya ibu setelah bersalaman dengan teman teman anak perempuannya.
naya hanya diam saja. bingung harus menceritakan semuanya pada orang tuanya.
"nay jawab ibu. kamu kenapa nak??"
tanya ibu naya lagi
naya masih belum bergeming. sekuat tenaga ia menahan air matanya didepan orang tua.
"naya hamil bu."
ucap bagas. tata menyenggol bagas tanda protes kenapa bicara seperti ini biarkan kak naya yang jawab sendiri. dengan gerak gerik matanya.
tapi bagas tidak menghiraukan adiknya.
"naya hamil 6 minggu usia kandungannya"
ucap bagas lagi.
"alhmadulillah kamu hamil nak selamat ya nay akhirnya malik akan punya adik lagi"
ibu dan bapak naya sangat bahagia mendengar anak perempuannya hamil kembali.
naya masih diam saja dengan seribu bahasa.
tiba tiba mertuanya yang membuka suara.
"kamu hamil anak siapa nay??"
ibu ryan dengan nada mencemooh.
naya masih diam tidak mau menanggapai ucapan mertuanya karna tau pasti akan menjadi keributan.
"anak mas ryan suami kak naya lah bu sembarang emang ibu pikir hamil anak siapa??"
tata tidak terima dengan ucapan mertua naya.
"yakin anak ryan. ryan kan lagi merantau mana bisa hamilin istrinya."
ucap ibu ryan tidak percaya.
"aku hamil anak mas ryan bu"
alhirnya naya membuka suara ia masih menahan air matanya agar tidak keluar didepan orang tuanya dan mertuanya.
tiba tiba pintu diketuk dari luar
tok tok tok.
"assalamualaikum."
ucap ibu juna langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan. ibu juna menyalami orang yang berada didalam ruangan. juna bagas naya dan tata mencium punggung tangan ibu juna.
saat ibu juna mau membuka obrolan disela oleh ibu ryan
"nay kamu hamil anak siapa??"
ibu ryan mengulang perkataannya.
"apa maksudnya ini. kenapa tanya naya hamil anak siapa. terus ibu pikir naya hamil anak siapa??"
ibu juna kaget mendengar ucapan ibunya ryan
"ksn siapa tau bu anak saya ryan kan merantau bagaimana bisa hamil kalau tidak selingkuh."
jawab ibu ryan dengan entengnya
astagfirllahal azim.
ucap semua orang yang ada disana.
"bu aku tidak selingkuh bu. anak yang aku kandung anak mas ryan bu."
jawab naya.
"kamu pikir aku tidak tau kalau kamu selingkuh. jangan harap ya ryan akan mengakui anak yang kamu kandung"
ibu ryan geram. ia selau menyalahkan naya apapun yang terjadi. tidak peduli benar atau salah.
"kalau mas ryan tidak mau mengakui anak naya. biarkan aku yang akan mengakui anak ini."
ucap juna tegas.
semua orang tercengang mendengar perkataan juna.
"ini anak mas ryan kak. bukan anak kakak. jadi kakak tidak perlu mengakui.
naya belum menyelsaikan kalimatnya juna sudah memotongnya
"mas ryan tidak mau mengakui anak ini. ya kan."
"kalau mas ryan tidak mau mengakui anak ini biarkan anak ini menjadi anakku."
ucap naya dengan mata berkaca kaca.
"aku tidak akan membiarkanmu sendirian nay. tidak akan. kalau suami kamu tidak mengharapkanmu lagi kembalilah padaku. kamu tau aku sangat mencintaimu nay."
juna memelas.
"jadi yang selingkuhan kamu sebenarnya yang ini nay bukan orang lain. dia sudah mau ngakuin loh."
ibu ryan merehkan.
"jaga ucapan ibu ya ibu pikir naya wanita urakan. dia selalu setia dengan ryan bu. kalau memang ibu dan ryan tidak bisa menerima naya lagi. kembalikan naya ke tangan saya. saya bapaknya. suruh ryan untuk menceraikan anak saya bu."
ucap bapak naya tegas.
"kenapa bukan anak kamu saja yang menceraikan ryan. bapak kan tau ryan sangat tergila gila dengan anak mu. sudah berulang kali saya memintanya untuk menceraikan anak kamu tapi ryan tidak pernah mau."
__ADS_1
ibu ryan menjelaskan.
"itu karna mereka saling mencintai bu"