
"berani tidak diajak mas aku coret kamu dari KK ibu mas"
Tata balik mengancam
"he'em aku coret kamu dari daftar kakak aku mas"
Naya ikutab mengancam
"kok kalian rame rame ngancemnya curang mana ada yang begitu"
protes Bagas kesal
hahahaha
Juna tertawa yang diikuti Tata dan Nayamelihat kelakuan mereka seperti anak kecil yang sedang main asing asingan bersama teman temannya.
"kamu juga mala ketawa gak lucu"
protes Bagas sama Juna
"ya abisnya aku setuju sama Tata dan Naya jadi ya mending ngalah saja, ajak pacar kamu Gas biar tambah rame"
saran juna menahan tawa.
"gimana mau ngajak komunikasih aja bisa dihitung terus gimana cara ngajaknya"
gumam Bagas garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"mas aku gak mau tau ya"
Tata masih mengancam
"iya iya nanti mas usahain"
jawab Bagas pasrah
Naya dan Juna cekikikan dengan melihat wajah melas Bagas.
"ayo pulang udah selesai"
ucap Naya akhirnya.
"kak Naya yakin mau pulang mas Juna??"
tanya Tata memastikan
Naya hanya mengangguk
"ya sudah kalau begitu hati hati ya kak"
ucap Tata
"iya kamu juga hati hati ya"
jawab Naya tersenyum
lalu mereka masuk kedalam mobil masing masing dan pulang kerumah.
"Nay apa Bagas udah beneran lagi deket sama wanita??"
tanya Juna pada Naya
"kata Tata sih iya kak soalnya aku juga belum lihat kayak apa orangnya, Tata juga katanya belum pernah lihat orangnya"
Naya memberitahu.
"ohhh menurutmu apa Bagas bakalan ngajak itu cewek??"
tanya Juna lagi
"hmm mungkin soalnya juga Tata sudah ngancam kayak tapi, tapi gak tau juga sih, kita lihat aja nanti kak"
jawab Naya santai
"kamu ikut kan Nay??"
Juna bertanya lagi.
"nanti aku izin bapak dulu kak"
jawab Naya
"ok nanti kakak yang izin"
ucap Juna
Naya mengangguk mengiyakan
sampai rumah Juna meminta izin pada kedua orang tua Naya untuk mengajaknya ke Dieng setelah dapat izin Juna pun pamit untuk pulang
**
"pak Naya pamit beli cemilan ya ke minimarket"
Naya meminta izin pada bapaknya
"iya jangan lama lama"
ucap bapak Naya
"iya pak"
jawab Naya mencium punggung tangan ayahnya.
lalu Naya mengendarai motornya menuju minimarket
saat tiba diminimarket Naya pun masuk mengambil keranjang belanja dan memilih makanan yang ia inginkan.
tanpa sengaja ia bertemu Intan saat Intan tidak sengaja menjatuhkan biskuit roma kelapa ke lantai dan Naya membantunya membereskannya.
"makasih ya mbak udah bantuin"
ucap Intan berterima kasih
"iya sama sama mbak permisi ya mbak"
jawab Naya pamit mencari cemilan lain
"Nay??"
panggil Bagas pada Naya, Naya pun menoleh karna ada yang memanggilnya.
"mas Bagas sama siapa??"
tanya Naya tersenyum
"sendiri habis dari Juna mas lupa disuruh ibu belanja jadi sekalian"
jawab Bagas apa adanya ia membalas senyum Naya
"lagi belanja apa Nay??"
tanya Bagas menengok keranjang belanja Naya.
"cemilan mas, lagi pengen"
jawab Naya cengengesan
"hmmm pasti mau teman nonton drakor ya kan??"
tuduh Bagas karna kebiasaan Naya dan Tata sama.
"tau aja sih hihihi"
jawab Naya cekikikan
"udah ahh aku lanjut lagi dahhhhh"
ucap Naya berlalu meninggalkan Bagas
Bagas geleng geleng kepala.
Bagas tidak sadar bahwa ada sepasang mata sedang memperhatikannya yaitu Intan
"kenapa mas Bagas bisa tersenyum merekah seperti itu sama perempuan itu sedangkan sama aku dia datar sekali ekpresinya"
gumam Intan
"maaf mbak permisi saya mau lewat"
ucap Naya pada Intan karna dia menghalangi jalannya mau lewat.
"ehh iya maaf,"
jawab Intan canggung.
"kok melamun mbak, jangan melamun disini nanti keburu tutup"
ucap Naya bergurau
"hehehe iya maaf"
jawab Intan malu karna ketahuan melamun.
"Nay kamu belum pulang"
__ADS_1
tanya Bagas saat mengetahui Naya masih berada diminimarket.
"ehhh Intan kamu kok sampai disini sama siapa??"
tanya Bagas saat melihat keberadaan Intan.
"iya mas habis main dari temen sekalian mampir beli cemilan"
jawab Intan malu.
"ohh iya Tan kenalin ini sahabat Tata namanya Naya, Nay kenalin ini Intan temen mas"
ucap Bagas memperkenalkannya
Intan mengerutkan alis mendengar kata mas tanpa embel embel nama
"apa mereka dekat sampai hanya manggil dengan sebutan mas doang"
gumam Intan dalam hatinya.
"halo aku Naya aku udah anggep mas Bagas kakak aku sendiri seperti Tata adiknya"
Naya memperkenalkan mengajak mengulurkan tangan dan memperjelas statusnya karna tadi Naya sempat melihat perubahan wajah Intan ada yang mengganjal.
"ohh iya aku Intan"
jawab Intan membalas uluran tangan Naya
"lah mbak Intan emang orang mana kok tadi mas bilang sampai sini?? emang mbak intan bukan orang sini ya??"
tanya Naya penasaran
"Intan orang Weleri Nay makanya mas tanya kok sampai sini gitu"
Bagas memberitahu
"ohhhh"
jawab Naya singkat
Intan hanya diam saja melirik kearah Bagas
Naya hanya memperhatikan sikap Intan terhadap Bagas yang memang tidak biasa.
"Nay kamu naik apa kesini??"
tanya Bagas
"naik motor mas"
jawab Naya santai sambil memperhatikan tingkah Intan diam diam
"kirain jalan kaki atau naik ojek"
ucap Bagas.
"lah emang kenapa mas??"
tanya Naya penasaran.
"kan bisa mas anterin sampai rumah"
jawab Bagas dengan entengnya karna ia tidak tau kalau Intan tertarik dengannya
Intan terkejut mendengar ucapan Bagas walaupun ia tau Bagas orang yang baik tapi melihat tatapan Bagas ke Naya bukan tatapan teman dan sejenisnya
Naya yang melihat ekpresi Intan pun akhirnya mengerti harus berbuat apa.
"mbak Intan naik apa kesini??"
tanya Naya.
"tapi naik mobil karna rombongan terus aku minta turun disini"
Intan memberitahu dengan canggung
"terus pulangnya naik apa??"
tanya Naya lagi
"mungkin ojek online mbak"
jawab Intan ragu ragu
"tuhh nohh mas anterin mbak Intan aja daripada pulang sendirian kan bahaya, mas anterin aja ya"
pinta Naya
"kok mas sih Nay??"
protes Bagas
ucap Naya lagi.
"seru gundomu"
gerutu Bagas kesal
"kamu itu ya sama Tata sama aja kadang mas kesel juga dengan kalian berdua"
ucap Bagas jujur
"tapi sayang kan sama aku dan Tata??"
tanya Naya dengan pedenya.
"iya juga sihh"
jawab Bagas cengengesan
mata Intan membulat mendengar perkataan Bagas
"sebenarnya apa hubungan mereka??"
Intan bertanya tanya dalam hati.
"udah lah mas anterin mbak Intan aja dengan selamat ya?? jangan lupa ajak ke Dieng besok??"
Naya mengingatkan lalu berlalu kekasir untuk membayar belanjaannya.
Bagas menghela nafas pasrah
"ayo Tan, apa kamu masih ada yang mau dibeli??"
tanya Bagas
"sudah selesai kok mas, aku ke kasir dulu buat bayar"
jawab Intan lalu menuju kasir
"ya sudah barengan saja"
ucap Bagas mengikuti Intan menuju kasir karna ia juga sudah selesai berbelanja.
"mas aku pulang dulu ya"
pamit Naya selesai membayarkan belanjaannya.
"iya hati hati"
jawab Bagas
"pulang ya mbak"
pamit Naya tersenyum
"iya"
jawab Intan membalas senyuman Naya
lalu Naya pun keluar dari minimarket dan melajukan motornya pulang kerumah.
"mas Bagas Naya itu teman adikmu??"
tanya Intan penasaran saat sudah dijalan diantar Bagas menuju rumahnya.
"iya dulu Naya dan Tata teman pesantren mereka berteman sampai sekarang, bahkan Naya bekerja dipabrik bantuan Tata"
Bagas memberitahu
"ohhh gitu pantes deket banget"
gumam Intan masih terdengar ditelinga Bagas
"oh iya Tan apa kamu mau aku ajak ke Dieng bareng Naya dan Tata juga nanti rame rame kesananya?? mau gak?? nanti aku yang minta izin orang tuamu"
tanya Bagas
Intan langsung tersenyum mendengar ajakan Bagas ia sangat senang walaupun perginya beramai ramai.
Intan mengangguk semangat
"ok deh sampai rumah aku langsung izin orang tuamu ya soalnya berangnya besok habis pulang kerja langsung berangkat star dari pabrik, jadi besok aku jemput kamu kerumah ya nanti berangkat bareng bareng"
Bagas memberitahu
__ADS_1
"iya mas gak papa"
jawab Intan senang
sampai rumah Intan Bagas langsung meminta izin kepada kedua orang tuanya dan orang tua Intan dengan senang hati mengizinkan putrinya pergi bersama Bagas karna mereka tau bahwa anak perempuannya mempunyai perasaan terhadap Bagas
setelah mendapatkan izin Bagas pun pamit pulang
"kayaknya gak papa deh ngajak dia kan rame rame orang tuanya juga kayaknya gak papa tadi mala senang"
gumam Bagas ditengah perjalanan.
dikediaman Intan kedua orang tuanya sangat senang dengan kedatangan Bagas dan berharap hubungan keduanya semakin dekat dan menjadi hubungan halal.
"Tan hubunganmu dengan nak Bagas sampai mana?? kok udah ngajakin muncak segala??"
tanya ibu Intan penasaran.
"gak gimana mana bu, itu aja yang riques duluan teman adiknya mas Bagas bukan mas Bagas sendiri, tapi aku tetap senang bu semoga begitu kami bisa makin dekat bu"
jawab Intan bahagia.
"ibu juga berharap begitu nak, ibu lihat Bagas juga orang yang baik nak"
ungkap ibu Intan jujur
"iya bapak juga berpikir sama bu"
bapak Intab menimpali.
Intan semakin bahagia kedua orang tuanya menyetujui Bagas.
"tapi bu tadi Intan melihat ekpresi mas Bagas beda sama dengan cewek yang tadi ngajakin aku bu?? kayak pandangan cinta atau gimana gitu pokoknya beda saat bersamaku bu"
keluh Intan pada ibunya.
"salah lihat kali kamu Tan, kan kamu tadi yang bilang perempuan itu teman adiknya siapa tau memang dekat makanya biasa, kamunya aja kali yang cemburuan"
ucap ibu Intan
"mungkin bu, soalnya tadi akrab gitu bu, hatiku panas"
ungkap Intan
"sudah jangan su'udzon dulu mending khusnudzon itu lebih baik, semoga tidak ada hubungan apapun diantara mereka"
ucap ibu Intan yang diaminkan suami dan anaknya.
"amin kenapa ini kayaknya lagi gak ada syukuran ada amin aminan segala"
tanya Fauzi kakak Intan tiba tiba
"tadi Bagas dari sini Zi nganterin adikmu pulang dan dia juga tadi sudah meminta izin pada kami untuk mengajak adikmu ke Dieng rame rame bersama teman dan adiknya"
ucap ayah Intan antusias bercerita.
"oya pak?? beneran Tan kamu serius??"
tanya Fauzi beralih pertanyaan pada adiknya memastikan
ia juga ikut senang dengan hubungan adiknya.
Intan hanya tersenyum malu
"alhamdulillah, semoga kedepannya kalian makin dekat ya Tan dan semoga kalian berjodoh mas yakin Bagas orang yang baik."
Fauzi mendoakan
"aminnnn"
jawab semua orang yang ada disitu.
"mas gak pulang nanti dicariin bini loh"
tanya Intan karna biasanya istri Fauzi selalu khawatir
"tadi sudah bilang kalau mas kesini, mas cuma mau nganterin uang belanja buat ibu"
jawab Fauzi lalu menyerahkan beberapa lembar uang 100an kepada sang ibu
"terima kasih nak"
ucap ibu Intan menerima uang dari putranya
"sama sama bu, kalau begitu fauzi pulang ya bu kalamaan takut dicariin istri soalnya kasian ada bayinya sekarang"
jawab Fauzi lalu menyalimi kedua orang tuanya dan pamit pulang kerumahnya.
Fauzi sudah mempunyai rumah sendiri semenjak usahanya maju dan sering bolak balik kerumah orang tuanya untuk memberi uang belanja untuk sang ibu, semenjak ayahnya pensiun Fauzi yang membantu perekonomian orang tuanya sedangkan adiknya Intan seorang janda kembang yang tidak mempunyai anak.
"bu apa aku kerja aja ya bu biar punya uang juga gak enak bu aku masih ditanggung sama mas Fauzi"
keluh Intan
"gak usah nak kamu bantu ibu saja merawat bapak nak, kamu kan juga tau ibu juga sudah tua"
jawab ibu Intan meyakinkan
"ya sudah kalau gitu, maaf ya bu Intan belum bisa membahagiakan bapak dan ibu"
ucap Intan dengan mata berkaca kaca.
"Tan yang penting kamu bahagia nak, maafkan ibu pernah memaksamu menikah dengan orang yang salah nak"
ibu Intan menyesali perbuatannya yang pernah menikahkan dengan orang yang salah dan menipunya.
"bu yang lalu biarlah berlalu bu, sudah ya yang penting sekarang kita menata hidup baru lagi ya bu"
pinta Intan
"ya nak terima kasih ya Tan"
jawab ibu Intan terharu dengan kebaikan anak perempuannya.
sampai dirumah Naya ditelepon Juna menggunakan via video
panggilan terhubung
"assalamualaikum kak"
ucap Naya mengangkat teleponnya
"waalaikum salam sayang, lagi apa??"
tanya Juna lembut.
"lagi tiduran dikamar kak, kakak sendiri lagi apa??"
tanya Naya balik
"habis mandi sayang, kamu udah makan belum??"
tanya Juna lagi.
"alhamdulillah udah kak, kakak kerja??"
tanya Naya lagi
"yeppp biar besok bisa pergi jadi kakak harus selesain pekerjaan kakak kedepan agar gak keteteran"
jelas Juna.
"owchh sibuk juga ya kak, kakak udah makan belum?? makan kak biar sehat biar kuat lindungin aku, aku butuh perlindungan"
Naya cekikikan
Juna tersenyum mendengar gombalan Naya.
"gimana aku gak tambah cinta sama kamu Nay kamu selalu bisa membuatku tersenyum tertawa seperti orang tidak waras"
gumam Juna dalam hati.
"mau temenin kakak makan??"
tanya Juna.
"temenin video call atau temenin makan diluar??"
Naya tanya balik
"kamu maunya gimana??"
tanya Juna lagi
"kalau temenin video call gak masalah aku akan temenin tapi kalau temenin makan diluar gak bisa sudah terlalu malam kak, kakak juga pasti capek pulang kerja"
Naya memberi alasan
"ya sudah kalau begitu temenin video saja"
Juna mengalah
"ok tapi kakak harus makan yang banyak dan lahap"
pinta Naya
__ADS_1
"siap nyonya"
jawab Juna