
Naya tercengang mendengar penuturan calon mertuanya
"benar kak apa yang dikatakan ibu??"
tanya Naya
Juna mengangguk
"ya salam kak Juna ini ya bener bener deh, masak gak pulang dulu, terus gimana kalau udah jadi suamiku, jangan jangan aku sering ditinggal jarang pulang, jadi mbak toyip lagi lah aku"
corocos Naya kesal dengan sikap calon suaminya
semua orang terkekeh menggeleng mendengar ocehan Naya
"parah kamu Jun"
Bagas mengompori
"gak usah jadi kompor"
tegur Juna
"kak kok diam saja?? apa kakak akan selalu seperti ini?? main kucing kucingan sama keluarga?? aku gak mau ya jadi mbak toyip terus dan salah paham terus, aku gak"
belum selesai Naya mengomel Juna sudah menutup bibirnya Naya dengan bibirnya didepan umum membuat mata Naya dan yang lainnya melotot sempurna dengan kenekatan Juna
"Jun kamu itu kurang ajar banget sih jadi orang"
tegur ibu Juna menjewer telinga anak laki lakinya hingga Juna melepaskan bibirnya dari bibir Naya
"ampun bu Juna gemas lihat Naya ngomel jadi pengen nyium"
ucap Juna cengengesan mengakui kelakuan anak laki lakinya
"tapi gak di tempat umum Juna kali Jun malu dilihat orang, kamu itu gimana sih, seorang ceo tapi slegean kayak gini"
tegur ibu Juna yang menyaksikan kegilaan anaknya Naya hanya diam saja menutup wajahnya dengan kedua tangannya karna teramat malu
"kalau kayak gini caranya nanti malam saja kamu nikahin biar gak tambah dosa"
cerocos ibu Juna sampai Naya pun membuka kedua tangannya terkejut
"hahhhh"
mulut Naya menganga bahkan lalat bisa masuk kedalam mulutnya yang terbuka lebar
"iya dipercepat itu lebih baik dari pada Juna terus terusan nekat seperti ini, berapa kali dia nekatin kamu Nay??"
tanya ibu Juna menatap wajah calon menantunya tersebut menunggu jawaban
"mung mungkin empat kali bu"
jawab Naya malu
"nanti khilafin lagi dua kali ya biar enam bisa dapat piring cantik dari ibu Nay"
ucap ibu Juna membuat semua tertawa
"nanti aku bilangnya gimana bu sama orang tuaku aku takut kalau bilang yang sebenarnya"
jawab Naya malu dan takut
"gak usah khawatir nanti bapak papanya dan dia yang bilang, anak gila ini harus bertanggung jawab sama apa yang dia perbuat"
ibu Juna memberitahu
Naya hanya bisa pasrah dengan keputusan calon mertuanya
"baik bu Juna akan bertanggung jawab dengan semua ini"
jawab Juna
"maafkan kakak Nay kamu jadi kena masalah dan malu dengan tingkah kakak, tapi lebih baik kamu nyerocos seperti barusan dari pada kamu diam saja seperti tadi, kakak kan jadi gemes pengen nyium kamu dengan omelanmu itu,"
ucap Juna nyengir malu sudah berbuat nekat ditempat umum
Naya mencubit bibir nakal Juna karna kesal
"kesel aku, awas kamu ya kak kalau nyalahin aku didepan bapak ibu ku nanti"
ancam Naya kesal
"ya sayang maaf ya"
jawab Juna cengengesan
yang lain cuma bisa menggeleng dengan tingkah mereka berdua
"ayo makan es creamnya habis itu kita lanjut ke recana awal"
ucap Bagas mengakhiri keributan tersebut dan mereka mulai menyantap es cream pesanan masing masing
"mbak punyaku enak loh, punyamu enak gak?? aku incipin aaakk"
ucap Stela menyuapi Naya es cream miliknya
Naya pun menurut dan membuka mulutnya untuk disuapi Stela
"hmm enak Stel, ni punyaku juga enak loh"
Naya pun menyuapi Stela
Stela pun menurut
"mau gak Ta??"
tawar Naya pada Tata
Tata mengangguk dan disuapin Naya es cream miliknya
"sayang kakak juga mau"
ucap Juna membuka mulutnya untuk disuapin Naya
"ini ambil sendiri kak aku mau incip incipan sama yang lain"
jawab Naya cuek
Bagas cengengesan Juna ditolak Naya
"unik ya Jun"
ledek Bagas cekikikan
"kita ikut incip incipan berdua saja Gas, aku suapin ya"
Juna menawarkan
"ogahh aku masih normal"
tolak Bagas ia beralih ke Intan yang duduk disampingnya
"sayang suapin dong, aku mau es cream punyamu"
rengek Bagas manja
"malu mas banyak orang ada ibunya mas Juna juga, gak enak"
ucap Intan
"ibu orangnya slow kok jangan khawatir, kalau bisa nanti malam juga aku mau dinikahin sama kamu seperti Juna dan Naya"
celetuk Bagas membuat Intan tambah meleleh
"ehemmm gak usah ikut ikutan Gas, ibu sudah malu sama anak ibu yang satu ini masak anak ibu satunya lagi mau bikin ulah mau taruh dimana muka ibu yang masih cantik ini"
canda ibu Juna
"hehehehe maaf bu aku juga mau cepetan nikah tapi bagaimana lagi karna masih ikut primbon jawa jadi mau gak mau harus menunggu kalau khilaf kan enak bisa langsung nikah tanpa nunggu hari yang baik "
jawab Bagas cengengesan
"kalian itu ya benar benar sama saja"
kesal ibu Juna
"ya allah aku punya anak laki laki dua tapi gak guna semua yang satu bujang lapuk satunya lagi duda lapuk apa salah dan dosa ku ya allah"
ibu Juna menengadahkan kedua tangannya seperti berdoa
yang membuat Naya tertawa lepas yang diikuti yang lain
__ADS_1
hahhahahha
"ya allah bu ada ada saja ibu ini, tapi emang bener sih satunya bujang lapuk satunya lagi duda lapuk"
celetuk Naya
"wahhh moodku balik bu, ayo kapan kita fiting"
lanjut Naya menahan tawanya agar berhenti
"asal kau bahagia sayang"
jawab Juna tersenyum is tidak malu ditertawakan dan dikatai bujang lapuk karna memang kenyataannya
"ayo habiskan semuanya lalu lanjut kelokasi"
perintah ibu Juna seperti mandor
"siap"
jawab Semua kompak
"selamat siang bu"
sapa pegawai ramah
ibu Juna dan yang lainnya mengangguk tersenyum dan masuk kedalam langsung disambut pemiliknya langsung
"halo bu apa kabar??"
sapa Ana ramah
"baik nak, kamu apa kabar"
ibu Juna pun menyapa Ana
"alhamdulillah baik juga bu"
jawab Ana lalu menyapa yang lain
"halo Naya katemu lagi kita"
sapa Ana memeluk Naya
"halo juga mbak Ana sehat kan??"
sapa Naya pun menyambut pelukannya
"harus sehat biar bisa buatin gaun untukmu dan satu temanmu"
jawab Ana santai
lalu mereka pun berbincang bersama sambil melihat lihat gaun lain desain dari Ana sendiri
"Nay cantik cantik ya"
puji Intan melihat desain gaun yang terpajang
Naya mengangguk
"Nay ini desain baru yang diinginkan Juna untukmu, mau coba??"
tanya Ana saat menunjukkan pilihan calon suami Naya
"apa gak papa dicoba??"
tanya Naya
"dicoba saja sayang"
jawab Juna
"ayo dicoba aku biar dibantu pegawaiku didesain Juna sendiri loh"
Ana memberitahu
"dan ini untuk mbak Intan satu, ini juga Juna yang mendesain aku cuma menyelesaikannya saja"
lanjut Ana
"udah gih sana masuk"
perintah Ana
"kekecilan ya mbak gaunnya??"
tanya Naya saat pegawai agak susah menaikkan resretingnya
"gak kok mbak hanya ada yang nyelip jadi agak susah"
jawab pegawai ramah
Naya mengangguk
dan pegawai dengan cepat merapikan gaun Naya dan memakaikan hijabnya sampai selesai begitu pun dengan Intan dan mereka keluar sama sama untuk menunjukkannya pada calon mereka masing masing
"sudah siap??"
tanya Ana
"siap bu"
jawab pegawai yang membantu Naya dan Intan
"bentar aku periksa dulu, ok good, beautyfull"
ucap Ana setelah memeriksa semuanya lalu menggandeng lengan Naya dan Intan bersamaan Ana ditengah tengah Naya dan Intan
"taraaaa bagaimana semuanya pengantin wanita sudah siap"
ucap Ana menggandeng Naya dan Intan keluar
Juna dan Bagas tercengang melihat tampilan calon istrinya berubah tampilan dengan balutan gaun yang sederhana tapi masih terlihat mewah dan elegan
Tik tik
Ana menjetikkan jarinya sampai berbunyi didepan mata Juna dan Bagas yang tidak mau berkedip sedikitpun
Juna dan Bagas pun sadar dengan jentikan jari Ana
"bagaimana?? apa kalian puas atau kurang puas nanti aku perbaiki lagi kalau ada yang kurang srek"
Ana berusaha memuaskan pelanggannya
"aku periksa dulu"
ucap Juna mengelilingi Naya yang sudah dibalut gaun desainnya sendiri
"jangan macam macam lagi ya kak aku gak mau dinikahkan nanti malam karna ulahmu lagi"
protes Naya karna Juna memegang megang gaun yang dia pakai
yang lain terkekeh dengan tingkah Naya yang menolak nikah dadakan
"gak sayang kakak cuma periksa aja takut ada yang kurang"
jawab Juna cengengesan
"takut amat sih dinikahin cepet, padahal kakak mau lohh"
goda Juna menaik turunkan alisnya
"gak mau, aku maunya nikah atas dasar cinta dan sayang bukan karna terpaksa apalagi sampai kegerbek karna ulah kakak tadi, gak mau aku"
tolak Naya
"ok siap sayang kapan pun kamu siap disitu kakak siaga, jangan khawatir kakak akan selalu menunggumu"
jawab Juna lembut Naya tersenyum karna penolakannya diterima Juna
"langsung nikah aja kenapa sih udah pake baju juga tinggal telpon keluarga dan penggulu"
celetuk Stela
"gak mau Stel, aku belum dapat penjelasan dari masmu dengan apa yang tadi dibahas dicafe es cream"
tolak Naya
"ya padahal kalian sudah saling cinta masih aja menolak sih mbak"
protes Stela pada Naya
__ADS_1
"iya tapi aku mau nikah karna kegerbek karna ulahnya jadi terpaksa kan gak enak"
Naya menjelaskan
"ok deh mbak terserah kamu"
jawab Stela pasrah
"kenapa tadi gak diperkosa aja sih mas biar malam ini kamu bisa nikah"
bisik Stela pada Juna kakaknya
"huss kamu itu ya ada ada saja, sana kamu pilih untuk bridesmaids mu dan lain"
perintah Juna pada Stela adiknya
Stela hanya nyengir kuda dan berlalu mencari gaun untuk pengiring pengantin kakaknya
"ada masalah sampai harus dipercepat nikahnya"
tanya Ana kepo
"gak usah kepo, urus acara kami sebaik mungkin biar aku kasih bonus kalau kerjaan kamu bagus"
tegur Juna
"siap pak bos, akan aku tunjukkan yang terbaik, tapi apa kamu hamil duluan Nay?? hamil duluan ya??"
tuduh Ana pada Naya dan Juna
"hebat juga si Juna ternyata bisa bikin adek juga"
lanjut Ana cekikikan
"gak lah mbak, aku gak berani begituan sebelum nikah walaupun janda, tadi cuma kak Juna mencium bibirku didepan umum jadi mau dinikahkan nanti malam, aku kan malu kalau menikah dadak karna kegerbek, apa kata tetangga nanti pasti dikira hamidun"
jawab Naya jujur Juna hanya cengengesan garuk garuk kepala yang tidak gatal
"Nakal kamu ya Jun ternyata, kirain bakal lempeng lempeng aja karna hidupmu hanya kerja kerja dan kerja dingin dan datar lagi"
ledek Ana
"aku benarkan ucapanmu mbak"
Bagas menimpali
"tau ahh"
jawab Juna cuek
"memangnya dia dulu kayak apa sih mbak Ana kayaknya kak Juna ini orangnya omes deh dia"
Juna langsung menutup mulut Naya dengan tangan Juna agar tidak melanjutkan ucapannya
"jangan diterusin, kakak mohon kakak janji akan mengontrol semuanya ok sayang"
bisik Juna yang dianggukan Naya lalu Juna melepaskan bekapannya
"janji ya jangan ulangi lagi"
Naya memastikan
Juna mengangguk angguk
"tergantung"
goda Juna kemudian
Naya melototi Juna tidak terima
"gak sayang janji"
jawab Juna mengangkat dua jarinya ke depan
"kamu punya ekpresi gini juga ya Jun, dari tadi ekpresimu berubah ubah, dan baru kali ini aku lihat selama temenan sama kamu"
celetuk Ana
Bagas terkekeh
"memang dulu iya kayak apa sih mbak?? aku penasaran"
tanya Naya kepo
"ya gitu deh, tanya aja sendiri sama orangnya"
jawab Ana santai
Naya langsung memicingkan matanya ke Juna meminta penjelasan
Juna terperanjat
"waduh alamat lagi ini, yang tadi belum kelar tambah lagi ini, Ana ada ada saja"
gumam Juna dalam hati
"nanti kakak jelasin sayang jangan marah dulu ya sayangku cintaku "
rayu Juna
Naya hanya diam saja tidak menanggapi Juna
Naya pun masuk kedalam untuk melepaskan gaun yang tadi ia coba begitu pun dengan Intan juga melepaskan gaunnya dan keluar bersama
"udah selesai sayang??"
tanya ibu Juna
"sudah bu"
jawab Naya sopan
"gimana Jun?? ada yang perlu diperbaiki?? apa ada yang kurang pa??"
tanya Ana
"gak cukup pas dipakai jadi gak perlu diperbaiki, bagaimana dengan mu Gas??ada yang kurang beres??"
tanya Juna
"ok semua"
jawab Bagas santai
"kalau begitu kita pamit pulang dulu Na mau cek yang lain"
pamit Juna yang dianggukkan kepala sama Ana dan pegawai lain dengan ramah
"Nay kamu ikut mobil ibu ya"
pinta ibu Juna
"ya bu"
jawab Naya sopan
"loh bu biarkan Naya ikut mobil Bagas bersamaku"
tolak Juna
"aku mau ikut mobil ibu saja kak biar Tata yang temenin mbak Intan, gak papa kan Ta lagian aku gak mau nanti kak Juna macam macam lagi, aku trauma"
ucap Naya jujur
yang lain cekikikan melihat penolakan Naya yang terang terangan
"sayang"
bujuk Juna memelas
"gak mau"
tolak Naya cepat langsung masuk kedalam mobil calon mertuanya tanpa menghiraukan Juna
"sudah ayo"
ajak Bagas menarik tangan Juna untuk masuk kedalam mobilnya
"biarkan saja Naya akrab dengan keluargamu Jun agar Naya juga nyaman nantinya"
Bagas menasehati
__ADS_1
"iya aku tau tapi aku masih kangen Gas pernikahan tinggal sebulan lagi bahkan sudah berkurang sebulannya aku ingin berbincang sebelum dipingit nanti,ingin berbincang bercanda dengannya ingin melihat ocehannya yang menggemaskan yang bisa membuatku lupa akan segala hal"
ucap Juna tersenyum membayangkan ketika Naya bersamanya