
Kiara penasaran dengan apa yang terjadi. apa hubungan dengan si penelepon tersebut.
"sebenarnya ada apa ya?? kenapa marahnya sampai segitunya??"
Kiara bertanya tanya sendiri dalam hatinya.
"iya sayang. apa yang terjadi dengan Naya nak?? ada apa dengannya??"
tanya mama Juna lembut.
"ma. suami Naya tidak percaya dengannya ma. dia pasti tidak percaya bahwa kandungan Naya adalah anaknya ma. dia menangis. apa yang harus aku lakukan ma??"
ucap Juna parau.
"apa Naya sedang hamil anak suaminya Jun??"
tanya mama Juna hati hati. takut menyinggung perasaan anak sambungnya.
Juna mengangguk tanda mengiyakan.
"kenapa suaminya tidak percaya pada istrinya sendiri nak??"
tanya mama lagi.
"mertua Naya selalu menuduhnya selingkuh ma. anak yang ada dikandungan Naya dikira anak ku dan Bagas. karna kami dekat. awalnya mas Ryan sudah percaya bahwa yang dikandung Naya adalah anaknya. karna mas Ryan sempat pulang setengah bulan dirumah. tapi sekarang mas Ryan marah dan tidak percaya lagi sama Naya ma. mama tau kan Naya wanita seperti apa?? dan mama tau kan sikap mertua Naya seperti apa?? mama pasti sudah mengetahui semuanya kan ma?? aku yakin mama tau semuanya."
jelas Juna panjang kali lebar.
"iya nak mama dan papa sudah menyelidiki semuanya tentang Naya dan sekitarnya. apa yang akan kamu lakukan sekarang nak??"
tanya mama penasaran. ia menyimak dengan hati tenang agar bisa memberikan solusi untuk Juna.
"aku bingung ma harus berbuat apa. mama tau Naya tidak akan pernah mau ikut denganku karna statusnya. Naya juga tidak mau aku mengakui janinnya walaupun aku bersedia menerimanya. aku harus apa ma??"
keluhan Juna.
"kita tidak bisa ikut campur urusan rumah tangga Naya nak. biarkan Naya menyelesaikan masalahnya. kalau kamu mau mengejar Naya kembali tunggu sampai masalah mereka selesai. mama tau kamu sangat mencintainya. kamu sangat menyayanginya. tapi mama juga tidak mau kamu menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya nak. mama tidak mau kamu merusak rumah tangga orang lain. walaupun kamu sangat ingin melindunginya. tolong tahan ya Jun. kamu tau kan nak. Naya pasti tidak mau kamu terseret dalam masalahnya. ya tolong lindungi Naya dengan kamu tidak merusak kepercayaannya."
mama Juna menasehati.
Juna hanya diam dia saja mendengar nasehat mamanya. ia berusaha dapat mencerna apa yang disampaikan oleh mamanya. pikiran Juna benar benar kalut dengan masalah Naya. ia bingung harus berbuat apa untuk bisa menolong Naya.
Juna berfikir keras untuk solusi Naya tanpa ia ikut campur didalamnya. dirinya sudah berjanji kepada keluarga Naya tidak akan mendekati Naya sebelum masalahnya selesai dengan suaminya.
"ayo kita pulang nak?? kita istirahat nanti kita pikirkan solusi terbaik untuk Naya ya.??"
bujuk mama Juna.
Juna masih terdiam seperti patung.
"ayo mas pulang. mas harus isirahat."
Sukma ikut membujuk.
akhirnya Juna menyetujui untuk pulang. mereka berjalan keluar resto dalam kesunyian. yang tadinya mereka tertawa bercanda bersama dalam sekejap tawa mereka lenyap hanya karna satu orang sedang frustasi memikirkan pujaan hatinya.
mereka pulang menggunakan mobil masing masing bersama supirnya.
"pak pulang kerumah ya. saya mau istirahat. nanti bilang ke pak Rangga untuk menyelesaikan urusan kantor."
perintah Juna pak udin supirnya.
"baik pak."
jawab pak udin patuh.
Juna pulang dalam kesunyian memendam emosinya dalam kemarahan.
"aku harus apa Nay?? aku benar benar tidak rela kamu menangis sayang. tapi aku juga bingung harus berbuat apa untuk melindungimu. aku tidak mau masalahmu tambah besar kalau aku ikut campur."
ucap Juna dalam hati.
"pak Juna. sudah sampai pak."
pak udin memberitahu.
tapi Juna masih menatap lurus dalam pandangan kosong.
"maaf pak Juna. kita sudah sampai."
suara pak udin agak meninggi.
"iya pak. maaf saya melamun."
ucap Juna sopan.
"maafkan saya pak. menganggu bapak."
jawab pak udin takut kena marah bosnya karna barusan bernada tinggi.
"iya gak papa pak. saya melamun."
Juna turun dari mobil menuju rumahnya.
mobil pak udin pergi meninggalkan kediaman majikannya menuju kantor untuk memberitahu Rangga untuk menghendle pekerjaan atasannya.
**
"Suk Naya itu siapanya kakakmu?? kenapa dia peduli banget sama perempuan itu. terus itu apa suaminya tidak mau mengakui janin yang ada dalam kandungan sih Naya itu. berarti perempuan itu sudah menikah ya Suk??. tapi kenapa masmu kok peduli banget gitu."
Kiara membondong pertanyaan ke Sukma.
"aku sih gak kenal sama wanita bernama Naya Ra. cuman aku pernah dengar mama papa dan mas Juna menyebut namanya. bahkan aku pernah melihat fotonya dikamar mas Juna mungkin itu yang yang namanya Naya. gak tau sih belum lihat aslinya soalnya. kenapa?? kok kepo gitu."
penjelasan Sukma.
"emang kepo sih. penasaran apa yang membuat masmu belum nikah. itu masmu yang susah disuruh nikah kan Suk?? yang kamu sering cerita??"
celetuk Kiara.
"iya. kalau gak salah ingat sih yang namanya Naya itu pujaan hatinya mas juna deh."
ucap Sukma.
reflek Kiara mengerem dadak mendengar ucapan temannya.
"kamu gila. kalau mau mati jangan ajak aku. aku masih mau hidup Ra."
kesal Sukma.
"sorry sorry sorry. aku kaget. pujaan hati terus maksudnya dia mantan pacar yang susah dilupain gitu maksudnya Suk.??"
ucap Kiara yang langsung dipotong oleh Sukma.
"bukan. mas Juna tidak pernah pacaran dengannya. tapi mas Juna naksir dengannya sejak SMP pas dia tinggal dipesantren. nah perempuan itu juga teman pesantrennya. sepertinya begitu kalau gak salah dengar."
penjelasan Sukma.
"berat juga ya. susah move on soalnya."
gumam Kiara masih terdengar ditelinga Sukma.
__ADS_1
Sukma mengerutkan alis heran dengan perkataan temannya.
"jangan bilang kamu naksir kakakku."
selidik Sukma.
Kiara terperanjat ketahuan naksir kakak temannya.
"emang sih dia cakepnya kebangetan daripada mas Alfa dan mas Aryo lebih gantengan mas Juna. tapi mas Juna itu susah diraih orangnya. karna terlalu dingin dan datar. selain itu dia terlalu cuek sama orang lain kecuali keluarga sendiri. aku saranin jangan naksir dia yang ada nanti kamu sendiri yang sakit hati. aku setuju setuju aja mas Juna dengan siapapun yang penting dia bisa bahagia dan dibahagiakan. hanya itu sih"
Sukma menerangkan.
"kalau aku naksir kakakmu boleh dong??"
tanya Kiara antusias.
"kalau kakakku mau sama kamu gak masalah. kalau gak jangan dipaksa. nanti kamu sendiri yang gila."
nasehat Sukma.
"akan aku coba."
Kiara meyakinkan.
"terserah yang penting aku udah kasih tau kamu."
ucap Sukma.
mereka kembali ke kampus untuk melanjutkan mata kuliahnya.
**
disudut kantor pabrik Naya menangis tergugu dipelukan Tata. setelah selesai teleponan dengan suaminya.
"sabar kak."
Tata mencoba menenangkan Naya.
Naya hanya menangis menumpahkan kekecewaannya terhadap suaminya.
huftt
Bagas menghela nafas kasar.
"selalu seperti ini. mau sampai kapan kamu begitu Nay?? baru tadi pagi kamu bahagia mesra mesraan dengan suamimu ditelepon. sekarang kamu menangis meratapi nasibmu."
gumam Bagas dalam hati menatap Naya sedih dipelukan Tata adiknya.
Bagas menunggu dengan sabar.
Naya menangis sampai tertidur dipelukan Tata. Tata menunggu Naya sampai benar benar anteng. setelah anteng ia meminta kakaknya menaruhnya disofa ruangan Tata.
"mas bantuin gih aku gak kuat."
Tata minta tolong.
dengan sigap Bagas menggendong Naya dan menaruhnya disofa dengan sangat hati hati dan menyelimutinya.
"maaf ya Nay mas gendong kamu."
gumam Bagas takut bercampur senang dapat menggendong orang yang ia cintai.
Bagas membelai rambut Naya yang telah dilepas hijabnya oleh Tata dengan lembut.
"kasian kak Naya ya mas. selalu seperti ini. apa dia gak capek ya harus bertahan terus sama suami yang begitu modelnya. kalau aku udah aku tendang dia sejak lama. kesel aku."
ucap Tata kesal.
terang Bagas.
"iya sih. tapi jangan gitu amat lah mas. masak sampai ngatain istrinya murahan seperti pelacur kesepian. sakit hati lah. suami tak ada akhlak."
geram Tata.
" sudah sudah jangan ngatain orang seperti itu. biarkan saja. yang penting jangan sampai Naya kenapa napa."
tegur Bagas.
Tata mengangguk.
"baru aja masuk belum sehari udah kacau begini. kesel aku. ingin rasanya aku menjambak ramput mas Ryan dan menampar mulut mertuanya itu heran emaknya suka ngomporin anaknya suka meledak. akhrinya jadi kompor meledak.hiiii gemes aku."
Tata masih menumpahkan kekesalannya.
Bagas hanya terkekeh mendengarkan ocehan adiknya karna kesal.
"aku kasih sianida aja kali ya mas. biar mampus nereka semua."
Tata semakin kesal.
"astagfirullah. istigfar Ta. kamu tu ya dari tadi nyerocos mulu. udah deh tunggu Naya bangun dan antar pulang dia. mas gak mau dia pulang naek motor. bisa gawat nanti kenapa napa dijalan."
Bagas gemas dengan adiknya.
"ya abis semakin diam aku semakin kepikiran. kalau belum aku tumpahkan semua unek unekku."
Tata masih belum menyerah.
"iya aku juga gak mau kak Naya pulang sendiri takut terjadi apa apa sama dia."
Tata sependapat.
"mas tidur bentar ya Ta. capek. nanti kalau Naya bangun. mas juga dibangunin."
pinta Bagas.
"iya mas. aku juga mau merem bentar."
jawab Tata.
akhirnya Tata dan Bagas ikut terlelap disofa sebelah Naya.
**
ditempat kerja Ryan meratapi nasibnya yang ia kira telah dikecewakan oleh Naya. padahal sebaliknya ia yang membuat istrinya kecewa dengan sikapnya. yang berubah ubah seperti bunglon.
" kenapa kamu tega sama aku Nay. kurang apa aku padamu. aku selalu berusaha membahagiakanmu. aku selalu setia dengan mu Nay. tapi kamu mala hamil anak orang lain. bagaimana bisa kamu setega itu padaku. apa yang harus aku lakukan sekarang. aku sangat mencintaimu tapi aku gak mau dengan anak dalam kandunganmu itu Nay. dia bukan anakku."
gumam Ryan terisak.
"kamu bodoh Yan. kamu memang bodoh. sudah dikecewakan berkali kali. tapi masih tetap bertahan. dia sudah menghianatimu berkali kali. bahkan dia sampai hamil.
aku sangat menyayanginya. mungkin benar kata ibu dia wanita murahan yang kesepian karna aku sering meninggalkannya makanya dia mencari kesenangan diluar sana. aku harus bagaimana tapi aku sangat mencintainya. ya allah."
Ryan merutuki dirinya sendiri.
**
diruang gym pribadi Juna. ia menumpahkan emosinya dengan memukul mukul samsak tinju sampai ia benar benar puas
buk buk buk buk buk.
__ADS_1
hah hah.
nafas Juna ngos ngosan dengan keringat bercucuran meninju tanpa jeda.
"sialan sialan sialan."
teriak Juna.
hah hah
"apa yang harus aku lakukan. apa yang bisa aku lakukan Nay. agar bisa meringakan bebanmu."
ucap Juna parau.
"mau sampai kapan kamu bertahan Nay."
ucapnya lagi.
kemudian ia menyambar tempat minum yang berisi air putih. Juna meneguknya sampai tandas. lalu masuk kekamar untuk mandi.
selesai mandi ada panggilan telepon dari anak buahnya. Juna pun mengangkatnya.
"halo."
jawab Juna.
"bos ada misi disini."
jawab jhon orang kepercayaan Juna didunia gelapnya.
Juna mengerutkan kening.
"orang yang menfitna kita mengedarkan narkoba dan mencabuli para gadis dan pembunuhan sudah ketemu disini bos. mohon kedatangan anda."
pinta jhon sangat sopan.
Juna menyeringai.
"ok. kebetulan aku butuh pelampiasan. aku kesana. jemput aku sekarang."
perintah Juna.
"siap bos."
jawab Jhon tegas dan ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menjemput ketua mereka.
Juna bersiap siap untuk keberangkatan menuju markasnya yang mewah.
ting tong ting tong.
bel rumah Juna berbunyi. asisten rumah tangganya dengan cepat membukakan pintu rumahnya.
ceklek
"tunggu sebentar tuan."
ucap bu Lastri pada seorang laki laki berpakaian serba hitam. lalu ia berlalu meninggalkan pria tersebut dan menuju kamar majikannya.
bu Lastri tentang semua majikannya termasuk ia seorang mafia.
tok tok tok.
bu Lastri mengetuk pintu kamar tuannya.
"ya bu??"
tanya Juna.
"maaf pak itu tuan timo sudah datang."
bu Lastri memberi tahu dengan sopan.
"ok. sebentar lagi saya turun."
ucap Juna.
"baik pak."
jawab bu Lastri dengan sopan dan turun menuju teras memberitahu timo.
"maaf tuan. sebentar lagi tuan Juna turu. mohon tunggu."
bu Lastri memberitahu dengan sopan.
timo hanya mengangguk dengan muka datarnya tanpa berkata apapun.
bu Lastri berlalu menjauh dari timo dan menunggu tuannya turun. ia sudah terbiasa menghadapi semuanya.
"ayo bang berangkat."
ajak Juna.
"bu Lastri saya berangkat ya. assalamualaikum."
pamit Juna.
bu Lastri langsung berlari ke arah pintu dan menutupnya setelah majikannya berlalu dari kediamannya.
"bang. berapa orang yang abang bawa kemarkas."
tanya Juna.
"lima orang tuan termasuk bosnya."
bang timo memberitahu.
"bagus. aku suka itu. kita basmi semua sampah masyarakatnya."
ucap Juna dingin.
sampai markas Juna dibukakan pintu mobilnya oleh anak buahnya.
"selamat datang tuan."
hormat Bambang.
Juna mengangguk dan langsung masuk kemarkas mewahnya.
"selamat datang tuan Juna."
hormat semua anak buahnya. setelah Juna masuk kemarkasnya.
Juna duduk dikursi yang sudah disediakan oleh anak buahnya berserta tongkat baseball untuk memukul lawannya.
Juna mengetuk tongkat baseball kelantai. salah satu anak buah yang diintruksikan Jhon langsung maju dan menjelaskannya sampai selesai.
"kamu tau konsekuensinya dari perbuatan kalian??"
tanya juna dengan menyodorkan tongkat baseball ke dagu musuhnya.
mereka hanya diam takut gemetar melihat betapa semenakutkannya ketua geng mafia lawannya.
__ADS_1
saat Juna hendak memukul salah satu musuhnya. tiba tiba ponsel Juna berdering tanda panggilan masuk.