Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
seperti bunglon


__ADS_3

Juna melirik ponselnya untuk nengetahui siapa yang menghubunginya.


"Naya."


gumam Juna.


ia pun mengangkat teleponnya.


sstt


Juna memerintahkan semua anak buahnya untuk diam tidak bersuara.


"assalamualaikum Nay."


suara Juna lembut.


semua orang terperangah melihat dan mendengar suara bos mafianya begitu lembut berbicara dengan seseorang diseberang telpon.


Juna terkenal sangar kejam dan menakutkan dikalangan dunia gelapnya.


"waalaikum salam kak. kak maaf ya yang tadi. aku baik baik saja kok. kakak jangan khawatir. maafkan aku kak dihari pertama kali kerja udah bermasalah. maaf kak."


ucap Naya memelas.


begitu sakit hati Juna mendengar kata maaf dari sang pujaan hatinya.


"ya gak papa. kamu baik baik saja kan Nay. kandungan kamu gak papa kan. kakak gak mau kamu kenapa napa sayang."


jawab Juna penuh perhatian.


membuat semua anak buahnya melongo dengan sikap bos besarnya.


"gak lucu masak pake sayang sayangan."


protes Naya manja.


Juna tersenyum mendengar Naya masih sanggup bermanja disaat hatinya menangis.


"kenapa kamu selalu berusaha untuk kuat Nay. aku siap jadi sandaranmu disaat kamu membutuhkannya.


" ya gak papa dong itung itung belajar kalau punya istri biar gak kaku."


ngeles Juna.


"kapan nikahnya?? gak nikah nikah keburu lumuten. hahaha."


Naya tertawa.


membuat Bagas dan Tata terbangun.


"kak?? kakak gak gila kan ketawa sendirian gitu. buang aja suami kayak mas Ryan itu. nanti cari lagi masih banyak kok. jangan stress ya kak pusing aku."


ceketuk Tata terbangun.


"iya Nay kamu gak papa kan. mas kaget lohh."


Bagas ikut menimpali.


Juna mendengar ocehan teman dan adiknya diseberang telepon. ia tersenyum teman dan adiknya masih memperhatikan pujaan hatinya.


"yee siapa yang gila. orang lagi telponan sama kak Juna. tadi aku nelpon nangis nangis pasti kak Juna sangat khawatir. makanya aku telpon kalau aku baik baik saja biar gak khawaitir mas."


Naya menjelaskan.


Juna pergi ke tempat ruangannya karna ingin beralih kepanggilan video.


semua orang melongo melihat perubahan sikap bosnya yang biasanya sangar berubah seperti orang sedang jatuh cinta.


"itu bos kita kan bro??"


tanya salah satu anak buah Juna.


"tadi sih iya. gak tau sekarang."


jawab yang satunya.


"Nay pangilannya diangkat dong kakak pengen lihat nih??"


pinta Juna setelah sampai dan duduk santai diruangannya.


"ok."


Naya pun mengangkat panggilan video dari Juna dan


"haloo kak??."


Naya melambaikan tangan kearah Juna melalui video call dengan mata bengkak akibat menangis terlalu lama dan mengalihkannya ke Tata dan Bagas untuk memarkan kebersamaannya tanpa Juna.


"halo mas."


ucap Tata ikut melambaikan tangan seperti Naya.


"hai guys. kasian sendirian."


Bagas cengengesan mengompori Juna agar iri.


"sialan lu mau pamer??"


Juna tersenyum dengan tingkah sahabatnya.


"ya kak. sekalian mau pamer nihh. hehehe."


jawab Naya.


mereka duduk berdampingan untuk memperlihatkan kebersamaan lewat video call.


"awas ya nanti kalau kakak kesana gak kumpul??"


ancam Juna bercanda.


"kapan kesini kak. aku mau minta traktir kakak makan enak."


tanya Naya.


"iya iya aku juga."


Tata ikut menimpali.


"nanti kalau disini sudah selesai. ehmm mungkin dari jogja baru kesitu. gimana??"


Juna menjelaskan.


"kak aku ikut ke jogja dong aku kangen Malik."


rengek Naya.


"sembuhin dulu itu mata. masak dengan mata kayak gitu mau ke Malik. nanti yang ada Maliknya bingung gak ngenalin emaknya. yang mana emaknya."


ledek Bagas.


membuat Tata dan Juna tertawa.


"nanti juga sembuh gimana sih."


Naya cemberut.


"tapi lucu deh. kayak anak panda. jadi gemes pengen nyubit."


Juna ikut meledek Naya.

__ADS_1


Naya refrek memengang pipinya.


Juna tertawa gemas dengan tingkah Naya yang seperti anak kecil takut dicubit.


"gak mau. sakit tau dicubit."


protes Naya manja.


" gigit aja lah kalau dicubit sakit."


Bagas ikut meledek.


dengan cepat Naya mencubit lengan Bagas sampai puas.


"aaawwww sakit Nay sakit. ampun ampun."


Bagas mengadu meringis kesakitan.


Juna dan tata tertawa memperhatikan wajah melas Bagas.


Naya masih belum mau melepaskan tangannya. setelah puas ia pun melepaskan tangannya dari lengan Bagas.


"hihihi. maaf ya mas. sakit ya. habisnya aku butuh pelampiasan. hehehe."


Naya cengengesan setelah puas menganiaya Bagas.


Bagas pura pura ngambek yang sebenarnya ia senang bisa bikin mood Naya kembali.


"sakit tau. sampai darahnya seember lagi."


Bagas memonyongkan bibirnya.


"wah Ta ambil ember lagi yang besar ta gak muat ini."


canda Naya.


"Iya kak bentar aku ambilin."


jawab Tat tertawa diikuti Naya tertawa.


Juna yang melihat tingkah mereka pun ikut tertawa.


hahahaha


Juna geleng geleng melihat tingkah mereka semua.


"seandainya aku disana pasti aku sangat bahagia melihat tawamu Nay. disini saja lewat video aku sudah bahagia. apa lagi disana kumpul bersama. pasti sangat menyenangkan."


ucap Juna dalam hati.


"udah ah capek aku ketawa mulu. aku laper Ta cari makan yuk."


ajak Naya.


"ayo aku juga lapar kak."


jawab Tata.


"kak Juna udah dulu ya. aku mau cari makan dulu, lapar. aku cuma mau ngasih tau kakak kalau aku baik baik saja. kakak jangan khawatir ya."


ucap Naya tersenyum dilayar ponsel.


Juna lega melihat Naya sudah bisa bercanda.


"ya. makan yang banyak ya bumil. jaga kesehatan. banyak istirahat ya. gak boleh capek capek"


pinta Juna pada Naya.


"iya kak. jangan cerewet kayak emak emak deh. nanti aku suruh kakak pake daster kalau cerewet mulu. hahaha."


protes Naya tertawa membayangkan Juna pake daster seperti emak emak.


tuduh Tata menonyol kening Naya.


"tau aja sih. otakku berkelana. hahaha. udah ahh ayo makan laper."


Juna hanya bisa geleng geleng gemas melihat tingkahnya.


"ya sudah hati hati. jaga kesehatan. ok."


Juna mengingatkan.


"siappp big boss. assalamualaikum."


ucap Naya dan Tata. lalu menutup telepon setealah mendapatkan salam dari Juna.


"Naya Naya kamu tu seperti bunglon saja. gampang berubah ubah. sebentar menangis sebentar lagi langsung bercanda tawa. apa sebenarnya hati dan perasaanmu seperti itu?? apa hanya diluarnya saja kamu selalu ceria tapi dihatimu selalu menahan rasa sakit. kamu wanita hebat bisa selalu ceria dalam hati terluka."


gumam Juna menatap lurus memikirkan pujaan hatinya.


tok tok tok.


Juna disadarkan oleh ketukan pintu ruangannya.


"masuk."


perintah Juna.


"maaf tuan musuh kita sebaiknya diapakan tuan. kami menunggu perintah dari anda."


ucap salah satu anak buah Juna.


"urus kalian saja. saya lagi sedang tidak mood ngurus cecunguk itu."


perintah Juna.


"lenyapkan lebih baik. mengurangi sampah masyarakat."


imbuhnya.


"baik tuan."


jawab anak buah Juna lalu pergi untuk menjalankan perintah tuannya.


"aku pulang sekarang aja. sebentar lagi magrib."


Juna bicara sendiri lalu pergi meninggalkan markasnya.


sampai dirumah ia mengganti pakaiannya dengan koko dan sarung yang melihatnya pasti akan terpanah dengan ketampanannya memakai atribut sholat. sayang ia memakainya kala dirumah saja. diluar ia selalu memakai jas kerjanya beserta stelannya.


selesai sholat ia menyibukkan dengan tadarusan sebentar. selasai tadarus ia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke Naya memastikan baik baik saja.


{Nay udah sampai rumah}


ketikan Juna lalu mengirimkannya ke Naya.


**


Naya yang baru saja selesai sholat melihat ponselnya nyala akhirnya mengambil dan mengecek pesan dari mana.


setelah tau yang mengirim pesan adalah Juna ia pun membalasnya.


{alhamdulillah udah sampai kak. baru aja selesai sholat.}


Juna yang menunggu balasan dari Naya pun langsung membukanya setelah pesan masuk.


{istirahat yang kucup Nay. jangan sampai sakit kalau masih ingin kerja.}


lalu mengirimkannya ke Naya

__ADS_1


selesai melipat mukena yang baru saja ia pakai untuk sholat pun membuka kembali pesan Juna.


{siap komandan hehehe}


dan mengirimkannya ke Juna.


huft


Naya menghela nafas kasar.


"aku harus gimana ya sekarang. aku bingung dengan sikap suamiku sendiri. kenapa dia tidak mau mendengarkan aku terlebih dahulu. bukannya dia sudah mengakui anak ini. tapi kenapa sekarang dia bertingkah lagi. mau sampai kapan sikapnya seperti ini terus. kadang aku capek. ingin berhenti jadi istrinya. tapi gimana dengan anak anak ku. pusing aku mikirin semuanya."


Naya berbicara pada diri sendiri.


dikamar Juna tersenyum senyum sendiri melihat pesan dari Naya.


"aku harus bales apa ya?? kok jadi bingung sih. tau ah."


{ ok deh. lagi apa sekarang??}


selesai mengetik langsung mengirimkannya ke Naya.


hampir satu jam Juna menunggu balasan dari Naya sampai ia selesai sholat isya' dan rebahan ia membolak balikkan ponselnya mengecek isi pesannya dengan Naya.


"kenapa belum balas ya?? apa dia tidur masak sih. mungkin makan malam apa ya?? tapi baru makan dia pulang kerja. mungkin makan lagi kali. siapa tau"


gumam Juna.


akhirnya Juna memutuskan untuk makan malam. Juna makan dengan malas. ia tidak selera memakan malamnya karna ia masih kepikiran keadaan Naya. Juna tidak menghabiskan makan malamnya. ia memutuskan berlalu kekamarnya menunggu sampai jm 9 malam tapi masih belum mendapatkan balasan dari Naya.


Juna memutuskan menelepon sang pujaan hatinya takut terjadi apa apa padanya. walaupun Juna tau Naya tinggal bersama keluarganya tapi tetap saja Juna masih mengkhawatirkan keadaan Naya.


"panggilan teralihkan. apa dia sedang menelepon seseorang. mungkin suaminya. biarkan dia menyelesaikan masalahnya Jun. jangan ikut campur. jangan menyeretnya dalam masalah lebih besar lagi. huftt."


ucap Juna menasehati diri sendiri.


Juna menunggu balasan Naya sampai jam 11 malam akhirnya Juna memutuskan untuk memejamkan matanya karna tidak mungkin Naya masih terjaga dijam jam segini.


Juna berusaha terlelap walaupun sulit. jam 2 mala Juna baru terlelap setelah sekian lama ia melawan kegelisahannya dan berusaha memejamkan matanya.


***


dipagi hari setelah selesai menunaikan ibadahnya Juna kembali mengecek pesan dari Naya ke ponselnya. tapi taka ada balasan.


"apa aku telpon sekarang ya. mungkin gak papa."


gumam Juna lalu menghubungi Naya.


"nomer yang anda tuju sedabg tidak aktif."


suara operator telepon.


"tidak aktif. kenapa dia. tidak biasanya seperti ini. apa terjadi sesuatu padanya. aku harus kesana sekarang."


ucap Juna khawatir.


ia langsung bersiap siap untuk berangkat ke Semarang.


**


Naya yang sengaja mematikan ponselnya tidak menghiraukan panggilan dari siapapun termasuk Juna. ia masih sakit hati dan malas meladeni hinaan dari suaminya. setiap telepon Naya selalu dihina dengan sebutan wanita murahan pelacur kesepian jarang dibelay tukang selingkuh. membuat Naya muak dan memutuskan untuk mematikan ponselnya. ia benar benar lelah dengan rumah tangganya.


"aku harus siap siap berangkat kerja. tapi mataku gimana ya allah bengkak banget lagi. duhh."


Naya bercermin.


"bisa agak dikempesin gak ya biar gak terlalu besar banget gini. ahh iya pake es batu semoga bisa agak kempes biar gak kelihatan."


akhirnya ia memutuskan menuju kulkas untu mengambil es batu. saat keluar kamar Naya ketahuan ibunya.


"ya allah Nay matamu kenapa sampe gede gitu. bentar ibu ambil es batu buat kompres matamu itu."


ucap ibu dengan sigap mengambil es batu dan dan baskom untuk mengompres mata Naya.


Naya hanya diam saja menurut pada ibunya.


"ayo masuk kamar tiduran ibu kompres."


perintah ibu membawa baskom kecil.


Naya hanya mengangguk dan masuk kamar sesuai yang diperintahkan ibunya


"kamu berantem lagi sama suamimu Nay??"


tanya ibu Naya sambil tangannya mengompres mata anaknya yang bengkak.


Naya hanya diam saja tidak menjawab.


"mau sampai kapan kamu dan Ryan seperti ini terus Nay. aku aja yang lihat capek. apa kamu gak capek."


keluh ibu Naya.


Naya masih terdiam bingung harus jawab apa. karna ibunya selalu tau kalau dirinya dalam masalah.


"kamu berangkat kerja gak hari ini. kalau masih bengkak mending gak usah aja. kasian mata kamu."


tanya ibu Naya lagi.


Naya masih belum bergeming.


dengan terpaksa ibu Naya mencubit lengannya karna anaknya gak mau merespon.


"kamu dengar tidak sih yang ibu tanyakan."


ucap Ibu gemas pada putrinya.


"iya bu denger kok. cuma lagi dikompres jadi gak mau bicara dulu bu."


alasan Naya.


"pake ngeles lagi ni anak. gimana sih??"


geram ibu Naya.


"sakit tau bu pake cubit segala. iya iya aku berangkat kerja. makanya aku mau kompres biar gak terlalu bengkaknya bu."


Naya menjelaskan.


"gak usah masuk aja dulu matamu kayak gini banget kayak orang dipukuli tau tidak. gak usah masuk aja. hubungin Bagas atau Tata."


saran Ibu.


"gak. aku mau berangkat aja bu. masak pertama masuk langsung ambil libur. gak enak lah bu. emang ibu pikir pabriknya punya bapak bisa ambil libur sesuka hati."


celetuk Naya.


"tau ahh Nay ibu pusing ngurusin kamu. Nanti kamu minta anterin adikmu aja dulu. ibu gak mau kamu berangkat dalam keadaan mata bengkak kayak gitu. takut kenapa napa. ngerti gak??"


ucap ibu Naya tak terbantahkan.


"iya bu. kalau kanjeng mami sudah berkata mau bagaimana lagi. susah untuk dibantah."


cibir Naya.


ibu Naya telaten mengompres mata anak perempuannya walaupun ocehan masih keluar dari bibirnya.


Naya hanya mendengarkan dan menjawabnya. sebab kalau tidak dijawab pasti menjewer atau mencubit anaknya kalau tidak mendengarkan apa yang ibunya ucapkan.


selesai dikompres mata Naya sudah agak kempes jadi ia bersiap siap untuk berangkat kepabrik tidak lupa ia meminta Ridwan adiknya untuk mengantarkannya. walaupun awalnya Ridwan menolak akhrinya mau juga setelah dipaksa oleh ibunya.

__ADS_1


__ADS_2