Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
pergi sulit bertahan sakit


__ADS_3

juna langsung mencium punggung tangan ibunya karna daritadi belum sempat ia menyalimi ibunya.


walaupun ibunya yang kesal dengan anak laki lakinya pun tapi tetap menerima uluran tangan anaknya dan mengelus lembut kepala anaknya.


"kamu mau makan lagi nak??"


ibu Juna menawarkan.


"aku jadi lapar lagi setelah teriak teriak kesakitan akibat dijewer ibu"


ucap Juna manja


"habisnya kamu gak ingat pulang rumah ibu mala pulang kerumah orang tua Naya ya ibu kesal lah"


ibu Juna pura pura ngambek.


"maaf bu aku jadi anak durhaka karna gak pulang kerumah ibu lebih dulu, tapi kerumah Naya kesempatan langka bu kalau Juja kesana sendirian pasti diusir sama Naya mumpong Bagas dan Tata mengajak ya akhirnya aku iyain aja bu ibuku sayang jangan marah ya??"


Juna merayu sang ibu.


"ya sudah ayo makan sudah ibu siapin"


ucap ibu Juna menggandeng lengan anaknya mengajak keruang makan.


diruang makan sudah terdapat khoir istri dan beserta anaknya yang sedang menikmati hidangan sang ibu.


"Stela mana bu kok gak kelihatan??"


tanya Juna menanyakan adik perempuannya satu ibu beda ayah.


"tadi ijin ibu keluar sama temannya Jun"


jawab ibu Juna


"ohh"


lalu ia duduk dikursi yang kosong dengan sigap ibu Juna mengambilkan nasi beserta lauknya.


"apa Naya jadi ngaktifin hpnya?? cobalah aku cek bentar"


gumam juna dalam hati sambil memerhatikan ponsel yang ia pegang.


"dimakan jangan hp melulu yang kamu pandang"


celetuk ibu Juna.


"iya bu"


jawab Juna sambil tangannya mengotak atik ponselnya.


"Juna"


ibu Juna memperingati.


"iya bu"


akhirnya Juna pasrah,meletakkan ponselnya dan mulai menyantap makanannya.


selesai makan Juna menemani ibu dan adik dan keponakannya diruang televisi. ia masih memegang ponselnya membolak balikan aplikasi tidak jelas


"apa aku hubungi saja ya perasaanku gak enak soalnya,takut terjadi apa apa padanya tapi takut ganggu"


gumam Juna dalam hati.


"sibuk amat sih mas"


ucap Khoir yang daritadi memerhatikan kakaknya.


"gak kok"


jawab Juna dengan wajah bingung.


"ada masalah mas?? cerita dong?? masalah cewek??"


Khoir kepo


"sok tau kamu"


jawab Juna cuek


"assalamualaikum"


Stela mebgucap salam dan masu kedalam rumah.


"waalaikum salam"


jawab semua orang yang ada didalam.


"wahh lagi kumpul kumpul nih, kok gak bilang sih bu kalau mau kumpul tau gitu aku batalin janji sama temen"


Stela cemberut. setelah menyalami ibunya dan bergantian menyalami kakak kakaknya.


"ya kamu ijinnya kan tadi siang sebelum dapat kabar masmu pulang, ya gak tau lah ibu"


jawab ibu Juna enteng karna Stela meminta ijin keluar sebelum dapat kabar Juna.


"sudah sudah gak papa, kamu sudah makan belum dek?? kalau belum makan, makan gih"


ucap Juna.


"sudah mas tadi udah makan bareng temen temen, aku mau mandi dulu dahhh"


Stela berlalu menuju kamarnya.


Juna memutuskan menginap dirumah ibunya.


"bu aku tidur sini ya bu??"


Juna meminta ijin.


"iya biar, bentar ya ibu bilang bu siti suruh bersihin kamarmu"


pamit ibu Juna berlalu menuju asisten rumah tangganya.


Juna masih sibuk membolak balikkan aplikasi hijaunya mengecek bahwa Naya sudah mengaktifkan ponselnya.


"sudah jam 9 mungkin sudah tidur"


gumam Juna lagi.


"pak dhe ngomong apa sih dari tadi kayak nyamuk aja ngang ngung ngang ngung"


celetuk Senja yang daritadi memperhatikan Juna bergumam.


"hehehe gak papa kok sayang jangan hiraukan pak dhe mu ini ya"


jawab Juna cengengesan malu ketahuan keponakannya.


"lagi galau ya pak dhe"


tanya Senja dengan polosnya.


"whatt masih TK udah tau galau aja nih anak"


ucap Juna dalam hati


"gak kok sayang, pak dhe lagi mikirin kerjaan aja"


jawab Juna mencari alasan


"ohh kirain lagi galau putus cinta kayak bulik Stela"


celetuk Senja tanpa dosa.

__ADS_1


"hey anakmu itu diajarin masak masih TK tau galau galauan segala"


protes Juna pada Khoir.


"hehehe aku juga gak tau mas, tau bahasa gitu dari mana"


Khoir cengengesan.


"mas gimana sih mala ngeles lagi itu kan kamu yang ngajarin, udah dikasih tau jangan ngomong sembarangan, tau rasakan kamu anaknya tau,"


ucap Sinta istri Khoir sewot


"marahin aja mas bapaknya susah dikasih tau"


adu Sinta pada Juna.


"kamu tu ya bener bener deh anak segitu udah diajarin, bapak tak ada ahklak kamu ya"


Juna gemas pada adik laki lakinya.


"Jun kamar kamu masih dibersihin bu siti jangan masuk dulu ya"


ibu Juna memberitahu dan ikut duduk disamping Juna.


Juna hanya mengangguk tersenyum pada ibunya lalu ia fokus kembali pada ponselnya.


"aku kirim pesan aja dehh"


gumam Juna ia pun memutuskan untuk mengirim pesan pada sang pujaan hatinya.


{Nay kamu baik baik saja kan??}


lalu mengirimkannya ke Naya.


Naya yang sedang menangis pun menoleh melihat ponselnya mendapatkan pesan dari Juna. ia takut Juna akan khawatir dengannya akhirnya Naya membalas pesan dari Juna


{alhamdulillah aku baik baik saja kak, aku ngantuk aku tidur dulu ya kak besok kerja}


dengan deraian air mata Naya mengirimkan pesannya ke Juna.


Juna yang mendapat balasan Naya pun langsung membuka isi pesannya dengan semangat tapi hatinya gelisah.


{kamu bilang baik baik saja tapi hatiku tidak tenang apa yang sebenarnya terjadi denganmu Nay}


Juna mengirim pesan ke Naya lagi


Naya hanya membacanya tidak membalas pesan Juna dan meletakkan ponselnya dibantal sebelah ia tiduran diranjang.


"lebih baik aku tidur besok berangkat kerja ayo Nay gak usah dipikirin masalahmu nanti nanti juga bakalan baik lagi suamimu udah sering terjadi kan kayak gini jadi gak usah ambil pusing lagi"


Naya meyakinkan diri sendiri dan tidak lama ia pun terlelap karna kecapekan terlalu lama menangis.


Juna tambah gelisah melihat pesannya hanya dibaca oleh Naya dan tidak dibalas kembali.


"mas nginep sini??"


tanya Stela selesai mandi dan ikut duduk disebelah ibunya


ibu Juna mengetahui perasaan gelisah anak laki lakinya tapi ia hanya diam mengamatinya.


Juna hanya mengangguk dalam gelisahannya.


"bu kamarku udah selesai belum ya aku capek pengen istirahat"


ucap Juna dalam wajah sedih.


"kayaknya udah mas bu Siti sudah didapur soalnya"


Stela memberitahu.


"ok deh aku istirahat dulu ya bu"


Juna mencium pipi ibunya dan berlalu menuju kamarnya.


Juna merebahkan tubuhnya dikasur empuk miliknya ia melihat langit langit kamarnya meratapi kegelisahan yang sedang meliputinya.


Juna meyakinkan hatinya agar tidak gelisah ia pun mencoba memejamkan matanya agar terlelap dan tak lama Juna pun sudah menjelajah ke alam mimpinya.


***


keesokan harinya sebelum bersiap siap berangkat kerja Naya mengobati mata bengkaknya ia tidak mau membuat semua orang khawatir padanya.


"sudah agak kempes Nay, apa mau tunggu sampai benar benar kempes??"


tanya ibu Naya yang mengompres mata bengkak Naya.


"kalau nunggu kempes besok kempesnya bu, kalau gak terlalu kelihatan udahan aja bu aku buru buru berangkat soalnya takut telat."


celetuk Naya.


"ya kalau kamu gak nangis lagi ya kempes, makanya jangan nangis mulu ibu pusing lihatnya"


balas ibu Naya.


"doakan saja bu semoga mas Ryan cepat sadar"


Naya duduk ditepi ranjang tidurnya.


"iya"


jawab ibu Naya singkat lalu meninggalkan anak perempuannya. Naya hanya memandang punggung ibunya berlalu dari kamarnya.


"maafkan aku bu mungkin ibu capek dengan rumah tangga ku ini yang tiada ujungnya, tapi aku juga capek bu aku ingin mengakhiri rumah tangga ini tapi sulit bu aku berusaha bertahan pun terasa sakit, karna sejujurnya anakmu ini masih mencintai suaminya pergi sulit bertahan sakit itu yang aku rasakan saat ini bu maaf "


Naya berbicara sendiri meratapi nasibnya.


ia pun bergegas siap siap berangkat kerja.


"sarapan dulu mbak"


Ridwan yang melihat kakaknya hanya melewatinya.


Naya menghentikan langkahnya


"nanti saja Wan mbak beli nasi dipabrik mbak belum lapar"


kilah Naya


"makan dulu nak bapak tidak ngijinin kamu keluar rumah kalau perutmu masih kosong"


ucap bapak Naya tegas dan akhirnya Naya menuruti kemauan ayahnya dan duduk anteng diruang makan


"makan gihh"


ibu Naya mengambilkan nasi dan lauk untuk anak perempuannya.


"makasih bu"


jawab Naya menerima piring dari tangan ibunya lalu menyantapnya dengan tidak berselera.


"walaupun kamu tidak mood makan tapi kamu harus tetap makan nak, ingat ada anak kamu yang sedang tumbuh kembang dirahimmu yang membutuhkan nutrisi"


ibu Naya menasehati.


Naya hanya diam mendengarkan nasehat ibunya sambil menyantap sarapannya.


"mbak nanti aku anterin lagi ya mbak"


Ridwan menawarkan.


"makasih gak usah Wan mbak berangkat sendiri aja naik motor biar bisa pulang cepat gak nunggu nunggu"


tolak Naya.

__ADS_1


"tapi aku khawatir sama kamu mbak"


ucap Ridwan dengan wajah sedih.


"jangan khawatirin mbakmu ini Wan khawatirin mbak perawatmu itu kapan mau diajak kesini keburu diambil orang baru nangis kamu"


Naya mengalihkan pembicaraan.


"ya allah mbak tenang aja vina nya belum siap diajak kesini, nanti kalau udah siap pasti aku ajak kesini tenang aja"


jawab Ridwan pasti.


"ya terserah deh aku mau berangkat sendiri aja daa assalamualaikum"


Naya menyalimi kedua orang tuanya dan berangkat kerja karna motornya sudah siap pakai jadi Naya tinggal berangkat tidak menunggu lama.


Naya mengendarai motor maticnya berangkat sendiri sambil menenangkan hatinya agar tidak berlarut larut dalam kesedihan.


sampai dipabrik Naya memarkirkan motornya dan menuju ruangannya


"kak kamu berangkat sendiri aku telpon aku sms kok gak dibales??"


protes Tata saat bertemu Naya dijalan menuju ruangannya.


"mungkin masih dijalan kali Ta ntar deh kalau udah sampe aku cek ok, ayo ahh jalan"


Naya menggandeng lengan Tata masuk keruangannya


Bagas yang selalu dikacangin oleh mereka berdua pun hanya geleng geleng kepala.


selang dua jam Juna datang berkunjung untuk memastikan keadaan Naya.


tok tok tok


pintu diketuk dari luar


"masuk"


Bagas mempersilahkan


"Gas??"


panggil Juna setelah membuka pintu ruangan Bagas dan duduk disofa.


"lohh Jun kirain siapa maaf aku lagi fokus ngurus berkas, ada apa guys mukanya ditekuk gitu?? kayak orang lagi putus cinta aja "


ledek Bagas


"Naya berangkat?? apa dia baik baik saja??"


tanya Juna.


"iya dia berangkat, dan baik baik saja, yang aku lihat sih matanya bengkak kayak kemarin mungkin kemarin terjadi pertengkaran lagi dengan suaminya Jun kamu tau sendiri kan kemarin mertuanya datang??"


tanya Bagas.


"bisa jadi Gas, hahhh mau sampai kapan Naya seperti ini aku ingin menghajar mas Ryan sampai aku puas Gas, bagaimana bisa dia bersikap seperti ini kadang aku geram dengannya kenapa dia selalu menyakiti Naya hahh aku gak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua mas Ryan"


curhatan Juna sampai menghela nafas berkali kali.


Bagas hanya tersenyum menanggapi ocehan Juna.


"padahal banyak laki laki yang siap melindungimu Nay termasuk aku tapi hatimu mati, tertutup untuk kami semua dan lebih memilih hatimu terluka dengan suami bodohmu itu"


gumam Bagas dalam hati.


"apa kamu gak tau Nay aku siap melindungimu aku siap bahuku jadi sandaranmu menumpahkan segala rasa yang ingin engkau keluarkan. aku ingin menjagamu Nay"


gumam Juna dalam hati.


mereka berdua saking diam dalam pikiran masing masing hingga ketukan pintu menyadarkan mereka.


tok tok tok


"masuk"


Bagas mempersilahkan.


pintu dibuka dari luar.


"mas ini berkas yang mas Bagas butuhkan"


ucap Naya memberikan berkasnya dan.


Bagas hanya mengangguk dan menerima berkas dari Naya.


"Nay??"


panggil Juna disudut sofa


Naya yang tidak menyadari keberadaan Juna pun menoleh kearah sumber suara.


"eh kak Juna dari tadi kak??"


Naya tanya balik.


"lumayan, kamu baik baik saja kan Nay?? kenapa pesan kakak hanya dibaca saja??"


tanya Juna penasaran.


"maaf kak tadi malam aku membuka pesan kakak sambil merem merem ngantuk gitu, jadi gak aku balas maaf ya kak dan sampai sekarang aku belum sempat membalasnya my sorry??"


kilah Naya.


"ohh, mata kamu kenapa masih bengkak gitu?? sini kakak kompresin"


Juna menawarkan.


"gak usah kak tadi pagi udah dikompres sama ibu nanti juga kempes sendiri ok, aku gak papa kakak jangan khawatir kalau aku butuh bantuan kakak aku akan minta tolong kakak gimana??"


Naya meyakinkan Juna yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.


"ok deh, tapi janji ya??"


Juna menunjukkan jari kelingkingnya untuk sebush janji.


Naya pun mengikuti janjinya dengan Juna dengan mengkat jari kelingkingnya untuk berjanji.


"janji"


Naya tersenyum cengengesan dengan tingkahnya seperti anak kecil yang sedang mengkikat janji.


"kamu masih waras kan Nay??"


celetuk Bagas yang memperhatikan Naya yang cengengesan.


"yee masih waras lah mas fikir aku sudah gila karna masalah yang menimpaku ohh nooo aku punya keluarga yang selalu mendukungku aku punya kak Juna mas Bagas dan Tata yang selalu senantiasa membantuku dan melindungiku, aku pasti kuat mengerjakan ujian ini hihihi"


Naya cekikikan.


"emang sekolah pake ujian??"


celetuk Bagas lagi.


"ya namanya juga ujian hidup mas hehehe, ujian mas Bagas dan kak Juna belum dapat jodoh kaburr" Naya langsung melarikan diri setelah meledek Juna dan Bagas.


"Nay jangan lari kamu masih hamil"


ucap Juna yang tidak dihiraukan oleh Naya karna buru buru melarikan diri.


hihihi


Naya cekikikan masuk keruangannya.

__ADS_1


"kesambet apaan sih kak cekikikan gitu"


tanya Tata penasaran.


__ADS_2