
waktu berjalan dengan cepat Juna sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dan waktunya menjemput Malik calon anak sambungnya sesuai keinginan Naya
"tunggu bentar ya kak aku belum mandi, kak Juna datanganya kecepetan aku belum siap siap??"
protes Naya karna Juna sudah datang duluan
"kamu itu protes terus sih Nay sana cepetan mandi nanti kelamaan Juna nungguin kamu, gak usah pake nyanyi segala tambah lama nantinya"
tegur ibu Naya yang gemas dengan anak perempuannya sejak menganggur dirumah suka uring uringan tidak jelas
Naya hanya nyengir berlalu menunju kamar mandi
"bentar ya Jun ibu buatin teh biar seger duduk dulu gih cepek berdiri terus"
ucap ibu Naya
"iya bu terima kasih maaf merepotkan"
jawab Juna sopan lalu duduk disofa ruang tamu
"gak papa Jun"
lanjut ibu Naya berlalu menuju dapur untuk membuat teh hangat untuk calon menantunya
"pagi sekali mas datangnya??"
sapa Ridwan yang diikuti bapaknya duduk disofa
Juna bangkit dan menyalimi bapak Naya dan Ridwan
"ya sengaja, gak sabar ingin ketemu Malik gara gara sibuk sebulan lebih gak jenguk Malik jadi kangen"
ucap Juna
"kangen mboknya juga kan pastinya??"
ledek Ridwan yang disenggol bapaknya
"hehehe cuma bercanda pak"
Ridwan cengengesan
"pasti kangen lah apa lagi mas jarang telpon karna sibuk jadi ya gitu deh"
jawab Juna malu
Ridwan dan bapaknya cengengesan
"mbak Naya kalau mandi lama, mas udah makan belum?? ayo sarapan dulu bareng aku, aku juga belum sarapan mas"
ajak Ridwan pada Juna
"iya ayo nak, bapak juga belum sarapan"
bapak Naya menimpali
akhirnya Juna ikut sarapan pagi bersama keluarga Naya sedangkan Naya masih mandi belum juga selesai
"laksana angin tak tentu arah, sesukamu pergi dan datang, haruskah kerinduanku ini membelenggu hati siang dan malam, bukan emas permata yang kupinta, yang kuinginkan senyum mesra dekapanmu, bukan ceritamu terbias angan yang kuharapkan cinta kasih sayang menyatu, harta mudah dicari, cinta hanya sekali hilang oleh dunia ini butakan mata dan hati, mengapa begini"
Naya menyanyikan lagu yang berjudul CINTA HANYA SEKALI sambil mandi tanpa sadar suaranya terdengar keluar ruangan karna kamar mandi san dapur ruang makan berdekatan
Juna baru duduk jadi salah tingkah mendengar Naya bernyanyi tanpa sengaja tersindir karna Juna memang jarang menghubungi Naya karna kesibukannya bekerja, ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karna ingin mengambil cuti panjang agar bisa berkumpul dengan keluarga barunya setelah menikah nanti
"rindu telah melekat dalam hatiku walau awan lalu, rinduku tak berubah arah, purnama mengambang cuma berteman, bintang berkelipan dan juga awan, siapa tau rindu yang mencengkam dihatiku, aku meminta pada yang ada, aku merindu pada yang kasih, aku merayu padamu yang sudi merinduku, hiaskanlah cinta dijaris manisku sinarkan bagai gemerlap kencana, tandakanlah kasih dimercu kalbu serikanlah purnama yang merindu"
berlanjut dengan judul PURNAMA MERINDU
Naya masih saja bernyanyi tanpa mempedulikan suara cemprengnya yang didengar orang yang sedang sarapan
ceklek
pintu kamar mandi terbuka karna Naya sudah selesai mandi, wangi sabun yang Naya pakai mengeruak masuk hidup Juna dan yang lainnya
Naya cengengesan sadar dengan tingkahnya yang sedang berlama lama dikamar mandi sambil bernyanyi ia langsung berlari kekamarnya untuk berhias diri karna dari kamar mandi Naya sudah membawa pakaian ganti untuknya
Juna hanya tersenyum melihat wajah segae Naya yang sehabis mandi
kedua orang tua Naya dan Ridwan hanya menggeleng dengan kelakuan anaknya ke sudah kebiasaan nyanyi didalam kamar mandi tanpa menghiraukan orang lain
"ayo makan Jun, gak usah tunggu Naya, dia pasti lama, keburu lapar bapak"
ucap bapak Naya
"iya pak"
jawab Juna sopan dan menyuap nasinya yang sudah diisi oleh ibu Naya
"dibiasakan diri mas telinganya karna kedepannya kamu akan selalu mendengar suara cemprengnya nanti"
ledek Ridwan cekikikan
"ya Wan harus terbiasa, karna mbakmu unik orangnya perlu dilestarikan"
jawab Juna ikut cekikikan
"he'em"
jawab Ridwan menyuap nasinya
tidak lama Naya pun muncul dan ikut sarapan bersama
"lah ibu bapak udah selesai??"
tanya Naya duduk dan kedua orang tuanya bangkit menuju wastafel
"nunggu kamu keburu semaput bapak Nay"
sindir bapak Naya
"hehe maaf pak, Naya gak tau kalau pada sarapan"
jawab Naya cengengesan
"kebiasaan kamu mbak, mana cempreng lagi suaranya, aku jamin ikut lomba karaoke pasti kalah kamu mbak"
ledek Ridwan yang selesai makan langsung kabur ke wastafel agar tidak kena tabok kakaknya
Juna langsung menenangkan Naya agar tidak menyerang adiknya
"awas kamu ya Wan, tunggu pembalasanku"
gumam Naya kesal
"Naya ayo makan"
tegur Juna
Naya nyengir lalu mangambil nasi dan lauknya lalu menyantap bersama Juna karna cuma Juna yang masih belum menghabiskan nasinya
selesai sarapan Juna dan Naya berpamitan dengan ibu Naya untuk menjemput Malik pulang karna bapak dan Ridwan sudah berangkat kerja
"maaf ya sayang gak bermaksud gak sayang sama kamu tapi kakak harus segera menyelesaikan pekerjaan kakak biar bisa ambil cuti panjang"
ucap Juna tiba tiba
"he'em, tapi kenapa kakak minta maaf, apa kakak punya salah sama aku?? salah apa?? hayo ngaku??"
tanya Naya yang tidak sadar sudah menyindir Juna dengan nyanyi
Juna menoleh kearah Naya karna terkejut
"apa dia gak sadar sudah menamparku dengan nyanyiannya itu, ya allah dia kan emang tulalit aku lupa"
gumam Juna dalam hati
"gak sayang gak papa"
jawab Juna
"aneh, gak salah kok minta maaf"
__ADS_1
cibir Naya cuek
Juna pun fokus menyetir kembali
"ehh bentar deh, kak Juna tadi denger aku nyanyi pas mandi ya?? aku keluar kakak udah makan??"
tanya Naya mengingat ingat kejadian mandi
Juna hanya nyengir
"terus kakak kesindir gitu??"
tebak Naya menyelidik sampai wajahnya ia dekatkan ke Juna membuat Juna kaget
"astagfirullah Naya kamu itu ya benar benar deh"
Juna gemas
Naya cekikikan
"kalau gak lagi nyetir aku ciun kamu"
gumam Juna dalam hati
"bener gak kak??"
tanya Naya penasaran
Juna membenarkan posisinya karna salah tingkah
"gak usah salting, iya gak??"
tanya Naya lagi
"iya"
jawab Juna nyengir
Naya tertawa puas
hahhahahahaha
"ya allah kak padahal mulutku ini asal bersuara loh gak maksud nyindir, maaf ya kak jadi ngrasa kesindir"
ucap Naya nyengir
"ya gak papa sayang, kakak juga minta maaf ya sibuk terus jadi kurang mratiin kamu"
jawab Juna tangan satu memegang tangannya Naya tangan satunya fokus nyetir
Naya mengangguk tersenyum
"kak putar musiknya dong sepi amat kayak kuburan"
cibir Naya nyengir
"kamu saja yang nyanyi, kan pinter nyanyi walaupun cempreng"
ledek Juna
"hmm nanti kuping kakak sakit denger suaraku, udah ahh puter musiknya kak"
pinta Naya
lalu Juna pun langsung memutar musik mobilnya
"pucuk dicinta ulampun tiba kata pepatah, kubutuh cinta kamu pun datang aku bahagia, pernah merasa sakitnya hati kecewa, lalu kau hadir aku terlena tiada berdaya..."
Naya menyanyikan lagu lesti gejora yang sedang diputar Juna
"aku siap jadi milikmu siapkah kau menjadi imamku, aku takut fitnah dan dosa bila berdua dua dengan mu, apalagi yang kau tunggu jadikan aku halal untukmu, ayah ibu beri restu bawa aku kepenghulu, bawa aku kepenghulu"
Juna ikut bernyanyi dengan Naya walaupun gak hafal liriknya asal mutut ikut menganga saja hingga Naya tertawa karna tau Juna kerepotan ikutin lirik yang dinyanyikannya
hahahaha
"kak Juna lucu deh, ada ada saja kakak ahh"
"kamu hafal banget ya sayang lagu lagu begituan"
ucap Juna lembut membelai kepala Naya yang tertutup kerudungnya
"hafal dong, lagu apa aja aku hafal kak dangdut india, pop, semua hafal yang gak hafal lagu inggris mandarin"
jawab Naya cengengesan
"kalau lagu korea bisa dikit dikit"
lanjut Naya nyengir
"kebiasaan kamu ya, tukang nonton sinetron drama drama"
celetuk Juna
"hehehe, maklum pengangguran"
jawab Naya cengengesan
**
"mas kak Naya jadi bantuin kita kan mas, buat serasahan kamu??"
tanya Tata khawatir karna pernikahan kakaknya tinggal sepuluh hari lagi
mereka berbincang diruangan Bagas karna Tata menyerahkan berkasnya ke Bagas
"jadilah Ta hari ini Juna dan Naya lagi jemput Malik, jadi besok akan kerumah ibu untuk ngambil barang barang mas yang akan dibikin parsel sama Naya"
Bagas memberitahu
"owhh, dia sungkan nganggur mas, makanya mau bantuin ini itu coba orang lain mana mau, mending nganggur daripada capek capek"
puji Tata pada Naya
"ya termasuk kamu juga pemalas"
Bagas menimpali
"kok aku sih mas??"
protes Tata
"ya kan kamu juga pemalas, lebih banyak Naya yang bantuin kamu daripada kamu yang bantuin Naya"
Bagas menjelaskan
"iya sih, kak Naya kerjanya cepet banget aku kalah cepet, dia itu orangnya sat set sat set mase"
Tata cekikikan kala mengingat Naya kadang sering bergurau
"aku jadi kangen dia mas, kangen ocehannya yang gak pernah sepi ruangannya"
ucap Tata
Bagas nyengir
"iya diakan memang suka heboh, jadi kalau gak ada Naya pasti sepi jadi kamu juga larinya kesini cari temen"
jawab Bagas
"iya boring kerja sendirian gaka ada kak Naya"
lanjut Tata
"mulai sekarang dibiasakan karna kedepannya Juna gak akan kebiarin Naya kerja disini lagi, kamu tau sendiri Juna kayak gimana"
Bagas memberitahu
Tata mengangguk mengerti
**
__ADS_1
disudut kantor saat jam makan siang akan dimulai
Stela yang ingin menghubungi sang kekasih
panggilan terhubung
"mas kapan pulang??"
tanya Stela manja
"bentar sayang, bentar lagi selesai"
jawab Adam
"mas nanti saat nikahan mas Bagas dan mas Juna pulang ya, aku gak mau sendirian mulu gak ada gandengan"
rengek Stela
"insyallah, mas akan usahakan"
jawab Adam lembut
"kamu kenapa sih sibuk mulu, gak ada waktu buat aku, aku juga pengen dusayang sama kamu dimanja manja, masak kalah sama mas Juna yang dingin dan cuek itu, dia akan yang seperti es batu bisa cair penyayang banget lagi sama mbak Naya selalu kasih perhatian, aku iri tau"
Keluh Stela pada Adam pacarnya
"gak usah iri, masak iri sama kakak sendiri, gak baik"
tegur Adam
"ya abisnya mas jarang mratiin aku, gimana aku gak kesel coba"
bantah Stela kesal
"aku kan sibuk sayang lagian seminggu yang lalu kita baru ketemu kok"
ucap Adam
"kan udah lama, aku pengen tiap hari ketemu kamu, bareng terus sama kamu"
protes Stela kesal
"mau bareng terus ya nikah, kapan kamu siap mas halalin?? hmmm??"
tanya Adam serius
"tau ahh"
jawab Stela masih kesal tapi ia senang karna pacarnya ada niatan untuk menjalin hubungan serius
"lah ngambek, mas serius nihh?? kapan siap?? mas akan meminta pada kedua orang tuamu untuk menjadi kekasih halalku"
ucap Adam lagi
"terserah, aku siap siap aja, kapan mas siap?? yakin sia??"
tantang Stela
"ok secepatnya mas akan atur jadwal mas agar bisa datang kerumah orang tuamu untuk melamar"
jawab Adam menerima tantangan Stela
**
tidak lama mobil Juna sampai dipekarangan pondok pesantren dimana Malik menuntut ilmu
"sayang sudah sampai, ayo bangun??"
Juna membangunkan Naya dengan lembut yang tertidur
"hmmm"
jawab Naya mengucek matanya
"udah sampai kak??"
tanya Naya sudah duduk tegap
Juna mengangguk dan keluar mobil
begitu pun dengan Naya
"sayang, kakak ke kantor pengurus dulu ya??"
ucap Juna memberitahu
Naya mengangguk dan menuju diteras dhalem yang sering buat kunjungan
Juna menuju kantor pengurus untuk meminta izin untuk bertemu dan meminta izin pulang dengan alasan acara keluarga selama beberapa minggu kedepan
pihak pengurus pun bingung karna izin terlalu lama
"bagaimana dengan sekolahnya pak?? Malik masih sekolah kalau terlalu lama kasian nanti banyak yang tertinggal pelajarannya"
ucap pengurus pondok
"saya akan menghubungi pihak sekolah kang, untuk sementara online dulu, saya akan usahakan agar Malik tidak ketinggalan pelajaran selama dirumah dan saya akan memastikan Malik mengerjakan semua tugas yang akan diberikan dari pihak sekolah nantinya"
Juna meyakinkan pemgurus pondok agar mengizinkannya membawa Malik pulang
pengurus tampak berfikir sejenak sebelum menyetujuinya
"baiklah pak saya akan ijinkan Malik pulang, tunggu sebentar saya panggilkan Maliknya dan surat izinnya"
jawab pengurus pondok dan berlalu menghampiri Malik memberitahukan kepulangannya
"beneran kang?? aku pulang dijemput umi sama om Juna??"
tanya Malik memastikan
"iya tadi kang Fajar lihat umi sama om Juna kok"
jawab pengurus pondok yang bernama Fajar tersebut
ia menjabat sebagai kepala pondok yang sering disebut kang lurah pondok
"asikkkk"
teriak Malik langsung berlari keluar untuk menemui Naya dan Juna
Juna sudah melihat Malik lari dari kejauhan ia langsung tersenyum senang melihat calon anak sambungnya lari menghampirinya
"om Juna"
teriak Malik senang
Juna merentangkan tangannya agar dipeluk Malik
"jangan lari larian sayang nanti jatuh"
tegur Juna memeluk Malik
Malik hanya cengengesan
"terima kasih kang"
ucap Juna pada Fajar pengurus pondok
"sama sama"
jawab Fajar sopan lalu memberi waktu untuk Malik dan Juna
"om mana umiku?? kata kang Fajar umi dan om Juna mau jemput aku ya??"
tanya Malik polos
"iya, ayo temui umi, dia menunggumu sayang"
jawab Juna lembut lalu mereka pun berjalan bersama saling bergandengan menuju Naya berada
dari kejauhan Naya melihat anak dan calon suaminya berjalan bersama penuh kegembiraan dan kebahagiaan membuat Naya merasa bersyukur
__ADS_1