Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
tonggos


__ADS_3

"aku mencintainya dalam diam Gga. bahkan dia baru tau bahwa aku sangat mencintainya. dia baru tau telah lama aku memendam perasaannya."


jelas Juna.


"ya allah mas. tapi mereka masih berumah tangga mas."


nasehat Rangga.


"iya aku tau Gga. makanya aku masih ingin menunggunya. aku tau rumah tangga mereka sudah tidak baik baik saja. aku masih mengharapkannya."


ucap Juna penuh dengan keyakinan.


"tapi perempuan itu sedang hamil kan mas. tidak mungkin mereka akan berpisah. selain itu apa mas bisa menerima anaknya."


tanya Rangga.


"aku akan menerima berapapun anaknya Gga. aku akan menyayangi mereka seperti aku menyayangi ibunya. aku menerima segala kekurangan dan kelebihannya. aku menerima semuanya."


ucap Juna pasti.


"aku gak tau harus gimana mas. melihat keyakinan kamu yang seperti ini. tapi bagaimana dengan perjodohanmu dengan Ratna mas?? apakah harus dibatalkan?? terus gimana dengan perasaan Ratna nanti. aku juga melihat dia sepertinya juga tergila gila sama kamu mas."


tanya Rangga.


"biarkan saja perjodohan itu. besok saat bertemu aku akan bicarakan semuanya."


jawab Juna pasti.


"ok kalau begitu."


Rangga pasrah.


**


malam pun tiba setelah Bagas pulang dari kantornya dan ia langsung bergegas siap siap untuk bertemu orang yang akan dijodohkannya.


"assalamualaikum bu."


Bagas mengucap salam saat sampai dirumah ibunya. Tata dan ibunya yang sudah menunggu kehadiran Bagas pun langsung menyambut kedatangan anaknya.


"kamu sudah siap Gas??"


tanya ibu Bagas pada anak laki lakinya.


"insyallah siap bu."


jawab Bagas pasti.


"ya sudah ayo berangkat nak. bismillah."


ucap ibu Bagas.


Tata mengikuti langkah kakak dan ibunya.


"rumahnya jauh gak bu??"


tanya Tata penasaran. saat masih ditengah jalan.


"gak terlalu jauh kok Ta. nanti ibu arahkan jalannya ya Gas."


ibu beralih ke Bagas.


"iya bu."


Bagas menurut.


sebenarnya Bagas agak bimbang dengan perjodohan ini. tapi demi ibunya yang menginginkan menantu saat ini Bagas jadi menuruti keinginan ibunya.


"bu kok aku ragu ya bu dengan orang yang akan dijodohkan sama mas Bagas??"


Tata mengungkapkan isi hatinya.


kening ibu berkerut menatap anak perempuannya.


"ragu kenapa nak??"


tanya ibu bingung.


"agak ragu aja bu. apa lagi denger namanya. apa ibu sudah lihat orangnya??"


tanya Tata penasaran.


"belum Ta. tapi kata ibunya elvi cantik kok ta. dia juga anak yang baik. belum menikah. ibu percaya aja."


jawab ibu Tata apa adanya.


" semoga saja kekhawatiran aku salah ya bu??."


ucap Tata.


"iya ta. yang penting bismillah ta."


ibu Tata meyakinkan.


"nanti gang yang itu masuk ya Gas. rumahnya no 6."


ibu Bagas mengarahkan jalan.


Bagas hanya mengangguk menuruti arahan ibunya.


"itu Gas rumahnya yang warna kuning itu Gas."


ibu Bagas memberitahu.


"iya bu. berhenti didepan situ aja ya bu."


ucap bagas.


entah mengapa firasat Bagas sangat tidak enak. sampai sampai mobil diberhentikan agak jauh dari rumah yang akan didatangi.


"iya gak papa nak. kita jalan aja."


jawab ibu mensetujui perkataan anak laki lakinya.


setelah mobil berhenti Bagas Tata dan ibunya turun dari mobil.


"ayo bu kok mala melamun??"


tanya Bagas heran.


"Gas kok perasaan ibu ada yang agak aneh ya Gas??"


jawab ibu Bagas.


"aneh gimana bu. kan ibu yang tau orangnya seperti apa."


tanya Bagas lagi


"ibu cuma tau ibunya saja Gas. ibu gak tau anaknya seperti apa. soalnya belum pernah lihat Gas."


jawab ibu apa adanya.


"ya sudah bu nanti juga kita lihat anaknya bu."


Bagas meyakinkan hati ibunya agar tidak ragu.


"emang mas gak ngerasa gimana gitu mas??"


tanya Tata.


"tadi kan mas udah bilang dimobil ta. tapi ya sudah mau gimana lagi sudah terlanjur. kita lihat saja nanti bagaimana anaknya ya??"


Bagas meyakinkan diri sendiri dan adiknya.

__ADS_1


"ya sudah ayok jalan. kasian yang menunggu didalam bu ayo."


ajak Bagas.


"assalamualaikum."


Bagas Tata dan ibu mengucap salam saat masuk kerumah yang akan dijodohkan.


"waalaikum salam. mari silahkan masuk bu. alhamdulillah sudah datang. silahkan duduk dulu bu nak. pak pak tamu sudah datang pak."


jawab ibu Mina dengan ramah. mempersilahkan keluarga Bagas.


"ya bu."


jawab pak Roto suami bu Mina keluar menuju tamu untuk menyambut keluarga Bagas.


"alhamdulillah."


ucap pak Roto dengang senyum ramah menjabat tangan tamunya.


Bagas hanya tersenyum menerima jabatan tangan dari pak Roto.


" perkenalkan bu ini Bagas yang akan dijodohkan dengan anak ibu yang bernama Elvi itu bu. dan yang ini Tata adiknya bu."


ucap ibu Bagas.


"ya bu. ganteng ya nak Bagas. nak Tata juga cantik."


ibu Mina basa basi.


"terima kasih bu."


ucap Bagas dan Tata bersamaan.


"iya bu dimana nak Elvi nya bu. Bagas ingin tau anaknya."


ibu Bagas langsung ketujuan.


"iya bentar. tapi sebelumnya ada yang ingin saya sampaikan dulu bu."


ibu Mina ragu ragu.


"iya apa itu ya bu??"


tanya Ibu Bagas bingung.


"tapi apakah nak Bagas mau menerima Elvi bu.??"


bu Mina mala balik bertanya membuat ibu Bagas bingung ingin jawab apa.


"emang ada apa bu sama nak Elvi??"


tanya ibu Bagas penasaran.


"itu bu ehmm."


ibu Mina ragu.


"bu boleh pinjem kamar mandi tidak bu saya kebelet pipis."


Tata memotong pembicaraan orang tuanya. bukan tanpa sengaja Tata memotongnya. tapi melihat wajah bu Mina yang bingung mau menjelaskan tentang anaknya yang akan dijodohkan membuat Tata penasaran apa yang sebenarnya terjadi. menunggu ucapan bu Mina membuatnya tambah penasaran akhirnya Tata inisiatif izin kekamar mandi agar tau apa yang sebenarnya terjadi.


"boleh boleh nak. mari ibu antar."


ucap ibu Mina ramah. bu mina pun bangkit dari duduknya mengantarkan Tata kekamar mandi.


Tata pun mengikuti lamgkah bu Mina menuju kamar mandi.


saat melintas disebuah kamar Tata terkejut melihat wanita berdandan menor gigi tonggos berjalan keluar kamar. tetapi Tata tetep berusaha tenang.


"bu mana mas yang namanya mas Bagas bu. ganteng tidak bu. kalau tidak ganteng aku gak mau bu."


ucap Elvi tanpa dosa.


"yang ada mas ku yang gak mau sama kamu. gila kali mau sama kamu."


"sudah kamu diam saja dulu Vi ibu mau nganterin Tata kekamar mandi. kebelet pipis katanya."


ibu Mina memberi tahu. dan berlalu dari hadapan Elvi.


"bu itu tadi siapa bu??"


tanya Tata pura pura tidak tau.


"nanti kamu akan tau nak."


jawab ibu Mina.


"ini kamar mandinya. silahkan ibu tunggu diruang tamu ya nak. kamu bisa kan keluar sendiri."


tanya ibu Mina saat sudah didepan kamar mandi.


"ya bu. maaf ngremotin. saya masuk ya bu."


pamit Tata.


"iya."


jawab bu Mina kemudian kembali keruang tamu.


Tata yang masuk kamar mandi mengunci pintunya. menyalakan kran air supaya tidak kelihatan sedang berbohong. Tata mengambil ponsel dari saku gamisnya untuk memberi tahu kakak nya Bagas.


{mas kamu tau tidak Elvi tu orang seperti apa??


ya allah mas jelek dandanan menor. yang nomer satu mas. giginya tonggos. mas masih mau nglanjutin perjodohan ini??} lalu mengirimkannya ke Bagas.


Bagas yang mendengar pesan tak menghiraukan karna takut dianggap tidak sopan.


"siapa yang sms disaat seperti ini."


batin Bagas dalam hati.


Tata yang tidak sabaran menunggu jawaban sang kakak akhirnya menelepon agar cepat tau dan bisa cepat kabur.


panggilan pertama tidak di angakat oleh kakaknya panggilan kedua masih tidak dihiraukan karna Bagas tidak tau yang mengirim pesan dan telepon adiknya. akhirnya dipanggilan ke tiga Bagas membuka ponselnya dan Bagas kaget adiknya Tata yang menghubunginya dari tadi.


"ada apa dengannya kenapa mala telpon bukannya dia lagi dikamar mandi. apa ada sesuatu yang terjadi tidak mungkin Tata tidak sopan seperti ini. apa mungkin pesan tadi dari dia."


ucap Bagas dalam hati.


akhirnya Bagas membuka pesan dari adiknya.


"astagfirullahal adzim."


reflek Bagas mengucap istigfar.


"ada apa Gas. kok istigfar kayak gitu??"


ibu Bagas kaget.


"ehmm itu bu. i itu."


ucap Bagas terbata.


"itu apa??"


tanya ibu penasaran.


"itu bu Tata kok lama banget ya bu. suruh cepet bu biar cepetan selesai. apa aku samperin aja bu??"


ucap Bagas sekenanya.


"biar ibu saja nak yang nyamperin ke nak Tata."

__ADS_1


usul bu Mina.


saat bu Mina bangkit dari duduknya. ternyata Tata sudah muncul duluan.


"maaf ya bu lama ya. kebelet soalnya. hehehe."


Tata cengengesan.


Bagas curi curi pandang ke adiknya meminta pendapat harus bagaimana. Tata yang menyadari tatapan dari kakaknya pun memberitahu lewat tatapan mata dan gerak kepalanya. untuk bersabar sebentar lagi jangan bikin curiga. Bagas yang mengerti maksud dari mata adiknya pun jadi pasrah.


"bu bagaimana apakah kami bisa melihat nak Elvi??"


tanya ibu Bagas dengan lembut.


"sebentar bu saya akan panggilkan Elvi."


jawab bu Mina lalu bangkit meghampiri Elvi anaknya.


mereka pun menunggu kedatangan Elvi menampakkan dirinya.


tok tok tok


ibu Mina mengetuk pintu kamar putrinya. Elvi pun membukakan pintunya.


"iya bu apakah mas Bagas ganteng??"


tanya Elvi pada ibunya.


"ganteng. ayo orangnya mau ketemu kamu nak."


ibu Mina memberitahu.


Elvi mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya menuju ruang tamu bersama ibunya.


Bagas yang sudah mengetahui calon istrinya seperti apa dari adiknya. ia gelisah ingin cepat cepat berlalu dari rumah calon istrinya.


saat Elvi berdiri didepan Bagas.


"astagfirullah haladzim."


teriak Bagas terkejut kaget sampai loncat kakinya diatas kursi. walaupun ia sudah diberi tahu sama Tata Bagas masih juga kaget melihat Elvi.


ibu Bagas tak kala kagetnya dengan Bagas yang belum mengetahui calon mantunya berbentuk seperti apa.


"ya allah ini yang namanya Elvi bu??"


reriak ibu Bagas pada bu Mina.


"mas Bagas ganteng banget banget. aku mau nikah sama mas Bagas bu."


celoteh Elvi menghampiri Bagas yang dihadang oleh Tata karna tau Bagas semakin ketakutan saat Elvi mendekat padanya.


"kamu minggir aku mau nikah sama mas Bagas."


coloteh Elvi lagi.


"jangan kesini aku takut. aku gak mau bu nikah sama dia."


Bagas memeluk ibu nya ketakutan seperti anak kecil. ibunya dengan sigap melindungi anaknya.


"maaf bu sebaiknya perjodohan ini dibatalkan saja. tidak mungkin anak saya menikah dengan Elvi yang seperti itu bu."


ucap ibu Bagas kesal karna merasa ditipu.


"maaf jangan dibatalkan bu. nanti gampang giginy bisa dioperasi bu kalau masalah tingkah nanti bisa diajarin agar lebih dewesa bu yang penting nak Bagas mau menerima Elvi."


ibu Mina memelas.


"tidak tidak saya tidak mau bu. mending saya menduda saja selamanya daripada harus menikahi dia."


ucap Bagas tangannya menunjuk kearah Elvi.


" mas bagas aku mau menikah sama kamu. kamu ganteng. kalau tidak ganteng aku tidak mau mas."


celoteh Elvi yang membuat Bagas Tata dan ibunya semakin merinding mendengar ucapannya.


"yang ada mas Bagas yang tidak mau nikah sama kamu. jelek kayak gini. tonggos lagi."


Tata kesal tangan masih menghadang Elvi yang selalu berusaha mendekati kakaknya.


"kamu siapa udah jelek gak cantik seperti aku. minggir kamu jangan halangi aku menikah sama mas bagas. kamu cemburu kan sama aku dan mas Bagas?? kami saling menyayangi"


celoteh Elvi.


huekk huekk.


Bagas yang mendengar kata kata dari Elvi langsung mual ditempat. minuman yang tadi ia teguk seketika keluar kembali dari mulutnya.


"mas Bagas jorok banget sih masak muntah disini gak sopan banget."


Tata menoleh kearah kakaknya yang sedang mengeluarkan isi perutnya.


"aduh Gas gimana sih kamu. malu maluin masak muntah disini.??"


tegur ibu.


"aduh gimana ini pak??"


adu ibu Mina pada suaminya.


" bapak juga gak tau bu. bagaimana bisa semuanya menolak anak perempuan kita bu. bapak juga bingung bu."


ucap pak Roto nelangsa. semua pria yang akan dijodohkan oleh anak perempuannya selalu menolak ketika melihat Elvi.


"gimana gak menolak pak anak bapak modelnya kayak gitu. terus agak gak waras lagi."


Tata sungkan.


" dia begini karna sering ditolak nak. Elvi ingin sekali menikah tapi dia selalu batal karna semua pria takut padanya."


ibu Mina memberi tahu.


"ya iya lah bu pasti akan kabur. kalau modelnya begini. sebaiknya mbak Elvi berobat dulu bu kalau dia normal dan sembuh baru dijodohin lagi pasti bakalan ada yang mau kalau dia waras. tapi jangan sama mas ku. aku gak rela. soal giginya gampang diatur bu. yang penting mbak Elvinya waras dulu."


Tata menerangkan.


"tapi nak kalau Elvi menikah kan Elvi bisa dirawat dan dibiayai suaminya nak. jadi ibu gak pusing lagi."


tukas bu Mina dengan entengnya.


"apaaa.??"


Bagas Tata dan ibunya terkejut mendengar ungkapan bu Mina.


"bu Bagas mau cari istri bukan anak asuh enak saja. suruh ngurusin anak kamu yang gila ini??"


ibu Bagas tidak terima.


"ayo pulang Gas Ta males ibu disini."


ibu mengajak anak anaknya berlalu dari kediaman Elvi.


Bagas Tata dan ibunya bangkit mulai berjalan keluar.


"mas Bagas ayo kita nikah mas??"


rengek Elvi mau memegang tangan Bagas yang dihadang oleh adiknya Tata.


"minggir kamu. jangan sentuh mas ku."


Tata menghalangi Elvi.


Bagas begidik melihat bentuk Elvi. dan langsung melarikan diri menuju mobil.

__ADS_1


"maaf bu saya membatalkan perjodohan ini saya tidak mau punya menantu stress seperti nak Elvi."


ucap ibu Bagas dan Tata dan berlalu keluar menuju mobil.


__ADS_2