
Naya masih terdiam bingung harus bagaimana
seberapa kayakah dirinya itu yang ada diotaknya
dan terus berputar
"sayang kakak akan kasih tau semuanya tapi kamu harus janji tolong jangan pernah tinggalin kakak dalam keadaan apapun, kamu bisa janji kan??"
pinta Juna setelah mereka duduk
Naya hanya mengangguk mengiyakan
"kakak memang orang berada Nay bisa dibilang kaya raya atau biasa disebut miliader"
ucap Juna lembut hatinya perih melihat kekasih hatinya hanya diam mematung entah ucapannya didengar atau tidak Juna pun melanjutkan penjelasannya
"rumah kakak di Jakarta lebih besar dari villa ini kakak mempunyai beberapa kantor cabang diberbagai negara dan kota dibidang yang berbeda beda, kakak juga mempunyai kendaraan udara yang sering kakak gunakan kemana saja termasuk bolak balik ke Semarang, Naya apa kamu mendengarkan??"
tanya Juna lembut setelah memberitahunya
"apalagi?? ada lagi selain itu??"
tanya Naya dengan suara parau
"kakak tau melihat rumah ibu apartemen dan kantor kakak saja sudah membuatku minder kak, aku merasa tidak pantas bersanding denganmu, sebaiknya kakak pikirkan kembali hubungan kita aku takut akan mengecewakan kakak suatu hari nanti aku benar benar takut kak"
ucap Naya jujur ia menangis dipelukan Juna ia masih trauma dengan rumah tangga yang berbeda derajatnya seperti rumah tangga sebelumnya bersama Ryan suami pertamanya sarjana playaran sedangkan dirinya hanya lulusan SMA saja dan sekarang dipertemukan dengan Juna yang kaya raya yang membuatnya bertambah takut melangkah kedepan
"jangan bilang begitu sayang kamu sudah janji tidak akan meninggalkan kakak"
jawab Juna penuh permohonan
"kak sebaiknya kakak pikirkan lagi ya aku takut mengecewakan kakak nantinya"
ucap Naya lagi
"Nay apa tidak bisa kita menjalaninya saja tanpa harus memikirkan yang tidak pasti dan tidak akan terjadi"
pinta Juna
"kakak tau bagimu kita kalangan yang berbeda tapi dengan adanya perbedaan itu kita bisa saling melengkapi Nay, kakak hanya ingin kamu, tolong jangan tinggalkan aku sayang kakak mohon"
ucap Juna berlutut memohon pada Naya
Naya kaget melihat Juna sampai memohon sampai seperti itu ia pun bingung harus bagaimana menyikapinya
Naya sudah terlanjur jatuh cinta padanya tapi melihat perbedaan yang begitu jauh membuatnya ingin mengubur cintanya kembali takut dikecewakan dan mengecewakan setelah melihat kesungguhan hati Juna yang tulus ia pun akan mencoba menjalaninya dahulu dengan penuh pertimbangan
"ok kak aku akan mencoba menjalaninya dulu, tapi tolong kalau aku bikin kesalahan yang membuat kakak kecewa kasih tau aku tegur aku marahi aku biar aku sadar"
pinta Naya membantu Juna berdiri
Juna mengangguk tidak terasa ia menitikkan air mata bahagia
"terima kasih sayang terima kasih"
ucap Juna memeluk erat Naya
"sesak kak aku gak bisa nafas"
rengek Naya
"maafkan kakak sayang kakak bahagia banget, kakak benar benar takut kehilanganmu, jangan pernah bicara tentang perpisahan ya kakak takur, jangan pernah berubah, jadilah dirimu sendiri, jadilah Naya ku yang selalu terseyum ceria dan konyol seperti biasanya yang selalu membuatku tertawa dan bahagia yang selalu aku rindukan setiap saat"
pinta Juna lembut
Naya mengangguk dalam senyumannya
mereka saling memandang satu sama lain sepasang mata bertemu sepasang mata satunya lagi dan hanyut dalam cinta yang semakin membesar yang membuat Naya tanpa sadar mengecup pipi Juna untuk pertama kalinya setelah mantan suaminya
Juna terkejut dengan mata membulat sempurna dengan kenekatan kekasih hatinya
setelah Naya sadar akan perbuatannya ia pun malu dan hendak melarikan diri karna berani mencium Juna tapi dengan cepat Juna menangkapnya
"jangan lari ayo tanggung jawab kamu membuatku semakin cepat cepat ingin menikahimu sayang"
ucap Juna tersenyum memeluk Naya dari belakang
"maafkan aku kak, aku khilaf aku tidak sengaja dengan perbuatanku barusan, maaf"
Naya memohon dengan wajah memelasnya
"baiklah baiklah baiklah kakak akan maafkan tapi yang satu ini jadi ngiri karna kamu menciumnya hanya satu"
ucap Juna menunjuk pipi kiri yang belum dicium Naya
"gak mau, tadi aku cuma khilaf kak, tolong jangan membuatku tambah liar memandangmu"
Naya memohon
Juna mala tertawa monyondengar kata terakhir Naya
"kamu bisa liar juga?? seliar apa sih kakak penasaran"
tanya Juna membalikkan badan Naya jadi berhadapan dengannya
"aku sudah pernah menikah kak jadi aku lebih berpengalaman disemua bidang rumah tangga, jadi tolong jangan pancing aku"
Naya memberitahu dengan wajah memelas
Juna menahan tawa dengan menggigit bibirnya mendengar pengakuan Naya
"ok ok ok kakak tidak akan membangunkan ular yang lagi tidur, kita keluar sekarang daripada nanti kakak yang jadi liar"
ucap Juna kemuadian keluar dari ruang kerjanya
"wajahnya kalem walapun kadang konyol tapi ternyata bisa liar juga ya"
gumam Juna dalam hati ia tersenyum cengengesan
"sana masuk jangan lama lama diluar"
ucap Juna mengantar Naya sampai depan kamarnya
"kenapa memangnya??"
tanya Naya penasaran
"dingin"
jawab Juna manja
Naya cekikikan
"sudah sana aku mau masuk"
Naya mengusir Juna
"kamu masuk dulu sayang baru kakak pergi"
perintah Juna
"ok deh"
jawab Naya lalu masuk kedalam kamarnya
__ADS_1
"kak Juna??"
panggil Naya kepalanya keluar pintu Juna menoleh dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Naya
"good nigth"
ucap Naya langsung menutup pintu kamarnya
Juna tersenyum
"good nigth too"
jawab Juna lalu pergi menuju kamarnya untuk beristirahat
Naya termenung kembali dengan semua keputusannya
Stela yang melihatnya termenung pun hanya hanya memandangnya saja dan kembali sibuk dengan ponselnya
Stela tidak ingin ikut campur dengan urusan kakaknya selagi kakaknya masih bisa mengatasinya
***
keesokan harinya mereka bersiap siap pulang setelah selesai sarapan yang dibuat ibu Naya dan ibu Juna yang dibantu Naya dan Stela
"monggo bu mampir dulu dirumah kami"
ibu Naya mempersilahkan masuk keluarga Juna
keluarga Juna pun masuk ke dalam dan duduk diruang tamu yang ditemani Ridwan dan ayahnya
Naya dan ibunya membuatkan minuman dan cemilan
"silahkan diminum bu tehnya"
ibu Naya mempersilahkan
Stela Juna dan ibunya pun meminumnya dan mengobrol bersama dan tidak lama mereka pun pamit pulang kerumah setelah memberitahu akan datang melamar Naya secara resmi
Naya termenung kembali dikamarnya setelah kepulangan keluarga Juna
ia bingung untuk melangkah kedepan tapi melihat ketulusan Juna ia pun tidak tega
tiba tiba ponselnya berdering panggilan dari Ryan mantan suaminya Naya dengan malas mengangkatnya
"assalamualaikum"
ucap Naya
"waalaikum salam Nay apa apaan kamu pergi bersama keluarga mas Juna, kamu tidak mikirin perasaan aku hahh, aku memintamu rujuk tapi mala kamu tolak dan sekarang aku melihatmu bersenang senang bersama mas Juna, apa hubunganmu dengannya??"
tanya Ryan emosi
Naya hanya diam saja mendengarkan
"Naya apa kamu dengar aku??"
bentak Ryan
"mas aku mendengar, aku ingin mendengarkannya sampai selesai, apa kamu sudah selesai bicara??"
Naya beetanya balik dengan suara tenang setenang mungkin
"Naya aku mohon kembalilah padaku demi anak kita"
Ryan memohon
"Naya??"
panggil Ryan
ucap Naya tegas
"aku tidak mau mengulang kesedihan yang sama lagi denganmu"
lanjut Naya
"sebaiknya kita bertemu saja Nay mas akan bicara denganmu baik baik"
saran Ryan
"tidak perlu mas, aku sudah menjelaskan semuanya tidak ada yang perlu dibicarakan, jadi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, kalau kamu ingin mengunjungi Malik silahkan aku tidak akan melarangnya mas, tapi satu jangan pernah kamu bahas perpisahan kita didepan Malik biarkan saja yang menjelaskannya ke dia"
pinta Naya
"maafkan aku Nay bukan maksud untuk menyakiti anak kita tapi ibu yang bicara duluan aku juga bingung harus menjelaskannya seperti apa"
jawab Ryan
"sudah mas tidak usah dibahas lagi assalamualaikum"
ucap Naya mengakhiri panggilan sepihak
"apakah hal baik aku bersama dengan kak Juna, jujur kak Juna terlalu sempurna untukku tapi aku juga tidak mau kembali bersama mas Ryan"
dilema Naya
***
dikediaman Bagas sedang mempersiapkan barang bawaan untuk acara lamaran kerumah Intan
Bagas memutuskan untuk melamar Intan lebih cepat dan acara pertunangannya akan dilaksanakan minggu berikutnya sekalian menentukan hari pernikahan untuknya
"kak nanti kamu tidak mau ikut??"
tanya Tata
"tidak Ta nanti saja kalau acara tunangan kakak akan ikut, kalau lamaran kan harus keluarga ini dari masmu"
Naya memberitahu
"iya sih tapi kan kamu tau sendiri kak keluargaku hanya tersisa aku ibu dan mas Bagas saja, apa kamu gak kasian kak?? pasti mbak Intan akan senang kita datang semuanya"
rengek Tata
"ok deh nanti aku telpon kak Juna bagaimananya, tapi gak janji ikut ya Ta, kakak gak mau ngasih kamu harapan palsu"
jawab Naya
lalu ia pun menghubungi Juna untuk ikut serta acara lamaran Bagas setelah Juna mengizinkan dan ia pun ikut serta Naya memberitahu Tata bahwa dirinya dan Juna akan ikut acara
"Ta kak Juna dan kakak ikut nanti, jam berapa kesananya??"
tanya Naya
"alhamdulillah, habis sholat isya' kita berangkat bareng dari rumah ibu kak"
jawab Tata senang dan memeluk Naya
"terima kasih kak aku senang sekali"
ucap Tata memberitahu
"siap siap siap"
jawab Naya lalu mereka mulai sibuk dengan pekerjaannya Tata Naya dan Bagas pulang lebih awal karna ikut membantu acara untuk malam nanti
__ADS_1
Naya pulang dijemput Juna dan berangkat bersama kerumah Bagas
"bu pak Juna minta izin membawa Naya ikut acara lamaran Bagas kerumah Intan pak, nanti saya akan mengantarkannya kembali"
ucap Juna
bapak Naya tersenyum
"benar Nay??"
tanya bapak Naya
"iya pak tadi Tata merengek Naya dan kak Juna disuruh ikut karna hanya Tata mas Bagas dan ibunya saja pak yang hadir"
jawab Naya
"ya sudah, bapak titip Naya ya Jun, jaga Naya selama bersamamu nak"
pinta bapak Naya pada Juna
"baik pak insyallah saya akan menjaga Naya, terima kasih atas kepercayaannya pada saya pak"
jawab Juna sopan
Naya pun masuk kedalam kamarnya untuk mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan diacara Bagas nanti.
setelah selesai Juna dan Naya pun pamit berangkat kerumah Bagas
saat sampai dihalaman Ryan tiba tiba datang menghampiri
"mau kemana Nay??"
tanya Ryan menahan kesal
"mau kerumah mas Bagas mas ada acara lamaran"
jawab Naya datar
"siapa yang dilamar?? bukanya Tata sudah menikah?? apa itu hanya alasan kamu saja Nay??"
tanya Ryan penuh selidik
"Bagas akan melamar pacarnya dan kami diundang untuk ikut serta dalam acaranya"
jawab Juna sopan
"aku ikut"
ucap Ryan lagi
"gak usah aneh aneh mas, kamu tidak diundang dan aku juga gak mau berurusan lagi sama kamu"
jawab Naya dingin ia langsung menarik tangan Juna untuk masuk kedalam mobil dan memintanya untuk segera meninggalkan rumah orang tuanya
"Nay Nay tolong bicara sebentar saja denganku, aku akan menjelaskan semuanya"
Ryan mengetuk ngetuk kaca mobil Juna
Naya tidak menghiraukan ucapan Ryan
"Nay apa tidak sebaiknya kamu bicara sebentar dulu sama mas Ryan"
saran Juna
"tidak usah dan tidak perlu ada yang dibicarakan semuanya sudah selesai"
ucap Naya masih mode datar
"ya sudah"
jawab Juna lalu melajukan mobilnya
"sudah Yan biarkan Naya bahagia, sudah takdir kalian harus berpisah, bapak juga tidak rela melihat Naya selalu sedih dan menangis karna ulah kamu dan keluargamu, lepaskan Naya dengan ikhlas nak"
ucap bapak Naya lembut walau bagaimanapun juga Ryan adalah menantu yang baik dan bertanggung jawab karna masalah orangnya membuat rumah tangganya tidak bisa bertahan
"tapi pak aku masih mencintai Naya pak aku sangat menyayanginya pak"
bantah Ryan menitikkan air matanya
"bapak tau kamu sangat sangat mencintai anak bapak itu, tapi bagaimana dengan orang tua Yan yang selalu bikin gara gara ke Naya, sudah lah mak kamu lebih baik pulang, lupakan Naya nurutlah dengan pilihan ibumu insyallah rumah tanggamu akan bahagia kelak"
nasehat bapak Naya
Ryan hanya menghela nafas menghapus air matanya dan pergi tanpa menjawab ucapan mantan mertuanya tersebut
didalam mobil Juna dan Naya dalam keheningan dengan pikiran masing masing
"Nay kamu tidak apa apa??"
tanya Juna memecah keheningan
"gak papa kok kak, jangan khawatir"
jawab Naya tersenyum
"kalau kamu ada masalah cerita ke kakak sayang kita hadapi bersama, jangan kamu pendam sendiri kakak tidak rela kamu kesulitan sendiri"
ucap Juna melirik ke Naya dan kembali fokus mengemudi
"ya kak, maaf kalau aku bikin masalah"
jawab Naya tidak enak hati
"yang bikin masalah mas Ryan bukan kamu, jangan menyalahkan dirimu sendiri tolong??"
Juna memohon
"ok kak"
jawab Naya tersenyum
setelah sampai dihalaman rumah orang tua Bagas
Juna dan Naya pun turun dan masuk kedalam rumahnya
"assalamualaikum"
ucap Naya dan Juna bersamaan diambang pintu sambil celingukan
"waalaikum salam masyaalah Juna alhamdulillah kamu sudah datang ayo masuk"
sapa Bagas
Naya dan Juna pun masuk kedalam rumah Juna duduk bersama Bagas karna Bagas meminta sarannya sedangkan Naya ikut membantu Tata dan ibunya yang berada dibelakang
"assalamualaikum Ta Bu??"
sapa Naya setelah bertemu ibu Bagas
"waalaikum salam ya allah sinok ayu datang"
jawab ibu Bagas
Naya tersenyum dan menyalimi ibu Bagas dan ikut duduk bersama mempersiapkan makanan dan barang barang lain untuk dibawa nanti malam
__ADS_1