Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
setiap sholat ku hanya ada kamu


__ADS_3

juna dan bagas saling curhat mengcurhat karna masalah mereka.


***


keesokan harinya Bagas pagi pagi mengunjungi rumah ibu nya untuk membahas perjodohannya dengan anak teman ibu nya sekalian jemput Tata berangkat kerja bersama.


tok tok tok


"assalamualaikum bu."


Bagas mengucap salam kala mengetok pintu rumah ibunya yang masih tertutup rapat.


"waalaikum salam."


jawab ibu Bagas dari dalam rumah dan membuka pintu rumahnya untuk anak laki lakinya.


setelah pintu rumah dibuka oleh ibunya bagas mencium punggung tangan ibu nya dan masuk kedalam rumah.


"tumben Gas pagi pagi udah sampai sini. Tata udah tau belum??"


tanya ibu Bagas heran karna tidak biasanya anak laki lakinya jemput adik perempuannya sepagi ini.


"Bagas udah telpon Tata tadi subuh bu."


jawab Bagas sambil duduk diruang tamu rumah ibunya.


"itu bu Bagas mau tanya soal perjodohan yang ibu tawarkan kemarin bu. apakah masih berlaku apa gimana bu??"


tanya Bagas malu malu.


"ohhh boleh boleh kalau kamu minat nak. nanti akan ibu bilang sama orang tuanya bagaimana apakah anak mereka mau. terus kalau iya nanti kita kerumahnya untuk mempertemukan kamu dan anaknya bagaimana??"


ucap ibu Bagas semangat.


"iya bu Bagas nurut aja sama ibu. insyallah berkah bu."


jawab Bagas tersenyum.


ibu Bagas pun ikut tersenyum.


"alhamdulillah anakku mau. semoga nanti lancar ya allah."


gumam ibu Bagas dalam hati.


"bentar ya Gas ibu buatkan kopi dulu Gas. mau sarapan sekalian gak??"


tanya ibu Bagas.


"kopi aja bu biar padang ni mata."


jawab Bagas cengengesan.


"ya sudah."


ibu Bagas pun berlalu menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk anak laki lakinya.


Tata masuk kerumah ibunya mengantarkan anaknya untuk diantar ibunya kesekolah.


"ibu mana mas??"


tanya Tata duduk dikursi yang kosong.


"bikin kopi Ta."


jawab Bagas santai.


"aku mau juga ahh."


Tata bangkit menuju ibunya kedapur.


"bu aku bikinin kopi sekalian bu ya. bikinan ibu kan enak. aku suka."


Tata memuji ibunya.


"ya sudah ibu bikinin sekalian."


jawab ibu Tata. Tata pun berlalu meninggalakan ibunya yang sedang membuatkan kopi untuk nya.


"kok udah balik?? katanya mau bikin kopi??"


tanya Bagas setelah melihat Tata duduk dikursi ruang tamu.


"bikinin ibu."


jawab Tata tanpa dosa.


"ya allah ta kirain kamu nyamperin ibu kedapur karna mau gantiin ibu bikin kopi sekalian bikin sendiri gak tau nya mala minta dibikinin. gimana sih anak tak ada akhlak kamu."


ucap Bagas sewot.


"yee aku kan pengen dibikinin ibu. mas mah enak dibikin mulu gimana sih sewot. aku kan mau."


jawab Tata cemberut.


"lah mas kan gak ada yang bikinin ta. gak punya istri. kalau punya istri juga yang bikin pasti istri bukan ibu lagi. gimana sih."


Bagas tak kalah sewot.


"makanya nikah. biar ada yang bikinin kopi. gak ibu mulu yang bikinin."


tata tak mau kalah.


"ya mas tau bentar lagi juga bakal nikah kok."


Bagas akhirnya mengalah.


"pagi pagi udah bikin ribut aja. gimana sih anak anak ibu ini."


tegur ibu Bagas meletakkan kopi dimeja.


"iya nih bu mas Bagas sewot. orang pengen dibikinin kopi ibu. dia yang sewot. lagian juga tidak tiap hari kok ibu bikinin. kan jadi kesel bu.


Tata memelas.


"sewot apanya. orang mas cuma mau ngingetin kamu aja biar gak terlalu ngrepotin ibu. ibu udah tua Ta. kasian kalau ibu terlalu capek."


Bagas menasehati adiknya.


"ya ya aku salah."


Tata ngambek.


"sudah sudah jangan ribut pagi pagi. pusing ibu."


diminum dulu kopinya lalu pada berangkat kerja sana."


Tata dan Bagas mengambil gelas yang berisi kopi dan meminumnya.


"hemm kopi buatan ibu emang the best deh."


puji Bagas.


ibu Bagas tersenyum mendengar pujian anak laki lakinya.


"jadi kan gas. nanti ibu tanyain sama teman ibu ya."


ibu Bagas memastikan.


"iya bu insyallah doakan saja ya bu mudah mudah cocok."


jawab Bagas sopan dengan senyuman.


"apanya yang cocok mas."


Tata ikut nimbrung.


"ada deh kepoooo."


Bagas menunjukan tangannya yang ditangkup lalu terbuka.


"terus aja gitu. awas ya kalau ada masalah nanti gak mau aku bantuin."


ancam Tata.


"ya allah adik ku sayang gitu aja marah."


Bagas cengengesan. gemas dengan adiknya mencubit pipinya.

__ADS_1


"gak usah pegang pegang."


Tata ngambek.


ibu Bagas hanya geleng geleng melihat tingkah ke dua anaknya.


"mama tu ya kayak anak kecil aja tukang ngambek."


celetuk akmal dengan santainya.


Bagas hanya tertawa mendengar ucapan keponakannya. Tata memanyungkan bibirnya menanggapi ucapan anaknya.


setelah mengobrol ringan dan menghabiskan kopinya Bagas dan tata pamit berangkat kerja sekalian mengantar anaknya ke sekolah.


"bu nanti jemput akmal ya bu??"


pinta Tata pada ibunya.


"iya ta setelah selesai ibu langsung kesekolahan. sekalian mau ketemu temen ibu."


jawab ibu Tata.


"ya sudah. assalamualaikum."


Tata akmal dan Bagas mengucap salam dan mencium punggung ibunya.


**


disudut kantor Juna memikirkan tentang perjodohan yang ditawarkan oleh orang tuanya.


"apa aku coba aja kali ya. apa aku nanti tidak mengecewakannya. bismillah saja deh."


gumam Juna dalam hati.


ia pun memutuskan menghubungi papanya.


telepon terhubung.


"assalamualaikum Jun. ada apa nak??"


salam papa Juna setelah mengangkat telepon dari anaknya.


"waalaikum salam pa. ini pa mau naya. perjodohan yang waktu itu bagaimana pa??"


tanya Juna tanpa basa basi.


"kamu minat nak??"


tanya papa Juna balik.


"insyallah Juna siap pa."


jawab Juna pasti.


"kalau kamu belum yakin lebih baik sholat lah meminta pada allah untuk menjodohkan kalian berdua nak."


papa Juna menasehati.


"iya pa insyallah nanti akan Juna lakukan lagi sholatnya agar Juna yakin."


jawab Juna dengan sangat pasti.


"ya sudah kalau begitu pa. nanti Juna kabari lagi saja deh. assalamualaikum."


Juna mengucap salam sebelum mengakhiri panggilannya. papa Juna pun membalas salam dari anak laki lakinya dan mengakhiri panggilan teleponnya.


"perasaan aku sholat terus deh. apa aku kurang rajin. tau ahh." gumam Juna.


tapi pikirannya masih berkelana.


"apa aku sholat istikharah lagi aja ya.?? tapi disetiap sholatku hanya ada kamu. hanya kamu. bahkan bukan hanya sekali hal itu terjadi. setiap kali aku melaksanakannya hanya bayanganmu yang selalu datang.setiap ada jadwal perjodohan aku selalu melaksanakan sholat istokharah sebelum melakukan perjodohan itu. apa aku nya yang terlalu cinta dan sayang sama kamu jadi hanya bayanganmu lah yang selalu hadir dalam mimpiku. atau memang kamu sebenarnya takdir ku."


Juna berbicara sendiri. kalau ada orang yang melihatnya pasti akan mengira bahwa Juna tidak waras karna berbicara sediri tidak jelas.


"ahhh bisa gila aku hanya bisa memikirkan kamu saja."


Juna frustasi.


**


dirumah Naya sedang meratapi kehamilannya yang dilarang melakukan ini dan itu.


bujuk Naya pada ibunya.


"tidak Nay kamu sedang hamil kalau kamu kenapa napa dijalan bagaimana??"


ibu Naya khawatir.


"kita pakai mobil aja bu. nanti aku cari rentalan mobil. atau suruh ridwan yang nyari rentalannya bu."


Naya masih membujuk ibunya.


" apa lagi naik mobil semalam perjalanannya. ibu takut kandungan kamu kenapa napa. tidak tidak. jangan ambil resiko Nay."


ibu Naya menjelaskan.


"buuuu aku kangen sama malik bu. pliss ya bu"


Naya memohon.


"Naya tolong nurut ya. ini demi kamu nak."


ibu Naya membelai rambutnya.


Naya hanya bisa pasrah dengan keputusan ibunya.


"ya sudah kalau begitu aku masuk kamar."


Naya langsung masuk kekamarnya. ia berbaring ditempat tidur guling sana guling sini tidak jelas.


"hahh aku bosen banget lagi gak mgapa ngapain."


naya menggerutu sendiri.


"ayo dong Nay mikir. masak hanya karna hamil kamu gak bisa mikir."


Naya masih mengoceh sambil memikirkan caranya. lama ia berfikir bergulang berguling diatas kasur akhirnya menemukan solusinya.


"nahhhh kenapa gak kepikiran sampai situ gimana sih Nay."


lalu naya mengambil ponselnya dan langsung menghubungi orang yang ada dalam pikirannya.


panggilan terhubung.


"assalamualaikum sunshine??"


jawab Juna tersenyum Naya menghubunginya. orang yang Naya pikirkan adalah juna. Naya ingin meminta bantuan juna agar bisa mengunjungi putranya dipesantren tanpa larangan orang tuanya.


"waalaikum salam kak. gak lucu tau. pake sunshine sunshine segala kwkwk."


jawab naya cengengesan.


"ada apa Nay. tumben telpon kangen kakak ya??"


canda Juna.


"yeee narsis. mana ada. hihihi."


Naya menanggapi candaan Juna.


"kan kakak ganteng. ya gakkk. banyak kok yang mengakuinya hehehe."


Juna terkekeh dengan perkataannya sendiri.


"pede tingkat negara hahhaha tapi emang nganteng hihihi."


Naya cekikikan mengakuinya.


"udah ahh kering gigi kakak cekikikan mulu."


Juna mengakhiri candaannya.


"kak aku boleh minta bantuan gak??"


tanya tata serius.


degg

__ADS_1


juna berdiri bangkit dari duduknya


"bantuan apa Nay. apa kamu ada masalah."


jawab Juna was was kalau naya terkena masalah lagi dengan rumah tangganya.


"gak kok kak. cuma aku kangen Malik. aku pengen kesana kak tapi gak dibolehin sama ibu."


adu Naya


seketika juna menghela nafas lega.


"huftt ternyata masalah Malik."


gumam Juna dalam hati.


"kamu kan lagi hamil nay mungkin ibu takut kamu dan kandunganmu kenapa napa sayang."


juna memberitahu.


"preetttt ah pake sayang sayangan segala ujung ujungnya kakak nyeramahin aku.hik hik aku kan kangen kak sama Malik"


Naya merajuk.


"hey my sunshine jangan nangis dong.. masak nangis sudah mau jadi emak emak dua anak juga. masak cengeng. kasian dong anaknya. nanti jadinya lomba nangis sama emaknya.hehehe"


ledek Juna.


"gak lucu. bilang aja gak mau bantuin aku. to the poin aja lah. gak usah banyak alasan."


Naya ngambek.


"jangan ngambek dong bumil. kasian dedeknya diperut. gimana ya kakak cari akal dulu."


ucap Juna sambil mencari solusi diseberang telepon.


"apa???"


jawab Naya masih dengan nada ngambek.


"ehmm gini kakak ada ide...


wajah Naya langsung sumringah mendengar Juna bilang ada ide.


"kakak selesain kerjaan dulu yang ada disini baru habis itu kakak ke jogja mengunjungi Malik nanti video callan disana sama kamu ya. nanti kakak telpon kalau sudah sampai sana. gimana?"


Juna menyampaikan idenya.


Naya yang tadinya mengangguk angguk senang akhirnya kesal juga mendengar ide dari Juna.


"yeee sama dong Nay gak bisa meluk Malik."


ucap naya sewot.


"hehehe. kan kamu lagi hamil muda Nay. perjalanannya juga terlalu jauh. nanti kamu capek kakak juga takut kamu kenapa napa sayang. kakak gak mau hal itu terjadi sayang."


Juna memberi pengertian.


"gak usah pake sayang sayang kalau gak mau bantuin. gak tau apa aku kangen banget sama Malik kak hik hik hik."


Naya merindukan putranya.


"gak usah galak galak bumil kasian nanti dedeknya takut dengar suara emaknya yang menggelegar hahaha."


Juna mala tertawa.


"sudah sudah kamu gak usah sedih ya. nanti akan kakak pikirkan caranya?? setelah kakak menyelesaikan pekerjaan kakak yang disini. tapi kamu harus janji kamu akan baik baik saja. dan akan selalu baik baik saja"


pinta Juna.


"iya deh aku nurut. tapi kakak janji ya cari caranya biar aku bisa bertemu Malik kak."


ucap naya penuh harap.


"iya kakak akan cari solusinya. kamu yang tenang ya sayang hihihi."


juna cengengesan.


"gak lucu. assalamualaikum."


Naya memutus sambungan telepon.


"waalaikum salam."


jawab Juna sudah dimatikan teleponnya dari Naya.


"Naya Naya kamu tu gemesin. coba kalau kamu ada didepan ku udah pasti aku cubitin pipi cubby mu itu dengan gemas. aku peluk kamu dengan hangat."


Juna tersenyum berbicara sendiri sambil membayangkan mencubit pipi dan meluk Naya.


"mungkin aku memang gila. hal itu sangat lah mustahil."


Juna tersenyum kecut.


"apanya yang mustahil mas??"


tanya rangga yang tiba tiba masuk keruangan Juna.


"gak sopan kamu main nyelonong aja. gak ketok dulu."


Juna kesal.


"yaelahhh aku udah ketok pintu dari tadi mas. mas aja yang gak denger. mas lagi gini gini berdiri kayak orang stress. aku ketok gak denger denger."


rangga tidak mau disalahkan.


"masak sih?? kok aku gak denger ya??"


tanya Juna heran yang biasanya peka kenapa teledor karna hanya dengan ketukan pintu saja.


"makanya aku bilang mas Juna kayak stress karna kok tumben tumbenan gak denger dengan ketukanku. apa lagi lihat mas Juna gini gini."


ucap rangga memperagakan adegan Juna tadi.


"berati emang aku udah bener bener gila sama Naya."


batin juna dalam hati.


"woyyy mala bengong. mas kesambet apa gimana??"


tanya Rangga gemas.


"kesambet gundulmu."


jawab Juna ketus.


"ada apa kesini??"


tanya Juna balik.


"gak usah ngambek kayak cewek kali mas. ini mau ngasih tau jadwal mas apa aja. dan mau tanya kapan jadwal perjodohan mas akan dilakukan. om wijaya sudah tanya soalnya. dan akunya biar bisa ngrekap jadwal mas."


Rangga memberitahu.


"perjodohan ya??"


Juna berfikir.


"aku minta petunjuk sama yang diatas dulu aja Ngga biar manteb."


ucap Juna.


"kira kira kapan biar gak tabrakan sama jadwal mas."


tanya Rangga lagi.


"ehmm tiga hari kedepan saja. kayaknya gak papa."


Juna menimbang nimbang.


"ok deh. mau dimana dan cafe mana jam berapa??"


tanya Rangga.


"terserah kamu ajalah. yang penting gak bentrok sama jadwal aku yang lain."


perintah Juna.

__ADS_1


"ok deh. yang romantis apa yang biasa??"


tanya Rangga cengengesan. karna ia tau bahwa kakak sepupunya itu tidak pernah mau bau romantis romantisan.


__ADS_2