Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
janda sementara


__ADS_3

Naya cekikikan masuk keruangannya


"kesambet apaan sih kak kecikikikan gitu??"


tanya Tata penasaran.


"kesambet setan jomblo hihihi"


jawab Naya masih cekikikan


Tata mengerutkan alis bingung apa yang dimaksud Naya, Naya tau Tata kebingungan pun menjelaskan kejadian ia meledek diruanganngan Bagas.


"kalau kakak gak lari nanti bisa dikeroyok sama mereka Ta, makanya kakak kabur takut lah"


kilah Naya.


"lagian kakak tu ya ada ada aja, untung yang diledek mas Juna sama mas Bagas coba kalau yang lain bisa habis kamu kak?? hahaha"


Tata menertawakan tingkah Naya


"tapi gak papa kan perutmu kak?? kamu kan hamil masak main lari larian gak takut mas Juna berubah jadi emak emak berdaster yang cerewetnya minta ampun?? tapi baru kali ini sih lihat mas Juna banyak omong selama aku kenal dia beliau gak banyak ngomong sama orang lain kak, mungkin karna sudah menemukan cintanya ya jadi kyak gitu bisa juga ya kak kamu mencairkan orang kaku kyak mas Juna dan mas Bagas orang yang sangat kaku dan dingin, emang sih mas Bagas gak sekaku mas Juna tapi sama ajalah mereka berdua itu"


cerocos Tata


Naya mendengarkan sambil tangannya cekatan dikeybort komputarnya.


"makanya kakak lari biar gak ditausiyahi kak Juna hihihi bisa panjang ceramahnya ngalahin mas Ryan kalau lagi ngomel ngomel hihihi"


celetuk Naya cekikikan.


"udah ah kerja ada bos besar disini harus selesai semuanya biar cepet pulang hahaha"


Naya tertawa Tata geleng geleng sambil kembali dengan kerjaannya.


jam istirahat dimulai Naya dan Tata berniat ke kantin untuk mengisi perutnya tapi Juna dan Bagas lebih dulu menghampiri mereka mengajak makan bersama dengan makanan yang sudah mereka pesan untuk dimakan diruangan Tata dan Naya.


"halo ladies assalamualaikum, nih mas udah bawa makanan nih ayo makan bareng bayak menu nih"


ucap Bagas masuk keruangan bersama Juna dan duduk disofa yang sudah tersedia.


"kak ada makanan gratis?? gimana??"


Tata memberitahu.


"gasken Ta hihihi"


jawab Naya cekikikan.


lalu Tata dan Naya pun ikut duduk disofa yang kosong dan membukakan makanan yang sudah dipesan oleh Juna dan Bagas.


"perut kamu gak sakit kan pas tadi lari lari Nay??"


tanya Juna khawatir.


Naya menoleh ke arah Juna sekilas dan melanjutkan kegiatannya membuka makanan.


"alhamdulillah gak kok kak, kakak jangan khawatir ya"


jawab Naya santai.


Juna memicingkan mata kearah Naya


"kamu gak bohong kan??"


tanya Juna penuh selidik.


"apa sih orang aku gak papa kok heran banget deh nih aku gak papa jadi jangan tausiyah ok"


jawab Naya berdiri melihatkan bahwa dirinya baik baik saja dan duduk kembali.


"siapa yang mau tausiyah orang masih dikantor juga"


kilah Juna yang sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan bahasa Naya.


"kirain, soalnya kak Juna tu kalau sudah tausiyah ngalahin emak emak berdaster cerewetnya ya allah"


Naya mengeluh.


"ohh jadi kamu ngatain kakak cerewet gitu?? pinter banget kamu ya ngatain kakak emak emak berdaster"


Juna pura pura tidak terima.


"emang iya kan kakak tu kalau lagi cerewet melebihi aku kayak radio bodol"


ucap Naya jujur.


"apaaa radio bodol"


Juna garuk garuk kepalanya yang tidak gatal bingung dengan bahasa Naya lagi.


"apa lagi itu radio bodol, semakin gak ngerti aku dengan bahasanya"


batin Juna dalam hati


Bagas dan Tata yang melihat ekpresi kebingungan Juna hanya cengengesan menanggapinya.


"udah deh pokoknya kakak gak usah banyak komen selagi aku masih baik baik saja ok, dimakan tu makanan udah bumil bukain hehehe jangan marah ya kak aku cuma bercanda mukanya jangan begitu dong aku gak jadi malas mandang yang ceria dong yang ganteng biar bumil seneng mandangnya hehehe"


ocehan Naya cengengesan.


"kamu tu ya Nay bener bener, unik ada aja bahasamu itu"


Juna geleng geleng kepala dengan tingkah Naya.


"tapi lucu juga sih kalau sudah faham apa maksudnya bikin gemes"


saat Juna tau arti dari bahasanya sambil menyuap makanan.


mereka memakan makan siangnya dengan penuh canda tawa


selesai makan Bagas kembali keruangannya dan Juna pamit pulang kekantornya yang ada di Semarang. Tata dan Naya melanjutkan pekerjaannya.


***


tidak terasa 3 minggu telah berlalu kehamilan Naya sudah 3 bulan Naya masih setia bekerja membantu Tata dipabrik, ia tidak pernah menghiraukan panggilan Ryan ketika suaminya meneleponnya hingga beberapa kali mertuanya sering menghampirinya dan menyuruh mengangkat telepon sang anak. Naya hanya mengiya iyakan tanpa menghiraukannya, ia benar benar cukup lelah dengan rumah tangganya Naya hanya pasrah entah akan menjadi apa kisah cintanya dengan sang suami. yang Naya fokuskan sekarang ialah anak anaknya dan orang orang yang menyayanginya.


"kak perutmu kok gak besar besar ya padahal sudah 3 bulan ya kak??"

__ADS_1


tanya Tata penasaran.


"aku kalau hamil 3 bulan ya gini Ta masih rata 5 bulan aja masih kelihatan kecil kok gak kayak orang lain kelihatan besar gitu kalau udah 5 bulan"


Naya memberitahu.


"maka dari itu aku tanya, soalnya aku juga gitu pas 3 udah kelihan kak apalagi 5 bulan udah kelihatan agak gede"


ucap Tata tangannya didepan perutnya sendiri membentuk perut hamil.


"hihihi mungkin beda beda kali Ta."


Naya cekikikan.


"mungkin"


"udah ahh kerja yuk borosss ngobrol terus hehehe"


Naya cengengesan.


akhirnya pun mereka berdua berkutat deng berkas dan komputernya seperti biasa.


jam makan siang pun telah tiba ponsel Naya berdering ia pun melihat siapa yang memanggilnya setelah tau Juna yang menghubunginya Naya pun mengangkatnya.


"assalamualaikum"


Naya menampakkan wajahnya karna Juna meminta panggilan video


"waalaikum salam"


jawab Juna lalu mengalihkan panggilannya kearah Malik anak Naya.


"halo umi assalamualaikum??"


sapa Malik diseberang telepon melambaikan tangannya.


"waalaikum salam gantengku anak sholehku, apa kabar sayang??"


tanya Naya dengan rasa bahagia bisa melihat anaknya tersenyum walaupun lewat telepon video.


"alhamdulillah baik umi, umi apa kabar sama dedek??"


Malik tanya balik.


"hahhh, Malik tau darimana kalau mau punya dedek?? pasti dari om Juna ya kan??"


tanya Naya cengengesan.


"iyalah siapa lagi umi, umi sih gak mau kasih tau untung om Juna yang baik hati dan penyayang yang kasih tau umi sehat sehat ya Malik sayang umi"


ucap Malik.


tidak terasa Naya menitikkan air mata mendengar ucapan Malik ia sangat terharu dengan putranya.


"ya sayang umi juga sayang banget sama Malik, Malik sehat sehat ya dipondok yang anteng jangan suka ngrepotin orang kasian nanti orangnya kerepotan ya sayang"


Naya memberi nasehat pada anaknya.


" iya umiku sayang, siap laksanakan kanjeng mami"


ucap Malik memberi hormat pada sang ibu.


"umi sudah dulu ya Malik mau main bentar sama teman teman, sudah dipanggil soalnya dada umiku sayang"


pamit Malik langsung menghilang dilayar ponsel Naya.


Naya hanya bisa menghela nafas atas tingkah anaknya.


camera beralih kewajah tampan Juna


"hey bumil gak usah sedih kali biarkan jagoanmu bersenang senang sama temannya, dia juga butuh hiburan "


Juna menasehati.


"iya pria tampan bumil mengerti, tapi apakah dia gak kangen sama emak yang melahirkannya kok tega banget sih padahal kan aku masih kangen sama anak sholehku kak"


keluh Naya.


"iya kakak tau, yang sabar ya sayang tunggu kandunganmu bisa diajak healing nanti kakak suruh supir kakak anterin kamu sekeluarga ya mengunjungi anak sholehmu "


Juna menghibur.


"gak usah pake sayang sayangan kalo gak bisa ajak aku ketemu anakku"


ucap Naya pura pura ngambek.


"yaelah bumil ngambek nih ceritanya ya udah deh gak akan kakak ajak deh kalau gitu, bumil suka marah marah"


Juna pura pura merajuk.


"ya deh iya gak usah kayak emak emak berdaster"


Naya cemberut


"tapi janji ya kak ajak aku mengunjungi Malik??"


tanya Naya antusias.


"ya asal kamu janji harus baik baik saja jaga kandungan kamu jaga kesehatan jangan telat makan tidak boleh capek banyak istirahat kalau malem tidak boleh begadang jangan banyak bergerak apalagi lari larian, kamu mendengarkan??"


Juna mengoceh panjang kali lebar Naya hanya mengangguk angguk malas karna setiap telepon Juna selalu mengingatkan agar selalu berhati hati.


"Nayaaaa"


panggil Juna pura pura kesal karna setiap kali dinasehati Naya selalu lalai.


"siapp doro kakung"


jawab Naya cengengesan.


Juna menggeleng geleng dengan tingkah pujaan hatinya.


"ya sudah kamu sudah makan belum??"


tanya Juna lagi


"belum"

__ADS_1


jawab Naya cepat.


"oke sana makan jangan sampai telat mengerti??"


ucap Juna tegas.


"siap juragannnn assalamualaikum terima kasih kak sudah menrukiyah aku agar selalu menjaga kesehatan, selamat siang selamat beristirahat"


jawab Naya lalu mematikan sambungan telepon.


"waalaikum salam, bener bener ya tu orang bikin orang pengen nyubit aja."


gumam Juna setelah telepon dimatikan sepihak oleh Naya.


"kak ini aku udah beliin makanan biar kamu tidak pingsan"


ceketul Tata setelah Naya mematikan teleponnya.


"ya allah terima kasih Ta kamu kok baik banget sihh jadi meleleh deh aku love you emuahhh"


rayu Naya mencium pipi Tata.


"astagfirullah kak aku masih normal kali main cium cium segala ternodalah pipiku sekarang, suami belum pulang lagi kan jadi kangen"


keluh Tata manja


"ya beginilah nasib janda sementara selalu kesepian kita bobok bareng aja lah Ta sama sama janda juga hahaha"


Naya tertawa.


"stres kamu ya kak sangking kesepiannya, tapi masak jeruk makan jeruk gak lucu ahh hihihi"


Tata cekikikan.


"yee siapa yang mau jeruk makan jeruk orang aku masih normal gimana sih, kita kan cuma bobok bareng doang udah deh gak usah omes otak mu tu perlu dibersihkan sampahnya biar gak omes "


celetuk Naya sambil membuka bungkusan dari Tata.


"iya kan kirain"


jawab Tata cengengesan.


"kakak makan ya Ta bismillah"


Naya membaca doa lalu menyatap makanannya.


selesai makan Naya dan Tata melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. hingga asar tiba Naya dan Tata menunaikan ibadah sholat asar selesai sholat Naya dan Tata berniat kembali keruangannya melanjutkan berkas yang belum selesai.


tiba tiba ada seorang ibu ibu memanggil namanya.


"Naya Naya"


mau tidak mau Naya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"ibu"


gumam Naya mematung tidak menyangka mertuanya bisa sampai ketempat kerjanya.


"hey Naya kamu dengar tidak sih ibu panggil panggil hahhh??"


ibu Ryan berteriak sambil berjalan cepat.


Bagas dari moshola pun yang mendengar teriakan mertua Naya akhirnya menghampirinya.


"ada apa Ta??"


tanya Bagas setelah sampai ditempat Naya dan Tata berdiri.


"tu mertua kak Naya kesini kayak dihutan aja teriak teriak"


jawab Tata kesal dengan tingkah mertua Naya.


"ibu kok sampai sini sama siapa bu??"


tanya Naya sopan setelah menyalimi mertuanya.


"ibu sama agus kesini, kamu tu bener benar ya gak tau diri banget jadi istri, suamimu bontang banting cari uang kamu mala enak enakan selingkuh yang berkedok kerja kamu tu gimana sih, aku capek bolak balik temuin kamu suruh ngangkat telpon Ryan apa kamu gak kasian suamimu telpon berkali kali tapi gak pernah kamu hiraukan kalau memang kamu sudah tidak suka dengan Ryan dan memilih selingkuhanmu ceraikan Ryan Naya"


bagaikan dirusuk seribu pisaudihati Naya mendengar perkataan mertuanya ia hanya terdiam mencerna setiap kata kata yang keluar dari mulut mertuanya


"ibu tidak ikhlas anakku kamu sakiti terus menerus, ceraikan Ryan sekarang juga agar kamu dan dia bebas satu sama lain kamu bebas memilih selingkuhanmu dan Ryan bebas memilih wanita yang akan ibu pilihkan untuknya"


ucap ibu Ryan begitu menggebu gebu.


benar benar membuat hati Naya sakit sesakit sakitnya.


yang seharusnya seorang mertua bisa mengayomi rumah tangga anaknya menengahi dan menasehati bisa salah satu salah ini mala menyuruh anaknya berpisah dan bercerai.


Naya hanya terdiam dengan linangan air mata menangis dan berteriak dalam diamnya.


ia benar benar tidak menyangka mertuanya akan berkata seperti itu, seumur umur selama berumah tangga selama mertua selalu mengganggu dan mencampuri rumah tangganya baru kali ini Naya mendengar mertuanya mengucap kata kata cerai didepan matanya.


"bu apa ibu gak punya otak nyuruh anaknya berpisah?? mertua macam apa kamu baru kali ini aku lihat mertua kayak disinetron ternyata ada ya didunia nyata berasa nonton suara hati istri aku"


cibir Tata pada ibu Ryan.


"hey kalau ngomong dijaga dong sangat tidak sopan pada orang tua"


agung membela ibunya.


"yang seharusnya sopan santun itu kalian sangat tidak manusiawi memaki seorang menantu ditempat umum, apa kalian tidak malu berteriak teriak banyak orang berlalu lalang dipabrik apa kalian pikir ini hutan yang bisa seenak jidat kalian"


Bagas membela Tata.


"jaga ya ucapanmu"


ucap agung


"yang perlu dijaga itu mulutmu yang gak pernah makan bangku sekolahan"


Tata tidak mau kalah.


"apa kamu bilang gak makan bangku sekalahan hey dengarkan orang songong aku menyekolahkan anakku sampai sarjana semuanya tanpa uang ayahnya kamu tau?? dan kamu bilang tidak makan bangku sekolahan?? kamu"


ucap ibu Ryan langsung dipotong oleh Naya yang daritadi diam saja entah menyimak perdebatan antara Bagas Tata Agung dan mertuanya.


"sudah bu aku akan mengurus perceraianku dengan mas Ryan besok, ibu dan mas Agung silahkan pulang ibu jangan khawatir aku akan mengurus semuanya secepatnya "

__ADS_1


ucap Naya parau.


__ADS_2