Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
curi curi pandang


__ADS_3

tak lama juna pun pamit pulang kerumah.


"pak bu wan. saya pulang dulu ya udah malem besok insyallah kesini lagi."


ucap juna sopan.


"iya nak hati hati maaf merepotkan ya nak"


jawab bapak juna.


"gak repot kok pak. aku mala senang."


juna mencium punggung tangan kedua orang tua naya.


"ayo wan mas pulang dulu ya??"


pamit juna pada ridwan.


"iya mas hati hati dijalan"


ridwan mengingatkan.


juna mengangguk tersenyum pada ridwan.


"nay kakak pulang dulu ya. jaga kesehatan kamu kalau kamu ingin pulang besok."


juna memperingati.


"beneran kak besok bisa pulang kalau aku sehat."


tanya naya senang seperti anak kecil.


"akan kakak usahakan yang penting kamu benar benar sehat."


jawab juna lembut.


naya mengangguk senang.


"hati hati dijalan ya kak. kalau sudah sampai ngabari aku. aku khawatir terjadi apa apa sama kakak. nanti gak ada yang manjain aku."


naya cengengesan.


"iya nanti kakak kabarin. yang penting kamu selalu sehat dan baik baik saja. hanya itu yang kakak pinta."


juna membelai rambut naya.


naya mengangguk mengerti.


"assalamualaikum"


ucap juna berlalu dari ruangan naya.


"nay apa tidak sebaiknya kamu lebih jaga jarak dari nak juna nak. tidak baik kalau kalian dekat. nanti akan menimbulkan fitnah nak."


bapak naya menasehati


"naya tau pak. yang penting kami tau batasan saja pak. kak juna juga bisa jaga sikap kok pak. insyallah naya akan lebih menjaga diri pak. bapak jangan khawatir ya."


jawab naya mencoba menenangkan bapaknya.


"iya. bapak hanya mengingatkan kamu saja nak. walau bagaimanapun juga ryan masih suami kamu nay. walaupun sikapnya kadang labil kalau dicekoki sama emaknya."


ucap bapak naya gemas dengan kelakuan menantunya seperti tidak punya pendirian itu.


naya hanya tersenyum getir.


**


adzan subuh berkumandang dimasjid rumah sakit tempat naya dirawat.


naya bangun untuk sholat subuh diruangannya. minta dibantu suster perawat untuk mengurus selang infusnya agar naya bisa sholat.


selesai sholat naya memanggil kembali suster perawat untuk memperbaiki selang infusnya.


bapak naya dan ridwan sholat dimasjid rumah sakit.sedangkan ibu naya menemaninya sholat didalam ruangan.


pagi jarum jam menunjukkan jarum ke angka 06.00


tata dan bagas datang berkunjung sebelum kepabriknya.


"assalamualaikum."


ucap bagas dan tata setelah membuka pintu.


"waalaikum salam"


jawab semua orang yang ada didalam ruangan termasuk suster perawat yang sedang mengecek kondisi terkini naya.


"lagi diperiksa ya kak?? gangu gak??"


tanya tata setelah mencium punggung tangan kedua orang tua naya dan menghampiri naya yang sedang diperiksa.


"sudah bu. kondisinya bagus ya bu jaga kandungannya. sehat sehat ya biar cepat pulang" ucap suster perawat ramah.


"kalau aku pulang gak bisa lihat mbak suster cantik lagi dong??"


canda naya.


suster hanya tersenyum menanggapi candaan naya. lalu merapikan peralatan yang tadi ia bawa.


"mbak suster udah nikah??"


tanya naya tiba tiba.


"belum bu saya masih single."


jawab suster ramah.


"wan mas bagas ada yang single nih. gimana ok kok orangnya."


naya memuji suster.


"sembarangan kamu mbak emang mbak pikir mbak suster ini barang apa main diobral aja."


cerocos ridwan.


"kan siapa tau jodoh wan. gimana sih. kalau allah sudah berkehendak kita tidak bisa ngapain ngapain wan."


naya menasehati


"ya kalau jodoh kalau gak. gimana sih."


ridwan sewot.


"ya kan siapa tau namanya juga usaha."


naya cemberut.


"iya kan mbak??"


tanya naya ingin mendapat pembelaan dari suster.


"iya."


jawab mbak suster ramah.


"permisi ya bu saya pamit dulu"


suster pamit keluar ruangan.


"ya mbak suster cantik terima kasih"


jawab naya cengengesan.


"ada ya orang kayak mbak naya ini main jodoh jodohan. kayak siti nurbaya aja."


ucap ridwan setelah suster menutup pintu ruangan naya.


"prettt ah jangan berlagak bego ya wan. emang kamu pikir mbak gak lihat waktu kamu lirak lirik ke mbak suster terus dari tadi. berlagak nolak lagi. gaya amat lu.entar gak laku baru yaho."


sungut naya.


ridwan salah tingkah ketahuan oleh kakaknya saat mencuri curi pandang sama suster tadi.


"eng enggak lah mbak. masak aku lirak lirik. enggak kok."


kilah ridwan.

__ADS_1


"main gak ngaku lagi awas aja nanti aku aduhin sama mbak suster tadi saat kamu pacaran sama dia."


ancam naya sewot.


"yeee main ngancem lagi??"


ridwan tidak terima.


"sudah sudah berantem terus kerjaannya. ada juga malu ah."


ibu naya melerai anak anaknya.


"hehehe aku mala lucu bu lihat naya sama ridwan. jadi inget aku dan tata sering berantem. mungkin ekpresi aku dan tata sama seperti naya dan ridwan hehehe."


bagas cengengesan.


"kamu ada ada saja nak."


ibu naya bergurau.


"kak aku bawain makanan banyak banget nih dimakan ya??"


ucap tata.


"iya bu pak ayo makan bareng bareng biar enak makannya"


bagas menimpali.


"ya udah ayo makan bareng bareng."


ajak bapak naya.


akhirnya mereka makan bersama sama didalam ruangan naya.


"ta kepabrik gak??"


tanya naya.


"iya kak kepabrik habis ini. kenapa kak??"


tata tanya balik.


"gak papa. maaf ya kakak ambil libur hehehe."


naya cengengesan.


"iya kak gak papa yang penting kakak sehat sehat. aku bakalan kangen dong gak ada yang bantuin aku."


tata cemberut.


"kan bisa mampir kerumah kalau kamu mau."


ucap naya.


"gak ahh nanti ganggu istirahat kakak."


jawab tata menolak.


"emang kamu pikir kakak seneng dirumah jadi pengangguran sosial. kakak pangennya sih langsung masuk kerja aja ta biar gak nganggur dirumah." keluh naya.


"ya kakak harus sehat dulu lah kak kalau mau masuk kerja. kalau sakit lagi bisa berabe nantinya."


tata ngasih tau.


"iya kakak tau kok ta. tenang aja begitu sehat kakak berangkat."


ucap naya.


"tapi apa gak sebaiknya kamu istirahat dirumah nay. jangan kerja takutnya kandungan kamu kenapa napa. nanti setelah lahiran kamu masuk kerja lagi."


bagas menasehati.


"aku gak mau jadi pengangguran dirumah mas. aku ingin kerja."


jawab naya parau.


mereka semua tau keadaan naya yang tidak mau nganggur dirumah karna sudah lelah dengan mertuanya.


"ya udah penting kamu gak capek ya. kalau capek bilang jangan diam aja. mas gak mau kamu kenapa napa."


nasehat bagas.


naya tersenyum senang.


mereka semua menikmati sarapan pagi dari bagas.


"bu pak ridwan berangkat kerja dulu ya."


ridwan berpamitan pada ke dua orang tuanya setelah selesai sarapan.


"iya nak hati hati ya dijalan jangan ngebut."


nasehat ibu naya pada putranya yang mencium punggung tangannya dan berpindah ke ayahnya. dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. langkahnya berhenti mendengar perkataan kakaknya naya.


"wan gak salim sama mbak. kualat kamu ya??"


"hehehe maaf mbak lupa."


ridwan cengengesan lalu mencium punggung tangan kakaknya.


"assalamualaikum."


ucap ridwan sambil menutup pintu ruangan.


waalaikum salam jawab semua yang ada didalam.


"kami juga pamit bu pak. mau ke pabrik."


pamit bagas.


"kok buru buru nak gak nanti saja."


ucap ibu naya.


"nanti telat bu. terus nanti adik kesayangan aku ini kebablasen ngrumpi sama naya hehehe."


bagas meledek adiknya tata. biasanya adiknya kalau ngerumpi suka lupa waktu.


"aku juga disalahin. gimana sih mas suka banget nyalahin aku."


protes tata.


"kan emang benar kamu kayak gitu. kok gak terima gimana sih."


bagas masih ngotot.


"iya juga sih wkwkwkwkwk."


tata mengakui.


"kamu tu ya bener bener hmm."


tangan bagas gemes nyubit pipi tata.


"sakit tau."


protes tata.


"sudah ah ayo berangkat nanti telat kita. apalagi nanti juna mau mengecek pabrik. mungkin bentar lagi karna janjinya mau kesana jam 8. sekarang sudah jm 7 lewat. ayo ta."


bagas memberitahu.


"bu pak pamit ya."


ucap tata salim pada orang tua naya dan naya yang diikuti bagas.


"assalamualaikum."


ucap tata dan bagas sebelum membuka pintu dan keluar dari ruangan naya.


"waalaikum salam."


jawab naya ibu dan bapaknya.


"nay apa hubungan juna dan bagas nak??"


tanya ibu tiba tiba.

__ADS_1


"mereka katanya temen kuliah gitu bu kalau gak salah denger waktu cerita. terus mas bagas sempet bangkrut pabriknya waktu masih bersama mantan istrinya. terus kak juna pas datang akhirnya dibantu mas bagasnya bu. kata tata pernah cerita. kenapa bu?? kepo amat."


jawab naya sambil mainan ponsel smsan sama ryan suaminya.


"ohhh jadi bagas duda nay??"


tanya ibu naya lagi.


"iyq bu mereka cerai waktu mas bagas hampir bangkrut. mantan istrinya lebih memilih selingkuhannya yang kaya katanya bu."


naya menjelaskan.


"kata siapa nay???"


tanya ibu.


"kata tata bu. tata yang cerita. semenjak perceraiannya dengan mantan istrinya mas bagas. mas bagas sudah tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun bu. banyak temen tata yang pada naksir tapi ditolak sama mas bagas bu. mungkin trauma kali ya bu??"


tanya tata.


"mungkin nak. namanya juga orang."


jawab ibu naya.


"semoga saja mas bagas dan kak juna mendapatkan jodoh yang baik ya bu. yang shaleha."


do'a naya


aminnnnn.


naya dan ibu dan bapaknya mengaminkan.


"tapi nak juna suka sama kamu nay??"


ucap ibu.


"kan suka doang bu bukan berarti jodoh."


jawab naya santai.


"iya juga sih kalau jodoh suamimu bukan ryan tapi juna ya nak.??"


tanya ibu juna mikir.


"betul itu bu. tapi kenyataanya aku istrinya mas ryan bu."


naya membenarkan.


"mereka orang baik bu semoga mendapatkan jodoh yang baik juga."


ucap naya dengan senyuman.


"kamu lagi ngapain mijitin hp mulu nay??"


tanya ibu.


"aku lagi smsan sama mas ryan bu."


jawab naya santai.


"udah baikan nay???"


tanya ibu naya lagi.


"alhamdulillah udah bu."


naya tersenyum.


"mau sampai kapan rumah tanggamu seperti itu terus nay. kadang ibu juga sebel sih sama ryan. kok bisa bisa percaya aja sama ibunya. dia kan berumah tangga udah lama pasti tau lah sifat kamu gimana. masih aja terpengaruh. ibu heran nay dengan sifat ryan." ibu menghela nafas pasrah.


"aku juga gak tau bu kadang aku juga sebel sama mas ryan yang gak bisa tegas sama ibunya. tapi disisi lain mas ryan gak bisa ngelawan ibunya bu. itulah mas ryan. aku jadi curhat sama ibu hihihi ."


naya cengengesan.


"ya gak papa lah sekali kali ngerumpi sama mbokmu juga lah masak kamu ngrumpinya sama temen kamu terus."


ibu naya cemberut.


"iya iya. mau lanjut ghibah gak nih??"


tanya naya.


"mau ghibah apalagi emang. juna bagas udah suamimu juga udah. mau ghibahin siapa lagi?? mertuamu??"


tanya ibu lagi.


"wkwkwkwkwk. semangat amet disuruh ghibah hahaha. sih ridwan tu belum di ghibahin kapan mau nikah. gak nikah nikah bu hahaha."


naya tertawa.


"huss kamu itu ya sama adik sendiri kayak gitu. iya juga sih kapan si ridwan nikah. apa dia gak punya pacar ya nay??"


tanya ibu naya.


"lah ibu tanya aku terus aku tanya siapa bu. ibu juga lucu. tanyain anaknya bu. udah punya pacar apa belum gitu. apa ridwan gak pernah ajak cewek kerumah gitu bu??"


naya mala balik bertanya.


"seingat ibu sih kayaknya gak pernah deh nay. paling teman cowok iya. kalau cewek gak pernah."


ibu naya mengingat ingat.


"coba deh nanti pulang kerja ibu tanyain udah punya apa belum gitu bu. kalau udah punya tanyain kapan mau diajak nikah. biar gak kelamaan kayak juna udah luman tua gak nikah nikah hihihi."


naya cengengesan.


"kamu itu ya nay. nak juna gak nikah nikah kan karna kamu gimana sih. terus kamu tanya kak juna kapan nikah. terus tu si juna jawab kapan kamu janda. baru tau rasa kamu nay.


ucap ibu naya mengingatkan.


"yee ibu mala nyumpahin aku. gimana sih. anak ibu aku apa kak juna."


ucap naya cemberut.


"kamu kan tau perasaan nak juna nak."


ucap ibu naya lembut.


"udah ah bu jangan bahas kak juna dengan ku. aku hanya ingin yang terbaik buat semuanya. itu aja bu."


ucap naya lirih.


"sudah bu jangan seperti itu sama naya. kalau memang mereka berjodoh insyallah suatu saat nanti akan bersatu bu. biarkan mereke menjalani masing masing."


nasehat bapak naya.


"iya pak."


ibu naya menurut.


"nay nanti nak juna kesini tidak ya??"


tanya bapak juna.


"loh loh katanya gak mau bahas kak juna. kenapa mala tanya tanya."


naya sewot.


"bapak cuma naya doang kok nak."


kilah bapak naya.


"sama aja. aku mau istorahat ahhh. malas dengerin bapak sama ibu."


naya memejamkan matanya. berusaha untuk terlelap. setengah jam naya memejamkan matanya dan perlahan mulai terlelap menuju mimpinya dipagi hari.


jam 8 lebih juna sampai dipabrik. setelah memeriksa semua berkas pabrik juna benbincang dengan bagas dan tata.


"kamu sudah ke naya gas??"


tanya juna.


"sudah tadi pagi. aku juga sudah membelikan sarapan untuk keluarganya sesuai perintahmu. sebenarnya walaupun tidak diperintah juga bakalan aku bawain makanan untuk keluarga naya."


jawab bagas cemberut.


juna tersenyum melihat wajah bagas cemberut.

__ADS_1


"iya iya aku tau kok. kita sama sama mencintai naya tapi sama sama terabaikan. aku hanya ingin yang terbaik buat naya gas. aku hanya ingin melihatnya bahagia walaupun kebahagiaannya bukan bersama ku."


ucap juna lirih.


__ADS_2