
Juna mengedipkan satu matanya seperti orang genit dan mulai mengemudikan mobilnya.
Naya cekikikan dengan tingkah Juna yang seperti itu.
tak lama mobil Juna dan Bagas sampai parkiran resto Aldilla
Naya dan Tata turun lebih dulu untuk mencari tempat duduknya Juna dan Bagas mengikutinya dibelakang.
"Ta suamimu belum pulang??"
tanya Naya sudah mendaratkan pantatnya ditempat lesehan.
Tata dan Naya sengaja memilih tempat selehan agar lebih santai
"belum kak gak tau kapan udah berbulan bulan sih di Bogor"
jawab Tata
"kamu gak samperin kesana Ta lumayan deket lah"
saran Naya
"iya sih entar aja deh cari libur kak"
jawab Tata
"ghibahin apa sih ngajak ngajak??"
tanya Bagas menyandarkan tubuhnya dipinggiran
"lagi ghibahin kamu mas kenapa gak cari cari jodoh padahal aku mau daftar jadi domas mu mas"
jawab Naya nyengir menampakkan giginya.
Juna yang sedang membuka sepatunya ikut nyengir mendengar celoteh Naya yang suka meledek Bagas.
"entar juga datang jodohnya Nay doain aja lah semoga cepat dipertemukan"
ucap Bagas duduk menghadap dimeja hingga Naya dan Tata menyimak perkataan Bagas seperti muridnya yang sedang diterangkan sebuah pelajaran.
"aku udah capek mas doain kamu gak dapat dapat"
keluh Naya cengengesan.
"apa lagi aku kak sampai ketiduran aku doain masku yang ganteng ini"
Tata ikut mengeluh.
Bagas dan Juna hanya bisa garuk garuk kepalanya yang tidak gatal bingung harus menjawab apa.
"pasti mau ngeles nih kalau udah kayak gitu"
tuduh Naya cekikikan
Juna dan Bagas hanya tertawa menanggapinya.
tak lama pelayan menyodorkan menu makanannya selesai memesan mereka menunggu sambil mengobrol santai.
"Nay gimana proses perceraianmu??"
tanya Bagas
"ya gitu deh nunggu sidang mungkin mas katanya sih gitu"
jawab Naya santai
Juna dan Bagas memandang dalam Naya dengan pikiran masing masing
Naya yang dipandang jadi kikuk bingung harus bagaimana.
"kenapa sih mandang calon janda segitunya??"
protes Naya kesal karna pandangan mereka sulit untuk diartikan.
Tata yang sudah tau Naya hanya cengengesan
"Nay sebenarnya kamu sedih gak sih cerai??"
tanya Bagas penasaran.
karna ia pernah mengalami hal serupa.
"Sedih terluka lega campur aduk mas, jadi aku sudah pasrah dengan takdirku"
jawab Naya sebisa mungkin berusaha untuk tenang dan santai.
"tapi aku gak lihat kesedihan dimuka kamu Nay??"
tanya Bagas jujur.
"wkwkkwkwk mas mana ada sebuah perceraian tidak menyedihkan mas tetap sedih lah mas tapi aku sebisa mungkin akan berusaha untuk tetap tegar menghadapinya mas, aku punya kalian orang orang yang aku sayangi jadi aku gak akan sedih lagi, terima kasih ya semuanya kalian selalu ada untukku"
jawab Naya berusaha tersenyum
"kami akan selalu ada untukmu kak, aku sayang banget sama kakak"
Tata menghiburnya
"iya aku juga sayang banget sama kamu Ta"
jaawab Naya tersenyum memeluk Tata.
"kami ngiri nih yang dipeluk cuma Tata doang??"
Bagas pura pura ngambek.
Juna cuma cengengesan melihat tingkah teman temannya.
"kak peluk gih kasian mas Bagas butuh pelukan kayaknya"
canda Naya cekikikan
seketika Bagas dan juna langsung menutup dadannya geli.
"masak kakak disuruh peluk Bagas Nay tega bener kamu"
Juna memelas
Tata dan Naya langsung tertawa lepas
hahahaha
"iya nih dasarr"
Bagas pasang wajah sewot.
"idihhh tampangnya ya allahhh"
ledek Naya pada Bagas
tiba tiba makanan pesanan sampai dan mereka pun menikmatinya dengan tawa ringan.
"kak aku ikut mobil kakak ya??"
pinta Naya pada Juna saat sampai parkiran mobil
"ok bentar ya kakak bilang pak Ayup dulu untuk nganterin motor kamu kerumah dan menunggu kakak disana"
jawab Juna dan berlalu menghampiri supirnya untuk menunggu dirumah orang tua Naya.
selesai memerintah sang supir Juna pun mengajak Naya untuk pulang bersama.
"kak apa aku salah menggugat cerai mas Ryan??"
tanya Naya tiba tiba saat masih diperjalanan pulang.
"ehmm dibilang salah sih enggak Nay apa lagi itu suruhan orang tuanya sendiri tapi salah juga tanpa persetujuan dari mas Ryan juga seharusnya kamu musyawarah dulu sama suamimu bagaimananya, tapi mungkin selain kamu sudah bercerai dari dulu karna menghadapi mertua seperti itu, kamu termasuk kuat dan sabar sampai detik ini baru berpisah coba bayangin yang lain pasti udah pisah dari dulu."
jawab Juna agak hati hati takut menyinggungnya.
" kak apa menurut kakak mas Ryan akan menerimanya dengan lapang dada atau mala memojokkanku seperti biasany?? terus menurut kakak aku abaikan saja kalau nanti mas Ryan marah atau hadapi??"
tanya Naya meminta saran.
"ehmm menurut kakak lebih baik hadapi biar cepat selesai, yang namanya masalah jangan abaikan atau dihindari tapi dihadapi seberat apapun itu, kakak akan selalu ada untukmu Nay"
__ADS_1
ucap Juna meyakinkan.
"tapi kak aku belum siap untuk berumah tangga kembali, aku masih takut"
jawab Naya jujur.
"jangan hiraukan perasaan kakak Nay, kakak hanya ingin berada disisimu saja selalu ada untukmu urusan perasaan biarkan allah yang akan membalikkan perasaan hambanya."
ucap Juna lagi
Naya hanya mengangguk pasrah
"maafkan aku ya kak, maafkan aku yang tidak tau diri ini, padahal aku tau perasaanmu tapi aku masih mengabaikanmu maaf kak"
Naya terisak akhirnya Juna menepikan mobilnya dipinggir jalan untuk memenangkannya.
"kamu boleh pura pura kuat didepan orang lain Nay tapi tolong didepan kakak jangan berpura pura ya?? tumpahkan kesedihanmu didepan kakak, kakak siap jadi sandaranmu"
Juna memeluk Naya dengan erat dan membelai lembut kepalanya dibalik hijabnya.
Naya hanya terisak dalam pelukan tubuh tegap Juna untuk menumpahkan kesedihannya.
satu jam kemudianNaya baru tenang dari tangisannya ia mulai berhenti menangis dan melepaskan pelukannya.
"kamu sudah tenang Nay??"
tanya Juna memecah keheningan karna Naya tidak membuka suara.
Naya hanya mengangguk dengan mata sembab
"mau pulang sekarang atau tunggu sampai kamu benar benar tenang Nay??"
tanya Juna dengan lembut membelai pipi Naya.
"pulang saja kak kasian pak Ayup nunggunya"
pinta Naya
"ok"
jawab Juna lalu melanjutkan perjalanannya kerumah orang tua Naya.
"assalamualaikum"
Naya dan Juna mengucap salam saat masuk kerumah orang tua Naya.
"waalaikum salam"
jawab yang ada didalam
"kamu sudah makan Nay??"
tanya ibu Naya melihat anaknya menundukkan kepalanya.
"sudah bu Nay masuk dulu mau mandi"
pamit Naya pada ibunya dan langsung berlalu menuju kamarnya bersiap siap untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.
"Jun kamu sudah makan nak??"
tanya ibu Naya
"alhamdulillah sudah bu tadi bareng bareng"
jawab Juna sopan.
"mas itu mbak ku habis nangis ya??"
tanya Ridwan.
Juna hanya mengangguk iyakan.
"pasti karna mas Ryan ya mas??"
tanya Ridwan lagi
Juna mengangkat bahu tidak tau.
"gak asik ah belain mbak Naya mentang mentang cinta kamu mas"
"ya begitulah Wan hehehe"
Juna cengengesan.
"terus kapan mas nglamar mbak ku??"
tanya Ridwan penasaran
"huss kamu itu Wan ada ada saja"
tegur ibu Naya
"ya kali bu aku kan tau mas Juna cinta mati sama kakak tersayangku itu"
Ridwan ngeles.
"gak papa bu kalau Naya siap saya pun siap, tapi Naya sudah mengkode gak mau berumah tangga dulu bu"
jawab Juna jujur.
"maafkan Naya ya nak??"
ucap ibu Naya sedih
"gak papa bu saya ngerti kok, sudah syukur Naya masih membiarkan saya berkeliaran di sisinya biarkan yang diatas yang menentukannya bu saya ikhlas kalau memang kami tidak berjodoh"
Juna tersenyum
"bu Juna pamit pulang ya bu tolong jaga Naya untukku"
pamit Juna pada ibu Naya.
"ya nak ibu selalu menjaganya dia anak kesayangan ibu"
jawab ibu Naya
"jangan khawatir mas"
Ridwan menimpali
"iya pulang bu Wan"
pamit Juna lalu ia meninggalkan kediaman keluarga Naya setelah mengucap salam.
selang tak berapa lama Naya selesai mandi dan mendapati Juna dan supirnya tak ada didalam rumah.
"bu pak kak Juna udah pulang??"
tanya Naya
"udah pulang Nay kenapa kangen??"
canda bapak Naya.
"mana ada pak cuma heran saja gak pamit sama aku"
jawab Naya heran.
"mungkin buru buru Nay makanya gak nungguin kamu nak"
ibu Naya menimpali.
"mungkin bu dah ahh mau sholat isya' belum sholat soalnya"
pamit Naya kemudian masuk kekamarnya.
selesai sholat Naya membuka ponselnya dengan harapan Juna mengirim pesan padanya dan benar saja ia pamit lewat ponselnya. Naya pun membaca pesan dari Juna
{Nay kakak pamit ya maaf lewat sms tadi kamu lagi mandi soalnya takut gak kuat lepasin kamu dan kakak gak mau pulang nantinya}
ada emoji memelas diakhir pesannya.
Naya cengengesan membaca pesan dari Juna lalu membalasnya.
{ok deh gak papa. kakak istirahat ya jangan capek capek aku masih butuh bahu kakak untukku bersandar}
__ADS_1
tidak lupa Naya memasang emoji monyet menutup mukanya dengan dua tangan. lalu mengirimkannya ke Juna.
Juna yang baru saja sampai diapartement nya pun membuka pesan Naya sambil rebahan.
ia tersenyum membaca pesan dari sang pujaan hatinya dan membalasnya
{asiappp kesayangan kak Juna, kakak akan selalu menjaga kesehatan agar kuat menjadi sandaranmu Nay}
lalu Juna memasang emoji tersenyum bangga dan mengirimkannya ke Naya.
{wkkwkwkwk udah ahh aku mau istirahat kakka juga istirahat yaaa good nigth kak Juna}
dan mengirim balasan ke Juna
{siapp my sunshine good nigth too}
Juna mengirim balasan ke Naya lalu menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat seharian aktifitasnya.
***
dua bulan berlalu gugatan cerai Naya terhadap suaminya pun diterima pihak pengadilan dan sudah resmi bercerai darinya setelah banyak perdebatan antara Naya dan suaminya.
"Nay kamu jadi ambil akte ceraimu nak??"
tanya bapak Naya dimeja makan sambil menyuap sarapannya.
"jadi pak hari ini Nay libur gak kerja karna mau ambil akte cerai"
jawab Naya sopan.
"alhamdulillah mbak akhirnya kamu sudah lepas dari kandang macan itu"
celetuk Ridwan
"huss kamu itu ya Wan orang cerai kok alhamdulillah gimana sihh"
protes ibu Naya.
Ridwan hanya nyengir kuda
"tapi bener bu alhamdulillah bapak gak tega dan gak rela Naya selalu diperlakukan seperti itu oleh bu sari"
bapak Naya menimpali
"orang tua mana yang rela pak anaknya dikayak gituin ada ada saja bapak itu ibu juga gak rela pak tapi yang namanya rumah tangga itu pasti ada lika likunya pak kadang seneng kadang sedih kadang nangis kadang tersenyum begitulah kehidupan pak"
ibu Naya memberitahu.
"iya bu bapak ngerti kita yang sudah makan asem garam gula kehidupan ini sudah pasti tau tapi bapak ingin hidup Naya bahagia bu itu saja yang bapak inginkan."
ucap bapak Naya
"maafkan Naya ya pak bu belum bisa membahagiakan kalian aku janji kali ini akan memilih calon dengan sangat hati hati pak bu atau mungkin dijodohin Naya juga mau kok bu pak"
jawab Naya merasa bersalah.
"kamu sudah memberikan anak sholeh seperti Malik saja kami sudah bahagia nak, kamu jangan merendah hati kayak gitu ya ibu gak suka"
pinta ibu Naya.
"iya bu "
jawab Naya tersenyum merasa bersyukur mendapatkan keluarga yang hangat dan sayang kepadanya.
"iya mbak aku juga sayang kok sama mbak Nay, ehh tapi gimana dengan Malik mbak apa sudah tau kalau kalian berpisah mbak??"
tanya Ridwan penasaran.
"belum tau Wan jujur mbak bingung kasih taunya gimana tapi mbak akan berusaha ngasih tau pelan pelan dulu, doakan ya pak bu Wan semoga Malik bisa menerimanya"
harapan Naya.
"aminnn insyallah nak kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kita semuanya"
ibu Naya meyakinkan.
selesai sarapan Naya pamit berangkat ke pengadilan agama untuk mengambil akte cerainya.
tin tin
mobil Juna mengklakson ketika melihat motor Naya dijalan raya
Naya yang tau ciri khas klaksonnya pun menepikan motornya dipinggir jalan.
"Nay mau kemana??"
tanya Juna membuka kaca mobilnya.
"mau kesana kak"
jawab Naya bingung.
"kemana??"
tanya Juna keluar dari mobilnya.
"ehmm ke ke kesana kak"
jawab Naya gugup.
"kemana??"
tanya Juna curiga
Naya menghela nafas agar lebih tenang dan menata kata katanya.
"kak aku mau ambil akte ceraiku"
jawab Naya.
Juna terdiam mendengar jawaban Naya.
walaupun ia tau dari orang suruhannya tapi mendengar sediri dari Naya membuatnya sakit.
Juna khawatir dengan Naya apa lagi melihatnya terlihat baik baik saja membuatnya semakin takut.
"kakak anterin ya Nay??"
tawar Juna
"gak usah kak aku naik motor saja gak papa kok kakak kan harus kerja. oh iya kakak dari mana?? mau kemana??"
Naya mengalihkan pembicaraan
"kakak mau ngajak kamu makan bareng bareng sih rencananya karna besok kakak akan kembali ke Jakarta Nay"
ucap Juna
"boleh tapi aku libur kerja kak karna ada urusan nanti aku mampir ke pabrik deh kalau gak kakak sms aku aja lokasinya nanti aku susul gimana"
Naya memberikan saran.
"boleh, tapi kakak anterin ya kakak khawatir sama kamu Nay"
ucap Juna lagi.
"gak usah kak aku naik motor aja ya"
tolak Naya.
hutff
Juna menghela nafas
"ok deh kamu hati hati ya kabari kakak kalau ada apa apa"
pinta Juna
"iya kak jangan khawatir nanti aku sms kalau udah sampai sana sampai selesai urusan ku"
jawab Naya
akhirnya Naya melajukan motornya kembali melanjutkan perjalanannya.
Juna sengaja mengikutinya memberi jarak agar tidak ketahuan Naya
__ADS_1