Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
kabar miring


__ADS_3

{kakak cuma bisa gombal kalau sama kamu Nay}


isi pesan dari Juna.


"wkwkkwk kak juna ada ada saja."


Naya cengengesan.


"balas apa ya enaknya?? jadi bingung.hihi."


Naya masih kecikikan membuka pesan Juna.


"tapi kok aku jadi nyaman gini sih. gimana kalau kak Juna gak bisa move on dari aku. Naya Naya karna kamu pengangguran sendirian jadi gini kan suka ganggu orang lain. huft. aku harus sadar."


Naya menasehati diri sendiri.


"sebaiknya aku tidak usah bales aja deh. mulai sekarang aku harus jaga jarak sama kak Juna."


akhirnya Naya memutuskan tidak membalas pesan dari Juna.


"mending aku buka shopee aja kali ya. belanja apa gitu. iya deh daripada suntuk."


tok tok tok


pintu kamar Naya diketuk dari luar.


"iya bu. bentar."


Naya pun bangkit dari tidurnya membuka pintu kamar.


"ada apa bu??"


tanya Naya saat sudah membukakan pintu kamarnya.


"itu ada temen kamu Nay. katanya teman pabrik gitu. temuin gih."


ibu Naya memberi tahu.


kening Naya berkerus heran tidak biasanya teman dateng kerumah orang tuanya. apa lagi tanpa kabar.


"iya bu aku temuin temen."


Naya pun menutup pintu kamarnya dan menuju ruang tamu untuk menemui temannya.


"Put Ga kirain siapa. aku sampai kaget."


ucap Naya saat sudah berada diruang tamu dan melihat tamu tersebut.


"maaf ganggu istirahatnya mbak Nay. kami cuma kangen pengen lihat keadaan kamu mbak udah seminggu kamu gak masuk kerja."


Ega sungkan.


"gak papa Ga aku mala seneng ada dateng jenguk aku. tau aja sih aku lagi boring banget dirumah."


Naya basa basi.


"mbak sehat kan mbak??"


tanya Putri.


"alhamdulillah sehat put. gimana kalian kerjanya. masih seru aja kan??"


Naya tanya balik.


"alhamdulillah masih seru mbak. cuma kurang kamu saja personilnya mbak. hihihi."


Putri cengengesan.


"maaf ya mbak belum bisa masuk. sebenarnya pengen banget sih berangkat kerja tapi masih belum boleh. padahal aku kangen banget loh sama kalian semua."


Naya galau.


"udah mbak gak papa. yang penting mbak Naya sehat dulu ya."


nasehat Ega.


"iya .


jawab Naya tersenyum senang.


"silahkan diminum nak."


ibu Naya membawakan minuman dan cemilan.


"iya bu terima kasih. maaf ya bu jadi ngrepotin."


ucap Ega dan Putri.


"gak papa nak ibu mala seneng Naya ada temanya yang mratiin. sering sering kesini ya biar Naya tidak bosen dirumah."


ibu Naya ikut duduk dikursi samping anaknya.


"insyallah bu."


jawab Ega dan Putri.


"put kamu aja yang ngomong aku gak enak sama ibunya."


bisik Ega.


"aku juga gak enak Ga."


bisik putri.


Naya dan ibunya bingung melihat Putri dan Ega bisik bisik. seperti ada yang ingin disampaikan tapi tidak enak.


"ada apa Ga put??"


tanya Naya penasaran.


"mbak tapi gak enak mbak."


jawab Ega ragu.


"gak papa ngomong aja. jangan ngrasa gak enak Ga."


Naya meyakinkan dengan senyuman. walaupun sebenarnya hatinya sangat was was dengan apa yang nanti akan disampaikan oleh temannya.


"tapi mbak Naya jangan marah ya mbak. soalnya aku juga denger dari orang mbak. aku hanya ingin memastikan biar berita tidak lebih menyebar luas mbak."


Ega masih ragu ragu. takut menyinggung keluarga Naya.


"bilang aja gak papa kok Ga. lebih baik mbak tau jadi kalau ada yang salah bisa diluruskan Ga Put."


Naya meyakin kan.


"tapi beneran jangan marah ya mbak??"


tanya Ega memelas.


"iya. kamu tenang aja."


jawab Naya pasti.


"mbak apa benar mbak Naya hamil bukan anak suami mbak Naya melainkan anak pak Bagas atau pak Juna mbak??"


tanya Ega ragu ragu.


degg


jantung Naya berdetak sangat cepat mata Naya melotot sempurna mendengar perkataan Ega.


"jadi ini yang dia ingin pastikan karna kehamilanku. apakah yayuk yang menyebarkannya."


Naya bertanya tanya dalam hati.


"kamu dengar dari siapa Ga Put??"


tanya penasaran.

__ADS_1


"yayuk cerita sana sini mbak. dan aku juga sempet tanya apakah benar tidaknya beritanya pada yayuk tapi kata yayuk benar. dan ditambah lagi alasan mbak Naya gak masuk kerja."


Putri menjelaskan.


"Ga put kamu percaya tidak sama aku??"


tanya Naya.


"aku percaya mbak sama kamu. kalau aku gak percaya gak mungkin aku minta penjelasan kebenaran sama mbak Naya."


jawab Putri yang dianggukan Ega.


"Put Ga dengerin mbak ya. mbak hamil anak suami mbak Put. kamu ingat gak pernah lihat mas Ryan pas waktu antar jemput mbak. itu kan suami ku Ga ya memang pulang hanya setengah bulan saja dirumah setelah itu beliau berlayar lagi. dan mbak juga gak sempet KB karna suamiku pulang gak ngasih kabar. tahu bulat alias dadakan hihihi. jadi ya hamil deh hehehe."


Naya berusaha menjelaskan dengan senyuman cengengesan walaupun sebenarnya ia sakit hati dengan kabar miring tersebut.


"ohh iya juga ya. berati beritanya salah dong mbak kalau mbak hamil anak pak Juna atau Pak Bagas??"


tanya Ega.


"ya iya lah Ga orang suami mbak sempet pulang. kecuali nih ya suami mbak gak pernah pulang tiba tiba mbak hamil lahh itu yang perlu dipertanyakan. orang suami mbak pulang sempet antar jemput mbak. sempet nyapa kalian juga kan.??"


Naya tanya balik.


"iya iya. kenapa aku bego banget ya mau aja dihasut sama si yayuk itu. sabar ya mbak. ini ujian."


ucap Putri.


"iya Put. doain ya Put semoga mbak masih punya stok kesabaran hehehe."


Naya cengengesan.


"mbak masih sempetnya ya cengengesan gini??"


tanya Ega heran.


"iya nih mbak biasanya kan orang kalau dituduh jelek jelek gini kan emosi mbak. kok mala cengengesan. gimana bu anak ibu ini masih waras kan bu??"


Putri mala beralih ke ibu Naya yang dari tadi tidak mengeluarkan suara.


"gak tau nih anak Put. semoga saja masih waras Put. tapi bentar deh coba kening mu Nay panas gak."


ucap ibu Naya memegang kening anaknya memastikan.


"apa sih bu orang biasa aja juga."


Naya sewot.


Putri dan Ega bingung dengan marah dan kening Naya.


"alhamdulillah gak panas kok. berarti masih waras nak hihihi. gak usah kayak orang bingung gitulah orang ibu bercanda juga. biar gak kaku hehehe."


ibu Naya terkekeh melihat wajah teman anaknya seperti orang kebingungan.


"ahhh ibu ini bisa aja bercandanya. hahaha"


gurau Ega.


Ega Putri dan Naya ikut tertawa.


"kamu dapet sift apa Ga Put??"


tanya Naya.


"siang mbak. makanya sekalian kesini sekalian berangkat nanti mbak."


jawab Putri.


"ayo makan dulu nak ibu sudah masak. biar nanti berangkat sudah kenyang ya."


ajak ibu Naya.


"tidak usah bu. ngrepotin."


jawab Putri sungkan.


"tidak repot Put Ga. ayo gak papa kok ibu sudah masak soalnya."


"ayo gak usah sungkan. kadang juga Bagas dan Tata sering kesini. ibu mala seneng nak."


ungkap ibu Naya. berjalan menuju meja makan.


Naya menggandeng tangan Putri dan Ega mengikuti langkah ibunya.


"ayo makan. lauknya seadanya gak papa ya Ga Put??"


ucap ibu Naya.


"iya bu maaf ya bu ngrepotin."


Putri dan Ega sungkan.


akhirnya mereka berempat pun makan bersama.


**


diperjalanan Juna membolak balikkan ponselnya mengecek balasan dari Naya.


"kok gak bales bales ya. sedang apa ya Naya. apa mungkin dia lagi tidur. mungkin kali. ya sudah lah."


Juna memasukkan kembali ponselnya disaku jas kerjanya.


"apa aku telpon saja?? kenapa gak bales. kamu sedang apa?? kamu gak kenapa napa kan Nay??" juna bertanya tanya dalam hati. ponsel yang sudah ia masukkan akhirnya dikeluarkan kembali.


Juna gelisah tidak mendapatkan balasan dari Naya.


"kamu pasti baik baik saja kan Nay. keluargamu sudah berjanji akan menjagamu. pasti kamu baik baik saja."


Juna memastikan diri sendiri.


"mas kenapa?? kok gelisah gitu. apa ada yang ketinggalan??"


tanya Rangga heran. tapi senyum senyum seperti orang bodoh sekarang pun gelisah seperti orang bodoh juga.


"gak papa Gga itu anu. ehmm."


Juna ragu memberitahu Rangga.


" anu anu apa?? ngomong yang jelas dong mas. heran aku sama kamu. gak biasanya deh kamu kayak gini ada apa sih.??"


Rangga kesal dengan tingkah Juna yang berubah ubah.


"itu. ehm. Juna ragu ingin memberitahu Rangga.


Rangga pun menyimaknya dengan sabar.


"i itu Gga kok Naya belum balas pesan dari aku ya. apa dia sedang tidur atau lagi apa ya.??"


Juna pun menyampaikan perkataannya.


"astagfirllah hal adzim mas Juna. sejak kapan kamu jadi orang bodoh mas. ya allah."


Rangga gemas dengan Juna.


"ya soalnya Naya gak bales lagi pesan dari aku Gga. aku kan jadi bingung kenapa."


ucap juna menyodorkan ponselnya.


"mungkin dia lagi tidur mas. dia kan lagi hamil perlu banyak istirahat. ya mungkin dia lagi bubux ok mas Juna ku sayang."


Rangga gemas menahan nafas.


"ohh iya juga. ya sudahlah biarkan dia istirahat saja aku gak mau gangu."


Juna cengengesan.


huftt


Rangga menghela nafas tenang.

__ADS_1


"sudah sampai tuan."


ucap supir Juna sopan setelah mobil berhenti dilobby cafe tempat janjian.


"terima kasih pak."


jawab Juna dan bagas setelah dibukakan pintu mobil dan keluar.


"sama sama tuan."


jawab sang supir.


Juna dan Rangga melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe. sampai disana ternyata orang yang mengajak janjian sudah tiba lebih dulu.


"selamat siang pak Juna pak Rangga??"


ucap pak Aris ramah rekan bisnis Juna. menjabat tangan.


"siang juga pak Aris."


Juna dan Rangga membalas jabatan tangan rekan bisnisnya.


"silahkan duduk pak?"


pak Aris mempersilahkan.


"perkenalkan pak ini Mawar sekretaris saya pak."


pak Aris memperkenalkan.


"Mawar."


Mawar menjabat tangan dengan Juna dan Rangga.


Rangga


Juna


membalas jabatan tangan Mawar. tapi saat menjabat tangan Juna jari Mawar menggelitik tangan Juna. hingga Juna dengan cepat melepaskan tangannya.


"dasar ular."


gumam Juna dalam hati.


saat berbincang kaki Mawar mengganggu kaki Juna dengan menggosok gosokan kakinya. Juna yang merasa risih pun langsung bangkit dari duduknya.


"maaf pak saya permisi. sepertinya kerja sama kita sampai disini saja. saya tidak mau melanjutkan kerja sama ini. terima kasih."


ucap Juna tegas melangkahkan kakinya keluar. Rangga yang tau apa maksud Juna pun hanya diam saja dan mengikuti langkah bosnya. Rangga tau kenapa dengan sikap kakak sepupunya itu langsung meninggalkan rekan bisnisnya tanpa basa basi. pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan rekan bisnisnya. Rangga sudah hafal dengan semuanya.


"maaf pak Juna pak Rangga. apa tidak bisa kita sekesaikan dengan baik baik. ada apa pak?? saya tidak mengerti dengan pembatalan sepihak pak."


ucap pak Aris kebingungan melihat Juna dan Rangga baru duduk belum lama sudah berangjak tanpa alasan. pak Aris tidak tau dengan kelakuan Mawar yang membuat Juna marah.


"pertanyakan saja dengan rekretaris bapak atas kelakuannya itu."


ucap juna menghentikan langkahnya dan berlalu dari hadapan pak aris dan sekretarisnya.


"War sebenarnya ada apa?? kenapa pak Juna pergi negitu saja.??"


tanya pak Aris pada sekretarisnya.


"maaf pak saya tadi menggoda beliau."


ucap Mawar terbata.


"apaaaa??"


pak Aris kaget mendengar pengakuan sekretarisnya.


"Mawarrrrr."


teriak pak Aris bos Mawar.


Mawar tertunduk ketakutan.


" kamu angkat kaki dari kantorku sekarang juga."


pak Aris murka.


di dalam mobil Juna dengan wajah marahnya. hanya diam membisu.


"mas tadi kamu diapain sampai kayak gini."


tanya Rangga yang sebenarnya tau apa yang terjadi karna sering mengalaminya bersama Juna.


"gak usah kepo. pasti kamu udah tau lah masak gak tau. kamu ikut aku udah berapa lama Gga??"


ucap Juna kesal.


"hehehe hampir 8th mas."


jawab Rangga cengengesan.


"itu sudah tau. tidak usah dijelaskan."


Juna sewot.


"yeee cuma nanya doang juga. sewot aja. mas pasti diginiin kan. hihihi."


tanya Rangga sambil kakinya digoyang goyangkan dikaki Juna menggoda.


"jijik aku singkirin gak tu kaki kamu Gga??"


Juna mengangkat kakinya diatas kursi duduknya.


hahahahhaha


"ya allah mas. tapi benar sih tu cewek **** banget sih gak kalah sama Ratna sexinya hahahha."


Rangga meledek Juna. karna tau Juna tidak suka perempuan penggoda.


"tau ahhh malas aku ngurusin tu anak."


ucap Juna kesal.


"hahahaha jangan kaku gitu lah mas. makanya nikah. biar gak digangguin sama cewek cewek ****. hihihi"


Rangga tertawa melihat tingkah kakak sepupunya.


"mas apa aku boleh tanya hal yang pribadi??"


tanya Rangga serius.


Juna pun duduk dengan tegap menyangkut hubungan pribadi.


"mau tanya apa??"


"apa mas Juna selama ini belum menikah karna perempuan yang dikontak mas bernama my sunshine itu??"


tanya Rangga.


Juna terdiam sejenak. kemudian menarik nafas agar bisa tenang dalam berbicara.


huftt


"iya aku belum menikah karna Naya. dulu dan sampai sekarang masih mengharapkannya. walaupun itu mustahil bagi ku untuk memilikinya. aku tau Gga cinta tidak harus memiliki. tapi apakah aku salah bila masih mengharapkannya karna tau konflik rumah tangganya. mungkin aku mendapatkannya dengan cara yang salah. tapi aku sangat mencintainya Gga. aku tidak ingin kehilangan dia lagi."


"maksudnya mas?? apakah perempuan itu mantan kekasih mas Juna??"


tanya Rangga.


Juna menggeleng.


"terus apa hubungan kalian. kenapa dengan kehilangan lagi mas??"


Rangga bingung.


"aku mencintainya dalam diam Gga. bahkan dia baru tau kalau aku sangat mencintainya. dia baru tau aku telah lama memendam perasaannya."

__ADS_1


jelas Juna


__ADS_2