Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
naksir istri orang


__ADS_3

"ibu jodohin aja ya gas. ada anak temen ibu yang lagi single. mau ya??"


"ucap ibu bagas penuh harap.


"bu zaman sekarang kok jodoh jodohin kayak siti nurbaya aja deh. ibu tenang aja ya. anak ibu ini pasti laku kok. gak akan jadi duda karatan. ibu jangan khawatir. bagas pasti akan mendapatkan jodoh. yang penting ibu sabar aja ya."


bagas meyakinkan ibunya.


"ya sudah lah mau gimana lagi. padahal ibu udah srekk loh sama temen tata itu siapa namanya gas??"


tanya ibu bagas.


"naya bu."


jawab bagas sopan.


"nah itu naya padahal ibu udah cocok. kamu juga kelihatan suka sama dia. walaupun cerewet kayak radio bodol pas banget itu sama kamu yang kaku kan jadi rame rumahnya. hihihi."


ibu juna tertawa ingat kata katanya dengan sebutan radio bodol.


bagas hanya geleng geleng sambil cengengesan.


"udah sampai pasar bu. ibu hati hati ya. bagas tinggal ya bu. ini ada uang buat beli sayur bu."


ucap bagas sambil menyodorkan uang 500rb ke ibunya.


ibu bagas pun tanpa sungkan menerima uang dari anaknya.


"makasih ya gas. alhamdulillah. hati hati ya kamu dijalan."


bagas pun melajukan mobilnya kembali kerumah tata adiknya.


sampai sana. bagas kembali membunyikan klason mobilnya.


tin tin tin.


tak lama tata pun keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya. lalu masuk ke dalam mobil. dan berangkat bersama.


sampai dijalan tata membuka ponselnya karna tadi ia melihat ada pesan dari naya. setelah membuka pesan dari naya dan membacanya akhirnya tata memutuskan menelepon naya.


telepon terhubung


"assalamualaikum ta."


ucap naya memberi salam saat sudah mengangkat telepon dari tata.


"waalaikum salam kak maaf aku bangun kesiangan kak jadi langsung telepon aja. apa kakak udah sehat beneran. aku gak mau ya kakak semaput(pingsan) lagi. bisa bisa aku dibunuh sama mas juna karna kakak masuk rumah sakit lagi. aku masih ingin hidup kak. aku masih punya anak dan suami yang harus aku urus."


cerocos tata.


"masyaallah ta kamu tu ya udah kayak radio bodol aja sih ta. nyerocos terus. lama lama kamu kayak aku ya cerewet. hehehe gemes aku. tapi aku boring banget ta dirumah. rebahan mulu. pengen kerja. gimana dong??"


keluh naya.


"no no no no aku gak mau ambil resiko ya kak kamu kenapa napa. mending kamu nurut aja dulu deh. kakak harus bener bener sehat dulu baru masuk kerja ngerti gak??"


tata menasehati.


"siapp bu sekretaris. ya sudah lah mau gimana lagi. aku harus nurut."


jawab naya lemas.


"iya harus nurut. nanti pulang dari pabrik aku mau mampir kerumah orang tua kakak. jadi siapin makanan ya. yang enak enak."


tata cengengesan.


"ok nanti kakak siapin tapi janji kesini ya. awas kalau php."


ancam naya cengengesan.


"ya sudah sana kerja. jangan lupa mampir."


naya mengingatkan.


"asiappp juragan hahaha. assalamualaikum."


tata mengucap salam sebelum menutup teleponnya.


"waalaikum salam."


naya menjawab salam tata dan mematikan teleponnya.


"naya ingin masuk kerja??"


tanya bagas setelah tata mematikan teleponnya.


"iya mas biasa dia boring katanya dirumah rebahan mulu."


tata memberitahu.


bagas tersenyum kecut


"kamu tau gak ta. tadi ibu sudah ngomel ngomel. karna mas belum nikah lagi. yang bikin mas lucu. mas disuruh nglamar naya. saat mas kasih tau status naya sudah menikah ibu langsung lemes."


bagas terkekeh mengingat ibunya syok mendengar tentang naya yang sudah berumah tangga.


"hihihi kasihan lah ibu lihat kamu menduda terus mas hahaha. tapi emang ya kak naya itu suka php dengan statusnya. banyak orang yang gak tau kalau dia berstatus menikah dan punya anak. karna gak kelihatan seperti emak emak wkwkwk."


tata tertawa.


"ya gimana baby pack sih jadi ya gitu banyak yang tertipu dengan wajahnya."


bagas terkekeh.


"iya termasuk kamu mas. hahahha.


ledek tata.


"iya hahahaha."


bagas menertawakan dirinya.


"udah ahh ketawa mulu laper aku. nanti beli sarapan di kantin pabrik aja ya mas. takut telat soalnya."


tata memberitahu.


" siap kanjeng mamy hehehe.


jawab bagas cengengesan.


tata geleng geleng.


"kasian kamu mas dicampakan mantan istrimu sampai kamu trauma nikah lagi. sekali naksir cewek eh ternyata istri orang."


batin tata dalam hati menatap bagas kakaknya yang sedang menyetir.


tak lama mobil sampai parkiran pabrik. tata turun duluan menuju kantin pabrik untuk membeli sarapan karna mereka belum sempat sarapan. bagas menuju keruangannya menunggu tata membawakan sarapan untuknya. ia duduk dikursi kekuasaannya. dan besandar disandaran kursi.


"kapan kamu menjanda ya nay."


batin bagas dalam hati tanda sadar. saat sadar dengan perkataannya ia kaget.


"atagfirullah ya allah gas gas sadar gas walaupun sudah janda juga belum tentu mau sama kamu gas. ada juna yang selalu memperjuangkannya. dia selalu maju dibaris pertama untuk naya gas. kamu harus sadar. lebih baik kamu ngalah dari pada kecewa nantinya gas."


bagas menasehati diri sendiri.


huft.


bagas menghela nafas untuk menenangkan hatinya.


tiba tiba tata masuk.


"kenapa mas?? tarik nafas?? kehabisan oksigen?? "

__ADS_1


celetuk tata sambil duduk berhadapan dengan bagas.


"apa sih ada ada aja. mana sarapannya??"


tanya bagas sewot.


"ini makan gih."


ajak tata.


bagas hanya mengangguk dan membuka kantong kresek yang berisi nasi bungkus dan melahapnya bersama tata.


selesai makan bagas dan tata cuci tangan diwastafel yang tersedia dikamar mandi.


"mas nanti mampir kerumah kak naya ya mas. pengen kesana aku. udah janji juga sih. hehe."


ajak tata


"ok."


jawab bagas singkat.


"mas kenapa sih mukanya bete gitu?? lagi ada masalah??"


tanya tata yang melihat wajah kakaknya seperti orang tidak semangat hidup.


"gak papa kok."


jawab bagas.


"kalau ada masalah cerita mas jangan dipendam sendiri nanti jadi penyakit."


tata memberitahu.


"mas gak papa ta. tenang aja. adikku sayang."


bagas mengelus kepala tata.


"ya sudah kalau tidak apa apa. tapi kalu ada apa apa cerita ya mas??"


bujuk tata hendak keluar dari ruangan bagas. tapi langkahnya terhenti karna bagas memanggilnya.


"ta??"


ucap bagas ragu.


"kenapa mas?? ada yang ingin mas ceritain??"


tanya ta berbalik kearah kakanya.


"ta misal naya janda mas boleh gak ngejar naya??"


tanya bagas.


"astagfirullah hal adzim. mas bagas jangan aneh aneh deh. ada ada aja sih mas."


tata kesal mendengar ucapan bagas.


"kan misalnya ta mas bilang misalnya. jangan marah lah. misal doang kok."


kilah bagas.


"misalnya mas mau ngejar kak naya gak papa kalau kak naya nya mau mas. tapi kalau gak mau jangan dipaksa. sebenarnya aku setuju setuju aja kalau mas dan kak naya nikah. tapi ya gimana.mas tau sendiri kalau kak naya udah ada yang punya. tata juga gak bisa maksain kehendak mas. sebenarnya pas kami ketemu waktu di mini market itu aku mau comblangin mas sama kak naya mas. aku tau kak naya orang yang baik walaupun kolot dan bar bar. tapi setelah tau statusnya gak jadi deh."


tata memberitahu.


"ohhh gitu ya."


ucap bagas paham maksud adiknya.


"heem. aku kerja dulu ya mas. jangan sedih mas. jangan dipikirin."


jawab tata menasehati kakaknya. lalu ia berlalu dari ruangan bagas.


**


tok tok tok


rangga mengetuk pintu ruangan juna.


"masuk."


juna mempersilahkan dari dalam ruangan. rangga pun masuk setelah mendengar perintah juna.


"mas ini berkas proyek proyek yang harus dicek.


ini jadwal mas untuk hari ini. rangga menjelaskan jadwal kerja juna sampai selesai.


juna mendengarkan sambil mengecek berkas berkas kerjanya.


"ok. masih ada waktu 10 menit lagi. setelah ini kita berangkat."


ucap juna sambil matanya melirik ke arah jam tangannya.


"siap mas."


jawab rangga. berbalik badan.


"gga tunggu disini saja kita keluar bareng."


perintah juna.


rangga menganggukan kepala tanda setuju. ia duduk dikursi sofa panjang yang berada tidak jauh dari meja kerja juna sambil menunggu sepupunya selesai dengan pekerjaannya.


10 menit tepat juna merapikan berkas berkas yang sudah dikerjakan. lalu bangkit dari duduknya dan berlalu menuju jadwalnya bersama rangga.


**


"bu nanti tata sama mas bagas mau main kesini bu. minta dimasakin yang enak enak katanya bu."


naya memberitahu ibunya.


"ya sudah kalau begitu ibu belanja dulu nay. habis itu masak."


jawab ibu naya.


"gak mau dianterin bu??"


tanya naya.


"boleh de biar gak capek. ayo??"


ajak ibu naya.


lalu berlalu menuju pasar menggunakan motor yang diboncengkan naya.


sampai dipasar naya dan ibunya memilih bahan yang akan dimasak nanti.


"nay katanya lagi hamil ya??"


tanya bu nur yang sedang memilih kentang bersama naya dan ibunya.


"iya bu alhamdulillah."


jawab naya tersenyum.


"anak siapa nay??anak ryan apa bukan??"


tanya bu nur lagi.


seketika naya terkejut mendengar pertanyaan bu nur.


degg

__ADS_1


"maksudnya bu??"


tanya naya balik.


"iya kata mertuamu kamu hamil bukan anak suamimu ya nay. iya sih kalau dipikir pikir suamimu kan berlayar masak kamu hamil. makanya ibu tanya sama kamu biar gak salah paham."


jawab bu nur.


naya terdiam bingung harus ngomong apa.


"apa perlu aku menjelaskannya tapi itu tidak penting. tapi kalau aku menjelaskannya apa mereka mereka percaya?? sedangkan mereka sudah terhasut dengan omongan ibu."


naya berbicara sendiri dalam hati.


"nay kok mala ngelamun sih."


tanya bu nur


"bener nggak apa yang dibilang mertuamu itu??"


tanyanya lagi.


"bu nur tidak usah kepo sama urusan orang lain bu tidak baik."


ibu naya menasehati.


"bukannya kepo bu cuma mau mastiin aja soalnya mertua naya cerita sana sini pas minta setoran. kan kita penasaran jadinya bu."


bu nur nggak mau disalahkan.


"ayo nay kita pulang sudah selesai belanjanya."


ajak ibu naya dengan kesal. akhirnya naya dan ibunya pulang kerumah dengan wajah kesal. kebetulan bahan yang akan dimasak nanti sudah terbeli semua.


sampai dirumah naya menitikkan air mata karna sudah tidak dapat menahan air matanya. naya langsung masuk kedalam kamarnya. menangis sejadi jadinya.


setelah ibu naya menaruh belanjaannya didapur ia pun menyusul anak perempuannya.


"nay sudah ya tidak usah dihiraukan omongan bu nur. kamu kan juga tau mertuamu memang seperti itu. tidak usah didengarkan. biarkan saja. yang penting kamu fokus sama kehamilan kamu. yang pentingkan ryan mengakui kalau anak yang dikandung kamu anaknya."


ucap ibu naya menyemangati naya. agar tidak stres .


naya hanya mengangguk sambil memeluk ibunya.


ia berusaha menghentikan tangisannya. dan mencoba untuk tenang.setelah tenang naya pun berbicara dengan ibunya.


"bu nanti aku bantuin masak ya biar cepat selesai."


ucap naya.


"boleh tapi jangan terlalu capek ya. ibu gak mau kalau kandungan kamu kenapa napa nay."


ibu naya menasehati.


"iya bu. sekarang aku ingin tidur bu capek."


ucap naya sambio membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"ya sudah. ibu keluar ya nay."


jawab ibu naya sambil berlalu dari kamar anaknya.


"mas kenapa ibumu selalu seperti ini sih. walaupun aku tau ibu selalu seperti itu. tapi tetap saja hati ku sakit kalau mendengarkannya. kenapa kamu belum didarat sih mas. aku kan kangen. aku pengen ngomel. mengeluarkan kekesalanku. kamu mala ngilang. sebel aku."


naya berbicara sendiri sambil tangannya mengotak atik ponselnya bingung ingin menghubungi siapa karna suaminya sedang berlayar otomatis nomernya tidak bisa dihubungi.


"tau ah mending aku tidur capek nangis mulu"


akhirnya naya memejamkan matanya dan tak lama langsung terlelap.


asar tiba setelah menunaikan sholat naya membantu ibunya memasak. naya hanya membantu potong potong sayuran dan nyiapin bumbunya saja. sedangkan yang memasak dan lainnya ibu naya yang menyelesaikannya. naya sudah bolak balik kekamar mandi mual dan muntah muntah karna bau masakan.


"nay kamu istirahat gih dari tadi bolak balik terus. ini biar ibu yang masak semuanya."


ibu naya khawatir


"tapi bu??."


ucap naya.


"tidak ada tapi tapian. cepat istirahat."


perintah ibu naya.


"iya bu."


jawab naya seperti anak kecil yang kena marah orang tuanya.


**


dipabrik bagas dan tata sedang bersiap siap pulang menuju rumah naya.


"mas sudah selesai belum kerjaannya??"


tapi tata menghampiri bagas di ruangannya.


"iya ini udah kok. ayo??"


ajak bagas selesai merapikan berkasnya. lalu keluar bersama adiknya menuju rumah naya.


"mau dibawain apa naya??"


tanya bagas pada adiknya saat diperjalanan.


"dia sih gak minta apa apa mas. tapi kalau dibeliin pasti mau kok."


jawab tata.


"buah aja kali ya ta. biasanya orang hamilkan suka yang seger seger."


saran bagas.


"boleh boleh boleh. ya sudah kita cari buahnya dulu baru kesana."


tata celingukan mencari penjual buah. setelah ketemu bagas langsung berhenti dan memarkirkan mobilnya. selesai membeli buah sesuai yang diinginkan bagas dan tata melanjutkan perjalanannya kerumah naya.


"assalamualaikum."


ucap salam tata dan bagas setelah sampai kerumah naya.


"waalaikum salam ta wahhh dah sampai."


naya menjawab salam tata dan bagas.


"ayo masuk."


ajak naya dan mereka duduk bersama diruang tamu.


"ehh sudah datang nak."


ucap bapak naya dari dalam.


"iya pak."


jawab tata dan bagas sopan lalu mencium punggung tangan ayah naya.


"bu tata dan bagas sudah datang bu."


teriak bapak naya dari ruang tamu.


"iya pak."


jawab ibu naya dari dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2