
Juna ingin segera terlelap karna ia sudah capek hati capek pikiran. tiba tiba ponselnya berdering kembali. ia dengan malas melihat nama yang tertulis diponselnya. mata juna melotot melihat nama Naya tertera diponselnya. dengan semangat ia mengangkat telepon darinya.
"assalamualaikum Nay. tumben telpon?? kangen kakak?? hihihi."
ucap juna cekikikan mengangkat telepon dari Naya.
"waalaikum salam. ehmmm narsis nya kebangeten. hihihi. aku telpon karna disuruh mas Ryan kak. katanya aku harus berterima kasih lewat telepon bukan sms. karna kakak sudah ngijinin aku masuk kerja lagi."
Naya memberitahu.
Juna hanya tersenyum mendengarnya.
"ternyata karna disuruh suaminya. kirain inisiatifnya sendiri. tapi gak papa yang penting dia baik baik saja. itu sudah cukup."
gumam Juna dalam hati.
"terima kasih ya kak Juna sudah ngijinin aku masuk kerja lagi. aku janji aku akan nurut sama tata. gak akan capek capek. aku akan jaga kesehatanku. kak."
Naya mengulangi pesan yang ditulis Juna lewat whatt app. dengan cengengesan.
"janji ya Nay?? kamu akan selalu baik baik saja."
ucap juna parau. ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya dan kandungannya. walaupun Juna bukan suami Naya tapi Juna sangat mempedulikan keselematan Naya. karna cintanya yang sangat tulus dari hati.
"iya kak aku janji. kakak gimana dengan perjodohannya?? sukses??"
tanya Naya.
"huft. gagal."
jawab Juna.
"gagal kenapa kak?? anaknya tonggos dan stress kayak calonnya mas Bagas itu??"
tanya Naya lagi.
sontak Juna tertawa mendengar pertanyaan Naya.
"tonggos giginya maksudnya?? lah emang sih Bagas gagal perjodohan karna calonnya tonggos dan stress Nay??"
tanya Juna balik.
"he'em kak. Tata cerita sih gitu. dan katanya keluarganya tidak mau mengobati depresi anaknya makanya ia mau menjodohkan dan menikahkan anaknya agar sang suami mau mengobati penyakitnya sampai sembuh. kasian sih tapi lucu ceritanya. hihihi."
dan akhirnya Naya menceritakan apa yang diceritakan Tata padanya ke Juna. Juna tertawa terbahak bahak mendengar ceritanya dari Naya.
"terus terus saat Tata menceritakannya muka mas Bagas ditekuk kayak kanebo 5 ribuan kak. hihi kalau kakak ada ditempat pasti kakak ketawa kak. ceritanya lucu banget. hihihi.
Naya menceritakannya ke Juna cekikikan yang diikuti Juna.
"kok Bagas gak cerita ya ke kakak ya Nay pasti lucu baget dehh kalau cerita."
timpal Juna tertawa lepas.
" malu lah kak masak cerita aib sendiri. yang ada pasti diledekin hahaha. ohh iya kak kakak kan ikut perjodohan gagalnya dimananya?? ceritain dong. aku kan kepo. hahaha."
Naya tertawa.
"ahh kamu nih kepo aja sih."
jawab Juna cengengesan.
"ayolah kak cerita mumpung aku telepon?? kak??"
rengek Naya.
" huft ok deh tapi janji ya jangan diketawain kayak Bagas ya??"
tanya Juna pura pura memelas.
"ok ok."
jawab Naya.
"gimana ceritanya ya. gini sih anaknya sih lumayan cantik. tapi sangat **** pakeannya. terlalu terbuka sampai buah dadanya saja seperti ingin melonjat keluar. kakak gak suka cara dia bicara terus seperti wanita murahan."
ungkap Juna terbuka.
hahhhh.
mulut Naya menganga mendengar ungkapan Juna.
"berati mantep banget dong kak tu orang udah seksi besar lagi punyanya. huft pasti idaman cowok banget itu orang kak. kenapa kakak tidak suka. padahal biasanya cowok itu lebih suka yang model begituan. apa lagi pinter ngerayu pasti cowok cowok pada klepek klepek sama dia kak."
ucap Naya antusias.
"hihihi. idaman gimana mala jijik iya Nay. masak cewek menyerahkan diri gitu. kelihatan seperti wanita murahan. seperti kehausan gitu. ya jijik lah.
pengakuan Juna.
"lahhh terus tipe kakak yang seperti apa. dikasih yang hot gak mau."
tanya Naya.
"yang sederhana saja. yang bisa membuat nyaman saat bersamanya. yang bisa menemaniku saat suka dan duka. bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. bisa terima apa adanya. bisa terbuka satu sama lain. dan saling percaya. buka terima karna harta. bukan terbuka karna aku kaya."
ungkap Juna.
Juna tau semua wanita mengincarnya karna harta kekayaan dan ketampanannya. karna ia pernah mengalaminya saat ia ingin membuka pintu hatinya dan melupakan Naya. ungkapan karna harta bendanya ia dengar sendiri saat pasangannya membicarakannya dibelakangnya. selain itu Juna sering melihat semua wanita selalu menyerahkan tubuh untuknya seperti wanita murahan.
Naya tersenyum mendengar ungkapan Juna.
"kalau belum dijalani ya belum tau kak. dia setia apa tidak. dia terima apa adanya apa tidak. kenapa kakak tidak terima dulu dan jalani siapa tau cocok kak. kadang yang namanya cinta itu bukan pada pandangan pertama. terkadang seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. iya kan??"
tanya Naya serius. Naya takut Juna tidak mau merima perempuan manapun karna dirinya.
"apa kamu akan begitu. walapun bukan pandangan pertama. tapi seiring berjalannya waktu kamu mau membuka pintu hatimu untukku. melabuhkan cintamu untukku Nay. tapi semua itu mustahil karna kamu sudah bersuami."
gumam Juna dalam hati.
"iya. entahlah jodoh kakak lagi dimana belum tau. hihihi."
jawab Juna tersenyum kecut.
"belum lahir kali kak. hahaha???"
Naya tertawa yang di ikuti Juna.
"Nay besok malam kakak ke Jogja."
ucap Juna.
mata Naya langsung berbinar mendengar kata Jogja.
"oya kak aku pengen ikut??"
Naya manja.
Juna tersenyum mendengar kemanjaan Naya.
"kan kerja. gak bisa dong."
jawab Juna.
"iya ya. kenapa gak kapan kapan aja kak. biar aku bisa ikut. aku kan juga pengen ketemu Malik."
ucap Naya.
"nanti ya kalau kehamilan kamu sudah agak lebih baik nanti kita rame rame kesana. yang penting sekarang jaga kandungan kamu ok??"
Juna menasehati.
"ya deh. nurut aja. tapi besok nelpon ya kak. aku kangen sama Malik."
__ADS_1
pinta Naya.
" ok."
jawab Juna singkat.
"kak udah dulu ya aku mau istirahat besok pertama kerja gak lucu kalo telat hihihi."
Naya cengengesan.
" ya sudah good nigth sayang hehehe."
canda Juna.
"geli tau kak. hahahaha. pokoknya aku terima kasih sama kak sudah ngijinin aku masuk kerja lagi. good nigth too. hihihi"
jawab Naya tertawa. setelah mengucap salam Naya pun mematikan ponselnya
"kenapa sih kamu gemesin banget Nay. tapi sayang masih milik orang."
Juna tersenyum kecut.
"udah ah merem."
gerutu Juna kemudian tak lama ia terlelap dengan sendirinya.
***
dipagi hari Naya sudah sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kerja kembali ke pabrik.
Tata dan Bagas sudah menawarkan tumpangan berangkat bersama. akan tetapi Naya menolak dengan alasan ingin menghirup udara segar dengan mengendarai motor metic nya. karna semenjak ketahuan hamil Naya dilarang untuk melakukan aktivitas apapun termasuk mengendarai sepeda motor.
Naya dengan semangatnya berangkat kerja menggunakan motor meticnya.
"bu pak berangkat dulu ya assalamualaikum."
pamit Naya dengan senyuman bahagia.
"ya sudah hati hati dijalan nak. waalaikum salam."
jawab Ibu dan bapak Naya.
sampai dipabrik Naya tersenyum ceria betapa ia sangat merindukan disibukan oleh pekerjaan.
"mbak Naya."
tiba tiba Putri menghampiri Naya saat melihatnya.
Naya yang melihatnya saat Putri lari kecil menghampirinya langsung tersenyum bahagia.
"Put."
sapa Naya memeluk teman kerjanya yang sangat ia rindukan.
"mbak Naya kesini lagi?? mbak kerja lagi mbak?? udah dikasih sama pak Bagas??"
Putri membrondong pertanyaan yang membuat Naya tertawa. setelah melepaskan pelukannya.
"hahaha satu satu kali nanyanya. mbak kan bingung jawabnya put.??"
jawab Naya cengengesan.
"hihihi iya ya. maaf sangking senengnya aku mbak.hihihi."
Putri cekikikan.
"kamu tu ya. iya mbak mulai hari ini kerja lagi Put. mas Bagas udah ngasih ijin ke aku untuk masuk lagi. hehehe."
jawab Naya jujur.
"alhamdulillah kita bisa kerja bareng lagi mbak??"
Putri antusias.
ungkap Naya.
"yaaa gak bareng dong mbak.??"
ucap Putri lemas.
"he'em. tapi mbak janji kalau ada waktu mungkin pas dikantin kita kumpul kumpul bareng gimana??"
tanya Naya.
Putri mengangguk semangat.
"iya mbak gak papa. jangan lupain aku ya??"
belum sempat Naya menjawab Tata dan Bags muncul duluan dari belakang Naya.
"jangan lupain apaan??"
tanya Tata.
"ehh bu Tata."
sapa Putri.
"gak ini Ta aku kan sekarang kerjanya sama kamu sudah bukan bagian packing lagi Putri takut aku lupain dia."
ungkap Naya pada Tata.
"mbak Naya kok mala ngaduh gak asik ahhh."
gerutu Putri memonyongkan bibirnya.
"mana ada kak Naya lupain teman temannya. walaupun dia tulalit tapi gak akan lupain kamu. percaya deh."
jawab Tata.
Naya mengangguk anggukan kepala tanda mengiyakan.
"kan takut bu. biasanya kami bercanda bareng didalam jadi rame. tertawa bersama. tiba tiba mbak Naya langsung keluar dari pabrik. kami kan jadi kangen sama ini orang. yang biasanya kan suka bikin rame ruangan dengan kebarbaran dan kekonyolannya bu."
ungkap Putri.
"ya sih. saya juga kangen dengan ke stressannya yang suka ngelawak. tapi gimana ya Put. saya tidak berani membantah perintah pak Juna. kak Naya boleh masuk kerja kembali tapi hanya untuk bantu bantu aku saja biar gak terlalu capek. kamu kan tau sendiri kak Naya hamil. jadi terlalu beresiko kalau kak Naya masih dibagian packingan. gak papa ya nanti masih bisa main bareng bareng lagi kok. kan masih satu pabrik."
Tata menjelaskan.
"iya bu. mbak janji ya jangan lupain aku. kalau ada waktu kumpul bareng ya.??"
pinta Putri.
"ya Put. mbak janji akan sering sering ke kantin kumpul bareng."
Naya membelai pipi Putri dengan lembut.
"ya sudah kalau begitu. aku masuk dulu ya mb. nanti telat. dada."
pamit Putri sambil berlalu.
"ya dada. hati hati put. jangan lari."
teriak Naya.
"duhhh yang dipeluk cuma Putri doang aku gak dipeluk. udah lupa ya sama aku.??"
protes Tata cemberut pura pura ngambek.
"yaelahhh ngiri nih ceritanya??"
Naya mencolek hidung pesek Tata.
__ADS_1
"apaan sih."
Tata masih pura pura ngambek.
Naya langsung memeluk Tata dengan gemas. Tata pun membalas pelukan Naya.
"mas ikut peluk dong. masak kalian doang yang berpelukan."
Bagas merentangkan tangannya pura pura ingin memeluk. Tata langsung menonyor kening kakaknya. sambil memeluk Naya dengan tangan satu.
"enak aja main peluk peluk. bukan muhrim."
ucap Tata setelah melepaskan Pelukannya.
"dikit aja gak papa kali."
Bagas genit.
"sejak kapan mas ku begini. apa kelamaan gak nikah nikah jadi merindukan kehangatan. nikah sana. kalau gak ada yang mau sama mbak Elvi aja hihihi."
ledek Tata. Naya tertawa mengingat Tata memceritakan bentuk Elvi.
"terus aja terus. gitu terus."
Bagas sewot selalu diingatkan tentang Elvi.
"sudah ah. perutku sakit tertawa terus tau ngak."
lerai Naya.
"ya abisnya ngeselin banget."
protes Tata.
"mas kan cuma pengen. gitu aja marah."
Bagas ngeles.
"sudah ayo masuk. capek ni bumil disuruh berdiri terus daritadi."
gantian Naya yang protes.
"oh iya. lupa hehehe. selamat datang kembali kak Naya. yang semangat ya. harus nurut."
Tata menyambut Naya dengan Ceria.
" terima kasih Ta pake sambut sambutan segala. kayak sama siapa aja kamu ini."
gurau Naya.
"ayo masuk kak."
ajak Tata sambil mengandeng lengan Naya.
Naya mengangguk mengiyakan. dan melangkah bersama dengan Tata yang diekori Bagas di belakang.
"taraaa ini meja kakak."
Tata menunjukkan meja kerja Naya.
"ok deh terima kasih. kapan nyiapinnya?? kok udah lengkap gini.??"
tanya Naya bingung.
"ada dehhh. hahaha. kemaren langsung dipasangin semua sama orang suruhan mas Juna. kakak gak usah khawatir mas Juna itu orangnya gercep."
ucap Tata memberitahu.
"udah sana mulai berkerja. Naya selamat datang kembali ya. selamat bekerja."
Bagas menimpali. dengan senyuman paling manis.
"duh meleleh aku mas. pake dikasih senyuman maut segala Ta. hehehe. terima kasih mas."
jawab Naya cengengesan.
"ada ada aja kamu."
Bagas menggeleng kepala. melihat tingkah imut Naya.
"bikin gemes aja sih."
gumam juna dalam hati.
"mas balik keruangan dulu ya daaa."
pamit Bagas.
"ya mas."
jawab Naya dan Tata bersamaan.
Bagas pun berlalu dari dari ruangan Tata dan Naya.
"ayo kak kerja."
ajak Tata.
"yepp."
jawab Naya semangat dan duduk dimeja kerjanya.
Tata dan Naya mulai berkutat dengan pekerjaannya masing masing. Naya yang sudah biasa membantu Tata membuat laporan keuangan dan lain lain tidak pusing dan bingung lagi.
**
tidak jauh berbeda dengan Juna dikantor ia juga sedang bergulat dengan pekerjaannya agar cepat selesai dan langsung bisa berangkat ke Jogja untuk menjenguk Malik.
tok tok tok.
suara ketukan dari luar.
"masuk."
Juna mempersilahkan.
"maaf pak ada tuan wijaya dan nyonya pak."
lapor sekretaris Juna yang bernama Vina.
"suruh masuk."
perintah Juna.
"baik."
jawabnya singkah lalu mempersilahkan tamu tersebut masuk keruangan Juna.
"sibuk nak??"
tanya mama Juna saat masuk kedalam dan duduk disofa.
"gak terlalu ma. tumben kesini ada apa ma?? ada apa??"
tanya Juna sopan lalu menyalimi kedua orang tuanya.
"papa gak habis pikir sama kamu Jun. bagaimana bisa kamu meninggalkan Ratna sendirian dicafe Jun. kalau kamu tidak mau sama dia. tolak saja ke dia secara baik baik. bukan mala main kabur seperti ini. mau sampai kapan kamu seperti ini Jun?? lupakan Naya dia sudah bahagia bersama pasangannya Jun."
ocehan papa Juna.
"sabar dikit pa. kita dengarkan alasan Juna dulu. kita kan tau perempuan yang selalu mendekati Juna seperti apa. siapa tau Ratna sama dengan mereka."
mama Juna menenangkan.
__ADS_1