My Dearest Wife

My Dearest Wife
Dijodohkan.


__ADS_3

Romi kembali ke atas begitu selesai mengantarkan Anindya ke dalam mobil. Ia langsung naik ke atas untuk menemui Adrian di ruangannya.


Ketika pria itu hendak masuk ke dalam ruangan Adrian, Maura memanggilnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Maaf tuan! Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dia sedang duduk di sana. Katanya dia sudah membuat janji dengan anda." jelasnya sambil menunjuk seorang pria yang sedang duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari meja Maura.


Romi melihat pria yang dimaksud Maura. Romi tampak menghampirinya begitu mengenalinya.


"Tuan Rayhan! Anda sudah datang?" ia menghampirinya sekaligus menjabat tangannya.


"Iya. Baru saja!" jawabnya membalas jabat tangannya.


"Ayo! Kita bicara di ruangan saya saja." ucapnya.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam ruangan Romi. Rayhan adalah seseorang yang dikirim oleh kantor cabang untuk menggantikan Bimo. Tadinya ia bekerja di cabang Bali. Karena etos kerjanya yang mumpuni, akhirnya ia terpilih untuk bekerja di kantor pusat sebagai manajer personalia.


****************


"Hei! Dari tadi ku perhatikan kau banyak termenung? Apa kau ada masalah?" tanya Anindya pada Anne.


Sore itu Anne sedang membantunya membersihkan kebun bunganya di halaman belakang.


Seharian ini ia memang sedang memikirkan sesuatu. Ia sulit berkonsentrasi karena memikirkan hal itu.


"Ada apa? Cerita saja padaku jika kau ada masalah." bujuknya ketika melihat Anne terlihat bingung menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya kemarin malam ibuku menelpon ku. Dia meminta ku pulang akhir pekan ini." Anne tiba-tiba terdiam.


"Lalu apa masalahnya? Kau takut meminta izin? Jika kau takut, aku akan membantumu untuk meminta izin pada bu Sofia."


"Bukan itu?"


"Lalu? Bicaralah yang jelas! Aku tidak akan mengerti jika kau berbicara sepotong-sepotong." Anindya tampak tak sabar.


"Ibuku berniat untuk menjodohkan aku pada anak kenalannya. Dia ingin aku menikah setidaknya tahun depan. Aku bingung. Aku belum siap untuk menikah. Setidaknya hingga aku lulus kuliah. Aku juga masih ingin mengambil gelar S2 ku agar bisa menjadi seorang psikiater. Tapi ibuku sangat memaksa. Katanya wanita seumur ku sudah punya satu bahkan dua anak. Ibuku terlalu berpikiran sempit. Padahal aku tak pernah menyusahkannya dengan biaya kuliah ku. Aku bingung! Belum lagi akhir pekan ini aku sudah terlanjur janji dengan tuan Arkan untuk menemaninya pergi." jelasnya panjang lebar.


"Apa! Janjian dengan Arkan?" tanyanya kaget


Aduh! Aku kelepasan bicara! batinnya.


"Ehm... Anne sebenarnya aku penasaran bagaimana hubungan mu dengan Arkan. Kalian tampak dekat akhir-akhir ini. Gaun yang kau kenakan kemarin juga pemberian darinya, kan?" tanyanya menyelidiki.


"Hubungan bagaimana maksudmu? Aku dan tuan Arkan hanya sebatas majikan dan pelayan saja." jawabnya.

__ADS_1


"Apa ada seorang majikan yang memberikan gaun mahal pada pelayannya? Lagipula kenapa dia hanya memberikannya kepadamu saja. Bukankah banyak pelayan wanita yang seumuran dengan mu di sini? " tanyanya lagi.


"Aku mana tahu! Mungkin dia hanya berbaik hati memberikan gaun itu padaku karena aku tidak memiliki gaun yang bagus saat itu. Tapi... apa gaun itu benar-benar mahal?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja. Itu rancangan khusus. Adrian juga membelikan banyak gaun seperti itu untukku. Bahkan terkadang masih tercantum harganya. Aku saja terkejut melihat harganya. Apa kau tahu satu gaun yang sederhana saja, harganya hampir sama dengan biaya kuliahmu selama setahun." jelasnya yang membuat Anne terkejut.


"Apa! Mahal sekali. Kira-kira berapa harga gaun itu ya? Aku rasa aku harus mengembalikannya. Jika ibuku tahu, dia pasti akan menjual gaun itu."


"Jangan! Itu kan pemberian. Lagipula aku yakin dia tak akan menerimanya kembali jika kau mengembalikannya. Seperti Adrian! Ketika aku menolak pemberian darinya, dia malah menyuruhku untuk membuangnya saja daripada mengembalikan benda itu padanya. Aku rasa semua sifat pria kaya sama saja. Mereka terlihat seperti bos arogan yang sombong jika berkaitan dengan hal-hal seperti itu." jelas Anindya.


"Seperti ini , " Jika kau tidak mau, kau bisa membuangnya! Aku tidak bersedia menerimanya kembali." Anindya tampak menirukan bagaimana Adrian berbicara padanya ketika ia menolak pemberiannya.


Anne tampak tertawa begitupun dengan Anindya.


"Tuan Arkan juga berbicara seperti itu ketika aku menolak pemberiannya. Mereka memang terlihat arogan." Anne membenarkan.


"Apa mungkin Arkan menyukaimu?" tanya Anindya menduga-duga.


"Kau yang benar saja. Bagaimana mungkin pria sepertinya menyukai wanita sepertiku." sanggahnya.


"Memangnya kenapa? Apa wanita sepertimu tidak berhak untuk disukai pria sepertinya? Memangnya kau wanita seperti apa?"


"Aku kan tidak setara dengannya. Baik soal finansial maupun penampilan. Aku tidak cantik juga tidak kaya. Aku rasa diluar sana banyak wanita yang lebih segalanya daripada aku yang menyukainya." Anne tampak berkecil hati.


"Lalu apa bedanya denganku? Bukankah kita sama? Kau bahkan jauh lebih baik daripada aku. Tapi Adrian tak pernah mempermasalahkan hal itu. Walaupun aku tidak tahu apakah itu akan bertahan selamanya atau tidak."


Anindya tampak berpikir.


"Lalu bagaimana sekarang. Aku benar-benar belum siap untuk menikah apalagi menjalin hubungan dengan seorang pria. Takutnya itu akan mengganggu kuliahku." Anne kembali terlihat murung.


Anindya tampak berpikir. "Begini saja. Kau temui saja dulu pria itu. Jika kau tidak suka padanya, kau kan bisa menolaknya. Ibu mu tentu tidak akan memaksamu menikah dengan orang yang tidak kau sukai, bukan? Tapi jika seandainya kau menyukainya, kau kan bisa mendiskusikan masalah ini berdua dengannya dan mencari jalan keluar terbaik. Semua itu masih bisa dibicarakan baik-baik, Anne! Kau jangan cemas seperti ini." jelasnya mencoba untuk memenangkannya.


"Kau tidak tahu seperti apa sifat ibuku. Jika ia sudah menginginkan sesuatu maka aku harus menurutinya. Dia tidak akan terima jika aku menentangnya." Anne semakin putus asa.


"Jadi harus bagaimana? Apa kau benar-benar tidak bisa membujuk ibumu? Bagaimanapun sifat ibumu, dia pasti ingin melihat putrinya bahagia, kan?"


"Seharusnya memang seperti itu. Ck! Belum lagi janji dengan tuan Arkan. Bagaimana caraku menolaknya?" ucap Anne.


"Kenapa harus ditolak? Kau kan bisa pulang ke desa setelah menyelesaikan urusanmu dengan Arkan."


"Ah iya! Kau benar juga." ucap Anne.


"Atau kau bisa meminta bantuan pada Arkan untuk berpura-pura menjadi kekasihmu. Sehingga ibumu tidak akan menjodohkan mu kembali dengan pria lainnya." usul Anindya.


"Bagaimana bisa aku memintanya menjadi kekasih ku? Kau ini asal bicara saja!" keluhannya.

__ADS_1


"Jika dia bersedia bagaimana?" tanya Anindya.


"Mana mungkin dia mau. Kau ini ada-ada saja!"


Akhirnya mereka tidak juga mendapatkan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi Anne.


Langit terlihat semakin gelap. Hal itu menandakan jika malam akan segera kembali menyapa.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Hai! Assalamu'alaikum. Lusa kita udah lebaran. Saya selalu Author ingin mengucapkan selamat hari raya idul fitri. mohon maaf lahir dan batin bagi yang merayakannya.


...💜💜💜💜💜💜...


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2