My Dearest Wife

My Dearest Wife
Terima kasih


__ADS_3


"Halo, sayang!" sapa Anindya pada suaminya melalui ponselnya.


"Hmm! Kenapa sayang? Kau merindukan ku? Kita baru berpisah dua jam yang lalu."


"Ck! Bukan itu. Aku ingin minta izin padamu."


"Kau tak rindu padaku?"


"Mulai lagi!" Anindya tampak bergumam pelan sehingga Adrian tidak dapat mendengarnya.


"Bukan begitu. Tentu saja aku sangat merindukan mu. Tetapi aku ingin minta izin padamu. Aku ingin pergi dengan bibi dan Clarissa ke mall. Apa aku boleh pergi?"


"Dengan bibi? Hanya kalian bertiga? "


"Iya! Apa tidak boleh?"


"Bukannya tidak boleh. Tetapi aku pikir hubunganmu dengan bibi tidak cukup dekat selama ini. Kenapa tiba-tiba kalian pergi bersama? Apa dia yang mengajakmu?"


"Bukan,sayang. Aku yang mengajaknya."


"Kau yang mengajaknya?"


"Iya. Aku hanya merasa jika dia juga tidak punya salah apapun padaku. Ayah menipunya, jadi kenapa aku harus membencinya. Aku mungkin harus belajar menerima kenyataan bahwa dia adalah ibu tiri ku. Yang aku lakukan sudah benar, kan?" tanyanya ragu.


"Jika itu yang kau inginkan, maka aku tidak bisa melarang mu. Jika kau merasa nyaman melakukannya, maka lakukan saja. Aku hanya ingin kau bahagia. Jangan sampai kehadiran bibi malah membuat mu stres. Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu juga anak kita."


"Iya. Aku tahu. Baiklah! Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik."


"Hanya terima kasih saja?" tanya Adrian.


"Iya. Lalu kau mau apa lagi? Selain tubuh dan hatiku aku tidak memiliki apapun lagi. Itu pun sudah ku berikan padamu seluruhnya. Jadi apalagi yang bisa ku berikan padamu?"


"Kau semakin berani melawan ku. Apa aku terlalu memanjakan mu?"


Anindya terkekeh. "Baiklah! Aku tutup teleponnya, ya! Bibi dan Clarissa sepertinya sudah menunggu ku di bawah. Bye! "


"Anindya! " serunya geram.


"Iya, sayang. Mmuachh... muachh... muachh.. sudah puas?" Anindya memberi kecupan tiga kali melalui ponselnya.


"Iya. Baiklah. Tapi malam nanti aku akan menagih sisanya. Apa kau mengerti?" tanya Adrian.


"Iya. Kau ini perhitungan sekali. Sudah ya! Aku pergi. Aku mencintaimu." ucapnya mengakhiri panggilannya.


Sementara itu...


"Aku juga mencintaimu!" sahut Adrian ketika panggilan itu berakhir.


Ia tersenyum memandangi layar ponsel yang memuat foto mereka berdua.


Romi yang sedari tadi berada di ruangan itu tampak menahan senyumnya. Ia seketika merasa sesak ketika mendengar pembicaraan mesra atasannya itu dengan istrinya .Adrian sengaja menyalakan loud speaker ponselnya karena sedang memeriksa pekerjaannya. Seketika jiwa lajangnya berteriak minta tolong.


Tetapi seketika raut wajahnya berubah suram.


"Romi! Kirim dua orang untuk mengawasi Anindya. Aku merasa cemas membiarkannya keluar rumah tanpa penjagaan. Awasi juga bibi dan Clarissa. Paman ku pasti tidak akan diam saja." perintah Adrian.

__ADS_1


"Baik, tuan." sahut Romi.


"Oh iya! Bagaimana dengan paman? Apa yang dilakukannya saat ini?"


"Tuan Rian sepertinya akan ke sini dalam waktu dekat. Tetapi sepertinya ia datang diam-diam. Karena ia membawa beberapa orang untuk ikut bersamanya." jelas Romi.


"Bersama siapa saja?"


"Mengenai hal itu saya juga belum tahu pasti. Tetapi sepertinya orang-orang itu berkaitan dengan penyelundupan kayu yang di sita beberapa waktu lalu."


"Begitu? Baiklah! Teruskan penyelidikannya. Ck! Apa yang sebenarnya di inginkan oleh pria tua itu?" tanya Adrian heran.


****************


Grand Mall X


Anindya, Rossa dan Clarissa baru saja tiba di Mall. Mereka berencana untuk membeli beberapa pakaian hamil untuk Anindya. Rossa tahu jika Anindya sangat membutuhkan hal itu. Apalagi jika kehamilannya semakin membesar nantinya.


Kehadiran Rossa sangat membantu Anindya di masa kehamilannya seperti saat ini. Ia bisa belajar banyak hal dari wanita itu.


Setelah selesai membeli pakaian hamil. Mereka juga membeli beberapa pakaian dalam untuk ibu hamil dan perlengkapan lainnya.


Anindya tadinya ingin sekalian membeli pakaian untuk calon bayinya. Tetapi Rossa menyarankan untuk menundanya hingga kehamilannya berusia tujuh bulan ke atas.


Selesai berbelanja, mereka singgah ke cafeteria untuk makan siang karena ketiganya sudah merasa lapar.


"Terima kasih sudah membantu Anin, bibi!" ucap Anindya tulus.


"Iya, sama-sama. Kau sudah bibi anggap seperti putri bibi sendiri. Jadi jangan sungkan untuk bertanya jika ada hal yang tidak kau mengerti." ucap Rossa.


"Aku juga sudah menganggap kakak seperti kakak kandung ku sendiri. Aku senang karena akhirnya aku bisa punya saudara. Nanti aku akan menjadi bibi yang keren untuk anak kakak." ucap Clarissa antusias.


Anindya tampak tersenyum. Mereka berdua memang cepat akrab satu sama lain. Terlepas dari masalah ayahnya, ia memang tulus menyayangi Clarissa.


"Oh iya! Bagaimana kehamilan bibi dulu? Apa bibi mengalami kesulitan? " tanya Anindya.


"Iya, bu! Aku juga ingin tahu. Seperti apa ibu sewaktu mengandung aku." timpal Clarissa antusias.


"Kehamilan bibi sempat mengalami masalah. Karena mengalami muntah yang parah, bibi harus di rawat beberapa kali di rumah sakit. Belum lagi kandungan bibi yang lemah. Bibi harus benar-benar istirahat total selama beberapa bulan." jelasnya.


"Aku sangat menyiksa ibu, ya?" Clarissa tampak sedih.


"Tidak sayang. Kau sama sekali tidak menyiksa ibu. Ibu malah senang karena bisa merasakan pertumbuhan mu yang sehat setiap bulannya." jelas Clarissa menenangkan putrinya itu.


"Apa ayah terus mendampingi ibu seperti kak Adrian?" tanya Clarissa lagi.


Anindya melihat perubahan raut wajah Rossa yang tiba-tiba sedih, tetapi ia tidak menunjukkan hal itu di depan Clarissa.


Ia lalu dengan cepat berubah ceria.


"Tentu saja ayahmu selalu mendampingi ibu, sayang. Dia suami yang sangat perhatian." Jelasnya.


"Oh iya! Aku juga ingin mencari suami yang perhatian super ayah nantinya."


"Kau ini masih terlalu kecil untuk memikirkan pernikahan. Apa kau tahu itu?" hardik Rossa pada putrinya tersebut.


"Kecil apanya, bu? Aku sudah enam belas tahun. Aku sudah dewasa. " bantah Clarissa.

__ADS_1


"Enam belas tahun itu masih tergolong kategori anak kecil. Kau bahkan belum bisa mengurus dirimu sendiri dengan baik. Apanya yang sudah dewasa." balas Rossa.


"Ibu!!" Clarissa tampak merengek manja.


Gadis muda itu seketika mengerucutkan bibirnya. Tanda Ia sedang merajuk.


Anindya tersenyum lebar ketika mendengar perdebatan tersebut. Kedua ibu dan anak tersebut sangat dekat. Bahkan bisa berbagi segalanya berdua.


****************


Pukul 00:15 waktu dini hari.


Adrian baru saja kembali ke rumah pada dini hari. Ia melihat Anindya sudah tertidur sangat pulas di atas sofa dengan memegang sebuah buku.


Ia menghampiri Anindya setelah melepas dasi dan kemejanya. Ia duduk di tepi ranjang.


Adrian mengambil buku tersebut, lalu meletakkannya di atas meja.


"Kau pasti sangat kelelahan hari ini." ucapnya lalu mengecup dahinya.


Ia mengangkat tubuh Anindya lalu meletakkannya di atas ranjang agar wanita itu bisa tidur dengan nyaman.


Adrian duduk di tepi ranjang. Tampak memperhatikan perut Anindya yang mulai terlihat membesar.


Ia mencium perutnya dengan lembut dan mengucapkan selamat malam padanya.


"Aku mencintai kalian kesayangan ku." ucapnya.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2