My Dearest Wife

My Dearest Wife
Honeymoon part 3


__ADS_3

07:30 am, Berlin, Jerman.


"Sayang! Ini kopinya. Lho! Dimana dia?" Rossa tampak memperhatikan sekitar ruangan kerja suaminya itu.


Tidak ada siapapun di sana. Ia meletakkan kopi itu di atas meja. Meja itu terlihat berantakan. Banyak tumpukan kertas tergeletak begitu saja di atas meja.


Rossa berinisiatif untuk merapikannya. Namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada selembar kertas putih yang sepertinya berasal dari rumah sakit.


"Rumah sakit? Apa Rian sedang sakit? "


Rossa membacanya dengan serius. "Hasil tes DNA?"


Ia membaca nama yang tertera pada kertas tersebut. Ada nama Rian juga Anindya.


"Kenapa Rian melakukan tes DNA pada Anindya? Ada apa ini?"


Rossa sangat bingung. Dan begitu membacanya hingga akhir tulisan, wajahnya berubah pucat.


"99% menyatakan hubungan ayah dan anak."


"Apa maksudnya ini? Anindya putri kandung Rian?"


Ia terduduk di kursi karena lemas. Ia benar-benar tak menduga pada apa yang baru saja dibacanya.


Rian mengaku padanya jika ia sebatang kara di dunia ini. Ia juga mengaku bahwa dirinya lajang ketika menikahi dirinya. Tetapi kenapa tiba-tiba ada hasil tes DNA.


Apakah semua perkataannya selama ini hanyalah kebohongan semata?


"Anindya putri kandung Rian? Itu artinya ia sudah memiliki anak jauh sebelum kami menikah. Apakah aku ini orang ketiga dalam pernikahannya?" ia menangis.


"Apa yang kau lakukan di sini?" seseorang merebut kertas itu dari tangannya.


Dia adalah Rian yang baru saja kembali ke ruangannya. Ia begitu cemas ketika melihat Rossa memegang kertas itu.


Rossa beranjak dari tempat duduknya. "Katakan padaku? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Anindya adalah putri kandung mu? Kebohongan apalagi yang kau sembunyikan padaku selain dia? Katakan padaku?" bentaknya.


Rian terdiam sejenak. Ia tak tahu harus berkata apa pada istrinya itu.


"Jawab aku? Apa dia tahu jika kau adalah ayahnya? Apa paman Zein dan Adrian tahu masalah ini? Katakan padaku! Kenapa khanya diam saja!" Rossa begitu murka.


Ia meluapkan emosinya pada pria yang sudah bersamanya selama hampir tujuh belas tahun itu.


"Iya! Anindya adalah putri kandung ku. Apa kau puas? "


Ia memukul tubuh pria itu sekuat tenaga. "Kenapa tega sekali kau padaku! Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Apa salahku padamu?" Rossa terus menerus bertanya padanya hingga membuat Rian kesal.


Ia menahan tangan Rossa untuk menghentikannya. "Diamlah! Selain kau tidak ada seorang pun yang tahu. Jadi pastikan untuk tetap menutup mulut mu. Jika kau berani mengatakannya pada mereka, putri mu yang akan menanggung akibatnya. Apa kau mengerti?" ancamnya.


Rian menepis tangan itu. "Clarissa adalah putri kita. Apa yang bisa kau lakukan padanya?" tanyanya lirih.


"Anindya juga putriku. Aku bahkan bisa mengusir dia dan ibunya keluar dari rumah ku. Lalu apa kau pikir aku tak bisa melakukan hal yang sama padamu juga putrimu itu?"


"Kau?" ia ingin mendebatnya tetapi tak berdaya.


"Pergilah!" Rian mengusirnya.


Rossa pergi dari ruangan itu. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia kini hanya bisa membenci dirinya sendiri karena terlalu mencintai pria itu.

__ADS_1


****************


05:30 pm,Paris, Perancis.


Anindya tampak berdiri seorang diri di atas balkon kamarnya. Saat ini ia tengah menikmati pemandangan matahari terbit. Terlihat indah jika dinikmati dari negara yang berbeda.


Dulu ia bahkan tak berani untuk memimpikannya karena tahu jika hal itu tak akan pernah terwujud. Tetapi kini jika ia mau, maka segalanya akan bisa ia dapatkan dengan mudah. Sekalipun tanpa ia minta. Akan ada seseorang yang bersedia memberikan apapun padanya. Tak perduli seberapa banyaknya itu.


Andai kata bisa, matahari pun bisa ia sentuh semaunya.


Apa ibu bahagia melihatku seperti ini? aku di keliling banyak orang yang menyayangiku? Aku tidak merasa kesepian lagi. Tetapi.. tetap saja aku merindukan ibu dan juga nenek. Seandainya kalian ada, bukankah itu akan lebih terlihat sempurna.


Aku merindukan kalian?


Tak lama kemudian, ia merasa seseorang memeluknya dari belakang. Ia tentu sudah mengenali dengan jelas siapa orang itu. Aroma tubuhnya sudah sangat familiar di penciumannya.


Aroma musk yang terasa lembut dan menyenangkan hatinya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Dengan pakaian seperti ini?Apa kau tidak kedinginan?" tanyanya sambil mempererat pelukannya.


Saat itu Anindya hanya mengenakan sweater putih berlengan panjang.


"Tidak begitu dingin! Sekarang tubuhku terasa lebih hangat berkatmu." ucap Anindya.


"Apa kau senang berada di sini?" tanya Adrian.


"Tentu saja. Aku sangat senang. Terima kasih sudah membawaku ke sini." jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Nanti aku akan membuat mu lebih senang lagi." ucapnya.


"Kita akan kemana?" tanya wanita itu dengan antusias.


"Termasuk menara Eiffel?"


"Kau sangat ingin pergi ke sana ya?"


"Iya! Ingin sekali."


"Baiklah kita akan ke sana nanti!"


Anindya tampak tersenyum lebar. Mereka berdua tampak menikmati matahari terbit bersama-sama.



****************


Sekarang di Paris sudah siang hari. Anindya dan Adrian sudah berjalan sejak pagi tadi. Pria itu membawa Anindya melihat keindahan Paris di pagi hari.


Kini ia mengajaknya makan di salah satu restoran. Adrian memesan steik dan pasta untuk Anindya. Ia juga memesan beberapa dessert untuk wanita itu. Mengingat jika istrinya itu akhir-akhir ini punya selera makan yang cukup besar.


"Apa kau sering ke sini? Tampaknya kau cukup familiar dengan tempat-tempat di sini." tanya Anindya.


"Iya! Aku beberapa kali melakukan perjalanan bisnis di sini." jelasnya.


"Oh begitu! Pantas saja kau tahu banyak tentang kota ini."


Anindya memakan makanan yang telah di sajikan di atas meja oleh pelayan.

__ADS_1


Adrian tampak meminum anggur merah yang dituangkan oleh pelayan untuknya.


"Apa itu enak?Apa aku boleh mencobanya?" tanya Anindya penasaran.


"Tidak boleh. Anak kecil tidak boleh meminum ini."


"Siapa yang kau sebut anak kecil?" tanyanya kesal.


Adrian tertawa." Iya! Kau bukan anak kecil, tapi penghasil anak kecil. Begitu, kan?" sindirnya.


"Adrian!" serunya malu.


****


Adrian dan Anindya belum selesai menjelajahi tempat-tempat wisata di Paris. Bahkan tak terasa malam pun tiba. Tempat terakhir yang di kunjungi adalah Menara Eiffel.



"Kau sudah puas melihatnya, kan?" tanya Adrian pada Anindya yang tak henti berdecak kagum melihat menara itu. Mereka sudah satu jam lebih berada di sini. Tetapi wanita itu tampaknya masih terlihat bersemangat.


Ia bahkan tak terlihat lelah sedikitpun.


"Ayo kita pulang! Besok kita masih punya banyak waktu untuk berkeliling." Ajaknya.


"Baiklah!" Anindya mengiyakan ajakan suaminya tersebut.


Mereka kembali ke hotel dengan mobil yang di sewa oleh Adrian.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1



__ADS_2