My Dearest Wife

My Dearest Wife
Memaksa


__ADS_3

Hampir satu jam berlalu tapi Romi belum juga menunjukkan tanda kedatangannya. Adrian terlihat santai. Sementara Anindya tampak gelisah sedari tadi. Sebenarnya ia sedang ingin buang air kecil. Tapi di sekitar sini tidak ada rumah penduduk apalagi toilet umum. Bagaimana caranya agar ia bisa buang air kecil.


Ia terlihat menggoyang-goyangkan kakinya sembari menahan kemih.


Adrian tampaknya memperhatikan hal itu. Ia sedari tadi melihat istrinya itu tampak gelisah.


"Kau kenapa?" tanyanya penasaran hingga mengerutkan keningnya.


"Ehm... Aku tidak apa-apa." jawabnya.


"Kenapa kau menggoyang-goyangkan kakimu seperti itu? Kau ingin buang air?" tanyanya sembari menebak.


Anindya dengan terpaksa mengakuinya karena ia sudah benar-benar tidak tahan lagi.


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ikut aku!" ajaknya.


Mereka berdua keluar dari mobil. Anindya ikut kemana Adrian membawanya. Adrian juga membawa sebotol air mineral yang ada di mobil. Wanita itu pasti membutuhkannya.


Adrian menuntunnya hingga ke sebuah pohon besar di pinggir jalan. Pohon itu tertutupi oleh semak-semak tinggi hingga tak dapat di lihat dari luar.


"Aku harus melakukannya di sini?" tanyanya tak percaya.


"Iya! Memangnya kau mau menunggu hingga Romi tiba. Jika ia tiba pun kita masih harus menempuh perjalanan panjang untuk tiba di rumah. Apa kau sanggup menahannya?"


Anindya tampak menggelengkan kepalanya. "Tapi... bagaimana jika ada binatang buas atau orang yang mengintip?" tanyanya lagi.


"Aku akan berjaga di sini. Cepatlah! Selagi tidak ada orang." Adrian mulai kesal.


"Kau akan bejaga di sini? Itu artinya kau akan melihatku buang air?" tanyanya lagi.


"Memangnya apa lagi yang belum ku lihat darimu!" ucap Adrian.


Wajah Anindya seketika merona merah. Kau memang sudah melihat semuanya. Tapi tidak mungkin juga aku tidak merasa malu dilihat olehmu.


"Sudah! Jangan banyak bicara! Cepat lakukan! Atau kau akan ku tinggal sendiri di sini!" ia pura-pura mengancamnya agar wanita itu segera melakukannya.


"Baiklah! Tapi... kau jangan melihat, ya! Lihat saja ke depan sana. Aku tidak nyaman melakukannya jika ada yang melihat."


"Baiklah Nyonya!" ucapnya lalu berjalan agak jauh membelakangi Anindya.


Sebelumnya ia memberikan botol air mineral yang di bawanya pada Anindya.


Tanpa Anindya sadari, ia tersenyum ketika berdiri membelakangi istrinya itu.


*


Anindya tampak berjalan di belakang Adrian. Ia baru saja selesai buang air kecil. Rasanya lega sekali.


Saat keluar dari sana, ia melihat Romi dan seorang montir sedang memperbaiki mobilnya.


Romi memberi hormat pada atasannya itu juga kepada Anindya.


"Kau sudah datang!" ucap Adrian.


Romi memberikan kunci mobilnya pada Adrian. Sementara ia menunggu mobil yang sedang di perbaiki itu.


"Jika sudah selesai. Langsung saja ke kantor. Aku mungkin agak terlambat hari ini. Ada sesuatu yang harus ku urus terlebih dahulu." ucap Adrian memberikan instruksi pada asisten pribadinya itu.


"Baik tuan. Oh ya! Barang-barang anda sudah saya pindahkan ke mobil." ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah!"


Mereka berdua lalu naik ke mobil yang di bawa oleh Romi. Dan meninggalkan Romi beserta montir itu di sana.


****************


Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah apartemen elit yang terletak di tengah kota.


Seorang pria terlihat beberapa kali menekan bel di salah satu pintu apartemen. Pria itu tampak cemas. Ia juga terlihat menelpon seseorang. Namun sepertinya tidak ada jawaban dari si penerima.


Pria itu mulai terlihat cemas. Ia tampak memanggil nama si pemilik apartemen tersebut.


"Natasha! Ini aku Jackson! Tolong buka pintunya. Jangan membuatku cemas!" pintanya.


Pria itu adalah Jackson. Saat bangun tidur tadi entah kenapa ia terus menerus kepikiran tentang Natasha. Ia takut jika wanita itu melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.


Tadinya ia berniat untuk menemui Adrian. Namun ia batalkan karena cemas pada Natasha.


Karena tidak juga mendapat jawaban dari Natasha, Jackson memutuskan untuk meminta bantuan security untuk meminta bantuan.


Tak lama security datang dan mereka terpaksa membuka paksa pintu itu karena tidak ada kartu akses cadangan.


Butuh beberapa saat untuk membuka pintu itu. Hingga akhirnya tak lama kemudian, pintu itu akhirnya terbuka.


Jackson langsung masuk ke kamar tidurnya untuk memeriksa. Namun ia tak menemukannya di sana. Ia lalu memeriksa ke dalam kamar mandi.


Dan betapa terkejutnya ia menemukan Natasha dalam keadaan tak sadarkan diri di dalam bathup dengan lengan yang berlumuran darah akibat sayatan di nadi nya.


"Natasha! Kenapa kau melakukan hal ini." ucapnya sambil memeriksa hidungnya agar ia bisa merasakan hembusan nafasnya.


Ternyata dia masih bernafas. Ia meminta security yang masuk bersamanya untuk memanggilkan ambulance secepatnya.


"Natasha! Apa kau tak bisa merelakannya saja!" gumamnya.


****************


"Akhirnya kalian berdua pulang juga. Aku pikir kalian tidak ingat pulang." sindir Arkan begitu melihat kakak dan kakak iparnya baru saja tiba di rumah.


"Kemana saja kau kemarin malam. Sudah berapa kali kakak mencoba untuk menghubungimu." gerutunya.


"Benarkah! Ponselku tertinggal di rumah kemarin malam. Dan aku juga belum memeriksa ponselku pagi ini. Maaf, kak! Memangnya ada apa?" tanyanya penasaran.


"Sudahlah lupakan saja. Sudah tidak penting lagi." ucap Adrian lalu pergi dari hadapan adiknya itu.


Anindya juga mengikutinya dari belakang. Ia ingin mandi. Sementara Arkan masih merasa kebingungan.


*


"Kau mau apa?" tanya Anindya begitu Adrian memintanya masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.


"Menurutmu apa yang bisa di lakukan di dalam kamar mandi?" tanyanya balik.


"Ehm... mandi." jawabnya.


"Lalu kenapa masih bertanya. Ayo! Tidak perlu banyak bertanya." ajaknya sambil menarik tangannya.


"Hei! Aku tidak mau mandi bersamamu. Lepaskan aku!" Anindya berusaha menolaknya.


Namun Adrian tak menghiraukannya. Ia mengunci pintu. Dan memaksa Anindya untuk mandi bersamanya.

__ADS_1


Adrian dengan tidak tahu malu mulai melucuti pakaian yang ia kenakan dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.


Anindya seketika memalingkan wajahnya karena merasa malu. Bagaimana Adrian bisa se santai itu tanpa pakaian di hadapannya. Ia lalu masuk ke dalam bathup yang sebelumnya sudah terisi dengan air hangat.


Anindya masih berdiri di tempatnya. Ia tak berani bergerak sedikitpun.


"Hei! Kenapa kau diam saja. Kemarilah!" perintahnya.


"Aku di sini saja. Mandilah dengan tenang." sanggahnya.


"Kemari! Tolong cuci rambutku."


"Ha! Cuci rambut. Bukankah biasanya kau selalu mencucinya sendiri."


"Iya. Tapi hari ini aku ingin kau yang melakukannya. Cepatlah! Atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih dari itu!" ancamnya dengan nada menggoda.


Sepertinya Anindya bisa menebak kemana arah pembicaraan suaminya itu.


Akhirnya dengan terpaksa ia melakukan apa yang di pintar Adrian. Ia duduk di kursi kecil persis di depan kepalanya. Lalu ia mengambil shampo yang biasa digunakan oleh Adrian. Dan mulai mengaplikasikannya di rambut hitam suaminya itu.


Ia bahkan memijatnya kepalanya. Adrian tampak sangat menikmatinya. Ia sampai memejamkan matanya karena keenakan.


Sepertinya ia benar-benar merasa jika kakeknya tahu wanita seperti apa yang di butuhkan nya.


Akhirnya mereka berdua hanya mandi saja. Tidak melakukan hal lainnya.



****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ya.


Serta jadikan salah satu list favorite kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕



__ADS_2