
Anindya terbangun dari tidurnya. Ia masih berada di atas pesawat. Dan masih terbaring di atas ranjang.
Adrian memang tidak bisa diprovokasi. Ia langsung melahapnya tanpa ampun. Kini sekujur tubuhnya terasa sakit seperti habis jatuh dari tempat yang tinggi.
Sementara pria itu tampak bersikap biasa saja. Ia kini sedang duduk santai di kursi sambil memegang tab nya.
"Kau sudah bangun? " tanya Adrian tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hmm.. kau benar-benar keterlaluan. " keluhnya sambil duduk di tepi ranjang.
Adrian hanya tersenyum.
"Apa masih belum sampai?" tanyanya bingung.
"Sebentar lagi." Adrian menahan senyum ketika melihat penampilan Anindya yang sangat berantakan.
Rambut yang berantakan, bibirnya yang tampak memerah, dan lagi bekas merah di sekitar leher wanita itu.
"Ada baiknya jika kau merapikan penampilanmu terlebih dahulu.Pergilah ke kamar mandi!" perintahnya.
"Apa penampilan ku seburuk itu sampai kau menahan tawa sedari tadi. Memangnya siapa yang membuat ku seperti ini!" ia tampak menggerutu sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Maaf, sayang! Ini semua salahmu!" pintanya sambil melepas senyumnya.
Anindya tampak memperhatikan wajahnya melalui pantulan kaca yang ada di dalam kamar mandi.
"Astaga! Penampilan ku seperti habis di pukuli! Pria itu benar-benar keterlaluan. Aku menyesal sudah menggodanya." keluhnya.
Setelah merapikan penampilannya, ia keluar dari kamar mandi.Ia melihat Adrian sudah memakai coat berwarna hitam yang panjang dan tebal.
"Kenapa berpakaian seperti itu? " tanyanya penasaran.
"Kebetulan di sini sedang musim dingin. Jadi kita harus memakai pakaian yang tebal." jelasnya sambil memakaikan coat pada tubuh istrinya tersebut.
"Musim dingin? Ah... apakah kita ada di negara lain? "
"Iya! Tepatnya di Paris!"
"P-Paris? Menara Eiffel? " ia tercengang.
"Iya, sayang!" Adrian tak tahan untuk tersenyum.
"Sekarang duduklah! Karena kita akan segera landing." jelasnya kemudian.
****
Pintu pesawat terbuka. Udara dingin langsung menyeruak ke sekujur tubuh Anindya. Ia tampak menggigil seketika. Padahal ia sudah memakai coat yang tebal. Tetapi ia memang belum terbiasa dengan perubahan iklim yang cukup ekstrim seperti ini.
"Dingin sekali!" ucapnya sambil menggosok kedua tangannya.
"Kau akan terbiasa nanti. Ayo!" Adrian menggenggam tangannya sambil menuruni tangga pesawat.
Di bawah sana sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka. Sebelumnya Adrian tampak berpamitan pada pilot dan beberapa orang yang entah apa jabatan mereka di sini.
Adrian menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara. Sebagian juga memakai bahasa Perancis.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan, Anindya tak henti menatap sekitar jalanan yang dilaluinya. Ia juga tak henti bertanya pada Adrian. Dengan sabar Adrian menjelaskan satu persatu pertanyaan yang di ajukan istrinya itu.
Adrian sepertinya sudah memahami negara ini. Adrian memang sering melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara untuk mencari investor. Juga untuk memperdalam ilmu bisnisnya. Hingga tak heran di usia yang masih terbilang muda, ia sudah menjadi pembisnis yang sukses.
Mobil itu berhenti di salah satu hotel mewah di Paris. Adrian mengajak Anindya untuk masuk ke dalam.
Setelah melakukan reservasi, mereka langsung masuk kedalam kamar yang sudah mereka pesan.
__ADS_1
Di dalam kamar terdapat beberapa ruangan. Ada ruang tamu, kamar dan juga kamar mandi yang besar.
"Kau bisa melihat menara Eiffel dari balkon kamar!" jelas Adrian.
"Benarkah?"
Adrian mengangguk. "Pergilah terlebih dahulu! Aku akan menyusul setelah menelpon kakek."
"Oke!" Anindya langsung berlari ke kamar.
Adrian benar, ia bisa melihat menara Eiffel dari jendela kamarnya. Karena sangat penasaran, ia lantas mencari pintu keluar menuju balkon. Setelah menemukannya, ia langsung membukanya tanpa pikir panjang. Seketika udara dingin langsung menerpa tubuhnya.
Namun ia tidak menyerah. Ia berdiri di balkon walaupun udaranya terasa sangat dingin.
Tak lama Adrian menyusul masuk ke dalam kamar. Ia memanggil Anindya yang berdiri di balkon.
"Jangan terlalu lama berdiri di sana! Kau bisa kedinginan. Ayo masuklah dulu!" ajak Adrian.
****************
Anindya baru saja selesai mandi. Saat itu sudah malam hari. Ia tampak memakai jubah mandi berwarna putih. Rambutnya yang basah tampak dikeringkan dengan handuk kecil.
"Sudah selesai? Pakai ini!" Adrian memberikan kemeja putih miliknya pada Anindya.
"Kenapa kau memberikan pakaianmu padaku? Dimana pakaian ku?"
"Ada.Tetapi aku ingin kau memakai kemejaku."
"Kau ini ada-ada saja!" gerutunya.
"Sudah jangan banyak membantah, pakai saja!" sahut Adrian.
Dimata Adrian, istrinya itu terlihat sangat menggoda. Sesuai dengan ekspektasi nya. Ia memang sengaja meminta Anindya untuk memakai kemejanya.
"Kau terlihat sangat cantik. Aku jadi... ehm... bagaimana ya mengatakannya!" mulai mendekati Anindya.
Anindya seketika memahami situasinya. Apalagi ketika melihat Adrian menyeringai padanya.
Ia terduduk di atas ranjang karena desakan Adrian.
"Kau mau apa? Kita baru saja... " Anindya tak sempat melanjutkan perkataannya karena Adrian membungkam mulutnya dengan bibirnya.
Ciuman itu berlangsung lama.....
Ketika Adrian hendak membuka kemeja Anindya, tiba-tiba...
Krucuk .. krucuk... krucuk....
Perut Anindya berbunyi. Adrian seketika melepaskan ciumannya dan tertawa.
"Kau lapar?"
Anindya mengangguk.
"Baiklah! Kita akan makan terlebih dahulu." ucap Adrian.
Adrian memesan makanan. Tak lama makanan itu pun datang. Adrian menyuruh Anindya untuk makan terlebih dahulu sementara ia pergi mandi.
****
__ADS_1
Adrian tampak segar setelah mandi. Ia memakai kemeja dengan warna senada yang dipakai Anindya.
Ia ikut makan bersamanya. Entah kenapa sepertinya Anindya makan sangat banyak akhir-akhir ini. Terkadang melebihi porsi yang biasanya ia makan.
Tetapi Adrian tak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia malah merasa senang ketika melihat istrinya itu makan dengan lahap.
"Besok aku akan mengajakmu pergi ke berbagai tempat."
"Termasuk melihat menara Eiffel?" tanya Anindya antusias.
"Tentu saja!" ucap Adrian sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
Anindya tersenyum senang. Ia merasa beruntung menikahi pria seperti Adrian. Entah kebaikan apa yang sudah dibuatnya di masa lalu sehingga bisa mendapatkan hidup sempurna seperti ini.
Ia hanya berharap jika ini bukanlah mimpi. Seandainya ini mimpi, ia berharap tak pernah bangun.
Setelah selesai makan, Adrian hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun Anindya menghentikannya.
"Duduk dulu! Aku ingin mengambil foto." perintah Anindya.
"Foto?"
"Iya.Selama menikah kita tidak memiliki foto berdua, kan? Ayo!"
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1