
Anindya terbangun dari tidurnya. Ia lagi-lagi kebingungan saat mendapati dirinya berada di atas ranjang. Seingatnya dia berada di dalam helikopter. Kenapa ia bisa tiba-tiba ada di ranjang. Dan ia ingat jika ini adalah kamar Adrian.
Apa pria itu yang menggendongnya kesini?
Ia lalu beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar begitu merapikan rambutnya yang berantakan sehabis bangun tidur.
Ia ingin menemui Zein dan Sofia. Dia sudah merindukan mereka berdua.
"Kakek!" sapa Anindya pada pria baya itu saat ia menemuinya di dalam kamarnya.
Ia sedang berbaring diatas ranjang sambil membaca sebuah buku. Anindya langsung memeluknya begitu bertemu dengannya.
"Kau sudah bangun." ucapnya.
"Maaf kakek! Aku rasa aku tadi ketiduran." jelas Anindya.
"Tidak apa-apa. Kau pasti lelah bukan. Bagaimana liburanmu? Apa kau senang?" tanyanya pada wanita itu.
"Ehm... ya. Liburannya sangat menyenangkan!" jawabnya ragu.
"Baguslah! Kakek akan menyuruh Adrian untuk lebih sering mengajakmu pergi nanti."
Anindya hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Ia masih kesal pada Adrian. Hanya mendengar namanya saja bisa membuatnya marah.
****************
Sore ini hujan terlihat turun kembali. Anindya sedang menatap suasana di luar rumah dari jendela kamarnya.
Sementara Adrian belum kembali dari kantornya. Pria itu benar-benar gila kerja. Ia bahkan tidak beristirahat sedikitpun begitu tiba disini. Sepertinya dunianya hanya dipenuhi oleh pekerjaan saja.
Memang pantas jika ia tak bisa mendapatkan cinta sedikitpun dari seorang wanita. Karena sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja.
Saat memandang hujan, Anindya teringat kembali dengan apa yang ia alami kemarin. Adrian merebut ciuman pertamanya dengan paksa. Sungguh menyebalkan karena ia harus memberikannya pada pria itu.
Apalagi ketika mengingat entah berapa kali bibir itu tersentuh oleh bibir wanita lain. Benar-benar menjijikkan. Ingin sekali rasanya ia menenggelamkan tubuhnya didasar tanah agar menghilang dari bumi ini.
Ia mengusap kasar bibirnya. Ia bahkan tak bisa menghilangkan bekasnya walaupun berkali-kali ia mencuci mulutnya.
Lamunannya seketika dibuyarkan oleh kehadiran seseorang di ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang menjadi objek lamunannya.
Anindya pura-pura tidak melihatnya. Ia sengaja mengabaikan kehadiran pria itu di dekatnya. Adrian juga sepertinya bersikap biasa. Ia seakan tak merasa bersalah sedikitpun. Bukannya minta maaf malah sepertinya ia juga sengaja mengabaikannya.
__ADS_1
Anindya hanya bisa menggerutu dalam hatinya. Mengutuknya dengan kata-kata makian.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya pria itu tiba-tiba berdiri disampingnya.
Ia berdiri sambil melepaskan jas dan dasi yang melekat ditubuhnya. Lalu melemparkannya ke atas sofa yang ada di samping Anindya.
Anindya tak menjawab pertanyaannya. Ia hanya diam saja sambil terus menatap keluar.
Adrian tampak menarik satu sudut bibinya sambil ikut memandang keluar jendela. Ia tahu jika wanita itu masih marah padanya.
"Apa kau marah padaku karena mencium mu secara paksa?" tanyanya lagi.
Anindya menoleh kearahnya. "Tentu saja aku marah. Apa kau pikir aku harus senang dengan perbuatan mu itu?" tanyanya marah.
"Bukankah itu hak ku sebagai suamimu? Kenapa kau harus marah?"
"Apa? Hak mu? Bukankah pernikahan kita hanya perjanjian semata? Dan bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku jika kau tidak akan pernah menuntut hak mu selama pernikahan ini terjadi? Kenapa sekarang kau malah berbicara tentang hak?" Anindya tampak kesal dengan pria yang ada dihadapannya itu.
"Baiklah! Aku minta maaf karena sudah mencium mu dengan paksa kemarin. Tapi... untuk yang satu ini aku tidak akan meminta maaf padamu." ucap Adrian.
"Yang satu apa maksud mu?" tanya Anindya bingung.
Pria itu tak memberikan jawaban padanya. Ia malah menatap Anindya dengan tajam. Seperti harimau lapar yang sedang menatap mangsanya.
Kedua tangan Adrian mengunci tubuhnya dengan berpegangan pada sandaran sofa itu.
"Kau mau apa? Jangan .. jangan macam-macam padaku. Atau a.. aku akan teriak." ancamnya gugup.
"Teriak saja. Apa kau pikir akan ada yang menolong mu? Mungkin mereka akan berpikir jika kita sedang bersenang-senang saat ini." ucap Adrian sembari menyunggingkan senyum sinis nya.
Adrian semakin mendekatkan wajahnya hingga kini hanya tersisa jarak beberapa inci saja dari wajah Anindya.
Anindya tampak semakin pucat. Ia tak bisa lari kemanapun. Ia tampak menelan saliva nya dengan susah payah. Ia bahkan memejamkan kedua matanya karena rasa takutnya.
Adrian tersenyum melihat ekspresi wanita dihadapannya itu. Namun tentunya Anindya tidak menyadarinya. Ia lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi. Ia tampaknya sudah merasa puas menjahili istrinya itu.
Sementara Anindya yang menunggu sedari tadi, tampak bingung karena merasa jika pria itu tidak melakukan apapun. Ia lalu membuka matanya perlahan.
Pria itu sudah tak ada lagi dihadapannya. Ia seketika mengerutkan keningnya.
Kemana dia?
Anindya melihat ke sekelilingnya. Tidak ada seorangpun di sana. Lalu ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Pria itu sedang mandi.
__ADS_1
Apa dia sedang menjahili ku? Dasar tidak waras.
Anindya lalu segera keluar dari kamar itu. Ia benar-benar merasa malu. Anindya merasa jika suaminya itu punya masalah kejiwaan yang berat.
*
Sementara Adrian tertawa di dalam kamar mandi saat mengingat ekspresi wajah Anindya yang ketakutan. Ia merasa ada sesuatu yang aneh sejak ciuman mereka kemarin. Seperti ada yang salah dengannya. Namun, ia tak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
Seharian ini di kantor, ia terus terbayang saat ciumannya dengan Anindya. Ia jadi sulit konsentrasi ketika melakukan pekerjaannya. Rasanya ia ingin secepatnya kembali ke rumah.
Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Ia bahkan merasa senang jika bisa membuat wanita itu kesal ataupun marah kepadanya.
Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu menyelesaikan mandinya.
****************
Bisa-bisanya ia menjahili ku seperti itu. Aku rasa memang ada yang salah dengan otaknya. batin Anindya sambil melirik kearah pria yang ada dihadapannya itu.
Saat itu mereka sedang makan malam. Adrian menatapnya sambil memakan santapannya.
Anindya menatapnya sinis. Tanpa mereka berdua sadari Zein memperhatikan mereka berdua yang saling bertatapan itu. Ada rasa bahagia didalam hatinya saat melihat hal itu. Semoga apa yang ia harapkan bisa terjadi.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1