My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kepulangan kakek.


__ADS_3


"Kau sudah pulang?" tanya Anindya ketika melihat Adrian masuk ke dalam kamar.


Pria itu tampak lesu. Ia terlihat sedih. Tidak seperti biasanya. Anindya saat itu sedang menyusukan Arya. Bayi itu terbangun dan menangis karena lapar.


"Iya! Apa aku membangunkan mu?" tanyanya lirih lalu duduk di samping Anindya.


"Tidak. Arya merasa lapar. Jadi aku terbangun ketika mendengar tangisannya." jelasnya.


"Maaf! Aku tidak bisa menemanimu!" ucapnya.


Ia terlihat kacau. Seperti kehilangan setengah nyawanya.


"Bagaimana kondisi kakek?" tanya Anindya ragu.


"Untuk saat ini, kondisinya cukup stabil. Tetapi ia masih memerlukan pemantauan dari dokter." Adrian lalu diam.


Pria itu merasa cemas. Mungkin sejujurnya ia merasa takut. Takut akan kehilangan. Zein sudah terlalu tua untuk bertahan. Ia mungkin bisa pergi kapan saja.


"Sayang! Aku tahu ini saat yang sulit untukmu. Tetapi kau juga jangan seperti ini. Bertahanlah demi kakek! Kita hadapi semuanya bersama, ya?" bujuk Anindya mencoba untuk menenangkannya.


Pria itu menjatuhkan kepalanya di pundak Anindya. "Aku mencoba untuk bertahan, tetapi entah kenapa rasanya sulit sekali. Aku tidak ingin kehilangan kakek! Tidak ingin!"


Anindya terdiam. Ia sangat mengerti dengan apa yang dialami oleh suaminya itu. Karena ia juga pernah mengalaminya. Kehilangan orang yang dicintainya satu demi satu.


"Aku mengerti, sayang!"


****************


Anindya terbangun dari tidurnya. Namun, ia tak menemukan Adrian di sampingnya. Tidak seperti biasanya. Karena biasanya ia selalu bangun lebih dahulu daripada suaminya itu.


"Apa ia pergi ke rumah sakit? Sepagi ini?" tanyanya bingung.


Ia lalu beranjak dari ranjangnya untuk melihat Arya yang ia letakkan dalam ranjang bayi. Tetapi ia tidak menemukannya di sana.


"Kenapa tidak ada? Ehm... mungkin Adrian yang membawanya." batinnya.


Ia lalu keluar dari kamar setelah mandi dan membereskan ranjangnya.


Suasana di luar terlihat tenang. Tidak ada seorang pun yang terlihat di sana. Ini sangat aneh. Karena biasanya di waktu seperti ini, para pelayan pasti sudah di sibukkan dengan segala rutinitas pagi mereka. Tetapi tidak satupun dari mereka terlihat di manapun.


"Mereka semua pergi kemana? Bahkan aku tidak melihat ibu Sofia di manapun ! " gumamnya bingung.


Ia menelusuri setiap ruangan.Bahkan di dapur pun tidak terlihat seorang pun. Apa tidak ada yang membuatkan sarapan pagi ini?


Ia lalu pergi ke halaman belakang. Biasanya Adrian akan berada di sana untuk menjemur Arya. Tetapi ia tidak melihat Adrian, melainkan Zein. Pria tua itu sedang duduk di kursi taman dengan Arya yang berada dalam dekapannya. Ia tampak mengajak bayi mungil itu untuk mendengarkan ceritanya.


Anindya berjalan mendekati mereka dengan kebingungan. Bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di sana? Bukankah keadaannya masih belum stabil? Ia bahkan belum sadarkan diri? Dan kemana perginya semua orang?


"Kakek!" serunya heran. "Kenapa kakek ada di sini? Kapan kakek pulang dari rumah sakit? Dan kemana perginya semua orang? Kenapa aku tidak menemukan seorang pun di rumah ini? Selain kakek dan Arya? Apa kakek melihat Adrian dan ibu Sofia?" ia terus bertanya dengan kebingungannya.

__ADS_1


Zein menyelanya dengan tawa kecilnya.


"Kenapa kau melontarkan pertanyaan yang banyak sekali pada kakek! Ayo! Duduklah dahulu! " perintahnya.


Anindya menurutinya. Ia lalu duduk di sampingnya. Ia menatap pria baya itu dengan heran.


"Kakek! Kapan kakek keluar dari rumah sakit? Kenapa Anin tidak tahu ?Apa kakek sudah baik-baik saja ? Dan kenapa Arya ada bersama kakek? Dimana Adrian dan yang lainnya? " tanyanya penasaran sekaligus cemas.


"Tenanglah dulu, Anindya! Jangan cemas seperti itu." ucapnya.


"Baiklah, kakek! Maafkan Anin! "


"Anin! Kakek ingin bertanya padamu." lanjut Zein.


"Kakek saja belum menjawab pertanyaan Anin! Kenapa kakek malah balik bertanya pada Anin? " ia terlihat kecewa.


"Nanti kakek akan menjawab pertanyaan mu. Sekarang dengarkan dulu pertanyaan kakek!"


"Baiklah, kakek!"


"Apa kau bahagia dengan kehidupan mu sekarang?" tanya Zein.


"Ehm... iya kakek! Aku sangat bahagia. Apalagi setelah Arya lahir, kebahagiaan ku semakin terasa lengkap. Kenapa kakek menanyakan hal itu?"


"Tidak apa-apa! Kakek hanya ingin memastikan bahwa kakek sudah menepati janji pada nenekmu. Jika kami bertemu nanti, maka kakek tidak perlu takut dimarahi oleh nenekmu karena tidak bisa menjaga cucunya dengan baik." jelasnya.


Anindya semakin bingung mendengarkan perkataannya. Seperti ada yang aneh.


"Mungkin di alam mimpi." Ia tertawa.


"Kakek menakuti Anin saja!" ia ikut tertawa.


Tak lama terdengar tangisan Arya. Ia menangis kencang sekali. Karena berpikir bahwa dia lapar, Zein segera memberikannya pada Anin.


"Mungkin dia sangat lapar, kakek!" ucap Anin begitu menerima Arya dan mendekapnya.


"Anin! Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan Adrian. Buatlah dia tetap bahagia seperti ini. Kakek menitipkan keluarga ini padamu. "


"Apa maksud kakek? Kenapa bicara seperti itu?"


Namun Zein malah beranjak dari kursi dan berjalan perlahan meninggalkan Anindya dan bayinya yang terheran-heran.


"Kakek! Kakek mau kemana? Kenapa pergi ke arah sana?" ia tampak memanggilnya, namun Zein tidak juga menoleh.


"Kakek!"


" Kakek!"


" Kakek!"


"Anindya! Anindya!" Adrian tampak menepuk perlahan pipi Anindya yang sedang mengigau memanggil nama kakeknya dalam tidurnya.

__ADS_1


Ia berusaha untuk membangunkan Anindya. "Sayang! Bangunlah!"


Anindya lalu terbangun. Begitu melihat Adrian, ia langsung bangkit memeluknya. Nafasnya tampak terengah-engah.


"Kau mimpi buruk? Tenanglah!" ia tampak mengusap punggungnya.


Adrian lalu melepaskan pelukannya untuk menuangkan air minum untuknya. Kemudian memberikannya pada Anindya.


Anindya meminumnya dengan perlahan. Setelah ia lebih tenang. Adrian segera bertanya padanya.


"Kau mimpi apa, sayang?" tanyanya.


"Aku..... aku...! "


Ring... ring... ring....


Dering ponsel Adrian berbunyi. Adrian segera menjawab panggilan tersebut ketika melihat jika Arkan yang menelponnya.


"Ada apa? Kakek baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas.


"Kak! Kakek.... anfal! Segera datang ke rumah sakit!" jelas Arkan.


...****************...


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2