My Dearest Wife

My Dearest Wife
Tidak nyaman.


__ADS_3

Arkan memutuskan untuk ikut nonton bersama Adrian dan Anindya. Kebetulan hari ini ia mengambil cuti untuk beristirahat.


Anne juga terpaksa ikut karena Anindya dan Arkan memaksanya.


Mereka berempat masuk ke dalam ruang bioskop di lantai lima. Tampaknya di sana sudah mulai ramai pengunjung.


"Sayang! Aku mau makan popcorn dan kentang goreng. Bisakah kau membelikannya untukku?" tanya Anindya penuh harap pada suaminya itu.


"Anindya! Kau baru saja makan tadi. Bukan hanya cake, tetapi kau juga memesan pizza di sana. Apa kau belum merasa kenyang? Jangan makan terlalu banyak. Kau bisa sakit perut nanti." bantah Adrian.


"Itu benar kakak ipar. Makan berlebihan juga tidak baik untuk mu dan bayimu. Apalagi semua yang kau makan tergolong tidak sehat. Jadi sebaiknya kau memberi jeda untuk makan kembali." timpal Arkan.


"Hmm.. baiklah!" Ia tampak kecewa.


Adrian lalu menyuruh Anindya itu untuk duduk sembari menunggu. Anne juga ikut duduk bersamanya.


Sementara Arkan dan Adrian tampak mengobrol santai sambil berdiri.


"Aku senang karena hubungan mu semakin membaik. Tuan Adrian sangat menyayangi mu dan menjaga mu dengan baik. Kau pasti sangat bahagia, bukan?" tanya Anne.


"Iya. Aku sangat bahagia. Tetapi sejujurnya hingga saat ini aku masih mencemaskan sesuatu. Sehingga aku belum sepenuhnya bisa merasa tenang."


"Maksud mu ayahmu?" tanya Anne seakan bisa menebak isi kepala Anindya.


"Iya!" ia tampak gusar.


"Tenanglah! Suamimu pasti akan menjaga mu dengan baik. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Kau tidak boleh cemas. Itu tidak baik untuk bayimu. Dia juga bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini."


"Iya! Aku tahu itu. Karena itu aku berusaha untuk tetap bahagia saat ini."


"Tetapi... ini hanya perasaanku saja atau memang kedua pria ini sedang jadi pusat perhatian para wanita saat ini. Apa kau sering mengalami hal ini? Karena aku juga mengalaminya ketika sedang jalan dengan tuan Arkan!" tanya Anne sembari memperhatikan para pengunjung wanita di dalam bioskop tersebut.


"Iya! Kau sepertinya harus terbiasa dengan hal itu mulai saat ini. Itu pasti akan terus terjadi jika kalian berdua berada di keramaian seperti ini." jelas Anindya.


"Untuk apa aku membiasakan hal itu. Aku sama sekali tidak menjalin hubungan dengannya." bantah Anne.


"Ehm... sepertinya aku tidak percaya padamu." ucap Anindya.


"Anin!" serunya.


"Ayo, sayang! Ini sudah waktunya!" ajak Adrian sambil menggandeng tangannya.


Mereka tampak masuk ke dalam ruang bioskop. Arkan juga terlihat menggenggam tangan Anne tanpa ragu. Padahal Anne sendiri merasa canggung setiap kali pria tersebut melakukan hal itu padanya.


****************


Arkan dan Anne duduk agak jauh dari kursi Adrian. Anne tampak fokus menikmati film yang sedang di putar di layar.


Tapi tidak sama halnya dengan Arkan. Pria itu tak henti menatap Anne.

__ADS_1


Rasanya ia ingin sekali mencium wanita itu. Wanita itu benar-benar menguji kesabarannya. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya. Ia tampak memperhatikan film yang sedang di putar.


Kenapa yang di putar malah film seperti ini? batinnya berteriak.


Mereka menonton film bergenre romantis. Dan sialnya banyak adegan dewasa di sana.


Astaga! Kenapa aku harus nonton film seperti ini? Anne tampak menelan ludahnya karena merasa tidak nyaman menonton film tersebut.


Apalagi ia menonton bersama seorang pria lajang yang entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Ia menoleh ke sisi kanannya, tetapi malah bertatapan langsung dengan Arkan yang sedang menatapnya. Ia lalu tersenyum masam. Ia menoleh lagi ke arah layar, tetapi adegan tersebut belum juga berakhir. Malah bertambah panas.


Kapan berakhirnya? Anne tampak semakin tidak nyaman. Ia terus menerus menutup wajahnya.


Ada apa dengannya? batin Arkan.


Anne lalu menoleh ke sisi kirinya. Ia malah melihat sepasang pria dan wanita sedang bermesraan di sampingnya.


Ia memutuskan untuk pergi keluar mencari udara segar. Tetapi ketika ia hendak melangkahkan kakinya, para penonton malah menyuruhnya untuk duduk kembali karena tubuhnya menghalangi pandangan mereka.


Ia akhirnya duduk kembali di kursinya. Dan mencoba untuk bersikap tenang.


Oke! Aku akan menganggap ini sebagai bahan pelajaran ku. Fokus! batin Anne.


Arkan tampak tersenyum melihat tingkahnya tersebut.


Sementara itu di sisi lain. Anindya tampak tertidur di bahu Adrian. Ia bukannya menikmati film tersebut, melainkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk tidur. Padahal Ia tadinya sangat antusias untuk melihat film tersebut.


Film tersebut berakhir. Adrian tampak membangunkan istrinya tersebut dari tidurnya.


"Sayang! Ayo bangun! Film nya sudah habis. Kau mau tidur sampai kapan?" Ia mengguncang pundak Anindya sedikit lebih kuat karena Anindya tidak juga bangun setelah di panggil beberapa kali.


"Hmm!! " wanita itu tampak bergumam.


Ia tampak mencoba untuk membuka matanya yang masih dirasa sangat berat untuk terbuka.


"Apa film nya sudah berakhir?" tanyanya sambil menguap.


"Iya. Kau bahkan tidak tahu film apa yang sedang di putar, kan?" jelasnya.


Anindya terkekeh sambil menguap. "Aku sangat mengantuk. Entahlah! Sepertinya semenjak hamil, aku jadi lebih cepat mengantuk."


"Jika kau sudah merasa lelah, sebaiknya kita pulang. Ini juga sudah sore." usulnya.


"Ehm.. baiklah!"


Arkan dan Anne tampak menghampiri mereka.


"Kalian mau kemana lagi setelah ini?" tanya Arkan.

__ADS_1


"Pulang. Anindya sepertinya sudah merasa lelah." jelas Adrian.


"Baiklah! Kami juga akan pulang. Anne harus kuliah sebentar lagi." jelas Arkan.


Mereka lalu berpisah setelah keluar dari ruang bioskop.


"Aku ke toilet sebentar, ya!" pamit Anindya.


"Iya. Aku tunggu di luar." sahut Adrian.


Sambil menunggu, Adrian memeriksa ponselnya kembali.


Sementara itu di dalam toilet....


Anindya langsung masuk ke dalam toilet yang kosong. Kebetulan tidak banyak yang memakai toilet pada saat itu.


Setelah selesai, ia keluar dari toilet. Tetapi lantainya terasa licin karena percikan air yang membasahi lantai. Anindya hampir saja terjatuh ke lantai jika saja seorang wanita tidak menahan tubuhnya dengan cepat saat itu.


"Hati-hati nona! Kau bisa terjatuh." pesan wanita itu padanya.


"Terima kasih, nona!" ucapnya.


Mereka saling bertatapan.


"Natasha! " seru Anindya setelah mengenali wanita itu.


****************


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.

__ADS_1


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_2