My Dearest Wife

My Dearest Wife
Merasa tidak tenang


__ADS_3

Anindya baru saja selesai memakai pakaiannya setelah di paksa mandi bersama oleh Adrian. Kini ia membantu suaminya itu untuk memakai dasi. Anindya kini terlihat sudah mahir melakukan hal itu. Ia tidak terlihat canggung sama sekali. Sepertinya ia sudah mulai membiasakan dirinya untuk selalu berdekatan dengan Adrian. Hal yang mungkin sangat mustahil jika mengingat hubungan keduanya beberapa bulan terakhir ini.


Anindya tidak menyadari jika sedari tadi suaminya itu memperhatikan dirinya yang tengah fokus mengikat dasi. Adrian mulai berpikir untuk sedikit berbuat jahil pada istri kecilnya itu. Rasanya ia ingin sekali menikmati keindahan yang tersaji di depan matanya.


Ia merengkuh pinggang ramping Anindya sehingga membuat wanita itu menempel pada tubuhnya. Anindya kaget ketika menerima serangan mendadak seperti itu.


"Apa yang kau lakukan? Aku tak bisa mengikat dasi mu jika sedekat ini!" serunya sembari menatap wajah tampan di hadapannya itu.


Adrian menarik satu sudut bibirnya. "Aku bisa mengikat dasiku sendiri. Namun... aku tak bisa melakukan yang ini seorang diri." Dalam sekejab ia sudah menautkan bibirnya ke bibir tipis Anindya hingga membuat wanita itu membelalakkan matanya.


Namun hal itu tak membuat Anindya berusaha untuk melepaskannya. Ia malah berusaha untuk menikmatinya. Mengikuti kemana arahan dari pria itu.


Sepertinya ia juga mulai terbiasa dengan yang satu ini. Ciuman itu terjadi cukup lama hingga semakin lama terasa semakin panas. Nuansa intim semakin tercipta di antara keduanya hingga rasanya mereka tak ingin lepas satu sama lainnya.


Beberapa detik kemudian, Anindya tersadar begitu mendengar suara dering ponsel Adrian yang berbunyi lumayan keras.


Ia mencoba memberitahu Adrian tentang hal itu. Namun sepertinya Adrian terlalu menikmati apa yang sedang dilakukannya hingga meminta Anindya untuk tak memperdulikannya dan tetap fokus pada apa yang sedang mereka lakukan.


Ponsel itu kembali berdering, Anindya lagi-lagi berusaha untuk memberitahukannya. Dan kali ini sepertinya Adrian menurutinya. Ia menghentikan ciuman itu dan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Namun ia tak melepaskan pelukannya dari wanita itu.


Ia melihat layar ponselnya dengan kesal. Tak ada nama yang tertera di sana. Hanya nomor kontak baru yang tak diketahui siapa pemiliknya. Ia merasa enggan untuk menjawabnya karena tak mengenal si penelpon. Ia segera menolak panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


"Kenapa kau tidak menjawabnya? Mungkin saja ada hal penting. " ucap Anindya.


"Aku tidak mengenal nomornya. Sudah lupakan saja. Aku rasa itu hanya penelpon iseng." jawabnya.


Adrian hendak melanjutkan apa yang tadi sempat terhenti. Namun suara dering ponsel lagi-lagi kembali mengganggunya.


"Astaga!" serunya kesal sekaligus geram.


Anindya tersenyum. "Sebaiknya kau menjawab panggilan itu. Aku rasa itu adalah hal yang penting."


Akhirnya Adrian memutuskan untuk menjawabnya walau dengan terpaksa. Ia sudah kehilangan mood nya karena hal itu.


"Hallo! Siapa ini?" tanyanya.


Sepertinya itu suara seorang pria. Namun Anindya tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


Adrian tampak tidak berbicara apa-apa setelah itu. Ia hanya mendengar apa yang di katakan si penelpon saja.


Tak lama ekspresi wajahnya seketika berubah. Ia melepaskan pelukannya dan menjauh dari Anindya. Anindya merasa penasaran akan perubahan ekspresi wajah Adrian yang tiba-tiba menjadi kaget bercampur cemas. Sepertinya ia sedang mendapatkan kabar buruk.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Anindya begitu melihat Adrian mengakhiri sambungan telepon itu.

__ADS_1


Namun, Adrian tak menjawabnya. Ia malah langsung pergi begitu saja keluar dari kamar meninggalkan Anindya tanpa sepatah katapun.


"Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa dia... tiba-tiba seperti itu? " Anindya terlihat bingung.


****************


Zein terlihat sedang duduk santai di halaman belakang rumah sambil membaca surat kabar hari ini seperti biasanya. Ia hanya sendirian saja di sana.


Kebetulan beberapa hari lagi Zein akan merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh puluh lima tahun. Biasanya acara itu akan di adakan di ballroom sebuah hotel mewah. Begitupun dengan tahun ini. Adrian tak terlalu suka jika rumahnya di hadiri oleh banyak orang. Sehingga ia selalu menyewa gedung atau hotel jika ingin membuat sebuah acara.


Tak lama kemudian Anindya terlihat menghampiri Zein dengan sebuah nampan di tangannya. Nampan itu berisi sepiring potongan buah segar beserta segelas air mineral untuk diberikan kepada Zein.


Ia lalu duduk di sampingnya setelah meletakkan nampan itu di atas meja bundar di hadapannya.


"Kakek sedang membaca berita apa?" tanyanya sambil memberi sepotong buah pada Zein yang ditancapkan di atas garpu.


Zein menerimanya dan melahapnya. "Hanya berita-berita biasa saja." jawabnya. "Apa Adrian sudah berangkat kerja?" tanyanya.


"Sudah kakek. Dia baru saja pergi." jelas Anindya.


Zein melipat surat kabar itu dan meletakkannya di atas meja.


"Kakek senang melihat perkembangan hubungan kalian berdua yang mulai membaik."


"Kakek rasa tak berapa lama lagi akan ada suara bayi di rumah ini." ucapnya yang membuat Anindya tersipu malu.


"Oh ya! Apa bibi Rossa dan Clarissa juga akan datang, kakek?" tanyanya.


"Tentu saja. Mereka selalu datang setiap tahunnya. Pamanmu juga akan ikut datang bersama mereka kali ini."


"Oh ya! Baguslah jika seperti itu. Akhirnya Anin bisa bertemu dengan paman." ucapnya.


"Iya! Tapi ingatlah untuk menguatkan hati jika mungkin dia bersikap kurang ramah pada mu nanti." ucap Zein memberinya peringatan.


"Maksud kakek?" tanyanya bingung.


"Kau akan tahu nanti. Dia pria yang sedikit berbeda. Mungkin karena hal itu yang membuat Adrian tidak bersimpati padanya. Kau tentu sudah tahu jika hubungan mereka berdua tidak baik." jelasnya.


"Ehm... iya kakek. Anin tahu jika Adrian kurang menyukai paman. Tapi jika Anin boleh tahu kenapa hal itu bisa terjadi?" tanyanya penasaran.


"Kakek juga tidak tahu. Kau tahu kan jika suamimu itu selalu saja mencurigai orang yang baru di kenalnya. Sama halnya dengan dirimu dulu." jelas Zein sambil tersenyum mengingat bagaimana Adrian mencurigai Anindya dulu ketika keduanya pertama kali bertemu.


"Iya kakek benar. Ia selalu curiga pada siapapun yang baru di kenalnya. Termasuk.. Anin."

__ADS_1


"Iya. Apalagi pamanmu sangat jarang mengunjungi kakek apalagi datang ke acara keluarga. Dia hanya mengirim bibi dan Clarissa saja kemari. Ia sibuk mengurusi bisnisnya. Mungkin hal itu yang membuat Adrian tidak menyukainya. Hah! Kakek juga bingung menghadapi ketegangan yang sering kali terjadi di antara mereka berdua jika bertemu." jelas Zein.


Anindya hanya tersenyum menanggapi penjelasan pria baya itu.


Namun entah mengapa tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak tenang. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Ia seketika teringat kembali akan perubahan sikap Adrian pagi ini ketika menerima telepon asing itu. Apa yang sebenarnya terjadi.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Hai para pembaca kesayangan ku. Akhirnya bisa nyicil nulis lagi setelah sekian lama hiatus. dan update bab terbaru. Tapi maaf karena gak bisa rutin up setiap hari. Tapi aku bakal usahain untuk up terus.


Tungguin terus ya bab - bab selanjutnya. 🙏🙏😍


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2