My Dearest Wife

My Dearest Wife
Masih meragukan


__ADS_3


Anindya tampak menikmati waktunya ketika berada di panti asuhan. Ia membantu para pengurus memberi susu kepada para bayi dan memasak makanan untuk para anak-anak panti lainnya yang lebih tua. Anindya bisa beradaptasi dengan cepat kepada anak-anak tersebut. Ia memang pandai merebut hati siapapun. Anak-anak itu tampak bahagia saat bersama dengannya. Ia juga mengajari mereka membaca juga menulis.


Itu merupakan satu pengalaman baru baginya. Berbagi tidaklah harus selalu dengan materi, apapun bisa di bagi asalkan kita iklhas melakukannya.


Ketika sedang bermain di halaman bersama anak-anak, Anindya tiba-tiba saja teringat sesuatu. Ia lalu meminta Adrian agar mengambil sesuatu yang sudah dipersiapkannya untuk anak-anak di mobil.


Tak lama Adrian muncul dengan membawa sebuah kotak yang lumayan besar di tangannya.


"Apa itu, kak?" tanya seorang anak kepadanya karena penasaran.


Anindya tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ia mengambil sebuah layang-layang kertas berwarna biru dan menunjukkannya kepada anak-anak.


"Ada yang mau bermain layang-layang bersama kakak?" Ajaknya.


Mereka semua langsung antusias menyambut ajakan Anindya. Anindya memberikan masing-masing satu layangan kepada setiap anak. Adrian juga ikut bermain. Ia membantu anak-anak menerbangkan layangan itu ke atas langit.


Suasana panti tampak berbeda setelah kedatangan Anindya. Wanita itu bisa dengan mudah membawa keceriaan di manapun ia berada.


***


Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Anindya dan Adrian berpamitan pada mereka. Anak-anak itu tampak memeluk Anindya. Mereka berharap jika Anindya bisa berkunjung kembali untuk melihat mereka.


"Jika kakak bisa, kakak pasti akan mengunjungi kalian. Kalian baik-baik ya di sini. Juga belajar yang rajin." pesannya.


Anak-anak itu tampak mengiyakan. Anindya sebenarnya berat untuk meninggalkan mereka. Tapi ia juga tak bisa terus berada di sini.


Mereka berdua segera pergi setelah berpamitan kepada semuanya.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Adrian ketika melihat Anindya diam saja selama perjalanan.


"Aku hanya merasa sedih. Ternyata diriku jauh lebih beruntung daripada mereka. Aku masih bisa merasakan kasih sayang ibuku walaupun tidak lama. Tetapi mereka, kebanyakan tumbuh besar tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Rasanya aku tidak akan sanggup jika dilahirkan seperti mereka. Tetapi melihat anak-anak itu tampak bahagia, aku juga merasa bahagia." ucapnya.


"Terkadang hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Adakalanya semua terjadi diluar kendali kita. Tetapi begitulah hidup. Walaupun terasa berat, tetap harus dijalani. Waktu dan pengalaman yang akan membuat kita kuat."


"Iya. Kau mungkin benar. Tapi.. Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanyanya sedikit ragu.


"Apa?"


"Ehm... apakah kau merasa sedih ketika ayah dan ibu meninggalkan mu?" tanyanya sambil memperhatikan ekspresi wajah Adrian yang terlihat muram seketika.


Pria itu tampak terdiam seketika.


"Maaf! Apa kau baik-baik saja?" tanya Anindya cemas ketika tak ada jawaban darinya.

__ADS_1


Lalu Adrian tersenyum. "Aku baik-baik saja. Pertanyaan mu hanya terdengar konyol. Tentu saja aku merasa sedih. Apa kau pikir aku manusia yang tak punya perasaan." ia tampak menggerutu.


Anindya hanya tersenyum.


"Ketika ayah dan ibu meninggal. Yang bisa kulakukan hanya menangis. Menangis berhari-hari karena merasa takut. Takut akan tanggung jawab yang harus aku ambil. Menjadi orang tua untuk Arkan, menjadi penjaga kakek, menanggung ratusan karyawan yang ditinggalkan padaku. Semua itu membuatku takut. Takut jika aku tak bisa menanggung semua ini. Tetapi mau tidak mau, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, aku harus kuat. Demi kakek, demi Arkan dan demi semua orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan." ia terdiam sejenak mengambil jeda untuk melanjutkan ceritanya.


"Ketika itu aku masih remaja. Biasanya remaja seusia ku sedang berpetualang mencari jati dirinya. Bersenang-senang dengan teman seusianya, hingga melakukan kenakalan remaja pada umumnya. Sementara aku harus berpikir bagaimana bisa mengembangkan perusahaan dan tenggelam dalam file-file perusahaan yang sama sekali belum ku pahami. Rasanya sungguh menyiksa hingga terkadang di saat sedang menyendiri, aku sering menangis. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan aku bisa menerima semuanya." jelasnya.


Anindya lalu meraih tangan kirinya yang ia letakkan di atas rem tangan. Anindya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya. Lalu mengecupnya. Adrian seketika tersenyum.


"Boleh bertanya lagi?" Anindya terlihat penasaran.


"Kau tidak perlu izin jika ingin bertanya padaku." jelas Adrian.


Anindya hanya tersenyum.


"Selain ayah dan ibumu, apa kau pernah menangis untuk orang lain?" tanya Anindya.


Adrian tampak diam. Sepertinya ia tak ingin menjawabnya. Anindya menduga mungkin itu karena Natasha. Mungkin selain kedua orang tuanya, ia juga pernah menangis untuk wanita itu. Bagaimanapun juga Natasha adalah cinta pertamanya. Mereka berdua pernah saling mencintai.


"Tidak. Tidak ada." jawab Adrian ragu.


Anindya menangkap ekspresi ragu tersebut. Sepertinya apa yang dipikirkannya memang benar. Adrian mungkin merasa tidak nyaman untuk mengatakannya. Anindya juga tak ingin memaksanya.


Ia memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi. Karena jujur, itu sangat menyakitkan buatnya. Anindya jadi berpikir, sebesar apa cintanya pada wanita itu. Adrian bahkan butuh waktu yang sangat lama untuk melupakannya. Walaupun sebenarnya Anindya sangat penasaran apakah Adrian sudah benar-benar melupakannya.


Namun jika hal itu memang benar, maka ia harus mempersiapkan dirinya jika sewaktu-waktu pria itu pergi meninggalkannya dan kembali pada cinta pertamanya.


Tapi apakah ia sanggup bertahan jika hal itu terjadi. Ia sangat mencintai Adrian. Hatinya yang kosong telah terisi oleh pria itu. Dia terlalu polos hingga bisa dengan mudah jatuh cinta pada seorang pria yang memberikan perhatian padanya.


Anindya mengalihkan pandangannya ke luar setelah menurunkan kaca jendela mobil. Angin semilir tampak berhembus kencang hingga mengibaskan rambut panjangnya yang terurai.


Ia mengeluarkan kepalanya sedikit untuk lebih merasakan udara segar yang kini menerpa wajahnya.


Namun tiba-tiba saja laju mobil itu kian melambat. Dan tak lama kemudian mobil itu tampak berhenti di tepi jalanan yang terlihat sepi.


"Ada apa?" Anindya bertanya pada Adrian.


Adrian tampak menatapnya dengan serius. Ia memperhatikan wajah Anindya yang terlihat kebingungan.


"Adrian!" serunya karena melihat kebisuan pria itu.


"Apa kau masih meragukanku?" tanya Adrian.


"Apa maksudmu?" tanyanya balik karena tak mengerti.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menangis untuk siapapun selain untuk kedua orang tuaku. Bahkan ketika wanita itu meninggalkan aku. Aku hanya melampiaskan kekecewaan ku dengan menyibukkan diriku sendiri. Karena bagiku dia tak cukup berharga bagiku untuk mendapatkan airmata ku. Apa itu bisa meyakinkan mu?"


Bagaimana ia bisa tahu jika hal itu yang membuat aku ragu? Apa dia bisa membaca pikiran?


Anindya menganggukkan kepalanya.


"Bagus! Jika aku masih melihat keraguan di matamu lagi, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu. Dan jangan berpikir untuk menyerah terhadapku. Apalagi untuk meninggalkan aku. Karena sekalipun kau berniat untuk melakukannya, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika perlu aku akan mengurung mu di suatu tempat yang tak bisa dijangkau oleh orang lain. Dan jangan menduga bahwa aku akan kembali padanya. Sampai matipun aku tak akan melakukannya. Apa kau mengerti?"


Benarkan? Ia pasti bisa membaca pikiran.


Anindya mengangguk kembali.


"Bagus jika kau mengerti." Adrian kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1



__ADS_2