
Disaat Anindya sedang kebingungan, ia dikagetkan saat seseorang menepuk bahunya. Ia langsung menoleh kearah orang yang menepuk pundaknya.
"Kau siapa? Apa yang sedang kau lakukan didepan ruangan tuan Romi?" tanya seorang wanita muda kepadanya.
Wanita itu terlihat rapi dan anggun dengan setelan formalnya. Tubuhnya ramping dan tinggi. Ia rasanya lebih pantas menjadi seorang model daripada menjadi karyawan. Ia tampak sedang memperhatikan penampilan Anindya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Anindya tampak tampil sederhana dengan kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam yang senada dengan sepatu flat yang dikenakannya. Sementara rambutnya ia ikat kebelakang agar terlihat rapi. Ia juga hanya mengenakan riasan wajah secukupnya saja, hanya memakai bedak tabur dan lipstik yang sewarna dengan bibirnya.
"Nama saya Anindya. Saya karyawan magang yang baru. Sebenarnya saya sedang mencari ruang meeting untuk mengantarkan file-file ini. Apa anda sekertaris presiden direktur?" tanyanya dengan sopan.
"Iya. Saya Maura, sekertaris presdir. Jadi kau yang menggantikan Agus? Baiklah ruangan meeting ada di ujung koridor ini. Kau lihat pintu coklat diujung sana?"
Anindya menganggukkan kepalanya setelah melihat ruangan yang sedang ditunjukkan oleh wanita itu.
"Letakkan saja file-file itu di atas meja. Nanti saya yang akan mengurusnya. Cepatlah masuk! Meeting akan segera dimulai." perintahnya.
Anindya menurutinya. Ia segera mendorongnya troli menuju ruangan tersebut.
Ruangan itu tampak kosong. Tak ada seorangpun yang berada di sana. Ia mendorong troli itu ke dekat meja dan memindahkan semua file yang dibawanya itu keatas meja. Setelah selesai, ia segera keluar dari ruangan itu.
*********
Anindya tampak sedang menikmati makan siang di kantin kantor khusus karyawan yang ada di lantai lima. Di perusahaan ini tampaknya tak ada seorang pun yang tahu jika ia masuk lewat jalur khusus. Ia bersikap seolah-olah tak mengenali Adrian dan Romi seperti yang sudah diinstruksikan oleh Romi sebelum berangkat ke kantor tadi. Mereka juga menurunkannya beberapa meter dari kantor agar tak ada seorangpun yang melihat mereka.
Makan siang disini terbilang cukup mewah. Selain hidangan utama, juga tersedia desert untuk pencuci mulut. Hidangan utamanya juga sangat bervariasi. Semua ini sudah termasuk tunjangan untuk seluruh karyawan tanpa terkecuali. Bahkan untuk karyawan magang seperti dirinya tanpa di beda-bedakan.
Benar apa yang dikatakan Zein, jika cucunya itu sangat memperhatikan seluruh karyawan yang bekerja dengannya. Termasuk untuk kesehatan dan tunjangan lainnya. Namun, semua itu tetap harus dibarengi dengan totalitas kerja dari para karyawannya.
Anindya tampak menikmati makanannya dengan lahap. Ia tak menyisakan sebutir nasi pun di piringnya. Sedari kecil ia sudah diajarkan untuk menghargai makanan. Karena ia tahu bahwa mendapatkannya tidak mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras.
__ADS_1
Setelah selesai, ia kembali keruangan kerjanya walaupun ia masih punya waktu untuk beristirahat. Ia belum punya teman disini. Sehingga ia tak tahu lagi harus apa. Ia masuk kedalam lift dan turun ke lantai dasar. Di sanalah ruangannya berada. Sementara kantin karyawan berada dilantai lima bangunan ini.
Ia hanya seorang diri didalam lift. Ia sedikit bersenandung sambil menunggu. Terkadang ia suka bernyanyi untuk melupakan kesedihannya. Dulu ibunya pernah mengajarkan sebuah lagu padanya. Itu lagu kesukaan ibunya. Tiba-tiba ia jadi teringat pada ibu dan neneknya. Jika saja mereka masih bersamanya saat ini....
Ting...
Lift berhenti dilantai tiga. Sepertinya akan ada orang lain yang masuk. Ia seketika berhenti bernyanyi. Namun betapa kagetnya ia melihat dia orang pria masuk kedalam lift. Dua orang yang dipikirnya tak mungkin berada satu lift dengannya di kantor ini.
Presiden direktur dan asisten pribadinya. Ia seketika mundur kebelakang dan membiarkan dua pria itu berada didepannya. Anindya tampak bingung lalu memperhatikan suasana sekeliling lift.
Apa aku salah menaiki lift? Tapi sepertinya lift ini sama persis dengan yang ku naiki tadi. Benarkan?
Ia tampak bingung sambil sesekali menggaruk kepalanya. Namun akhirnya ia bersikap seperti tidak ada yang salah. Toh, Adrian tidak akan tiba-tiba mengusirnya keluar dari lift ini, kan.
"Bagaimana dengan hari pertamamu bekerja? Apa semuanya lancar?" tanya Adrian tiba-tiba padanya.
Saking sibuknya tenggelam dalam kebingungannya sendiri, ia bahkan tidak menyadari pertanyaan yang diarahkan padanya. Adrian tampak kesal begitu pertanyaannya tidak direspon seperti ini. Romi, yang berada di sampingnya sengaja berdehem agar menyadarkan wanita itu. Dan tampaknya itu berpengaruh pada Anindya. Ia tersadar dari lamunannya saat melihat Romi memandang kearahnya.
"Lupakan. Beritahu pihak teknisi agar mereka segera memperbaiki lift nya." Ucap Adrian kesal.
"Baik, tuan!" sahut Romi dengan patuh.
Sesampainya dibawah, Adrian dan Romi segera berlalu dari sana meninggalkan Anindya yang semakin bingung. Ia pun ikut menyusul keluar menuju ruangannya.
***********
Hari ini dilalui Anindya dengan lancar. Walaupun ia masih sedikit kesulitan. Namun ia rasa ia bisa beradaptasi dengan pekerjaan barunya itu. Sore ini ia pulang bersama supir tanpa Adrian dan juga Romi. Sepertinya mereka akan terlambat pulang karena masih ada urusan yang harus mereka kerjakan.
Anindya sedikit merasa lega karena tak perlu satu mobil dengan pria dingin itu. Ia selalu membuatnya takut, apalagi jika pria itu mengeluarkan tatapan matanya yang tajam seperti sebilah pisau yang siap menyayat orang yang ditatapnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian ia sampai di rumah. Ia masuk kedalam rumah. Sebelum masuk ke kamarnya, ia menyapa Zein dan Sofia terlebih dahulu. Mereka berdua sedang mengobrol diruang tengah. Anindya mencium tangan mereka secara bergantian lalu ikut duduk bersama mereka. Zein menanyakan bagaimana hari pertamanya di perusahaan. Anindya tampak antusias menceritakan pengalaman pertamanya itu.
"Kakek senang jika kau menikmati pekerjaan barumu. Sekarang pergilah beristirahat. Kau pasti lelah seharian bekerja." ucapnya.
"Baik kakek. Anin permisi dulu." ia segera berlalu menuju kamarnya.
Sementara Zein dan Sofia tampak membicarakan sesuatu setelah memastikan Anindya sudah naik keatas.
"Aku jadi ragu jika Adrian akan menerima perjodohan ini. Apakah ia bisa menerima Anindya sepenuhnya menjadi istrinya?" tanyanya cemas.
"Saya juga tidak tahu tuan. Tapi tidak ada salahnya jika anda mencobanya bukan. Setidaknya tuan muda sudah sedikit menerima keberadaan Anin di rumah ini." jawab Sofia berusaha menenangkan pria baya itu.
"Iya kau benar. Aku ingin melihat Adrian menikah tahun ini juga. Aku ingin ada seorang yang bisa melembutkan hati anak itu. Ia sudah terlalu lama larut dalam kesedihan. Ia menanggung beban yang berat diusianya yang sangat muda. Aku harap dengan kehadiran Anindya, ia bisa merasakan kebahagiannya kembali. Begitupun dengan Anindya. Mereka berdua layak untuk bahagia." ucapnya penuh harapan.
"Semoga saja tuan."
************
*
*
*
*
Jangan lupa berikan dukungannya ya. beri like, komentar, rate dan vote nya. Biar tambah semangat nulisnya.. 😍😍😍
Terima kasih.
__ADS_1