My Dearest Wife

My Dearest Wife
Akhirnya bertemu juga.


__ADS_3


"Kau senang hidup seperti ini?" tanya Adrian pada Anindya.


"Iya. Tentu saja. Aku lebih senang dengan kehidupan seperti ini. Karena aku merasa menjadi diriku sendiri.


" Lalu kenapa kau memilih untuk ikut dengan kakek dan meninggalkan tempat ini? " Tanyanya lagi.


Anindya hanya diam. Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa dia memilih untuk ikut dengan Zein. Saat itu ia hanya berpikir ia mungkin bisa melupakan kesedihannya dengan pindah dari desa ini.


Namun untuk alasan pastinya, ia juga tidak tahu. Ia hanya menjawab, "Entahlah! Aku juga tidak tahu."


Adrian lalu diam dan tidak bertanya lagi. Ia berusaha untuk memejamkan matanya. Namun Anindya berbalik bertanya padanya.


"Tuan! Apa kau sedang berpikir jika aku memanfaatkan kebaikan kakek padaku?" tanyanya kemudian.


Adrian tediam sejenak.


"Aku mengerti jika kau berpikir seperti itu. Semua orang pastinya juga memikirkan hal serupa jika berada di posisimu. Aku yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba masuk dalam kehidupanmu dengan semua kemewahan yang diberikan kakekmu kepadaku. Mungkin jika orang luar menilainya, mereka akan menganggapku sebagai parasit yang menumpang hidup denganmu. Apalagi setelah kau meninggalkanku di pesta pernikahan kita waktu itu. Aku rasa semua tamu akan berpikir seperti itu." lanjutnya.


Suasana hening sejenak. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang berbicara. Anindya sudah mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini pada suaminya. Berharap jika pria itu berhenti mencurigainya.


"Tuan! Kau tidak perlu cemas. Setelah kita bercerai nanti, aku tidak akan membawa apapun yang sudah kau ataupun kakek berikan padaku. Dan semua akan kembali seperti semula."


Adrian hanya diam saja mendengar semua perkataannya. Sementara Anindya tampaknya sudah terlelap dalam tidurnya setelah mengatakan ucapan terakhirnya.


****************


Deburan ombak menghantam batu karang yang terbentang di sekitar pantai. Pagi ini Anindya dan Adrian akan menyelam. Adrian menyewa sebuah kapal besar untuk membawa mereka ke tengah laut. Mereka berdua sudah memakai pakaian menyelam mereka sebelum menaiki kapal. Seorang pemandu akan mendapingi mereka nantinya.


Di sepanjang perjalanan Adrian dan Anindya tidak berbicara sepatah katapun. Anindya hanya berbicara pada pemandu yang kebetulan di kenalnya itu. Namanya Mickey. Ia keturunan ambon. Ia sudah lama tinggal di sini. Hampir sepuluh tahun. Mickey berteman baik dengan Anindya karena wanita itu sering menyelam bersamanya saat dia punya waktu senggang. Itu salah satu hal yang bisa melepaskan stressnya.


"Oh ya! Jadi kau sudah punya kekasih?" tanya Anindya pada Mickey.


"Iya. Namanya Tania." jawab pria hitam manis itu.


"Dimana dia tinggal? Apa dia orang sini juga?"

__ADS_1


"Tidak. Dia tinggal di seberang pulau ini. Kami bertemu seminggu sekali jika aku sedang libur." jelasnya.


"Wah! Apa kalian akan menikah?"


"Tentu saja. Tapi mungkin tahun depan karena aku masih mengumpulkan uang terlebih dahulu. Untungnya dia mau mengerti. Aku beruntung mengenalnya. Kapan-kapan aku akan mengenalkannya padamu."


Kedua orang itu terlihat asyik mengobral hingga mengabaikan Adrian yang kini sedang menatap Anindya dan Mickey secara bergantian.


Tak lama kemudian, kapal itu tiba di lokasi. Adrian, Anindya dan Mickey bersiap-siap dengan alat penyelam mereka masing-masing. Hanya mereka saja yang akan menyelam disana.


Mickey memberi panduan terlebih dahulu sebelum menyelam. Setelah selesai mereka langsung lompat ke dalam air satu persatu.


Anindya tampak menikmatinya. Sudah lama ia tak menyelam. Terakhir kali mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Begitupun dengan Adrian. Ia juga sudah lama tidak melakukan kegiatan seperti ini karena kesibukannya di perusahaan.


Pemandangan di bawah pantai sangat indah. Airnya masih sangat jernih. Sehingga menambah keindahan pantai itu. Ada banyak jenis ikan yang mereka lihat di bawah air. Mereka menyelam sekitar satu jam. Selama menyelam Adrian terlihat menjaga jaraknya dari Anindya. Ia merasa sedikit bersalah pada wanita itu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak padanya.


Namun di satu sisi, ia juga terlihat masih ragu dengannya. Entahlah, mungkin karena ia sudah dibutakan oleh rasa curiga yang berlebihan terhadap Anindya.


****************


Setelah satu jam mereka berada di bawah sana, akhirnya mereka kembali ke daratan dengan kapal yang mereka sewa.


Anindya tak bisa berkata apa-apa jika ia sudah mengeluarkan uangnya untuk hal-hal mubazir semacam itu.


Sesampainya di daratan, Adrian dan Anindya segera mengganti pakaian menyelam mereka dengan pakaian yang kering. Tak lama kemudian, mereka berdua makan di salah satu restoran yang ada di sekitar pantai untuk makan siang.


Adrian memesan beberapa jenis seafood pada pelayan. Ini pertama kalinya Anindya makan di restoran tersebut karena ia tak punya uang untuk makan disana. Harga makanan di restoran itu terbilang sangat mahal baginya karena berada di kawasan wisata.


Lagipula ia bisa setiap hari mendapatkan seafood segar dari ibu angkatnya secara percuma. Terkadang ia juga suka memancing di sungai dekat rumahnya. Ia bisa mendapatkan ikan segar disana.


Para wanita di restoran itu tampak mencuri pandangan dengan Adrian. Diantaranya juga ada turis asing wanita yang melihat ketampanan pria itu. Anindya pura-pura tidak mengetahuinya. Ia tampak mengalihkan pandangannya pada pemandangan pantai yang terbentang di sekitar restoran.


Sementara Adrian memfokuskan pandangannya pada wanita dihadapannya itu tanpa disadari Anindya. Ia mengenakan kacamata hitam saat itu.


Tak berapa lama, makanan datang. Anindya mengalihkan pandangannya ke pelayan yang mengantarkan makanan untuk mereka. Namun sekilas ia seperti melihat Adrian sedang menatapnya. Tapi mana mungkin pria itu menatapnya. Untuk apa?


Mereka berdua segera menikmati hidangan di hadapan mereka.

__ADS_1


"Adrian! Kau ada disini?" tanya seorang wanita tiba-tiba menghampiri meja mereka.


Adrian menatapnya sekilas. Begitupun Aniny. Namun, Anindya merasa sangat familiar dengan wajah wanita itu. Wanita itu sangat cantik. Apalagi ia memiliki tubuh yang proporsional layaknya seorang model. Iya, setahu Anindya ia memang seorang model.


Wanita itu tak lain adalah Natasha. Wanita yang pernah mengisi hati suaminya selama beberapa tahun. Walaupun mereka kini sudah putus hubungan, namun Anindya merasa jika pria itu masih memiliki perasaan terhadapnya.


Namun Anindya teringat pada perkataan Maura saat wanita itu muncul di kantor. Adrian mengusirnya dengan kasar bahkan memecahkan kotak bekal yang dibawakan oleh wanita itu.


"Hai! Kau pasti istrinya Adrian. Perkenalkan! Aku Natasha. Mantan kekasih Adrian." ucapnya sambil tersenyum pada Anindya. Bahkan ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Anindya.


Anindya sekilas melirik Adrian, merasa ragu untuk menerima uluran tangan wanita itu. Jikalau saja mungkin Adrian merasa keberatan dengan hal itu. Namun pria itu hanya diam tanpa ekspresi. Karena merasa tidak enak dengan Natasha, akhirnya ia membalas uluran tangan wanita itu.


"Aku Anindya. Senang berkenalan denganmu." sahut Anindya.


Wanita itu tampak tersenyum ramah padanya. Anindya juga membalas senyumannya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2