
Pagi menjelang. Anindya terbangun lebih dulu dari suaminya seperti biasanya. Namun, ia tampak kaget saat mendapati dirinya bangun diatas ranjang. Bukan di sofa seperti biasanya.
Apa aku sedang bermimpi? batinnya.
Ia melirik ke arah sampingnya, namun tidak Adrian disana. Ia sudah merasa takut sebelumnya. Apa mungkin ia tidur satu ranjang dengan pria itu. Namun kenyataan itu tidak terjadi. Lantas dia ada dimana? Ia melihat kearah sofa yang biasanya menjadi tempat tidurnya setiap malam. Pria itu ada disana, sedang tertidur pulas.
Apa yang sudah terjadi kemarin malam? Sepertinya aku yang tidur di sofa. Kenapa jadi dia yang tidur disana. Apa kami berdua tidur sambil berjalan dan bertukar tempat tidur?
Anindya mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin malam. Tapi ia tidak bisa mengingatnya sedikitpun. Akhir ia menyerah dan membiarkannya. Ia lalu beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
*
Adrian tampak membuka matanya karena merasakan silaunya matahari pagi yang mengusik penglihatannya. Tirai kamar sudah di buka begitu juga dengan pintu balkon. Wanita itu pasti sudah bangun. pikirnya.
Ia lalu beranjak dari sofa. Tubuhnya seketika terasa sakit. Bagaimana wanita itu bisa tahan tidur diatas sofa ini setiap malamnya. Sementara dirinya baru sekali saja merasakannya sudah sakit seperti ini. Wanita itu benar-benar sulit dipahami.
Kemarin malam saat melihat wanita itu tidur diatas sofa, ia tiba-tiba saja merasa iba. Mengingat apa yang dikatakannya ketika di balkon, membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya ia memindahkan wanita itu ke atas ranjang. Sepertinya ia sudah salah langkah karena hal itu justru menyiksanya sepanjang malam. Ia tak bisa tidur nyenyak sedikitpun di atas sofa itu. Tubuhnya yang tinggi terasa tidak pas dengan ukuran sofa itu yang kecil.
Adrian tampak memijat lehernya yang kaku. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
****************
Saat selesai sarapan, Adrian tak langsung pergi dari ruang makan untuk pergi ke kantor. Ia lebih dulu mengatakan sesuatu pada kakeknya dan juga Anindya.
"Ada apa?" tanya Zein.
"Besok aku akan pergi ke Luar kota untuk beberapa hari. Anindya juga akan ikut bersamaku. Apa kakek tidak keberatan?" jelas Adrian sembari bertanya.
Anindya tampak bingung saat Adrian menyebut namanya dan menyebut kata "ikut denganku".
Dia mengajakku? batinnya.
" Tentu saja kakek tidak keberatan. Kekek senang jika kau mulai membuka hatimu untuk Anindya. Pergi sebulan juga tidak masalah." sahut Zein sambil tersenyum.
Pria baya itu tampak sangat senang. Adrian melirik kearah Anindya. Wanita itu tampak mengerutkan dahinya karena bingung.
__ADS_1
*
"Tunggu, tuan! Aku ingin bicara padamu!" Seru Anindya saat pria itu hendak pergi.
Adrian menghentikan langkahnya. Dan melihat Anindya.
"Apa maksud tuan?" tanyanya penasaran.
"Kau akan tahu besok. Jadi tidak usah banyak bertanya." ucapnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Anindya yang tak mendapatkan jawaban sama sekali dari pertanyaannya.
"Apa dia baik-baik saja? Aku rasa ada yang salah dengan otaknya." gerutu Anindya.
****************
Keesokan harinya, Adrian dan Anindya sudah bersiap untuk pergi. Adrian menggunakan kemeja dan celana panjang. Sementara Anindya tampil sederhana dengan blouse dan rok tiga perempat berwarna senada. Sampai sekarang Anindya masih belum menemukan jawaban apapun dari suaminya itu. Padahal ia sudah berulang kali mengajukan pertanyaan padanya.
Namun, pria itu masih tetap saja menjawab dengan jawaban yang sama. Sungguh mengesalkan. Anindya hanya bisa pasrah untuk ikut dengannya.
Setelah berpamitan dengan Zein, mereka segera pergi dengan mobil menuju helipad yang lokasinya sepuluh menit dari rumah itu. Mereka pergi menggunakan helikopter.
Sesampainya disana, mereka langsung naik ke helikopter.
Adrian hanya meliriknya sekilas dan tersenyum sinis padanya sambil memakai kacamata hitamnya. Anindya semakin merasa takut saat melihatnya tersenyum seperti itu. Mungkin apa yang dipikirkannya akan terjadi.
Akhirnya Anindya memutuskan untuk diam dan melihat saja. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela agar mengalihkan pikirannya dari hal-hal negatif.
****************
Perjalanan memakan waktu hanya dua jam saja. Helikopter itu berhenti di sebuah lapangan yang luas. Anindya sepertinya merasa familiar dengan lingkungan sekitarnya. Ia merasa pernah kemari sebelumnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat. Ia baru tersadar setelah beberapa saat. Itu adalah kampung halamannya.
"Tuan! Bukankah ini adalah... " ia tak bisa melanjutkan perkataannya karena senang.
"Tunjukkan dimana rumahmu?" ucap Adrian berjalan mendahuluinya.
Kenapa dia malah membawaku ke sini. Bukannya dia bilang akan keluar kota. Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?
Anindya merasa senang bisa kembali ke tempat ini lagi. Ia merindukan suasananya yang tenang dan udaranya yang masih sejuk. Tak terasa hampir setahun ia meninggalkan tempat ini. Ia rindu saat-saat dimana dirinya hidup di tempat ini. Mencari uang, memancing, Bermain dipantai dengan nenek dan juga Ayu. Ia ingin sekali kembali ke saat-saat itu.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke rumahnya walaupun ditempuh dengan berjalan kaki. Adrian hanya diam saja di sepanjang perjalanan mereka. Anindya juga sama. Pria itu tampak memandang ke sekeliling.
Beberapa orang kampung yang mengenali Anindya, menyapanya di sepanjang jalan. Diantara mereka kebanyakan gadis-gadis muda yang bahkan dulu tak pernah mau berteman dengannya. Mungin yang mereka ingin temui bukanlah Anindya melainkan pria tampan yang kini berjalan dengannya.
Adrian sukses menarik perhatian gadis-gadis di desa ini. Ia terlalu menarik perhatian walau hanya diam seperti itu.
Namun, Adrian sepertinya mengabaikan lirikan gadis-gadis itu. Wajahnya seperti biasa terlihat datar dan seperti tak terlalu peduli dengan hal itu. Begitulah pria itu. Mungkin gadis-gadis itu sedang bertanya-tanya apa hubungannya Anindya dengan pria itu.
Sesampainya dirumah, Anindya merasakan kembali kenangan yang tersisa dirumah ini. Ia teringat dengan dua wanita yang dicintainya meninggal dirumah ini.
"Ini rumahmu?" tanya Adrian sambil membuka kacamatanya.
"Iya. Ini rumahku. Maaf jika keadaan rumahku seperti ini. Tunggulah disini sebentar! Aku akan meminta kuncinya pada ibu Sari." ucapnya pada Adrian lalu pergi meninggalkannya.
Adrian terlihat penasaran mengelilingi rumah itu. Rumah itu memang sangat kecil. Mungkin luasnya tak lebih dari kamar tidurnya. Di sekelilingnya banyak pohon yang tumbuh. Namun rumah itu tak berpagar. Kebanyakan rumah yang dilihatnya memang seperti itu.
Ia kembali ke depan rumah. Dan menyandarkan tubuh tegapnya di dinding rumah itu sambil menunggu Anindya kembali.
"Wanita itu memang pintar. Pantas saja ia dengan senang hati ikut dengan kakek. Dengan keadaannya yang seperti ini, bagaimana mungkin ia menolak ajakan kakek." gumamnya sambil tersenyum sinis.
Ia memikirkan kembali alasan membawanya kembali ke tempat ini. Ia ingin mengetahui seperti apa kehidupan wanita itu dulu. Juga ia ingin wanita itu bisa melepas rindu dengan ibu dan juga neneknya karena rasa ibanya. Ia tak menyangka jika ia masih bisa merasa kasihan pada orang lain. Bahkan ingin mengetahui tentang kehidupannya. Sungguh benar-benar diluar kebiasaannya.
****************
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1