
Anindya menjalani hari-harinya dengan sedikit berbeda dari biasanya. Ia harus mengalami mual dan muntah tidak hanya di pagi hari, namun juga setiap kali ia memasukkan sesuatu ke tenggorokannya.
Kehamilannya membuatnya sulit untuk mendapatkan nutrisi yang cukup untuk dirinya dan juga bayinya. Sehingga dokter menyarankan agar Anindya di beri cairan infus yang berisi obat untuk mengurangi mual berlebih padanya.
Kini ia sedang tertidur di atas ranjangnya. Ia terlihat pulas. Ya sudah beberapa malam belakangan ini ia kesulitan untuk tidur dengan pulas karena kehamilannya. Ia sering kali terbangun untuk muntah.
Adrian lah yang paling merasa cemas. Ia sungguh merasa tak tega melihat kondisi Anindya yang mulai terlihat mengurus.
Rossa juga sudah berulang kali menenangkan Adrian jika ini adalah sesuatu yang umum di alami oleh setiap ibu hamil.
"Bibi juga pernah merasakannya ketika mengandung Clarissa. Kehamilan setiap wanita itu berbeda-beda. Tetapi kau tenang saja, bukankah dokter juga sudah memberikan cairan infus berisi obat untuknya. Ia akan baik-baik saja setelahnya.Kau hanya perlu terus mendapinginya dan menguatkannya agar ia tetap semangat menjalani kehamilannya. Jangan pernah sekalipun mengeluhkan hal itu padanya. Karena perasaan ibu hamil biasanya lebih sensitif dari biasanya." jelas Rossa.
"Iya bibi. Terima kasih karena sudah mengingatkan aku. Terima kasih juga karena bibi selalu mendampingi Anindya. Dia pasti sangat membutuhkan hal itu di saat-saat seperti ini." ucap Adrian.
****************
"Adrian! " seru Anindya ketika terbangun.
Adrian yang sedang duduk di atas sofa sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya segera beranjak begitu mendengar Anindya memanggilnya.
Karena merasa cemas dengan kondisi istrinya tersebut, Anindya memutuskan untuk bekerja dari rumah saja sampai kondisi Anindya stabil. Terkadang Romi harus bolak balik dari kantor ke rumah untuk mengantarkan berkas yang sekiranya sangat memerlukan tanda tangannya.
Adrian juga memindahkan Anindya di kamar bawah mengingat kondisi Anindya yang tidak memungkinkan jika harus naik turun tangga setiap hari. Itu sangat beresiko di kehamilannya yang masih muda.
Infusnya juga sudah di cabut karena kondisinya sudah lebih baik.
"Ada apa, sayang? " tanya Adrian.
Anindya terlihat semakin manja ketika hamil. Tetapi ia juga tak pernah mempermasalahkan hal tersebut karena ia menyukainya.
"Aku lapar!" jawabnya.
"Kau mau makan apa? Aku akan meminta ibu Sofia untuk membuatkannya untukmu."
Anindya menggeleng. "Aku ingin makan makanan yang kau buat."
"Aku? Tetapi aku tidak bisa masak. Ibu Sofia saja, ya? Atau bibi Rossa? "
Anindya tetap menggelengkan kepalanya. "Aku ingin kau yang memasaknya, sayang! Anak kita juga menginginkannya! Apa kau tidak kasian pada kami?" ia tampak memelaskan wajahnya.
Adrian tampak mengalah dan mengabulkan permintaan istrinya itu dengan sabar.
****************
"Apa kau yakin ingin makan masakan buatanku?" tanya Adrian memastikan.
Saat itu ia dan Anindya sedang berada di dapur. Sofia dan Rossa juga berada di sana untuk memberikan pengarahan pada Adrian. Hanya pengarahan saja bukan membantunya.
Sementara Anindya duduk bersama Zein di atas kursi sambil memperhatikan Adrian yang tampak bingung dengan bumbu-bumbu masakan yang ada di hadapannya.
"Iya, sayang! Aku sangat yakin."
"Baiklah!"
__ADS_1
Mereka mulai memasak. Mereka akan memasak sup untuknya. Adrian tampak imut ketika menggunakan celemek.
"Kau terlihat cocok dengan celemek itu. Terlihat imut!" goda Zein.
"Kakek! Diamlah! "
Yang lain tampak tertawa begitu juga dengan Anindya.
"Anin! Bagaimana jika mulai hari ini Adrian saja yang menyiapkan makanan untuk mu. Ia terlihat sangat menikmatinya." goda Zein lagi.
Dasar pria tua! gerutunya dalam hati.
"Kakek! Jangan menggoda Adrian terus. Tetapi ia memang terlihat imut." Anindya tampak tersenyum lebar walau wajahnya masih terlihat sangat pucat.
Wanita ini sudah semakin berani padaku. Lihat saja jika kau sudah sehat nanti! batinnya.
Adrian berusaha untuk tidak memperdulikan mereka. Ia sangat fokus untuk memasak.
Anindya sejujurnya sangat senang karena mendapatkan seorang suami yang begitu perduli dan sangat menyayanginya.
Adrian terlihat tulus merawat dan menemaninya setiap saat. Ini bahkan melebihi apa yang selama ini di harapkannya. Kenapa Ia begitu beruntung. Di kelilingi begitu banyak orang yang menyayanginya.
Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Ia segera menghapusnya sebelum ada seseorang yang menyadarinya.
"Ternyata kalian semua ada di sini. Dari tadi aku mencari kalian." Celetuk Arkan tiba-tiba ketika masuk ke dapur.
"Astaga! Siapa ini? Presdir kita yang terhormat sedang memasak. Bermain dengan sayur dan bumbu. Kakak ipar! Kau benar-benar luar biasa. Seumur hidupku baru ini kali pertama aku melihat kakak masuk ke dapur untuk memasak." Arkan terlihat sangat antusias.
"Sialan kau! Pergilah! Jangan menggangguku. Atau nanti kau yang akan ku masak di sini!" ancamnya sambil memperlihatkan masakan yang sedang di aduknya itu.
"Kau terlihat manis sekali. Jika wanita aku mungkin akan menikahi mu." godanya lagi.
"Ck! Pergilah! Atau aku akan benar-benar memasakmu." Ia terlihat kesal.
"Kakak ipar! Tampaknya kakakku tidak suka jika di suruh memasak. Wajahnya terlihat masam sedari tadi. Aku takut kau akan sakit perut ketika memakannya."Arkan semakin menyudutkan kakaknya itu.
" Apa benar begitu, sayang! Kau tidak suka memasak untuk ku. Tidak apa-apa jika kau tidak suka. Aku akan memasak sendiri saja nanti." Ia pura-pura sedih.
"Tidak, sayang! Jangan dengarkan anak sialan ini. Aku suka memasak untuk mu!" Ia tersenyum selebar mungkin untuk menunjukkan ketulusannya.
"Pergilah!" Usir Adrian pada Adiknya yang menyebalkan itu.
Arkan lalu pergi dari sana sebelum nantinya ia benar-benar di masak oleh kakaknya itu.
Zein meminta Sofia dan Rossa untuk membantunya ke kamar karena ia sudah merasa lelah. Tujuan sebenarnya adalah membiarkan pasangan itu berdua saja di sana.
Setelah semuanya pergi, Anindya menghampiri dan memeluk pria itu dari belakang.
"Maaf sudah menyusahkanmu." ucap wanita itu.
Adrian berbalik dan menatapnya.
"Kau ini selalu saja seperti ini. Kau tidak pernah mentusahkan ku. Aku senang melakukannya. Jangan membebani dirimu. Kau tidak boleh banyak berpikir karena itu bisa mempengaruhi bayi kita. Katakan saja padaku apa yang kau mau. Aku akan memberikannya padamu."
__ADS_1
"Terima kasih untuk selalu ada di sisi ku saat ini. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." sebuah kecupan lembut mendarat di dahinya. "Ayo kita makan! Masakannya sudah matang. Kau harus menghabiskannya. Mengerti?" sambung Adrian.
"Iya!"
Anindya tampak makan dengan lahap. Walaupun sebenarnya masakan itu tidak terlalu enak. Adrian bahkan sempat mencicipinya tadi. Tetapi Anindya terlihat sangat menyukainya.
Ia tersenyum melihat akhirnya selera makan wanita itu kembali.
****************
Berlin, Jerman.
Ruangan itu tampak berantakan. Rian baru saja kembali dari luar kota. Ia sangat marah ketika mendapati rumah itu sudah kosong. Istri dan anaknya tidak terlihat lagi di sana. Ia menjatuhkan semua barang dari tempatnya.
"Sialan! Berani sekali mereka pergi tanpa seizin ku.Wanita sialan itu pasti sudah mengadu pada Adrian. Bagaimana ini? Adrian tidak mungkin akan diam saja! Aku harus melakukan sesuatu. Ini semua karena anak sialan itu. Jika dia tidak muncul, semua ini tidak akan terjadi. Waktu itu kenapa dia tidak mati saja menyusul ibunya. Dia juga tidak mati waktu ku dorong dari tangga. Anak sialan!" Ia tampak sangat marah.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1