My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kedatangan seseorang


__ADS_3


...------------- My dearest wife ----------------...


Hari demi hari berlalu. Lusa adalah ulang tahun kakek Zein yang ke tujuh puluh lima tahun. Semua tampak antusias menyambutnya. Termasuk para pelayan. Karena biasanya setiap tahun ketika pria baya itu berulang tahun, Adrian akan memberikan mereka tambahan satu bulan gaji untuk merayakannya. Itu adalah permintaan dari Zein untuk menghargai loyalitas mereka pada keluarganya.


Anindya benar-benar kagum pada keluarga ini. Mereka sungguh rendah hati dan tak pernah membeda-bedakan siapapun termasuk dirinya.


Karena itu sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, Anindya merajut sebuah syal untuknya. Hal itu juga karena ia tak tahu harus membelikan hadiah apa untuknya. Dan Ia juga tak mungkin menggunakan uang Adrian untuk membeli hadiah. Karena akan berbeda maknanya.


Akhirnya ia memutuskan untuk merajut saja. Untungnya ia masih ingat bagaimana dulu neneknya mengajarinya.


Walaupun hasilnya mungkin tak sebagus buatan neneknya. Tapi setidaknya ia mengerjakannya dengan tulus. Ia bahkan menyembunyikan hal itu dari siapapun termasuk Adrian karena tak ingin kejutannya gagal.


Syal itu akan selesai sedikit lagi. Perjuangannya sungguh berat. Entah sudah berapa kali jemarinya tertusuk jarum rajutnya. Namun ia tidak memperdulikan hal itu.


Saat ini ia sedang berada di kamar seorang diri. Adrian sendiri tengah sibuk di kantor. Zein sedang tidur di kamarnya. Sementara Sofia dan yang lainnya tengah sibuk dengan aktivitas nya masing-masing.


Sore ini paman dan bibinya Adrian akan tiba di rumah. Si imut Clarissa juga akan hadir. Usianya dengan Anindya hanya terpaut empat tahun. Sehingga Anindya sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Gadis itu sangat ramah seperti ibunya. Mereka menerima kehadiran Anindya dengan baik di rumah ini. Mereka tak pernah mempermasalahkan statusnya. Anindya bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka. Termasuk Adrian. Walaupun ia tak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya pada Anindya.


Menjelang siang, Anindya tampak sibuk membantu Sofia menyiapkan hidangan untuk makan siang di dapur. Adrian akan ikut makan siang bersama mereka. Begitu pun dengan Arkan. Pria itu juga akan membawa seseorang turut serta bersamanya. Namun ia tak menyebutkan siapa orangnya. Anindya sangat penasaran.


*


Adrian baru saja datang bersama Romi. Sofia mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk bersama di ruang makan.


"Dimana Anindya?" tanya Adrian karena menyadari jika wanita itu tak ikut menyambutnya seperti biasa.


Ia bahkan tak terlihat di ruang makan.


"Anindya sedang berada di kamarnya, tuan! Ia sedang mengganti pakaiannya yang kotor karena ketumpahan makanan." jelasnya.


Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Ia lalu duduk bersama kakeknya dan juga Romi disana.


Tak lama kemudian Anindya juga ikut bergabung dengan mereka setelah berganti pakaian. Mereka belum memulai makan siang karena masih menunggu Arkan yang tengah dalam perjalanan pulang. Sementara menunggu Adrian membahas pekerjaan dengan Romi.


"Jangan membicarakan pekerjaan jika berada di meja makan." tegur Zein.


"Maaf kakek! Baiklah! Lanjutkan nanti saja!" ucap Adrian pada asisten pribadinya itu.


"Baik tuan!" sahut Romi.


"Oh iya Adrian! Kakek harap kau bisa menjaga sikapmu pada paman Rian jika ia datang nanti. Setidaknya pikirkan perasaan bibimu. Ia sudah susah payah membujuknya untuk datang. Jadi kakek harap..... "


"Aku mengerti kakek! Tapi jika dia yang memulainya maka aku tidak akan diam saja." selanya.


Zein terlihat menghela nafasnya. Seakan mengerti dengan sifat cucunya itu.


"Hallo semua! Maaf aku sedikit terlambat!" seru Arkan begitu datang.


Ia membawa seorang wanita bersamanya. Dan sepertinya Anindya mengenali wanita itu.


"Anne!" serunya.

__ADS_1


*


"Kau yakin ingin bekerja disini?" tanya Anindya pada Anne setelah mendengar penjelasan dari Arkan tentang pekerjaan lamanya.


Kini di ruang makan hanya tersisa dirinya dan juga Anne. Zein memutuskan untuk membiarkan kedua wanita itu bicara secara pribadi . Sementara Adrian dan Romi sudah kembali ke kantor. Adrian menyerahkan segala keputusan pada Anindya. Mengingat bahwa Anne adalah sahabat baiknya.


"Iya. Aku bingung mencari pekerjaan dimana. Tuan Arkan menyarankan agar aku bekerja disini. Aku sebenarnya malu jika harus merepotkan kalian. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Aku butuh uang untuk biaya hidup dan juga kuliah ku. Aku juga masih punya hutang padamu. Jadi aku menerima tawarannya untuk bekerja disini." jelasnya.


Anindya merasa iba ketika mendengar penjelasan Anne. Ia tahu seperti apa perasaan Anne saat ini. Pasti semua ini terasa berat untuknya.


"Anne! Kenapa kau tak mengatakannya padaku. Aku pasti akan membantumu. Kau tak perlu sungkan padaku. Kita ini sudah seperti saudara. Jadi jika kau ada masalah, aku pasti akan membantu sebisaku." ucap Anindya sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Maaf Anindya! Aku hanya tak ingin memberatkanmu dengan masalahku. Terima kasih karena sudah mengizibkanku untuk bekerja disini."


"Apa kau benar-benar yakin ingin bekerja disini?" tanyanya memastikan.


"Aku sudah yakin Anindya."


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu. Aku senang karena kau tinggal disini sekarang. Aku jadi tidak kesepian lagi." ucap Anindya sambil tersenyum.


****************


Anindya tengah bersiap di dalam kamarnya. Ia hanya berias sederhana dengan memakai bedak dan lipstik saja. Anindya memang tak pandai merias wajah karena ia memang tidak terbiasa melakukannya.


Sementara Adrian, Zein dan Arkan sedang duduk di ruang santai sambil menunggu kedatangan paman dan juga bibinya.


Tadinya Adrian sempat menolak. Tapi Zein memaksanya sehingga Adrian tak bisa membantahnya.


"Kakek!" seorang gadis muda tampak berlari memeluk Zein.


"Hati-hati sayang! Jangan mengagetkan kakek seperti itu! " tegur seorang wanita baya yang tak lain adalah Rossa, ibu Clarissa.


"Tidak apa-apa Rossa!" ucapnya.


"Kakek sehat-sehat saja, kan?" tanyanya.


"Kakek sangat sehat. Apalagi setelah melihatmu. Dimana ayahmu? Apa dia tidak jadi datang?" tanyanya.


"Saya di sini paman." sahut Rian sambil tersenyum.


Pria itu bergantian memeluk Zein.


"Paman sehat kan?" tanyanya.


"Iya! Paman sangat sehat. Paman senang kau bisa datang." Zein tersenyum.


Rian lalu menatap Adrian yang hanya tak bergeming sedikitpun. Tatapannya masih saja sinis terhadapnya.


"Adrian!" seru Zein memberinya kode agar menyapa pamannya itu.


Dengan terpaksa ia berdiri dan menyapanya dengan menjabat tangannya.


"Senang bisa melihatmu Adrian. Maaf jika paman tak bisa hadir di hari pernikahanmu! Dimana istrimu?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak masalah, paman! Aku bisa mengerti!" Akhirnya ia sedikit melunak padanya.


"Itu Anindya! Kemarilah, nak! Paman ingin berkenalan denganmu!" ucap Zein ketika melihat Anindya menghampiri mereka.


Rian membalikkan tubuhnya untuk melihat Anindya. Ia tersenyum ramah padanya.


Namun tidak dengan Anindya. Ia tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Pria yang berdiri di hadapannya saat ini... sangat familiar baginya. Pria ini....


Ayah!


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕



-Clarissa

__ADS_1



__ADS_2