My Dearest Wife

My Dearest Wife
Harga diri


__ADS_3

Kini Anindya hanya berdiri di tempatnya menunggu jemputannya. Ia sudah mulai kedi


nginan karena sekujur tubuhnya telah basah kuyup.


Tin... Tin.. Tin..


Anindya mencari-cari dari mana asal suara klakson mobil itu. Ternyata mobil yang ditunggunya sedari tadi sudah menunggu disana. Tapi melihat dirinya yang basah kuyup. Ia takut akan membasahi mobil itu. Bagaimana ini?


Ah, sudahlah! Lebih baik aku naik saja.


Tanpa menunggu lama, ia segera naik ke dalam mobil itu. Sesaat setelah ia duduk, pria yang berada disampingnya melemparkan sehelai handuk padanya. Anindya tampak kaget.


"Keringkan rambutmu!" perintahnya tanpa menoleh padanya. Tetap saja bersikap dingin.


Anindya mengikuti perkataannya. Terkadang pria itu baik, namun terkadang ia juga terlihat dingin dan arogan. Sebenarnya dia tipe pria seperti apa. Anindya membuka ikatan rambutnya dan mengeringkannya dengan handuk tersebut.


Sementara Romi dan Anwar tampak saling berpandangan. Mereka tampak bingung melihat hal yang tidak biasanya dilakukan oleh tuan mudanya itu. Memperdulikan seorang wanita.


***************


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sedari tadi Anindya tidak juga bisa memejamkan matanya karena tubuhnya yang tiba-tiba merasa tidak enak. Mungkin akibat hujan yang mengguyurnya tadi. Ia lalu turun dari atas ranjangnya, hendak ke dapur untuk membuat teh jahe untuk dirinya.


Suasana rumah besar itu tampak gelap gulita karena lampu ruangan yang sudah dipadamkan. Ia menyalakan senter di ponselnya. Ia turun kebawah dengan perlahan agar tidak diketahui oleh siapapun. Ia rasa semua penghuni rumah sudah tidur saat ini.


Rumah ini benar-benar luas. Untuk ke dapur saja ia membutuhkan waktu sepuluh menit. Ia harus menuruni dua lantai, melewati beberapa ruangan, baru kemudian sampai di dapur. Dapurnya pun terbagi dua. Ada dapur bersih dan dapur "kotor". Untuk dapur bersih ini memang jarang sekali digunakan. Mungkin hanya digunakan untuk membuat teh atau kopi saja. Sementara semua masakan yang disajikan biasanya di masak di daripada satunya.


Ia mulai menyalakan kompor. Lalu mengambil panci dan mengisinya dengan air untuk di masak. Sambil menunggu, ia mengambil cangkir dan meletakkan kantung teh didalamnya. Ia juga mencari jahe di dapur satunya. Setelah mendapatkannya, ia meletakkannya di dalam cangkir tadi.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang pria mengagetkannya.


Ia menoleh ke asal suara itu. Ternyata tuan muda rumah ini. Kenapa pria itu belum tidur malah berkeliaran tengah malam sepertinya ini.

__ADS_1


"A.. aku hanya ingin membuat teh. Apa tuan perlu sesuatu?" tanyanya ragu.


"Tidak!" Adrian berjalan melaluinya. Ia mendekat kearah coffee maker yang ada di sebelah kompor dan menyalakannya setelah memasukkan penyaring dan bubuk kopi bulat berisi kopi kedalamnya.


Suasana yang hening menciptakan ketegangan diantara keduanya. Suasana jadi suram.


Kenapa dia harus ke dapur selarut ini? Apa ia tidak lelah setelah bekerja seharian?


Anindya segera menyeduh teh begitu airnya matang. Ia ingin secepat mungkin pergi dari sana.


"Permisi tuan. Saya duluan." pamitnya.


"Hem.. !" jawabnya singkat.


Anindya duduk di meja makan. Ia meminum perlahan teh panas itu sembari meniupnya. Selang beberapa menit, Adrian keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Ia melenggang begitu saja melewati Anindya. Seolah tidak menganggap kehadiran Anindya di ruangan itu.


Sebenarnya dia tampan. Sangat tampan. Namun sayangnya sikap dinginnya itu mengurangi ketampanannya. Coba saja ia bisa sedikit tersenyum, aku rasa banyak wanita yang akan mengejarnya. Tapi... bicara tentang wanita. Apa hubungan Adrian dengan wanita cantik tadi ya. Jika yang kudengar dari Maura, sepertinya dia tidak menyukai wanita itu.


****************


Bayangan tentang wanita itu kembali terlintas di pikiran Adrian. Seberapa keras pun ia mencoba untuk melupakannya, tetap saja bayangan tentang wanita itu selalu menghantuinya.


Tidak seharusnya ia muncul kembali di hadapannya. Apa yang dia inginkan? Setelah menolakku, ia ingin kembali menjalin hubungan denganku. Memuakkan.


Sungguh wanita tidak tahu malu. Ia menatap laptopnya yang menyala. Ia membuka sebuah file yang disimpannya dan membukanya.


Ada banyak sekali foto berdua dirinya dengan seorang wanita. Natasha. Ia melihat satu persatu foto itu. Seketika ia merasa marah dan kecewa. Namun, di dasar hatinya yang paling dalam. Ia masih sedikit menyimpan kerinduan pada wanita itu. Bagaimanapun wanita itu adalah cinta pertamanya. Hubungan yang telah terjalin selama tujuh tahun, kandas begitu saja.


Kehadiran wanita itu sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupannya. Ia ikut andil untuk membantunya mengobati kesedihannya. Ia merasa lepas jika bersama wanita itu. Seakan beban yang ditanggungnya selama ini lenyap begitu melihat senyumnya.


Namun, kenapa wanita itu justru menolaknya ketika ia ingin menikahinya. Ia malah lebih memilih karirnya daripada hidup bersamanya. Padahal ia bisa memberikan apapun yang diinginkannya tanpa ia harus bersusah payah.

__ADS_1


Ia menutup layar laptopnya dengan kasar. Hidupnya benar-benar kacau setelah itu. Rasanya ia tak ingin mengenal wanita lagi.


***********


Hari-hari berlalu begitu saja. Semua tampak berjalan normal. Semenjak bekerja, Anindya hanya punya waktu bertemu dengan Zein pada saat malam hari dan hari Minggu saja. Selebihnya, ia akan banyak menghabiskan waktu di kantor. Ia juga mulai dekat dengan Maura. Mereka tampak akrab sekarang. Mereka sering makan siang bersama di kantin kantor. Terkadang, Anindya juga bertemu dengan Anne di sela-sela hari libur wanita itu.


Anne kini bekerja di sebuah bar malam sebagai pelayan. Hanya itu pekerjaan yang bisa dilakukannya karena kini jadwal kuliahnya mulai padat. Walaupun mungkin sebagian orang menganggap pekerjaannya tidak baik, namun ia tak punya pilihan lain. Lagipula ia tidak menjajakan tubuhnya disana. Jadi tidak ada salahnya bukan. Untungnya itu bukan barang sembarangan. Seluruh pengunjung memiliki kartu akses untuk masuk kesana. Bukan asal bisa dimasuki oleh siapapun. Pegawai bar juga memiliki tunjangan keamanan dan kesehatan. Jadi mereka akan aman dari tangan-tangan jahil dari para pengunjuk nakal.


Anindya sempat tertarik untuk bekerja disana. Mungkin ia akan berpikir untuk bekerja disana setelah keluar dari rumah besar itu.


"Aku sebenarnya iri dengan hidupmu. Kau bertemu dengan orang-orang yang menyayangimu. Tapi kau malah ingin pergi dan hidup susah sepertiku."


"Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Sejak kecil aku sudah menyusahkan ibu dan juga nenekku. Saat mereka berdua pergi, aku benar-benar merasa kehilangan. Aku terbiasa bersama mereka hingga saat mereka pergi, aku seperti kehilangan tempat untuk bersandar. Bukankah itu sangat menyakitkan. Aku tidak mau bergantung lagi pada siapapun. Kakek sangat baik padaku. Tapi aku takut dianggap sebagai seseorang yang sengaja memanfaatkan kebaikannya demi kepentinganku. Aku lebih baik hidup susah dengan uang yang kuhasilkan sendiri daripada hidup mewah dari belas kasihan orang lain." jelas Anindya.


"Iya. Aku setuju denganmu. Harga diri tetaplah yang utama, bukan?"


**************


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1



__ADS_2