
Anindya terbangun dari tidurnya. Ia tiba-tiba saja tersentak ketika sesuatu mengganggunya. Ia bermimpi sesuatu tentang Adrian. Tapi tentang apa itu tidak bisa diingatnya dengan jelas.
Namun kepalanya terasa berputar-putar ketika bangun. Ia sangat pusing. Mungkin karena terlalu banyak tidur.
Ia duduk sesaat untuk menstabilkan tubuhnya. Ia ingat jika dirinya sedang sakit saat ini.
Ia beranjak dari atas ranjang dan pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Hari sudah pagi ternyata. Demamnya juga sudah mulai berkurang. Namun seluruh tubuhnya terasa sakit akibat tidur seharian.
Ia tampak tak bersemangat hari ini. Lama ia berdiri di sana. Menatap ke sembarangan arah. Namun, pandangannya tiba-tiba terfokuskan pada sebuah mobil hitam yang baru saja berhenti di teras rumah. Mobil itu milik Adrian. Apa dia kembali hari ini?
Anindya tidak beranjak dari sana. Ia hanya memperhatikan siapa saja yang keluar dari dalam mobil itu. Ada Romi, seorang pria yang asing baginya dan... suaminya.
Entah kenapa air matanya lolos begitu saja dari kedua sudut matanya. Adrian tampak bersikap dingin seperti biasanya. Mereka tidak menyadari kehadiran Anindya yang melihatnya dari atas balkon kamarnya. Mereka bertiga lalu masuk kedalam rumah.
Anindya hanya membeku di sana. Ia masih menangis. Apa itu karena ia memang merindukan pria itu?
Ia segera menghapus air matanya sebelum ada orang yang melihatnya. Ia tak ingin siapapun melihatnya menangis. Karena ia sudah berjanji bahwa dirinya tak akan menangis lagi.
Ia ingin turun, namun hatinya ragu. Selama pergi, Adrian tak pernah sekalipun menelponnya walau hanya sekedar menanyakan kabarnya. Selama ini dia menganggap Anindya sebagai apa?
Air matanya malah kembali jatuh. Walaupun ia mencoba untuk menghentikannya, namun ia tetap saja menangis.
Ia akhirnya berlari ke ruang ganti dan masuk ke dalam salah satu lemari pakaian yang ada di sana. Dan menangis sepuasnya. Itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Jika ia sudah tak tahan untuk menangis, maka ia akan mencari tempat tersembunyi untuk melampiaskan perasaan sedihnya.
****************
"Kakek! Aku sangat merindukan kakek!" ucap seorang pria sambil memeluk Zein.
Dia adalah Arkan. Cucu bungsunya yang sudah lama dirindukannya.
"Kakek juga rindu sekali padamu! Kau sudah sangat dewasa. Kakek sangat bangga padamu." sahutnya membalas pelukan cucunya itu.
Mereka berdua saling melepas rindu. Sementara Adrian tampak mencari-cari seseorang yang tak hadir di sana.
Sofia yang melihat hal itu, segera menghampirinya.
"Apa tuan mencari Anindya? Dia sedang berada di kamar. Kemarin ia tiba-tiba saja terkena demam. Tapi dokter segera menanganinya dan memberinya obat. Mungkin ia masih tidur saat ini." jelasnya.
"Sakit? Baiklah! Aku akan melihatnya dulu." ucap Adrian.
Ia lalu naik ke atas menuju kamarnya. Namun, ketika masuk kedalam ia tak menemukan istrinya itu ada di sana.
Ia mencari ke dalam kamar mandi, tapi di sana juga tidak ada. Ia lalu masuk ke dalam ruang ganti. Namun di sana juga kosong. Kemana dia?
__ADS_1
Saat ia hendak keluar, ia mendengar samar-samar suara tangisan seseorang. Ia lalu mencari dari mana asal suara tangisan tersebut.
Ternyata dari dalam lemari pakaiannya. Ia menyadari bahwa itu adalah suara tangisan istrinya.
Ia lalu membuka lemari itu dan menemukan istrinya sedang memeluk kedua lututnya sambil menangis. Ia tampak membenarkan kepalanya di antara kedua lututnya.
"Pergilah! Jangan melihatku!" pintanya pada Adrian.
Namun Adrian tidak pergi. Ia masih berdiri di sana. "Apa kau tak merindukanku? Atau karena terlalu merindukanku kau jadi sakit dan menangis sampai seperti ini. "
"Pergi! Aku tidak mau melihatmu saat ini." usirnya lagi.
"Apa kau benar-benar tak ingin melihatku? Bukankah seharusnya kau berlari memelukku dalam situasi seperti ini? Seperti di dalam sebuah drama." tanyanya mencoba untuk menarik perhatiannya.
"Aku tidak ingin melihatmu. Kau hanya perduli pada dirimu sendiri. Kau egois. Kau tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kau bahkan tidak perduli padaku." tangisnya semakin pecah.
Adrian tampak tersenyum. Ia lalu memeluknya. "Aku tahu itu. Aku memang egois. Mungkin di lain waktu aku akan membawamu." ucapnya sambil menepuk pelan punggung Anindya. Mencoba untuk menenangkannya.
Anindya malah semakin menangis. Kali ini Adrian membiarkannya menangis dalam pelukannya untuk beberapa saat.
****************
Adrian tampak menemui kakek, adik dan pengasuhnya di meja makan. Ia hanya seorang diri. Anindya tidak ikut dengannya.
"Bagaimana keadaannya? Apa kakak ipar sudah membaik?" tanya Arkan.
"Baguslah jika ia sudah lebih baik." timpal Zein.
Adrian lalu ikut duduk bersamanya. Sebelumnya ia juga sudah mandi dan berganti pakaian. Arkan juga tampak sudah berganti pakaian.
Tak lama kemudian, Anindya muncul di ruang makan. Ia sudah tampak lebih sehat walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
"Wow! Ternyata aslinya jauh lebih cantik daripada di fotonya. Pantas saja kakak tidak membawa kakak ipar bersamanya. Aku rasa kakak takut jika pria asing merebutnya dari kakak." sindir Arkan sambil menatap kakak dan kakak ipar nya itu.
"Apa anda tuan Arkan?" tanyanya.
"Hei! Jangan memanggilku tuan, kak. Panggil saja aku Arkan. Aku kini menjadi adikmu." jawabnya.
Anindya tersenyum. Begitupun Arkan. Ia lalu duduk di samping Adrian. Dan ikut makan bersama mereka. Ia sangat lapar karena sejak kemarin ia tak begitu nafsu makan.
Arkan bercerita banyak hal pada mereka tentang kehidupannya di Amerika. Zein dan yang lainnya tampak fokus mendengarkannya. Terutama Zein. Ia terlihat sangat senang saat melihat kedua cucunya ada bersamanya saat ini. Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini. Dulu ia hanya makan berdua Adrian. Kini dengan kehadiran Arkan dan juga Anindya, rumah ini serasa hidup kembali.
Sekarang tugasnya sudah hampir selesai. Ia hanya berharap Arkan segera menyusul kakaknya untuk menikah. Dan Adrian serta Anindya segera mendapatkan seorang anak. Hanya itu saja harapannya saat ini.
****************
__ADS_1
Setelah meminum obat, Anindya kembali tidur. Tidurnya sangat pulas. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran suaminya di kamar itu. Adrian juga merasa lelah akibat perjalanan panjangnya. Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Namun ia tidak langsung tidur. Ia memandang wajah istrinya terlebih dahulu.
Rasanya ia memang merindukan Anindya. Namun entah kenapa ia tidak bisa mengakuinya. Alasan mengapa ia tak pernah menghubungi Anindya selama berada di Amerika adalah karena ia ingin tahu jika apa yang ia putuskan sudah tepat.
Ia ingin tahu apakah jika berjauhan dengan Anindya bisa membuatnya merindukan wanita itu atau tidak. Ternyata ia memang merindukannya. Itu artinya apa yang ia lakukan sudah benar. Ia tinggal meyakinkan Anindya saja untuk memulai kembali hubungan ini dari awal dengan baik-baik. Tanpa ada persyaratan apapun.
Dan ia yakin bisa melakukannya. Adrian melihat Anindya memegang tangannya. Hal itu malah semakin memperkuat keyakinannya. Mungkin saat ini tubuhnya secara tak sadar sudah menerimanya. Hanya tinggal menunggu hatinya saja.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1