
Anindya keluar dari kamar mandi dengan langkah hati-hati. Ia hampir saja terjatuh tadi jika ia tidak berpegangan. Padahal kamar mandi ini selalu bersih. Kenapa tiba-tiba bisa terasa licin?
Ia kembali ke halaman belakang untuk bergabung dengan yang lainnya.
Anindya bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa dengannya. Ia tak ingin membuat keluarganya cemas, terutama Zein.
Pesta sederhana itu berlangsung meriah. Musik lembut mengalun indah mengiringi suasana hangat siang itu.
Anindya juga terlihat menyanyi dengan diiringi piano klasik yang sengaja di pindahkan ke halaman belakang.
If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever, oh, so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
****************
Di tengah-tengah pesta, seorang pelayan mengantarkan satu buket bunga mawar putih besar untuk Anindya.
"Permisi, Nyonya! Ada kiriman untuk anda!" ucap pelayan tersebut.
"Dari siapa?" tanya Anindya bingung.
"Tidak tahu, nyonya! Tidak ada nama pengirimnya." jelasnya.
"Iya, sudah! Terima kasih."
Pelayan itu lalu pergi. Anindya memeriksa celah-celah bunga untuk melihat apakah ada kartu nama atau tidak. Ternyata tidak ada.
__ADS_1
"Apa mungkin dari Adrian? Aku marah padanya tadi. Mungkin saja!"
"Mungkin itu dari Adrian! Dia tahu bunga kesukaanmu, bukan? " tanya Rossa.
"Mungkin saja, bibi!" jawab Anindya sambil meletakkan bunga itu di atas meja.
Mereka lalu melanjutkan acara kembali hingga sore harinya.
****************
Anindya membawa buket mawar putih tadi ke dalam kamarnya. Ia ingin menata bunga tersebut ke dalam vas yang ada di kamarnya.
Namun ketika ia sedang menata bunga tersebut, tiba-tiba saja ia merasa kram di perutnya.Seperti kram yang terjadi ketika sedang menstruasi. Tetapi itu hanya berlangsung beberapa menit saja, sehingga Anindya mengira mungkin itu hanya kram biasa saja.
Ia sudah sering mengalaminya beberapa hari belakangan ini. Dokter juga menjelaskan padanya jika hal itu akan sering terjadi ketika mendekati persalinan. Karena ini kehamilan pertamanya, persalinan bisa terjadi lebih cepat atau bahkan lebih lama dari perkiraan.
Anindya kembali menata bunga tersebut ketika sudah merasa lebih baik.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Anindya sudah merasa sangat mengantuk, sehingga ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Persalinan yang tinggal menghitung hari membuatnya sulit tidur. Apalagi di malam hari. Sehingga jika dirasa sudah mengantuk, ia akan langsung tidur. Bahkan ia terkadang tidak menyadari kedatangan Adrian di sampingnya.
Adrian juga sepertinya sengaja tidak membangunkan dirinya karena tahu kesulitan istrinya itu.
*************
Sementara itu di sebuah bar di hotel mewah tengah kota.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda Tuan Adrian!" Seorang wanita muda berpakaian formal berniat menjabat tangan Adrian.
Wanita itu terlihat cantik dan elegan. Sepertinya ia adalah rekan bisnis Adrian jika dilihat dari gelagatnya.
Demi kesopanan, Adrian terpaksa membalas uluran tangan wanita itu. Walaupun tanpa senyum sedikitpun di wajahnya yang terlihat datar.
Romi mencoba sekuat tenaga menahan senyumnya ketika memperhatikan sikap atasannya itu yang terlihat seperti sedang berhadapan dengan virus. Sebisa mungkin menghindarinya.
"Sama-sama, nona! Nantinya asisten saya Romi yang akan melakukan pembahasan lebih lanjut dengan anda."
"Baiklah tuan! Selamat malam." pamitnya lalu pergi dari hadapan Adrian bersama dengan sekertaris nya.
"Kenapa kau menjadwalkan pertemuan seperti ini di hotel? Semalam ini pula. Apa tak bisa dilakukan di kantor saja?" keluh Adrian pada Romi setelah kepergian mereka.
"Maafkan saya, tuan!" Romi tampak pasrah.
"Kita pulang, tuan? " tanya Romi kemudian.
"Apa kau pikir aku mau menginap disini?" Adrian tampak kesal.
"Baiklah, tuan!"
Di perjalanan suasana tampak sunyi. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang sedang berjalan di atas trotoar. Wajar saja karena ini sudah hampir tengah malam.
Adrian tampak melonggarkan ikatan dasinya yang serasa mencekik lehernya seharian ini.
Ia juga membuka dua kancing kemeja yang menutupi lehernya. Lalu menyandarkan kepalanya di kursi penumpang yang ia duduki.
Rasanya hari ini ia sangat lelah dengan setumpuk pekerjaan yang sepertinya tiada habisnya.
Ia juga tak sempat menelpon Anindya untuk melihat apakah wanita itu masih marah atau tidak padanya.
Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Melihat apakah Anindya sudah tertidur atau belum. Sebenarnya ia sudah bisa menebak bahwa wanita itu pasti sudah tertidur pulas. Ia hanya berharap bisa melihatnya menyambutnya.
"Dia sudah tertidur!" ucapnya ketika melihat wanita itu tengah tertidur pulas dengan posisi memunggunginya.
__ADS_1
Adrian hanya tersenyum sembari menghela nafas. Ia tahu pasti bagaimana sulitnya Anindya mendapatkan kualitas tidur yang baik beberapa bulan belakangan ini. Apalagi saat ini. Beberapa hari menjelang persalinannya.
Tapi syukurlah jika ia bisa tidur pulas malam ini. Adrian lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum tidur.
Beberapa saat kemudian setelah Adrian selesai mandi dan berpakaian, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Ia tadinya ingin memeluk Anindya, namun ia merasakan sesuatu membasahi ranjangnya. Ia lalu kembali duduk dan meraba-raba sprei yang basah tersebut.
"Kenapa sprei nya basah? Apa Anindya mengompol? " tanyanya heran.
Ia terpaksa membangunkan Anindya yang sedang lelap.
"Sayang! Sayang! Bangunlah!" Ia mengguncang bahu Anindya perlahan agar tak mengejutkannya.
Setelah panggilan beberapa kali, Anindya terbangun.
"Kau sudah pulang? Ada apa membangunkan ku? Apa kau lapar? Sebentar biar ku siapkan makanannya." Anindya hendak beranjak dari ranjang, namun Adrian mencegahnya.
"Tidak, sayang! Aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin mengatakan jika kasurnya basah. Apa kau mengompol? Maaf sebelumnya, sayang! " jelas Adrian.
"Mengompol apanya? Apa kau pikir aku bayi. Kau ini mengigau ya? " tanyanya bingung karena baru sadar.
"Tidak, sayang! Coba pegang sprei nya! Itu sangat basah!" perintahnya.
Anindya lalu melihat kasurnya yang ternyata sangat basah. Tetapi ia sama sekali tidak merasa buang air kecil di sana. Lalu pakaiannya juga basah.
"Sayang! Aku tidak mengompol." bantah Anindya.
"Lalu ini air apa?" tanya Adrian heran.
Mereka berdua terlihat bingung.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1