
"Aku tidak mengompol, sayang!" Bantah Anindya ketika melihat kasur yang basah.
"Jika kau tidak mengompol, lalu kenapa kasurnya bisa basah?" Tanya Adrian bingung.
Anindya juga terlihat bingung.
"Baiklah! Ayo! Aku bantu kau mengganti pakaian!" Ajak Adrian membantunya berdiri.
Anindya beranjak perlahan turun dari ranjang. Namun ketika ia berjalan beberapa langkah, perutnya kembali terasa sakit.
Ia mengerang kesakitan hingga membuat Adrian panik dan cemas.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?" Tanya pria itu cemas.
Anindya mengangguk sambil meringis menahan sakit.
Adrian lalu berteriak memanggil Arkan dan juga yang lainnya bergantian hingga seseorang masuk ke dalam kamar.
Pertama Sofia dan Anne yang masuk ke kamar. Lalu di susul Zein dan juga Arkan.
"Ada apa, kak?" Tanya Arkan bingung.
"Anindya tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Lalu ia juga mengompol. Coba kau periksa apa yang sebenarnya terjadi. " jelas Adrian pada adiknya itu.
"Aku tidak mengompol, Adrian! Sudah berapa kali ku katakan padamu!" Jelas Anindya kesal bercampur malu karena pria itu mengungkit hal tersebut di hadapan seluruh keluarganya.
Apalagi ada bibi Rossa di sana yang baru saja datang.
"Aku tidak begitu mengerti tentang kehamilan, kak. Tetapi.. biar aku lihat dulu!" Ucap Arkan.
"Tunggu dulu, Arkan!" sela Rossa.
Wanita itu lantas mendekati Anindya dan melihat air yang membasahi kasur tersebut.
"Sepertinya ini bukan basah karena mengompol. Tetapi karena air ketuban Anindya yang sudah pecah. Bibi rasa kau akan melahirkan Anindya!" Jelas Rossa.
"Apa melahirkan?Sekarang?Apa yang harus kita lakukan? Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!" ucap Adrian panik.
"Tenanglah, kak!" Arkan berusaha untuk menenangkan kakaknya tersebut.
"Apanya yang tenang! Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Anindya dan anakku. Ayo! Kita ke rumah sakit sekarang!" paksanya tak karuan.
"Kita pasti akan ke rumah sakit. Tapi pertama-tama tenangkan dirimu dulu! Jika kau panik seperti ini, bagaimana kau akan mendampingi kakak ipar nanti. Bahkan kakak ipar lebih bersikap tenang darimu." jelasnya.
Adrian lalu menatap ke arah Anindya yang memang terlihat lebih tenang darinya. Wanita itu tampak menahan senyumnya sedari tadi ketika melihat Adrian yang kalang kabut.
__ADS_1
"Ibu Sofia juga bibi! Tolong bantu kakak ipar untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu! Usahakan jangan biarkan kakak ipar bergerak terlalu banyak." Arkan mulai memberi intruksi kepada kedua wanita paruh baya tersebut.
Mereka segera melakukan apa yang di minta Arkan.
"Anne! Kau bantu siapkan perlengkapan kelahiran yang akan di bawa ke rumah sakit. " pintanya pada Anne.
Anne segera mengambil koper untuk memasukkan perlengkapan tersebut.
"Aku akan segera menelpon ambulans! Kita tidak bisa membawanya dengan mobil biasa karena ketubannya sudah pecah." jelas Arkan sambil mengambil ponselnya.
Sementara Adrian berusaha untuk menenangkan dirinya di sisi Anindya.
****************
Rumah sakit kota.
Zein dan yang lainnya tampak cemas ketika menunggu di depan ruang persalinan.
Hanya Adrian yang mendampingi Anindya di dalam ruangan. Pria itu tampak cemas dan panik di dalam sana.
"Bagaimana keadaan Anindya, dokter?" tanyanya pada dokter wanita yang memeriksa Anindya.
Dokter tersebut memeriksa pembukaan Anindya dan kondisi bayinya setelah ketubannya pecah lebih dahulu.
"Pembukaannya masih dua centimeter, tuan! Tetapi kondisi bayinya sangat normal. Posisi kepala bayinya juga sudah masuk ke panggul. Nyonya Anindya sudah siap melahirkan secara normal. Tetapi karena ketubannya pecah lebih awal dan pembukaannya masih sedikit, kita akan memberikan suntikan induksi untuk mempercepat pembukaannya." Dokter itu menjelaskan dengan detail kondisi Anindya.
"Tapi... istri saya akan baik-baik saja, kan?" tanya Adrian cemas.
"Ia akan baik-baik saja, tuan! Istri anda sangat kuat. Jadi jangan cemas, tuan. Anda juga harus kuat agar bisa menenangkan istri anda. Istri anda sangat memerlukan anda saat ini, tuan. Coba anda lihat! Istri anda sedang tersenyum bahagia saat ini. Semua akan baik-baik saja, tuan. " Dokter itu berusaha untuk menenangkan Adrian yang sedari tadi terlihat cemas.
"Baiklah! Aku mengerti, dokter! Terima kasih." Ia membelai kepala Anindya dengan lembut.
"Baiklah! Nanti saya akan kembali lagi untuk melihat pembukaan Nyonya!" ucapnya lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Kau baik-baik saja, sayang? Apakah sakit sekali? Apa tidak sebaiknya melakukan operasi saja untuk mengeluarkan bayinya?" pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
Adrian sepertinya tak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ketakutannya kali ini persis sama seperti saat ia mendengar kematian kedua orangtuanya.
"Aku baik-baik saja, sayang! Setidaknya aku masih bisa menahan rasa sakitnya. Aku ingin melahirkan secara normal saja. Lagipula dokter juga sudah mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Aku bisa melahirkan secara normal. Jadi aku tidak ingin di operasi. Tenanglah, sayang! Aku dan anak kita akan baik-baik saja. Kau akan segera menjadi seorang ayah. Kendalikan dirimu! Oke? " jelas Anindya mencoba untuk membuatnya tenang.
"Baiklah!" Adrian tampak berusaha menenangkan dirinya.
Beberapa jam kemudian...
Hari sudah menjelang pagi. Namun pembukaan Anindya masih belum lengkap. Ia sudah di beri suntikan induksi agar mempercepat pembukaannya. Dan kini sakit yang ia rasakan jauh lebih sakit dari sebelumnya. Ia berusaha untuk tidak berteriak, namun usahanya sia-sia. Ia mengerang cukup kuat ketika merasakan kontraksi. Dan Adrian mulai kembali cemas. Namun ia tetap mencoba untuk mengendalikannya.
Ia selalu berada di samping Anindya. Membantunya untuk kuat melewati segalanya. Sementara keluarganya yang lain mendoakannya dari luar ruangan.
__ADS_1
Terutama Zein. Pria baya itu tak hentinya memanjatkan doa untuk keselamatan cucu menantu dan calon cicitnya itu.
***********
Oek..... oek... oek... (suara tangisan bayi).
Suara tangisan itu menggema di seluruh ruangan. Seorang perawat tampak menggendong bayi lucu itu dan memindahkannya ke atas sebuah meja untuk di bersihkan dan di periksa.
Seorang bayi lelaki yang lucu juga tampan terlahir dengan sehat dan sempurna.
Adrian tampak tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Bagaimana Anindya berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati mereka agar terlahir dengan selamat.
Ia rasanya tak bisa mengungkapkan hal itu dengan kata-kata. Ia hanya bisa menciumi wajah istrinya dengan rasa bahagia.
"Terima kasih sudah berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu." ucapnya senang.
Anindya yang masih kelelahan hanya mampu tersenyum.
****************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1