
“Aku tidak menangis karena kita terpisahkan oleh jarak dan waktu. Karena selama kita masih berbagi langit yang sama dan menghirup udara yang sama, kita masih akan terus bersama.”
–Donna Lynn Hope
“Kamu terlalu jauh untuk dapat kurengkuh dalam peluk, tapi terlalu dekat untuk kucintai dengan seluruh hatiku.”
– Heraline
❤
Keesokan harinya.....
"Anne! Aku punya sesuatu untukmu. " ucap Anindya ketika ia melihat Anne yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.
"Ayo ikut aku! " ajaknya kemudian sambil menarik tangan wanita itu.
Ia mengajaknya ke dalam kamarnya.
"Kenapa kau mengajakku ke kamarmu? Suamimu bisa marah padaku nanti." tanyanya ragu.
"Tenang saja. Dia tidak akan marah.Ayo!" ajaknya.
Anindya menarik Anne hingga masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta Anne untuk duduk di atas sofa. Anindya lalu membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan beberapa gaun dari dalam sana. Gaun itu belum pernah dipakai sama sekali olehnya.
Ia lalu memberikan gaun itu pada Anne. Anne tentu saja merasa heran.
"Untuk apa kau memberikan gaun mu padaku?" tanya Anne.
"Tentu saja untuk kau pakai. Aku tidak mungkin menyuruhmu untuk menjualnya. Ayo pakai!" perintahnya.
"Iya aku tahu. Tapi untuk apa kau tiba-tiba memintaku untuk memakainya. Apa ada acara yang penting?"
"Ck! Sudahlah! Pakai saja! Jangan banyak tanya. Ayo cepat!" perintahnya tak sabar.
Anne tampak pasrah. Ia mulai mencoba gaun itu satu persatu. Anindya memilih sebuah dress berwarna kuning yang terlihat sangat pas dikenakan oleh Anne.
"Lalu? Apa yang harus ku lakukan?" tanyanya penasaran.
"Menunggu seseorang datang untuk menjemputmu." jawabnya yang semakin membuat Anne penasaran.
"Anindya, berhenti membuat teka-teki. Katakanlah padaku ada apa sebenarnya. Jangan membuatku penasaran."
"Maaf, Anne sayang! Ini kejutan untukmu. Aku tak bisa mengatakannya sekarang. Tunggu saja, oke! Ayo! Kita keluar!" ajaknya.
Anne lagi-lagi pasrah. Ia mengikuti Anindya.Ia hanya berpikir mungkin ini karena kehamilannya yang membuat Anindya terkadang bersifat aneh.
Namun ia sama sekali tak menduga bahwa di luar, Zein dan yang lainnya juga sedang menunggu di sana. Mereka tampak senang.
*Sepertinya memang ada yang aneh*. batin Anne.
"Kenapa mereka semua ada di sini, Anin?" tanya Anne.
"Mereka hanya ingin melihatmu!" jawabnya.
__ADS_1
"Anindya!" serunya.
"Ssstttt!" sahut Anindya menyuruhnya diam.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sport berwarna silver yang sangat familiar bagi Anne berhenti di sana. Itu mobil yang biasanya digunakan Arkan.
Dan benar saja, tak berapa lama kemudian pria itu keluar dari dalam mobil dengan setelan jas lengkap. Ia terlihat rapi dan tampan. Anne tampaknya semakin cemas dan was-was.
"Kau sudah siap?" pria itu bertanya sambil tersenyum pada Anne.
"Ehm... iya!" ia tampak heran.
"Ayo! Aku ingin membawamu ke suatu tempat." ajaknya.
"Kemana?" Tanya Anne bingung.
"Nanti kau juga akan tahu? Ayo!" ajaknya.
Anne mengerutkan keningnya karena ketidaktahuan dirinya atas tingkah aneh para penghuni rumah ini.
Namun ia malas untuk bertanya lagi karena tahu jika ia tak akan mendapat jawaban apapun dari mereka. Ia hanya bisa mengikuti ajakan Arkan.
Arkan berpamitan pada yang lainnya sebelum pergi membawa Anne.
Mobil itu melesat seketika menjauhi rumah besar itu.
"Terima kasih, kakek!" ucap Anindya setelah Arkan dan Anne pergi.
"Iya!" Anindya tampak tersenyum.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sebuah bukit di tengah kota.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua orang tampak aneh?" ia bertanya pada Arkan ketika tiba di sana.
"Kau akan segera tahu! Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya pada Anne.
Anne dengan ragu meraih tangan itu.
Arkan membawanya ke puncak bukit. Pemandangan kota pada sore ini tampak sangat indah jika dinikmati dari atas bukit. Jika dilihat pada malam hari mungkin akan lebih indah.
"Lalu?" tanya Anne.
"Tunggulah sebentar lagi." pinta Arkan.
Satu jam kemudian....
Dua jam kemudian....
..........
__ADS_1

Matahari mulai terbenam di sisi barat kota. Terlihat indah jika di lihat dari sini. Anne tanpa sadar menikmati saat itu. Ia tiba-tiba saja melupakan rasa penat setelah menunggu beberapa jam.
"Cantik sekali! " puji Anne kagum.
"Sama seperti dirimu!" ucap Arkan sambil menatap Anne.
Anne terlihat salah tingkah. Wajahnya tiba-tiba bersemu merah. Ia sesegera mungkin mengalihkan topik pembicaraan.
"Ehm... jadi kenapa kau mengajak... " ucapannya terhenti ketika Arkan menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Ssttt... lihatlah ke depan sekarang!" perintahnya.
Anne yang penasaran langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan Arkan.
Ia lalu terdiam. Menatap tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Cahaya lampu yang telah menyala di setiap sudut kota. Namun di tengahnya ada beberapa lampu jalan yang padam. Membentuk sebuah huruf yang terangkai menjadi beberapa kata. "I love U". Walaupun Anne tidak tahu pasti itu ditujukan untuk siapa.
" Apa maksudnya ini, Arkan? A-aku tidak mengerti? " tanya Anne bingung.
"Aku mencintaimu, Anne! *I love you*. Kata itu ditujukan untukmu." Ucap Arkan yakin.
Anne lagi-lagi terdiam. Ia terlalu terkejut untuk mendengarnya.
"Apa maksudmu? Kau tidak sedang bercanda, kan? Karena jika kau hanya bercanda, itu sungguh tidak lucu." ucap Anne.
"Aku tak pernah main-main jika menyangkut hatiku, Anne! Aku benar-benar mencintaimu. Apa kau tidak percaya?"
"Tapi... kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu kepadaku?"
"Karena aku sudah yakin dengan perasaanku."
Suasana kembali hening. Keduanya tampak diam dan hanya saling menatap satu sama lain.
"Aku... !" Anne tak bisa berkata-kata.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
\*
\*
\*
\*
\*
Semoga bisa up tiap hari ya. Terima kasih selalu support dan nungguin kelanjutan ceritanya ya.
❤❤
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕