My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kehamilan Anindya.


__ADS_3

Seisi rumah tampak senang ketika mengetahui kehamilan Anindya. Terutama Zein. Pria baya itu tampak sangat bahagia hingga ia menangis haru.


"Kakek! Berhentilah menangis! Anindya bukannya sedang sakit. Ia sedang hamil." tegur Adrian.


Zein lalu tertawa sambil menghapus air matanya. "Kakek hanya terlalu senang mendengarnya!" ucapnya.


" Kakek!" seru Anindya lalu memeluk pria baya tersebut.


Rossa juga mengucapkan selamat padanya. Ia memeluk Anindya dengan erat. Anindya merasa jika ada sesuatu yang salah dengan sikap wanita itu kepadanya. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunjukkan kebahagiaan. Melainkan sebaliknya, kesedihan.


Tetapi kenapa? Apa yang membuatnya begitu sedih?


"Sudah! Sudah! Nanti kalian bisa memberikannya selamat. Sekarang biarkan Anindya beristirahat terlebih dahulu. Ia pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang." ucap Adrian.


Adrian lalu mengantarkannya ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Kau mau kemana?" tanyanya ketika melihat Anindya berjalan menjauhi ranjang.


"Aku mau mandi terlebih dahulu, tubuhku terasa sangat lengket." jelasnya sambil berjalan ke kamar mandi.


Adrian mengikutinya ke kamar mandi.


"Hei! Kau mau apa?" tanyanya heran.


"Dokter bilang kau tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat. Jadi aku akan membantu mu." jelasnya.


"Berat apanya?Aku hanya ingin mandi!" bantahnya.


"Mandi akan nembuatmu lelah. Jadi aku akan memandikanmu. Ayo!" Adrian lalu mengangkat tubuhnya.


"Adrian! Bukankah dokter melarang kita berhubungan sementara ini?" Ia mencoba untuk melindungi diri karena mengira Adrian tidak hanya akan mandi jika sudah berdua dengannya.


"Berhubungan apa? Aku hanya akan membantu mu mandi. Jangan berharap lebih. Oke!"


"Hei! Siapa yang.... aku tidak... " Ia tampak serba salah.


Akhirnya ia pasrah dan membiarkan Adrian melakukan sesuka hatinya.


****************


"Ada apa bibi?" tanya Adrian pada Rossa ketika tiba di ruangan kerjanya.


Wanita paruh baya itu mengajaknya untuk membicarakan sesuatu di ruang kerjanya.


Sebenarnya ia sudah bisa menebak ke arah mana pembicaan ini. Tetapi Ia ingin mendengar langsung dari mulut wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.


"Bibi tadinya ingin bicara denganmu juga Anindya. Tetapi mendengar kehamilannya, bibi memutuskan untuk bicara denganmu saja. " Ia terdiam sejenak. Lalu menghela nafas panjang. "Paman mu..." Ia mulai terisak.


"Ada apa bibi? Tenangkan diri bibi dahulu! Ada apa dengan paman?" tanyanya penasaran.


Rossa mulai menceritakan semuanya. Di mulai dari tes DNA hingga ancaman yang di berikan Rian padanya.

__ADS_1


"Tolong bibi, Adrian! Hanya kau yang bisa menolong bibi dan Clarissa." Ia tampak sesenggukan menahan tangis.


"Aku ingin bertanya pada bibi, apa bibi tahu jika sebelumnya paman pernah menikah dan punya anak?" tanya Adrian.


"Tidak. Bibi sama sekali tidak mengetahuinya. Pada saat itu Rian mengaku jika dirinya masih lajang dan sama sekali belum pernah menikah. Karena alasan itulah yang membuat bibi bersedia menikah dengannya." jelasnya.


"Baiklah! Untuk sementara waktu bibi sebaiknya tinggal di sini. Bibi juga bisa menemani Anindya dan berbagi pengalaman semasa hamil kepadanya. Ia sudah lama tidak mendapatkan perhatian dari ibunya. Mungkin kehadiran bibi bisa sedikit mengobati rasa rindunya. Bibi tidak keberatan, kan?"


"Tidak Adrian. Bibi sama sekali tidak keberatan. Tetapi, apa Anindya tahu jika Rian adalah ayahnya?"


"Ia sudah tahu. Aku juga sudah mengetahuinya. Tetapi Anindya memintaku untuk merahasiakan hal ini dari siapapun termasuk kakek. Jadi, Bibi juga harus merahasiakan masalah ini dari kakek dan Anindya untuk sementara waktu. Mengingat kondisi keduanya yang tidak memungkinkan."


"Bibi mengerti! Tetapi jika Anindya mengetahui hal ini nantinya, apa dia tidak akan membenci bibi? Bagaimanapun juga bibi lah yang sudah menyebabkan Rian meninggalkan mereka." wanita paruh baya itu kembali meneteskan air matanya.


"Anindya bukan tipe wanita yang pendendam. Ia bahkan selalu berusaha untuk menyimpan masalahnya seorang diri karena tak ingin orang lain terbebani dengan masalahnya.Terkadang aku kesal dengan sifatnya yang seperti itu. Bibi tak perlu cemas. Anindya tidak akan pernah membenci bibi."


"Terima kasih Adrian!"


****************


Anindya terbangun ketika merasa seseuatu memaksa keluar dari tenggorokannya. Ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan kembali isi perutnya.


Padahal pagi tadi ia hanya mengisi perutnya dengan sedikit makanan. Dan kini Ia harus memuntahkan kembali makanan tersebut dengan paksa.


Saat ini baru pukul sebelas siang. Rasanya ia baru saja tertidur sejam yang lalu.


Anindya tampak berkumur dan membasuh mukanya. Ia masih merasa mual tetapi tidak ingin muntah lagi. Ia sejenak memperhatikan tampilan wajahnya melalui pantulan kaca wastafel.


Tetapi Ia berusaha untuk menikmatinya karena itu bagian dari proses kehamilannya. Bayinya sedang bertumbuh di dalam tubuhnya.


Ia tiba-tiba jadi teringat pada ibunya. Dulu ibunya pasti juga mengalami hal seperti ini ketika mengandung dirinya. Setidaknya saat ini ia bisa merasakan apa yang dulu dirasakan ibunya saat itu.


Tetapi... apakah pada saat itu ayah selalu berada di sisi ibu? Menemaninya di saat-saat seperti ini?


Brakk.....


Anindya terkejut ketika seseorang membuka pintu kamar mandi dengan kasar.


"Adrian! Kau mengagetkan aku!" serunya ketika melihat bahwa orang yang membuka pintu tersebut tak lain adalah Adrian.


"Maaf, sayang! Aku pikir kau kenapa-kenapa karena tidak menjawab panggilan ku." jelas Adrian sembari menghampirinya.


"Kau ini!" keluhnya.


"Kau kenapa? Apa muntah lagi? " tanyanya mulai cemas. "Wajahmu juga terlihat pucat. " sambungnya.


"Iya.Aku hanya sedikit muntah dan.... kini merasa lapar." jawabnya sembari mengelus perutnya.


Adrian tersenyum lalu mengecup keningnya.


"Ayo! Aku akan meminta ibu Sofia untuk membuatkan sesuatu untuk mu. Atau kau mau menunggu makan siang selesai saja. Aku rasa sebentar lagi akan selesai. Atau kau bisa memakan sesuatu untuk mengganjal perutmu." sarannya panjang lebar.

__ADS_1


"Aku tunggu makan siang saja." ucapnya.


"Baiklah! Ayo! " ajaknya.


****************


"Minumlah ini Anindya! Ini bisa membantu mengurangi rasa mual yang kau alami." Rossa memberikan segelas air hangat dengan irisan buah lemon di dalamnya.


Anindya sebenarnya merasa sedikit canggung ketika berdekatan dengan Rossa. Mungkin karena mengingat jika Rossa itu tak lain adalah ibu tirinya. Orang yang mungkin menjadi penyebab ia dan ibunya di usir dari rumah.


Tetapi ia mungkin tak bisa menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu di depan Adrian dan kakek yang saat itu sedang berada di satu ruangan dengannya. Karena bagaimanapun Rossa adalah bibinya Adrian. Salah satu keluarganya juga.


Ia selalu merasa serba salah ketika bersikap.


Sambil tersenyum, ia menerima air minum pemberian Rossa tersebut lalu meminumnya.


"Terima kasih, bibi! " ucapnya canggung.


Rossa lalu ikut duduk bersama mereka.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2