
Suasana rumah tampak sedikit sibuk. Sofia, Anindya dan beberapa pelayan tampak sedang menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa ke pantai.
Sementara Adrian dan Arkan sedang berada di luar. Mereka sedang mengobrol bersama Zein di teras rumah.
Setelah memastikan semua persiapan selesai, mereka memutuskan untuk pergi. Namun sebelumnya mereka menunggu kedatangan Anne yang sedang di jemput oleh supir.
Beberapa saat kemudian, Anne datang. Anindya menyambutnya dan memperkenalkannya pada semua keluarga. Termasuk kepada Arkan, adik iparnya.
Arkan dan Anne merasa saling kenal satu sama lainnya.
"Kau.. wanita yang kemarin, kan?" tanya Arkan memastikan.
"Iya tuan. Aku adalah wanita itu." jawab Anne.
Mereka saling berjabat tangan. Namun, Arkan sungguh tidak mengerti dengan wanita yang sedang berada di hadapannya itu. Bagaiamana kakak iparnya bisa berteman dengan seseorang yang bekerja di klub malam.
Namun, ia mengabaikan hal itu. Mereka lalu pergi begitu semua orang sudah berkumpul.
*
Perjalanan memakan waktu dua jam lebih. Adrian mengajak mereka ke pantai yang biasanya ia datangi. Ini pertama kalinya ia menunjukkan tempat favoritnya itu pada keluarganya, kecuali Anindya. Karena ia sudah pernah mengajaknya.
Sesampainya di sana, seperti yang diduga bahwa hari ini pantai lumayan ramai dikarenakan adalah akhir pekan.
Supir dan dua orang pelayan tampak menurunkan bawaan mereka. Anindya dan Anne juga ikut membantu. Arkan dan Adrian tampak sedang memasang tenda, agar kakeknya bisa beristirahat jika pria baya itu kelelahan nantinya.
Sementara Zein tampak bahagia melihat kondisi keluarganya yang seperti ini. Ini pertama kalinya mereka berkumpul kembali setelah kedua cucunya dewasa dan punya kesibukan masing-masing. Ditambah lagi ia punya anggota keluarga baru kini. Rasanya lengkap sudah. Ia senang karena sudah menepati janjinya pada mendiang sahabatnya.
Jikalau Tuhan memanggilnya sekarang, dia benar-benar sudah siap karena semua tugasnya sudah ia jalankan dengan baik.
"Kakek sedang memikirkan apa?" tanya Anindya mengalihkan pikiran zein.
"Tidak. Kakek hanya senang melihat kalian berkumpul seperti ini. Mungkin kita harus sering-sering berkumpul seperti ini jika ada waktu." jelasnya sambil tersenyum.
"Itu ide yang bagus kakek!" seru Anindya.
Adrian tampak memperhatikan istri dan kakeknya yang sedang mengobrol dari tempatnya. Ia tampak tersenyum melihat kedekatan mereka.
Ia jadi berpikir, seandainya saat itu ia menikah dengan Natasha, apakah kakeknya akan sebahagia saat ini atau malah sebaliknya.
Ia seketika membuang jauh-jauh pikirannya itu. Apa yang sudah terjadi, biarkanlah terjadi. Yang ia harus pikirkan hanyalah apa yang terjadi saat ini.
*
Sepertinya Anindya dan Anne sangat menikmati liburan mereka saat ini. Mereka tampak kegirangan berlarian di pantai. Rasanya sudah lama sekali mereka tak melepas penat seperti ini.
Dulu ketika masih sekolah, mereka sering bermain di pantai sepulang sekolah. Walaupun tidak bisa setiap hari karena Anindya masih harus bekerja sepulang sekolah.
Kini mereka bisa menikmatinya kembali.
"Apa kau senang?" tanya Anindya.
"Iya. Aku senang sekali. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku bermain seperti ini." jelasnya.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya. Saat tiba di kota ini, aku hanya fokus mencari pekerjaan sampingan dan juga fokus pada kuliahku. Untungnya pihak universitas juga memberiku beasiswa penuh hingga aku lulus kuliah. Walaupun dengan syarat nilaiku harus bagus. Setidaknya itu meringankan bebanku selama kuliah."
"Wajar saja jika kau bisa mendapatkan beasiswa. Saat di sekolah dulu kau adalah salah satu murid terpintar, bukan?"
Anne tersenyum pada Anindya. "Bukankah kau juga salah satunya. Kau murid terpintar di jurusanmu, bukan?"
"Iya kau benar!" sahut Anindya.
Tanpa mereka berdua sadari, dari sisi lain, dua pria tampan sedang memperhatikan mereka.
Adrian tentu saja sedang memperhatikan istrinya. Sementara Arkan, tampak memperhatikan Anne. Entah kenapa ia begitu penasaran dengan wanita itu.
Adrian sepertinya menyadarinya. Ia merasa adiknya itu sedari tadi memperhatikan teman istrinya itu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Adrian.
"Siapa yang kakak maksud?" tanyanya balik sambil mengerutkan keningnya.
"Tentu saja yang sedang kau perhatikan sedari tadi." jelas Adrian.
"Memangnya aku memperhatikan siapa?" tanyanya pura-pura tak mengerti.
"Jika kau menyukainya, kakek bisa membantumu." timpal Zein yang juga duduk di sebelah mereka.
Ia sedari tadi memperhatikan kedua cucunya itu.
"Ck... aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan." sanggahnya.
"Kakek ini bicara apa. Aku sedang melihat pantai. Itu saja." sanggahnya lagi.
"Iya baiklah! Kakek mengerti." Zein tersenyum melihat ekspresi cucu bungsunya itu.
Zein jadi terpikir satu hal ketika melihat teman Anindya itu. Mungkin wanita itu bisa berjodoh dengan cucunya itu.
****************
Tak terasa hari sudah siang. Mereka makan siang bersama karena sudah waktunya.
Anindya dan Anne sudah mengganti pakaian mereka yang basah dengan pakaian kering. Mereka tampak puas bermain air sejak tadi.
"Anne! Bagaimana dengan kuliahmu saat ini? Anindya banyak cerita tentangmu pada kakek." tanya Zein di sela-sela makan siang mereka.
"Ehm.. kuliah Anne berjalan dengan lancar kakek. Hanya saja semakin kesini terasa semakin sulit." jelasnya.
"Iya. Itu pasti karena pembahasannya pasti semakin berat." ucap Zein.
Ternyata dia seorang mahasiswa. batin Arkan.
"Jurusan apa yang kau ambil?" tanya Arkan.
"Jurusan psikologi, tuan!" jawab Anne.
"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja namaku." ucap Arkan.
__ADS_1
"Baiklah!"
"Jadi kau bekerja sambilan di klub sepulang kuliah?" tanyanya lagi.
"Iya. Saya bekerja di klub untuk membiayai hidup saya selama di sini." jelasnya.
"Oh begitu ya! Tapi kenapa kau memilih untuk bekerja di sana. Itu bukanlah tempat yang baik."
"Aku tahu. Tapi klub itu bukanlah klub sembarangan. Keamanan para pelayan terjaga di sana. Jadi aku tidak merasa cemas ketika bekerja di sana. Lagipula hanya di sana yang menerima mahasiswa sepertiku. Dan jam kerjanya yang fleksibel." jelasnya.
Arkan tampak menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makan siangnya kembali.
Sepertinya ia sudah salah paham pada wanita itu dengan berprasangka buruk padanya sebelum mengenalnya.
Anindya tampak memperhatikan mereka berdua dengan seksama. Mereka terlihat cocok jika menjadi sepasang kekasih.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1