My Dearest Wife

My Dearest Wife
Sakit kepala


__ADS_3

Arkan baru saja kembali dari kamar mandi. Ia mendengar keributan dari dalam ruangan yang mereka pesan. Tanpa pikir panjang, ia langsung masuk ke dalam. Suasana di dalam ruangan benar-benar kacau.


Ia melihat pelayan wanita tadi tampak terduduk di lantai dengan pecahan botol yang ada di dekatnya. Rambut pendeknya juga terlihat basah, seperti habis di siram. Wanita itu duduk di depan salah satu temannya dan juga kekasihnya.


"Ada apa ini?" tanya Arkan.


"Pelayan ini menumpahkan minuman di pakaian kekasihku. Aku hanya sedikit memberikan peringatan padanya." jelas pria itu pada Arkan.


"Apa seperti ini caramu memberi peringatan padanya?" Arkan tampak menahan emosinya.


Ia tak suka melihat seorang pria yang merendahkan seorang wanita seperti itu.


"Aku hanya menyuruhnya untuk menghabiskan sebotol minuman. Namun ia menolaknya. Sehingga membuatku kesal dan menumpahkan minuman itu ke atas kepalanya. Hanya itu saja. Seharusnya dia berterima kasih karena aku tidak melaporkannya pada atasannya. Jika tidak mungkin dia akan di pecat setelah ini." jelasnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Arkan terlihat semakin emosi. Tapi ia mencoba untuk bersabar. Ia tak ingin membuat keributan di sini.


"Hei kau! Bereskan semuanya dan segeralah keluar dari sini!" perintah Arkan pada wanita itu.


Wanita itu lalu segera membereskan botol minuman yang pecah itu.


"Apa yang kau lakukan Arkan? Kenapa kau malah menyuruhnya pergi? Aku belum selesai berurusan dengannya." tanyanya kesal.


"Ck. Sudahlah! Kita di sini untuk berpesta bukan untuk membuat keributan. Lagipula itu hanya masalah sepele. Untuk apa di besar-besarkan seperti itu." jawab Arkan mencoba untuk menenangkan situasi yang mulai panas.


"Tapi dia..."


"Sudah! Apapun yang kalian minum hari ini, aku yang akan bayar. Jadi nikmati saja semuanya. Oke!"


"Baiklah!" akhirnya pria itu mengalah dan melupakan semuanya.


Pelayan wanita tadi pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia tak lupa untuk berterima kasih pada Arkan sebelum pergi.


Arkan memperhatikan sekilas wajah wanita itu lalu mengabaikannya. Ia kembali melanjutkan pestanya dengan teman-temannya.


****************



Malam belum berakhir. Adrian baru saja kembali ke rumah. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya.


Ketika masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya itu sudah tidur. Anindya tampak menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sebelum mendekati istrinya, ia lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untung membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, ia lalu naik ke atas ranjang. Ia mendekat perlahan ke arah istrinya itu. Ia bahkan tak segan untuk mengganggu tidurnya.


"Beraninya kau tidur lebih dulu tanpa menungguku pulang." gumamnya.


Ia menelusuri setiap bagian wajahnya dengan bibirnya. Se inci demi se inci. Anindya tampak menggeliat. Namun, ia tidak bangun. Adrian tak menghentikan ciumannya. Ia lalu turun ke bagian leher hingga ke bagian dadanya yang terbuka.


Hingga akhirnya Anindya membuka matanya karena merasa terganggu dengan hal itu.


Ia kaget ketika melihat suaminya sudah berada di atas tubuhnya sambil bertelanjang dada. Hingga ia bisa melihat jelas otot tubuhnya yang sempurna.

__ADS_1


Pria itu sedang menatapnya sambil menyentuh bibir tipisnya.


"Ka... kau sudah pulang?" tanyanya.


"Iya. Dan aku mendapatimu sedang tidur. Aku tidak senang." jawabnya.


"Maaf! Perutku sedang sakit. Aku mungkin tertidur karena pengaruh obat yang ku minum." jelasnya.


"Perutmu sakit? Apa kau sudah pergi ke dokter? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanyanya cemas.


"Tidak. Ini hanya sakit bulanan. Jadi aku tidak perlu ke dokter." jelasnya namun sepertinya Adrian belum memahami maksud istrinya itu.


"Kau sakit setiap bulan? Apa kau punya penyakit kronis?" tanyanya semakin cemas bercampur bingung.


"Bukan. Ini hanya kram perut. Aku sedang menstruasi." jelasnya.


Adrian terdiam sesaat begitu mendengar hal itu. Padahal ia ingin sekali melakukannya. Namun sepertinya malam ini hingga beberapa hari ke depan, ia harus menahannya.


Ia tersenyum kecil. Anindya ikut tersenyum walau sebenarnya ia tak paham dengan maksud senyuman itu. Ia hanya suka ketika melihat Adrian tersenyum kepadanya. Pria itu terlihat tampan.


Adrian lalu mengecup keningnya. Anindya tampak memejamkan kedua matanya.


Ia lalu merebahkan tubuhnya di samping Anindya. Kemudian meminta Anindya untuk tidur di dadanya.


"Apa masih sakit?" tanyanya sembari mengelus kepalanya.


"Sudah sedikit berkurang." jawabnya.


"Baiklah! Tidurlah kembali." ucapnya.


****************


Arkan baru saja kembali pukul dua pagi. Ia lupa waktu karena pesta tadi.


Saat ia baru saja masuk ke dalam kamarnya, ia berpapasan dengan kakaknya yang baru saja turun ke bawah.


"Kau baru kembali?" tanyanya.


"Iya, kak! Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Sehingga aku jadi lupa waktu." jelasnya.


"Kau ini? Tapi.. kau tidak mabuk, kan?" tanyanya menyelidiki.


"Tidak, kak. Aku hanya minum soda saja. Jika aku mabuk, mungkin aku belum pulang saat ini." jelas Arkan.


"Bagus jika kau tahu menempatkan dirimu. Kau bukan lagi seorang mahasiswa. Tapi kau sudah menjadi seorang dokter. Kau harus ingat itu. Jangan merusak dirimu untuk hal-hal yang tak berguna seperti itu."


"Iya, kak! Aku selalu menjadikanmu panutanku selama ini. Kau juga selalu menghindari alkohol, kan? Karena mengingat hal itu, aku jadi menjauhinya mulai sekarang."


Arkan tidak tahu jika dirinya pernah menyentuh Alkohol sekali dan itu membuat dirinya tak karuan. Tapi untungnya itu hanya terjadi sekali dan tak akan terulang kembali untuk kedua kalinya.


Adrian tampak menggaruk kepalanya karena salah tingkah. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya sudah! Pergilah mandi lalu istirahat. Kau masih harus bekerja besok." ucap Adrian.

__ADS_1


"Iya kak. Tapi.. kenapa kakak juga belum tidur?" tanyanya.


"Aku belum bisa tidur. Aku mau membuat kopi dulu." jawabnya.


Bagaimana ia bisa tidur jika hasratnya tidak terpenuhi malam ini. Kepalanya terasa sakit hingga ia tak bisa memejamkan mata sedikitpun.


Ia harus mengalihkan pikirannya yaitu dengan pekerjaannya. Hanya itu saja yang bisa ia lakukan.


"Baiklah! Tapi kakak juga harus istirahat. Tidak baik jika kakak terus-menerus terjaga selarut ini. Kakek sudah mewanti-wantiku untuk memperingatkan kakak. Ia cemas padamu, kak!"


"Iya aku tahu. Aku selalu menjaga kesehatan ku. Jadi kau tak perlu cemas. Pergilah beristirahat. Aku akan tidur setelah meminum kopi."


"Baiklah kak. Aku duluan, ya!" pamitnya.


Arkan lalu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Adrian masuk kedalam dapur untuk membuat kopi.


Ia merasa sakit kepala.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Apa kalian suka dengan bab ini? Jika suka jangan lupa berikan


Like πŸ‘


komentar πŸ’¬


vote


dan rate 🌹ya.


jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati ❀ .


ThieaπŸ₯€πŸ₯€β€

__ADS_1




__ADS_2