
Adrian masih menatap pria baya yang kini masih belum sadarkan diri di hadapannya itu. Adrian hanya mampu menggenggam tangannya.
Kakek! Apa kau begitu menginginkan pernikahan ini?
Tiba-tiba, ia merasa gerakan dari tangannnya. Pria baya itu tampak membuka matanya perlahan-lahan.
"Kakek sudah sadar!" Adrian tampak senang sekaligus merasa lega ketika melihat pria baya yang disayanginya itu telah sadar.
Zein terlihat menyentuh masker oksigen yang ada dimulutnya. Ia berusaha untung membukanya. Namun, Adrian mencegahnya. Ia ingin meminta keputusan dari dokter terlebih dahulu.
Ia lalu menekan tombol untuk memanggil petugas rumah sakit.
Tak lama Samuel tiba di ruangan itu dengan dua orang perawat. Ia mulai memeriksa kondisi kakeknya. Samuel memastikan bahwa saat ini kondisinya sudah cukup stabil. Namun, pria berkacamata itu mengingatkan bahwa ia belum boleh diajak banyak bicara dahulu karena kondisinya yang baru saja sadar.
Adrian pun mengerti. Setelah Samuel pergi dan meninggalkan mereka berdua diruangan itu, Zein terlihat berusaha untuk berbicara dengan cucu tertuanya itu.
"Kakek! Jangan bicarakan apapun dulu. Jika kakek berniat membicarakan masalah pernikahan, kita bisa membahasnya nanti ketika kakek sudah benar-benar sehat. Sekarang beristirahatlah!" perintahnya.
Zein langsung terdiam dan menurutinya. Ia memegang wajah cucunya itu. Dengan wajah yang memelas, ia memandangnya. Adrian seakan bisa menebak apa yang sedang dirasakan kakeknya saat ini. Ia tampak menghela nafasnya dengan berat.
***********
Dua hari sudah Zein di rawat di rumah sakit. Anindya dan Sofia bergantian menjaganya karena Adrian tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Untuk sementara waktu, Anindya mengambil cuti dari kantor agar bisa menjaga Zein.
Hari ini giliran Anindya yang menjaganya. Ia baru saja menggantikan Sofia agar wanita paruh baya itu bisa beristirahat di rumah.
Wanita itu tampak sedang menyeka tubuh renta Zein dengan handuk kecil yang telah dibasahi dengan air hangat. Ia nampak tak canggung sesikitpun karena ia sudah menganggap Zein seperti kakek kandungnya sendiri.
"Sudah sayang! Sudah cukup. Terima kasih!" ucap pria baya itu padanya.
Anindya lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk kering dan memakaikan pakaian bersih padanya.
"Sekarang kakek sudah terlihat tampan. Aku yakin para perawat wanita akan terpesona saat melihat kakek." candanya sambil tersenyum setelah selesai menyisir rambut putihnya dengan rapi.
"Dasar anak nakal!" Zein memukul kepalanya perlahan sambil tersenyum.
Namun, seketika ia terdiam saat mengingat penolakan Anindya terhadap permintaannya kemarin.
"Ada apa kakek?" tanyanya setelah melihat perubahan raut wajah Zein.
__ADS_1
"Anindya! Apa kau menyayangi kakek?"
"Tentu saja kakek. Anin sangat menyayangi kakek. Seperti Anin menyayangi ibu dan juga nenek." jawabnya.
"Jika seperti itu, tidak bisakah kau memikirkannya sekali lagi?" tanyanya.
"Memikirkan apa kakek?" tanyanya bingung.
"Memikirkan permintaan kakek. Agar kau bersedia dinikahkan dengan Adrian."
Anindya langsung terdiam. Sebelumnya saat ia menolak permintaan Zein, ia hampir saja kehilangannya. Bagaimana caranya ia bisa menolaknya kembali. Ia takut jika pria itu akan kembali terkena serangan jantung.
Tapi, ia tak bisa menerimanya juga. Karena hal itu akan sangat menyiksanya. Bagaimana ia harus menjawabnya?
"Kakek! Anin.... " ia tak tahu harus berkata apa.
"Baiklah! Kau bisa memikirkannya terlebih dahulu. Tapi.. kakek ingin mengatakan sesuatu sebelum kau memikirkannya."
Anindya mengerutkan keningnya.
"Adrian pernah kecewa pada seorang wanita. Ia menggantungkan harapan yang besar pada wanita itu. Namun, saat ia baru ingin memulai kehidupan barunya, wanita itu sudah lebih dulu mengakhirinya. Ia sakit hati, ia marah, ia kecewa. Hingga akhirnya ia tenggelam dalam kesendiriannya. Kakek yakin jika ia tak akan pernah mau menikah sampai kapanpun."Zein menggenggam kedua tangan Anindya.
"Anindya, kakek ingin menjodohkanmu dengannya karena kakek menyayangi kalian berdua. Kakek yakin kau bisa membuatnya bahagia. Seumur hidupnya, ia tak pernah merasakan kebahagiaan. Sejak usia muda, saat seharusnya anak seusianya masih bersenang-senang dengan teman-temannya, ia justru dipaksa menanggung segala tanggung jawab yang ditinggalkan mendiang orangtuanya. Mengurus adiknya, membesarkan perusahaan, mempelajari bisnis. Ia harus mengurus segalanya seorang diri. Kakek ingin melihatnya bahagia. Mungkin kehadiranmu dirumah kami adalah sebuah pertanda bahwa kau ditakdirkan untuk Adrian. Tolong pikirkan Anindya! Hanya itu yang kakek harapkan darimu."
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan saja dulu. Anggaplah ini permintaan terakhir kakek. Kakek tidak tahu kapan Tuhan akan memanggik kakek. Kakek hanya berharap bisa melihat cucu-cucu kakek bahagia sebelum kakek pergi."
"Kakek! Jangan bicara seperti itu. Anin tidak suka. Anin tidak mau kehilangan orang yang Anin sayangi sekali lagi. Jadi tolong jangan pernah bicara seperti itu lagi, kakek!" Matanya terlihat berkaca-kaca namun ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Anindya!" seru Zein.
***********
Adrian kembali lebih cepat dari kantor hari ini. Ia langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan kakeknya.
Setibanya diruang perawatan kakeknya, ia tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam. Ia melihat kakeknya tengah berbicara serius dengan Anindya. Ia bahkan bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Kakeknya tampak meminta wanita itu untuk memikirkan tentang perjodohan mereka. Tampaknya pria baya itu sedang berusaha untuk membuat Anindya menyetujui permintaannya.
Zein sangat mengharapkan pernikahan ini terjadi. Ia kembali teringat pada perkataan Samuel tempo hari padanya sewaktu pria itu mengajaknya bicara di ruangannya.
Apa ia harus menerima pernikahan ini demi kakeknya? Namun, apa ia bisa hidup bersama wanita yang tidak disukainya? Arrghhh.. memikirkan masalah ini lebih berat seratus kali lipat dari pada memikirkan perusahaan.
__ADS_1
Ia lalu pergi dari sana sebelum ada orang lain yang melihatnya.
Ia pergi kesuatu tempat untuk memenangkan pikirannya. Suatu tempat di pinggiran kota. Biasanya ia selalu kesana jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Perjalanan itu memakan waktu sejam jika ditempuh dengan menggunakan mobil. Jalanan hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini bukanlah akhir pekan. Biasanya jika akhir pekan jalanan ini akan sangat ramai bahkan sampai menimbulkan kemacetan yang parah.
Akhirnya ia sampai ke tempat yang ia tuju. Sebuah pantai yang terlihat bersih dan tenang. Sangat pas sekali jika tempat ini dijadikan sebagai pelarian dari hiruk pikuk keramaian kota.
Adrian keluar dari mobilnya sambil membawa beberapa kaleng minuman soda yang tadi sempat di belinya di mini market sebelum datang ke tempat ini.
Ia duduk di atas pasir pantai dengan beralaskan jas yang tadi dipakainya. Rasanya sangat tenang sekali. Apalagi ia hanya seorang diri disana tanpa ada pengunjung yang lainnya.
Ia membuka satu kaleng minuman soda itu dan meneguknya. Ia tampak menghela nafasnya. Ia memandang lurus kedepan. Laut yang tenang dengan deburan ombak yang tidak terlalu besar sungguh membuatnya merasa damai.
Ia berharap setelah pulang nanti, akan ada keputusan yang akan diambilnya. Entah itu baik untuk kakeknya ataupun untuknya sendiri.
***********
*
*
*
*
*
*
*
*
Selamat membaca. Semoga suka ya dengan kelanjutan ceritanya.
Jangan lupa tetap sertakan like, komentar, rate dan vote ya. Itu adalah penyemangatku. Jika ada saran atau kritik jangan ragu untuk komentar ya.
Terima kasih buat pembaca yang udah kasih dukungannya buat aku.
Salam sayang dariku 💕
__ADS_1