
"Tu... tuan! Kau mau apa? Apa kau marah padaku?" tanyanya cemas.
Pria itu menatap wajah Anindya dalam-dalam. Memperhatikan bagian wajahnya dengan seksama. Entah apa yang terjadi padanya saat ini. Ia memang marah, namun kemarahannya itu malah ia lampiaskan dengan cara lain.
Ia... mencium bibir tipis wanita yang sedang di tahannya itu. Anindya membulatkan matanya karena kaget. Pria itu sudah kehilangan akal.
Anindya mencoba untuk melepaskannya dengan mendorong tubuh tegap pria itu dengan kedua tangannya, namun ia kalah tenaga dengannya. Adrian malah merengkuh pinggangnya dengan sebelah tangannya agar wanita itu semakin menempel padanya. Sementara tangan satunya menekan belakang kepala Anindya agar semakin memperdalam ciuman mereka.
Anindya tak bisa bernafas. Adrian tak memberikan jeda sedikitpun pada wanita itu. Ia terlihat begitu arogan dan mendominasinya. Anindya tampak memejamkan matanya sambil terus berusaha untuk meronta berharap jika pria itu segera melepaskannya. Air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
Anindya meremas pakaian Adrian dengan kedua tangan yang ia letakkan di dada bidang pria itu. Berharap jika Adrian menghentikan tindakan yang ia lakukan saat ini.
Karena ia yakin, ketika pria itu sadar, yang tersisa hanyalah penyesalan saja.
"Hentikan!" pinta Anindya ketika bibirnya lolos dari bekapan bibir pria itu.
Adrian seketika sadar dengan apa yang sudah ia lakukan. Anindya tampak tersengal-sengal karena kesulitan bernafas. Wajahnya basah akibat air mata yang tak kunjung berhenti mengalir dari kedua matanya. Ini adalah ciuman pertamanya. Dan ia sungguh tak menduga jika ciuman pertamanya itu akan direnggut paksa oleh seorang pria yang sama sekali tak di cintainya.
Adrian melepaskan pelukannya. Wanita itu seketika terduduk lemas dilantai sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Sungguh menyakitkan baginya saat mendapatkan perlakuan seperti itu.
Sementara Adrian tampak berusaha mengatur nafasnya yang juga tersengal-sengal. Ia juga tak mengerti kenapa ia bisa begitu saja mencium wanita itu tanpa ampun. Apa yang sudah terjadi padanya. Ia marah namun bukan berarti ia bisa berbuat semaunya padanya.
Ia keluar dari rumah itu dan meninggalkan Anindya seorang diri. Tanpa maaf, tanpa sepatah katapun.
***************
Adrian berhenti di sebuah pantai. Ia rasa tempat itu adalah tempat yang pas untuk menenangkan dirinya. Perbuatan gila apa yang baru saja dilakukannya. Bisa-bisanya ia mencium paksa wanita itu begitu saja.
Ia terduduk di atas salah satu kapal nelayan yang menyandar di tepi pantai. Ia teringat kembali akan perbuatannya sambil mengusap kasar wajahnya dengan geram.
__ADS_1
Namun, entah kenapa semakin ia mengingatnya, itu malah membuatnya semakin menginginkan sesuatu yang lebih lagi darinya. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Semenjak datang ke desa ini, ia sudah berbuat sesuatu diluar kebiasaannya. Itu juga adalah ciuman pertamanya.
****************
Langit sudah terang. Adrian masih terlihat duduk di tempatnya. Ia tak beranjak dari tempat itu sedikitpun. Ia tak tidur semalaman karena merasa bersalah. Namun, ia tampaknya tidak berniat untuk meminta maaf pada wanita itu.
Ia lalu beranjak dari tempatnya. Namun, saat ia hendak pergi, seseorang menarik tangannya. Seorang wanita yang tak asing baginya.
Natasha.
"Lepaskan tanganku!" perintahnya dengan nada sinis sambil menatap wanita itu.
Natasha melepaskan tangannya. "Kau terlihat buruk pagi ini. Apa kau punya masalah dengan istrimu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Itu bukan urusanmu." jawab Adrian sinis.
"Kau pasti punya masalah dengannya, kan? Kau bisa bercerita padaku. Mungkin saja aku bisa memberikan saran padamu. Aku tahu jika kau perlu waktu untuk beradaptasi dengan istri yang tidak berada dalam status yang sama denganmu. Jika kau mau aku bisa mengajari istrimu itu agar bisa setara denganmu."
Natasha seketika terdiam. Ia tak menyangka jika ia akan mendengar jawaban seperti itu dari Adrian. Karena yang ia tahu, Adrian tidak pernah menyukai pernikahannya.
Adrian lalu pergi dari sana. Meninggalkan wanita yang pernah ia cintai itu seorang diri.
*
Adrian tiba di rumah Anindika. Awalnya ia ragu untuk masuk kedalam, mengingat bagaimana ia begitu saja meninggalkan Anindya setelah merampas paksa ciumannya. Tanpa minta maaf sebelumnya kepadanya.
Namun, akhirnya ia masuk juga ke dalam rumah itu. Pintu rumah itu sama sekali tidak terkunci. Ia lalu masuk dan mulai mencari keberadaan wanita itu di dalam. Namun Anindya tidak terlihat dimanapun. Ia membuka lemari pakaian, karena berpikir jika ada kemungkinan wanita itu melarikan diri darinya. Ternyata pakaian mereka masih tertata rapi di lemari. Itu artinya wanita itu masih ada di sini. Ia tidak melarikan diri.
Ia kemudian menebak jika wanita itu pasti berada di rumah ibu Sari. Karena hanya tempat itulah tujuannya di desa ini. Adrian lalu memutuskan untuk mandi. Ia berencana untuk membawwnya kembali ke kota sore ini. Sudah cukup segala kegilaan yang terjadi di sini. Ia takut akan berbuat sesuatu yang diluar nalarnya lagi terhadap Anindya. Hal itu juga untuk menghindari dirinya bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.
__ADS_1
****************
Anindya berada di sebuah pemakaman umum sejak kemarin malam. Semula ia ingin tidur di rumah bibinya, namun ia mengurungkan niatnya itu karena tak ingin wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu mengetahui apa yang telah terjadi dengannya.
Akhirnya ia memilih untuk pergi ke makam ibu dan neneknya. Itu lebih bisa menenangkannya. Ia benar-benar sakit hati terhadap pria yang kini sudah menjadi suaminya itu. Walaupun sebenarnya pria itu berhak melakukan hal itu padanya. Namun, masalahnya mereka tidak melakukannya karena cinta.
Apalagi Adrian pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meminta maaf padanya. Itu lebih menyakitinya lagi.
Saat itu rasanya, Anindya ingin lari sejauh-jauhnya dari pria itu. Namun, ia masih memikirkan perasaan Zein dan Lidya. Apa yang akan mereka pikirkan jika ia melarikan diri begitu saja.
Kenapa ia harus menjadi seseorang yang terlalu berperasaan. Hingga akhirnya ia terjebak dengan semua ini.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1