
Mungkin kami akan berpisah selama dua hingga tiga tahun. Dia mengatakan padaku jika ia bisa menunggu ku hingga aku berusia 30 tahun. Tetapi... apa itu mungkin? Apa ia serius dengan perkataannya? Dia pria yang mapan juga sangat tampan. Banyak wanita cantik yang akan mendatanginya. Jika seorang pria terus menerus di datangi seorang wanita cantik, bukankah pada akhirnya ia bisa pindah ke lain hati? Segala macam prasangka buruk mulai terbayang di pikiran Anne.
Ia tampak menghela nafas panjang sambil berjalan keluar kampus. Dengan amplop putih yang masih berada di genggamannya.
Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Kenapa semua harus terjadi sekarang saat ia mulai mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia juga tak mungkin memaksakan egonya.
Biarlah semua berjalan sesuai dengan takdir. Biarkan semua mengalir kemanapun arus membawanya.
***************
Rumah utama keluarga Wiguna.
" Kenapa kau duduk sendirian di sini? Wajahmu juga ditekuk terus sedari tadi? Apa kau rindu suamimu?" tanya Anne ketika menghampiri Anindya yang duduk seorang diri di kolam renang.
Anindya tampak menghela nafas lalu tersenyum.
"Iya! Aku memang merindukannya. Ini kali pertama ia pergi jauh dariku. Walaupun itu hanya untuk beberapa hari saja, tetap saja aku merindukannya. Dia pria pertama yang kucintai. Jujur aku tak tahan jika harus berjauhan dengannya. Apa menurutmu aku berlebihan?" tanyanya balik.
"Tentu saja tidak. Aku juga pasti akan merindukan seseorang jika ia jauh dari ku. Apalagi orang itu adalah pria yang ku cintai." Anne terdiam sesaat ketika mengingat sesuatu.
"Boleh aku bertanya padamu?" lanjutnya.
"Tentu saja boleh! Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Anindya.
"Bagaimana kau tahu bahwa kau mencintainya?" tanyanya.
"Ehm... bagaimana, ya? Aku juga tidak tahu bagaimana. Aku hanya tahu jika aku tak bisa jauh darinya. Aku selalu merindukannya ketika aku jauh darinya. Aku selalu ingin berada di dekatnya. Aku juga tidak suka ketika melihat ia dekat dengan wanita lain. Aku hanya tahu itu. Aku pikir itu cinta. Jika harus menyebutkan alasannya, maka aku tidak bisa menjelaskannya." jelas wanita itu.
"Begitu, ya! Kenapa hal itu terdengar rumit. Aku jadi tidak mengerti!" sahut Anne bingung.
Anindya tampak tertawa. "Kenapa kau jadi bingung? Apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Anindya pada sahabatnya itu.
"Ehm...! " ia tampak berpikir. "Entahlah! Aku juga tidak tahu." lanjutnya ragu.
"Kenapa kau bisa tidak tahu? Ehm.. apa ini tentang Arkan?" Anindya tampak berbicara dengan hati-hati.
Anne hanya tersenyum lirih.
"Kau menyukainya?" Anindya mulai penasaran dengan jawaban Anne.
"Aku juga tidak tahu. Aku bingung menentukan perasaan ku. Ini kali pertama bagiku. Aku tidak punya pengalaman tentang hal ini sebelumnya."
"Begini. Mungkin aku bisa sedikit membantumu."
"Bagaimana?" tanya Anne penasaran.
"Apa kau memikirkannya saat ia tak berada di sampingmu?" tanyanya.
Anne tampak berpikir sesaat. "Terkadang aku memikirkannya."
Anindya tampak tersenyum. Ia kembali bertanya. "Lalu apa kau merasa canggung atau risih ketika berdekatan dengannya?"
"Aku lebih merasa canggung. Karena dia terlalu.. aku rasa kau tahu apa maksudku. Kau juga pasti mengalaminya, kan?"
__ADS_1
"Iya. Aku sepertinya tahu." Anindya tampak tersenyum. "Lalu apa kau pernah merindukannya ketika jauh darinya? "
"Iya... terkadang."
"Aku rasa kau tahu tentang bagaimana perasaanmu padanya. Tetapi kau tampaknya masih belum yakin sepenuhnya jika kau menyukainya. Atau mungkin sebenarnya kau ragu dengan perasaanmu sendiri karena kau merasa dirinya terlalu sempurna untukmu. Sehingga kau tak berani untuk mengakui perasaanmu sendiri." tebak Anindya.
"Bukannya tidak berani. Aku hanya ragu untuk melanjutkannya."
"Melanjutkan apanya? Kau bahkan belum mencobanya. Apa yang kau takutkan? "
"Sebenarnya ada sedikit masalah. Kau tahu pengajuan beasiswa ku di terima. Mungkin aku akan melanjutkan pendidikan ke Amerika tahun depan jika aku bisa lulus dalam tahun ini. Dan mungkin aku perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan kuliahku di sana."
"Apa karena hal itu sehingga kau tak berani untuk mengakui perasaanmu karena kau takut dikecewakan olehnya?"
Anne mengangguk.
"Apa Arkan juga menyukaimu?"
Anne mengangkat bahu atas ketidaktahuannya. Arkan juga tak pernah mengatakan padanya jika ia menyukainya. Ia hanya mengatakan jika ia bisa menunggunya hingga Anne siap menikah dengannya. Hanya itu.
Ia mengatakan hal itu pada Anindya. Dan Anindya mengerti kenapa Anne ragu dengan perasaannya.
"Apa kau pernah bertanya padanya?" tanya Anindya.
"Tidak."
"Begitu, ya! Mungkin dia juga butuh waktu karena ia juga belum merasa yakin dengan perasaannya padamu."
"Mungkin begitu. Tetapi jika ia belum yakin, kenapa ia mengatakan jika ia bersedia menungguku?"
"Aku juga tidak bisa menduganya?"
......
"Apa selama ini dia perhatian padamu?" tanya Anindya lagi.
Anne seketika teringat akan perlakuan Arkan padanya beberapa minggu belakangan ini. Rasanya pria itu memang selalu perhatian padanya walaupun tidak menunjukkannya dengan jelas.
"Iya. Begitulah!"
Keduanya kembali diam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Biarkan saja semua mengalir apa adanya. Kita ikuti saja kemana arus membawa kita. Jika sudah takdir, maka kita juga akan sampai ke tujuan kita." ucap Anindya.
Anne tersenyum simpul.
****************
Malam hari ketika Anindya hendak ke dapur untuk mengambil air minum, ia bertemu dengan Arkan yang baru saja pulang.
"Kakak! Kenapa belum tidur?" tanya pria itu padanya.
"Aku merasa haus. Air minum di dalam kamar sudah habis. Jadi aku terpaksa keluar. Kau baru pulang?"
"Iya.Aku baru saja selesai mengoperasi pasien ku."
__ADS_1
"Oh, begitu! Baiklah! Apa kau sudah makan?"
"Sudah, kak! Aku sudah makan di rumah sakit."
"Baiklah! Pergilah beristirahat. Kau pasti sangat lelah. Aku juga harus minum." ucap Anindya.
"Baiklah, kak!"
Sebelum pergi, Anindya teringat sesuatu.
"Arkan!" panggilnya.
"Ada apa, kak?"
"Ehm.. ini soal Anne." ia tampak ragu menjawabnya.
"Anne? Ada apa dengannya, kak? Apa dia baik-baik saja? " Arkan terlihat cemas.
"Tidak. Dia baik-baik saja. Kau tak perlu cemas."
"Syukurlah! Lalu?"
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Seorang pria mungkin merasa jika menunjukkan perasaannya hanya dengan perbuatan saja itu sudah lebih dari cukup. Tetapi nyatanya seorang wanita tetap membutuhkan pengakuan agar bisa lebih meyakinkan dirinya jika ia dicintai. Aku hanya berharap jika apa yang kau lakukan pada Anne selama ini karena kau memang punya perasaan padanya. Bukan di dasari atas rasa iba atau hal lainnya."
Arkan tersenyum. "Aku mengerti, kak! Aku tahu apa yang kulakukan. Jadi kakak ipar tak perlu cemas."
"Baiklah! Aku percaya padamu."
****************
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
__ADS_1
Terima kasih😘💕