My Dearest Wife

My Dearest Wife
Malam pertama yang menyakitkan


__ADS_3


Anindya baru saja mengganti pakaiannya. Gaun tidur selutut itu terlihat pas di tubuhnya. Namun bagian bahunya terlalu terbuka karena hanya di topang dengan tali yang tipis. Namun ia tak punya pakaian lain, sehingga ia tetap memakai pakaian itu. Lagipula tak ada yang akan tertarik untuk melihatnya.


Ia lalu keluar dari dalam kamar mandi. Ia kaget ketika mendapati suaminya sedang membuka kemeja yang ia gunakan tadi dan hanya menyisakan celana panjang saja.


Anindya seketika memalingkan wajahnya karena malu melihat pemandangan tubuh suaminya itu. Padahal. sebenarnya ia kagum karena tubuh pria itu sangat sempurna hingga mengganggu pikirannya.


Mengapa ia selalu menunjukkan tubuhnya di hadapanmu? Apa ia tak merasa risih sedikitpun? batinnya.


Adrian lalu naik ke atas ranjang dan duduk bersandar disana. Ia bahkan terus memperhatikan Anindya. Anindya merasa salah tingkah saat di perhatikan seperti itu. Ia masih mengalihkan pandangannya. Ia duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya yang masih agak basah karena ia tak membawa pengering rambut.


Ia melirik kearah suaminya yang ternyata masih menatapnya. Aduh! Kenapa ia terus saja menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh? Dan kenapa ia tidak tidur saja?


Anindya lalu beranjak dari tempat duduknya. Tadinya ia ingin tidur, namun ketika melihat Adrian seperti itu, ia langsung mengurungkan niatnya. Ia membuka pintu yang mengarah ke balkon dan memilih untuk berdiri di sana.


Tak lupa ia menutup pintu balkon itu sebelumnya. Anindya benar-benar merasa salah tingkah ketika diperhatikan seperti itu.


Tapi udara di luar cukup dingin. Apalagi setelah hujan turun beberapa saat yang lalu. Belum lagi ia hanya memakai pakaian tidur yang cukup terbuka saat ini. Tanpa sadar ia memeluk dirinya sendiri.


Namun beberapa saat kemudian, ia kaget saat merasa ada seseorang yang melingkarkan tangan di pinggangnya. Ia tahu bahwa orang itu tak lain adalah Adrian.


"Tu... tuan! Apa yang kau lakukan? Tolong lepaskan aku!" pintanya sambil meronta, berharap pria itu melepaskannya.


Namun Adrian malah semakin mempererat pelukannya. "Aku sudah menunggu begitu lama. Dan kau malah berdiri disini." ucapnya di telinga Anindya.


Anindya seketika merasa ada sebuah gairah yang muncul dari dalam dirinya ketika merasakan hembusan nafas pria itu di telinganya. Namun ia mencoba untuk membentengi dirinya sendiri. Karena ia tahu jika ini adalah sebuah kesalahan.


Sementara Adrian terus menciumnya dengan perlahan. Setelah puas bermain di area telinganya yang ternyata begitu sensitif, ia beralih ke bagian leher jenjangnya.


"Tuan! Lepaskan aku! Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi seperti ini. Bukankah kau bilang jika kau ingin mengakhiri pernikahan ini dalam waktu setahun? Dan kau juga akan menjaga jarak dariku selama pernikahan ini?" tanyanya mencoba untuk mengingatkan Adrian.


"Aku tahu. Tapi kini aku ingin mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak ingin melepaskanmu." sahutnya di sela-sela aktivitasnya.


"Jangan lakukan ini tuan! Bukankah kau tidak pernah menyukaiku?" Anindya masih berusaha untuk mengalihkan.


"Apa aku pernah bilang jika aku tidak menyukaimu?" tanyanya balik.


Anindya menggelengkan kepalanya. Adrian tampak menyeringai. Ia begitu menginginkan wanita itu saat ini. Ia sudah tak sabar ingin menghabiskan malam bersamanya.

__ADS_1


Adrian lalu membalikkan tubuh Anindya hingga kini ia bisa melihat wajah cantik istrinya itu. Ia merengkuh dagunya agar wanita itu bisa menatapnya.


"Aku menginginkanmu Anindya. Apa kau bersedia melakukannya denganku malam ini?" tanyanya terlebih dahulu.


"Tu.. tuan! Kau mungkin akan menyesal setelah melakukannya nanti. Jadi aku mohon pikirkan hal ini baik-baik. Aku bukan wanita yang pantas untuk kau nikahi. Dunia kita berbeda. Pernikahan ini juga terjadi karena keterpaksaan. Jadi aku mohon jangan lakukan ini padaku, tuan!" pintar Anindya.


Adrian melihat air mata jatuh dari kedua sudut matanya. Wanita itu tampak sangat takut. Adrian tentu tahu jika ini adalah pengalaman pertama baginya. Anindya juga masih begitu muda. Wajar jika ia merasa takut. Namun gairah untuk memiliki wanita itu seutuhnya, membuat Adrian tak menghentikan perbuatannya.


"Aku tidak akan menyesal!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


Ia mencium bibir Anindya untuk kedua kalinya. Kali ini lebih dalam. Hingga membuat Anindya kesulitan untuk bernafas. Ia bahkan tak perduli dengan air mata yang membasahi wajah Anindya.


Adrian merengkuh pinggangnya dengan satu tangan. Sementara satu tangan lainnya memegang tengkuknya agar semakin memperdalam ciuman mereka.


Anindya mungkin hanya bisa pasrah. Ia mencoba untuk mendorongnya, namun pria itu terlalu kuat. Ia bahkan menggiringnya hingga ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuh Anindya di sana.


Adrian memperhatikan wajah wanita itu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia merangkak naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya di atas tubuh wanita itu.


"Jangan lakukan ini, tuan!" pintanya sambil memohon padanya.


"Berhenti memanggilku tuan! Aku bukan majikanmu! Aku adalah suamimu. Dan aku berhak atas dirimu." sahutnya sinis.


"Aku hanya ingin bersamamu, Anindya! Jadi jangan menolakku." ucapnya lirih.


Ketika Anindya mendengar ucapannya itu, entah kenapa benteng pertahanannya mulai runtuh. Walau terpaksa ia akhirnya menyerah dan membiarkan pria itu mendapatkan apa yang ia inginkan.


Adrian mulai melanjutkan aktivitasnya begitu melihat tak ada perlawanan lagi dari wanita itu. Ia mulai menjelajahi bagian sensitif tubuhnya dengan penuh gairah. Menciumnya hingga meninggalkan bekas di beberapa titik. Anindya mengerang ketika ia melakukannya. Hal itu semakin membuat Adrian kehilangan akal.


Ia melucuti semua pakaian Anindya hingga tak ada yang tersisa. Begitupun dengan dirinya. Kini ia bisa melihat jelas bagian tubuh istrinya yang selama ini tak bisa dilihatnya. Walapun Anindya berusaha untuk menutupinya dengan kedua tangannya. Wanita itu juga memalingkam wajahnya.


Adrian seperti sedang bermain dengan sebuah boneka. Namun ia mengerti kenapa wanita itu bersikap demikian padanya. Karena ini adalah pengalaman pertama baginya.


Adrian terlebih dahulu mencium kening Anindya dengan lembut agar wanita itu tidak terlalu takut. Ia lalu membelai pipinya sebelum memberikan kecupan di bibir tipisnya.


Adrian ******* bibirnya dengan hati-hati. Kemudian beralih ke setiap bagian favoritnya. Setelah puas bermain-main di atas tubuh istrinya. Kini ia siap memulai bagian utamanya.


Anindya tanpa sadar mencakar punggung Adrian ketika suaminya itu mulai menyakiti bagian sensitifnya. Namun Adrian tak menghentikan perbuatannya ketika Anindya mengaduh kesakitan. Ia malah semakin terpacu untuk segera menyelesaikan urusannya.


Malam itu terasa sangat panjang bagi Anindya. Ia tak tahu apa yang akan dihadapinya esok hari. Apakah ini akan menjadi malam pertama sekaligus malam terakhir baginya? Ataukah sebaliknya, sebuah awal yang indah untuknya.

__ADS_1


Lagi-lagi ia hanya bisa pasrah. Pasrah akan semua hal yang terjadi pada hidupnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Makasih buat reader yang masih setiap nungguin updatenya setiap hari. Terima kasih juga buat semua yang udah mendukung karyaku ini.


Tetap sertakan:


like


komentar


vote


rate ya πŸ˜„


Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. πŸ˜ŠπŸ˜Šβ€πŸ’


-ThieaπŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1



__ADS_2