My Dearest Wife

My Dearest Wife
Kekasih ku?


__ADS_3

Tampaknya Adrian tidak ingin membuang kesempatan untuk bertemu sesering mungkin dengan istrinya. Beberapa hari belakangan ini ia selalu meminta Anindya membawakan makan siang untuknya ke kantor. Dan seperti biasa Anindya tidak dapat menolaknya karena pria itu terlalu memaksa.


Sebenarnya Anindya tidak merasa keberatan jika itu benar-benar menjadi makan siang biasa. Tetapi pada kenyataannya itu bukanlah hanya sekedar makan siang biasa saja, melainkan makan siang dalam konteks lain. Walaupun mereka benar-benar makan siang bersama setelah makan lainnya terlebih dahulu. ☺


Dasar Adrian yang tidak bisa jika tidak menikmati istrinya terlebih dahulu. Adrian selalu menggunakan kakeknya sebagai alasan. Karena Zein ingin cepat melihat cucunya lahir. Alhasil ia akhirnya mau juga. Tetapi akhirnya ia selalu malu sendiri jika masuk dan keluar kantor dengan pakaian yang selalu berbeda-beda.


Zein dan Sofia sepertinya menyadari hal tersebut. Tetapi mereka berpura-pura tidak memperdulikan hal itu karena takut jika Anindya akan merasa malu nantinya.


Seperti yang sedang terjadi siang ini. Anindya sedang meletakkan makanan di dalam wadah penyimpanan makanan untuk di bawa ke kantor. Ia sedang berada di ruang makan bersama Zein juga Sofia. Zein sedang memakan makanannya. Sementara Sofia membantu Anindya.


"Sepertinya tuan muda tak mau berpisah darimu walau sehari." sindir Sofia sengaja ingin menggoda Anindya.


"Ibu ini bicara apa!" Anindya tampak salah tingkah sambil tersipu malu. Ia sengaja menundukkan wajahnya agar ekspresi wajahnya tidak terlihat.


Sofia tampak tersenyum. "Tapi seperti ini juga baik. Itu menunjukkan jika hubungan kalian semakin baik. Benarkan tuan?" tanyanya memastikan pada Zein.


"Iya. Mungkin tidak lama lagi kakek akan mendengar suara tangisan bayi di rumah ini." Zein ikut menggodanya.


"Kakek bisa saja. Ehm.... sepertinya lebih baik Anin segera pergi. Ehm.. Anin pamit ya kek." pamitnya buru-buru pada Zein karena takut mereka semakin membuatnya salah tingkah.


Ia pun mencium pipi pria baya itu. "Sampai jumpa dua... mungkin tiga jam lagi..! Aku sayang kakek!" pamitnya sambil setengah berlari menjauhi mereka.


"Dasar anak itu!" Zein tertawa melihatnya.


Sofia juga ikut tertawa melihat tingkah lakunya. Namun tiba-tiba Zein merasa sakit di jantungnya. Untungnya itu hanya sebentar. Sofia langsung cemas ketika melihat pria baya itu memegangi dada kirinya.


"Apa jantung tuan sakit? Apa saya perlu panggil tuan Samuel atau tuan Arkan?" tanyanya panik.


Zein tak langsung menjawab karena menunggu sakitnya mereda. Setelah ia bisa mengontrol rasa sakitnya, ia pun meminta Sofia agar tidak panik. Ia juga memintanya untuk tidak menghubungi dokter maupun Arkan karena merasa jika itu hanyalah serangan ringan yang masih bisa diatasinya.


"Apa tuan yakin?" tanyanya memastikan.


"Iya. Kau tak pernah cemas. Aku baik-baik saja." jawabnya.


Sofia menurutinya. Ia membantu Zein untuk masuk ke kamar agar pria itu bisa beristirahat. Entah kenapa Sofia merasa jika semakin hari Zein terlihat tidak seperti biasanya. Kondisinya semakin menurun. Entah itu hanya perasaannya saja atau justru sebaliknya.


"Semoga tuan memang baik-baik saja!" gumamnya.


****************


Gedung Wiguna Group.

__ADS_1


Anindya baru saja terlihat memasuki area dalam gedung pukul dua belas siang. Anindya berjalan dengan canggung ketika beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Mereka adalah karyawan Adrian. Mereka tampak tersenyum sembari menundukkan kepala untuk memberi hormat padanya. Tampaknya mereka sudah mengetahui posisi Anindya di kantor ini. Termasuk kedua wanita yang bertugas di meja resepsionis, yang dulunya sempat melarangnya masuk. Sepertinya rumor memang mudah menyebar di manapun. Termasuk di kantor ini.


Anindya tak lupa membalas senyum mereka ketika melewatinya. Ia lalu memencet tombol lift khusus yang biasanya digunakan Adrian untuk naik ke lantai lima.


Ia langsung masuk begitu lift itu terbuka. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di sana. Adrian sudah terlihat tak sabar menunggu di depan ruangannya. Dia terlihat tidak senang. Apalagi melihat Anindya menyapa Maura terlebih dahulu daripada dirinya. Ia tak suka jika wanita itu menomorduakan dirinya dengan orang lain kecuali kakeknya tentunya.


"Kau sengaja menguji kesabaran ku, ya?" tanyanya begitu Anindya menghampirinya.


Anindya tersenyum lebar. "Menguji bagaimana maksudnya?" tanyanya bingung.


Anindya memang wanita yang polos. Ia terkadang merasa sulit untuk memahami sesuatu yang di ucapkan oleh suaminya tersebut. Dan menangkap maksud perkataannya.


"Ayo! Aku akan menjelaskannya di dalam." ajaknya sambil menarik wanita itu masuk ke dalam ruangannya lalu menutup pintu itu rapat-rapat.


Maura hanya bisa menduga-duga apa yang terjadi di dalam sana.


****************


Sementara di sisi lainnya pada waktu yang bersamaan Anne tampak menunggu seseorang di sebuah c**offee shop di tengah kota.


Ia sedang menunggu Arkan. Mereka berdua janjian untuk bertemu di sana. Karena waktu kerjanya yang tak menentu, Arkan terpaksa harus mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan wanita itu karena sudah terlanjur mengajaknya. Lagipula ia sangat memerlukan bantuan dari wanita itu. Jarak c**offee Shop tersebut cukup dekat jika dijangkau dari rumah sakit tempat Arkan bekerja.


Sudah hampir satu jam lamanya Anne menunggu di sana. Kopi yang di pesannya juga hampir habis. Namun Arkan belum juga menampakkan dirinya.


Perutnya sudah terdengar ribut dari tadi minta diisi makanan. Tapi makanan dan minuman di cafe ini cukup mahal. Ia tak punya cukup uang untuk memesan makanan. Kenapa tidak bertemu di tempat yang lebih murah saja.


Ia terlihat bingung. Ingin menghubungi tapi takut jika pria itu menganggapnya wanita yang tak sabaran. Ia pun berpikiran positif. Mungkin ada pasien darurat yang harus segera mendapatkan penanganan. Akhirnya ia memilih untuk menunggu beberapa saat lagi.


"Tapi aku lapar! Ehm.. Bagaimana jika aku pesan makanan lebih dulu. Tapi bagaimana jika dia tidak datang, siapa yang akan membayar tagihannya? Ah.. sudahlah! Tunggu saja." gumamnya tak karuan.


Anne tak henti menghentakkan kakinya perlahan karena tak sabaran. Pelayan cafe juga sudah beberapa kali menanyakan menu padanya. Hingga akhirnya ia bisa bernafas lega setelah melihat Arkan memasuki coffee shop. Pria itu tampak lelah seperti habis berlari. Nafasnya tampak berhembus dengan cepat.


"Maaf! Aku terlambat! Kau pasti sudah menungguku sedari tadi, bukan?" Arkan langsung duduk di hadapannya.


"Tidak apa-apa! Aku juga baru saja datang." ucapnya berbohong.


"Benarkah? Kau sudah makan?" tanyanya.


Anne menggelengkan kepalanya. Ia merasa amat sangat lapar saat ini. Tapi ia tak menunjukannya di hadapan Arkan.


Pria itu lalu memanggil pelayan dan memesan beberapa menu makanan padanya. Setelah selesai mencatat pesanan mereka, ia segera pergi.

__ADS_1


"Maaf! Tadi ban mobil ku pecah. Sehingga terpaksa aku harus ke bengkel terlebih dahulu. Kau tidak marah, kan?" tanyanya.


"Tentu saja tidak, tuan! Aku tidak mungkin marah padamu." jawabnya sambil tersenyum. Jika aku marah padamu, kau bisa saja memecat ku.


"Hei! Aku sudah katakan padamu. Jangan memanggil ku tuan jika sedang berada di luar. Panggil saja nama ku. Itu terdengar lebih baik."


"Aku tidak enak jika memanggil nama mu. Bagaimanapun juga kau adalah majikan ku." ucapnya canggung.


"Tapi saat ini aku bukanlah majikan mu, melainkan kekasih mu. Mengerti? Jadi panggil saja nama ku." ucapnya yang membuat Anne terkejut seketika.


"Kau bilang apa barusan? Kekasih ku?" tanya Anne tak percaya.


Arkan hanya tersenyum memandangnya. Sementara Anne tampak sangat bingung saat ini.


****************


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1




__ADS_2