
Ketika hati yang tertutup kini terbuka kembali.
Ketika cinta yang pergi kini datang kembali.
Akankah berakhir dengan sebuah kebahagiaan?
-Thieaπ₯π₯
*
Matahari sepertinya masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Beberapa orang mungkin sudah bangun untuk memulai rutinitas mereka, sementara yang lainnya mungkin masih menikmati berada di peraduannya.
Seperti sepasang pria-wanita yang masih berada di atas ranjang mereka dengan hanya berbalut selimut putih. Si pria terlihat memeluk erat wanita itu dari belakang. Ia seperti takut kehilangan wanita itu.
Mereka menghabiskan malam mereka dengan penuh gairah. Mungkin lebih tepatnya hanya pria itu saja yang menikmati malamnya dengan semangat. Sementara si wanita hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan pria itu terhadapnya.
Mereka adalah Adrian dan Anindya. Bagi Adrian itu adalah malam pertama yang berarti untuknya. Namun bagi Anindya, malam itu benar-benar mengerikan baginya. Adrian menikmati tubuhnya tanpa ampun. Bahkan pria itu tak memperdulikan rasa sakit yang dirasakannya.
Anindya merasa jika hubungan ini tak lain adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya mereka melakukannya. Namun semua sudah terjadi dan ia tak bisa mengulangnya kembali.
Adrian masih mencintai wanita itu. Jika tidak ia tak akan menuliskan namanya di tubuhnya.
Anindya merasa seperti wanita yang sudah merebut pria itu darinya. Apakan dirinya memang sengaja di jadikan pelampiasan semata.
Adrian lebih dulu terbangun dari Anindya. Tidak seperti biasanya. Wajahnya tampak sangat ceria pagi ini. Ia sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya walau dengan cara paksa.
Ia membuka matanya dan melihat punggung Anindya yang terbuka. Mereka berdua tidak menggunakan sehelai pakaian pun saat ini. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh selimut..
Ia tersenyum ketika melihat wanita yang ada di pelukannya itu. Ia lalu mencium bahunya dan kepalanya dengan lembut. Ia tak ingin wanita itu terbangun. Adrian tahu jika wanita itu kelelahan akibat perbuatannya kemarin malam.
Ia beranjak dari tempat tidurnya. Lalu ia tiba-tiba saja merasakan nyeri di punggungnya.
Ia lalu melihatnya di cermin. Ada banyak bekas cakaran kuku Anindya di sana.
"Wanita itu benar-benar liar. " gumamnya sambil tersenyum.
Namun seketika senyumnya memudar ketika ia melihat sesuatu di punggungnya.
Astaga, ia melupakan hal itu selama ini. Adrian lalu berpikir, apakah Anindya mengetahui hal itu.
Shit! Kenapa aku bisa lupa? batinnya sambil mengusap kasar wajahnya.
Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Anindya yang sebenarnya sudah lebih dulu bangun darinya, membuka matanya ketika mendengar pintu kamar mandi yang sudah di tutup.
Kau masih mencintainya, kan? Tanpa ia sadari air matanya lagi-lagi menetes dari kedua sudut matanya.
****************
Adrian mengantarkan Anindya pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor.
Di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam membisu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
Sesampainya di rumah, Anindya langsung keluar dari mobil tanpa berpamitan dengan suaminya itu.
"Ada apa dengannya?" gumamnya sambil melajukan mobilnya kembali ke kantor.
Sementara Anindya langsung masuk ke dalam rumah. Ia lebih dulu menyapa Zein dan Sofia yang sedang sarapan di ruang makan.
"Kau sudah kembali?" tanya Zein.
"Iya kakek. Aku baru saja kembali." jawabnya.
__ADS_1
"Dimana Adrian? Kenapa kau kembali seorang diri ke rumah ini?" tanyanya lagi setelah menyadari jika Anindya hanya sendirian di sana.
"Tidak kakek. Tuan.. maksudku Adrian yang mengantarkan Anin pulang. Setelah itu ia langsung pergi ke kantor karena ada urusan penting yang harus ia kerjakan." jelasnya.
"Oh begitu, ya! Baiklah Anin. Apa kau sudah makan?"
"Sudah kakek. Anin sudah makan tadi sebelum pulang. Ehm... kakek, Anin pamit ke kamar dulu untuk mengganti pakaian, ya!" ucapnya.
"Baiklah!" sahut Zein.
Anindya lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Zein dan Sofia tampak saling pandang.
"Tuan! Saya rasa hubungan mereka semakin lama semakin renggang." ucap Sofia.
Zein juga menyadari hal itu. "Iya! Aku tahu. Ini cukup sulit."
****************
"Mau apa kau kemari? Apa kau sakit?" tanya Samuel ketika melihat Adrian tiba-tiba masuk ke ruangannya.
Tadinya Adrian mau ke kantor, namun tiba-tiba saja ia berubah pikiran. Ia ingin bertemu dengan Samuel terlebih dahulu.
"Tidak.Aku hanya ingin berkonsultasi padamu. Aku sedang bingung." jawabnya lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Samuel lalu beranjak dari kursinya dan ikut duduk di sofa bersama sahabat baiknya itu.
"Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya dengan istrimu?" tanyanya sembari menebak.
"Ck. Bagaimana kau tahu tentang itu?" tanyanya balik.
"Bisa ku lihat dari raut wajahmu. Apa kau mulai jatuh cinta padanya?" tebaknya.
"Jangan asal bicara. Aku sama sekali tidak jatuh cinta padanya." sanggahnya.
"Terserah kau saja!"
"Baiklah! Ada apa sebenarnya?" tanya Samuel.
"Aku ingin mempertahankan pernikahanku. Apa menurutmu tindakanku sudah benar?"
Samuel tersenyum. "Kau sudah melakukan sesuatu yang benar, Adrian. Tapi kau sudah yakin, kan?" tanyanya memastikan.
"Iya.Tentu saja aku yakin. Aku dan dia bahkan sudah...... " Adrian tak melanjutkan perkataannya begitu sadar jika itu adalah masalah pribadinya.
Namun tentu saja Samuel paham apa yang ingin dikatakan Adrian.
"Wah! Wah! Kau sudah menjadi pria sejati ternyata. Sahabatku ini sudah beranjak dewasa. Selamat ya!" ledeknya.
"Ck.. Sepertinya aku sudah salah memilih orang."
Samuel terkekeh melihat raut wajah sahabatnya itu yang berubah masam.
" Baiklah! Lalu apa yang membuatmu bingung?" tanyanya lagi.
"Sepertinya ia marah padaku. Karena aku sedikit memaksa ketika melakukannya. Lalu.. aku rasa ia melihat tato di punggungku." jelasnya.
"Kau belum menghapus tato itu. Aku pikir saat kau mengakhiri hubunganmu dengan Natasha, kau sudah menghapus segala kenanganmu dengannya termasuk tato itu. Apa kau tidak memikirkan perasaan istrimu?"
"Aku lupa jika aku masih memilikinya. Bukannya sengaja." sanggahnya.
"Apa kau seorang anak kecil yang melupakan hal sepenting itu? Dia mungkin akan berpikir jika kau hanya mempermainkannya saja."
"Lalu aku harus apa?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu bodoh jika menyangkut hal asmara. Hapus tato itu secepatnya. Jika kau ingin memulai sebuah hubungan baru, maka kau harus menghapus segala hal yang menyangkut masa lalumu. Itu saja kau tidak mengerti." gerutunya kesal.
"Jika kau memang sepintar itu, maka carilah seorang wanita." ledek Adrian.
" Aku belum butuh wanita saat ini." sanggahnya. "Ck... Kenapa kau malah mengurusiku. Urus saja urusanmu sendiri. "
Adrian tersenyum. Namun kemudian ia tampak berpikir. Apa yang dikatakan Samuel memang benar.
"Oh iya, kapan kau pergi ke Amerika?" tanya Samuel kemudian.
"Besok pagi."
"Kau pergi sendiri? "
"Iya! Aku hanya sendiri."
"Kenapa tidak membawa istrimu?"
"Aku punya urusan yang perlu ku selesaikan disana. Aku tidak bisa membawanya."
"Urusan apa?" tanya Samuel penasaran.
"Hanya urusan pekerjaan."
Samuel hanya menganggukkan kepalanya.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Makasih buat reader yang masih setiap nungguin updatenya setiap hari. Terima kasih juga buat semua yang udah mendukung karyaku ini.
Tetap sertakan:
like
komentar
vote
rate ya π
Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. ππβ€π
-Thieaπ₯π₯π₯
__ADS_1