
Anindya kembali kerumahnya dengan membawa seorang gadis kecil. Itu adalah Ayu, anaknya ibu Sari. Hanya dia saja yang ada dirumah pada jam segini. Karena kedua orangtuanya sedang sibuk berjualan di pasar.
Anindya melihat Adrian yang berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding. Pria itu tampak kesal, mungkin karena menunggu lama. Iya tadi dia harus membantu Ayu untuk mencari kunci, karena ibunya yang menyimpannya. Mereka butuh waktu lama untuk menemukannya. Wajar saja jika pria itu tampak kesal saat ini.
"Aku pikir kau melarikan diri." sindir Adrian setelah melihatnya kembali.
"Maaf! Tadi aku mencari kuncinya terlebih dahulu!" jelasnya sambil membuka pintu rumahnya itu.
Rumah itu tampak rapi walaupun sudah ditinggal berbulan-bulan. Sepertinya bu Sari selalu membersihkan rumah itu setiap hari. Rumah itu masih terlihat sama seperti saat ia tinggalkan terakhir kalinya. Tidak ada satupun yang berubah.
Adrian memperhatikan setiap sudut rumah itu. Rumah itu bisa dikatakan jauh dari kata layak. Bahkan hanya ada satu kamar saja disana. Apa wanita itu tinggal ditempat seperti ini?
Adrian melirik kearah Anindya yang sedang duduk di atas ranjang kecil yang ada di dalam kamar.
Anindya memperhatikan ranjang yang sedang didudukinya itu. Dulu neneknya selalu berbaring disana saat ia merasa lelah. Ia sangat merindukan saat-saat itu. Ia lalu beralih ke lemari pakaian dan membukanya. Pakaian neneknya dan juga ibunya masih tersimpan rapi disana.
"Apa ibumu yang selalu membersihkan rumah ini, yu?" tanyanya pada Ayu yang juga berada di dalam kamar itu.
"Iya kak. Jika ibu punya waktu, maka dia akan membersihkan rumah ini. Ibu bilang, rumah ini menyimpan banyak kenangan indah bagi kakak. Sayang jika dibiarkan begitu saja. Ibu berpikir jika suatu saat kakak pasti akan kembali ke rumah ini. Jadi ibu merawat rumah ini dengan baik. Ternyata ibu benar, kakak kembali." jelas gadis remaja itu.
"Terima kasih karena sudah merawat rumah ini dengan baik." ucap Anindya sambil memeluk gadis itu.
"Oh ya! Apa kakak dan kakak ipar akan menginap disini?" tanya Ayu.
"Ehm... entahlah. Kakak juga belum tahu." ucapnya.
"Kita akan menginap beberapa hari disini. Persiapkan kamar untukku." ucap Adrian tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.
Anindya tampak bengong sekaligus bingung."Maakaudmu kita akan menginap disini? Dirumah ini?" tanyanya memastikan.
"Iya. Apa kau punya rumah yang lain?" tanya Adrian balik.
Anindya menggelengkan kepalanya. "Tapi rumah ini hanya punya satu kamar. Apa tidak sebaiknya kita pulang saja. Lagipula bukankah tadi kau bilang jika kau akan keluar kota?"
"Kita memang sedang diluar kota bukan?"
Anindya semakin merasa bingung dengan sikap aneh pria itu. Kenapa ia tiba-tiba ingin berada di kampung halaman Anindya. Sepertinya memang ada sesuatu yang salah dengan otaknya.
****************
Setelah membereskan kamar, Anindya berpamitan pada Adrian untuk mengunjungi makam ibu dan neneknya. Ajaibnya Adrian malah menawarkan diri untuk ikut dengannya. Ia beralasan jika ia ingin mengenal keluarga istrinya itu. Sebelum ke pemakaman, Anindya mampir ke toko bunga untuk membeli bunga.
Letak pemakaman itu sangat dekat. Hanya sepuluh menit saja jika ditempuh dengan berjalan kaki. Adrian hanya diam saja mengikuti wanita itu dari belakang. Mereka hanya pergi berdua saja.
__ADS_1
Sesampainya disana, Anindya langsung menuju mekam ibu dan neneknya. Namun, Adrian tidak ikut masuk. Ia hanya menunggunya diluar.
Ibu, nenek. Apa kalian bahagia diatas sana? Pasti kalian bahagia, kan? Aku sangat merindukan kalian. Aku sudah menikah sekarang. Tapi, pernikahan itu hanya sementara. Apa kalian lihat pria yang datang bersamaku? Iya, dia adalah suamiku.
Ibu, nenek! Aku ingin pergi bersama kalian. Tapi, jika aku melakukan hal itu, kalian pasti akan merasa sedih, bukan?
Aku menyayangi kalian. Ucap Anindya dalam hatinya sambil meletakkan dua buket bunga mawar putih diatas makan keduanya.
Oh ya ibu! Apa ibu keberatan jika aku mencari ayah suatu hari nanti?
Anindya hanya diam setelah itu dan melihat kedua nisan dihadapannya. Adrian memperhatikannya dari kejauhan.
****************
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Adrian baru saja selesai mandi. Ia memakai kaos lengan pendek abu-abu dan celana panjang berwarna senada. Sementara Anindya sedang ke rumah ibu Sari untuk menyiapkan makan malam. Mereka tidak punya persediaan makanan untuk dimakan. Mungkin dia akan berbelanja ke pasar besok pagi.
Sebelumnya mereka sudah mengabari Zein jika mereka sudah tiba ditempat tujuan mereka. Namun, Adrian melarang Anindya untuk memberitahukan keberadaan mereka yang sebenarnya pada pria baya itu. Entah apa alasannya. Anindya hanya menurut saja padanya.
Saat sudah selesai dengan masakannya, Anindya memanggil Adrian untuk makan malam bersama di rumah bibi angkat Anindya itu.
Sebenarnya ia malas jika harus makan malam dengan orang yang belum dikenalnya. Tapi jika menolak, itu akan menyinggung perasaan mereka. Lagi-lagi ia keluar dari dirinya yang biasa.
*
"Apa kau sudah berhubungan lama dengan mereka?" tanya Adrian saat mereka sedang berjalan menuju rumah.
"Iya. Sejak aku dan ibuku pindah ke desa ini. Mereka lebih dulu mengenal nenekku." jelasnya. "Mereka sangat baik. Sejak ibu meninggal, mereka mengizinkan aku bekerja dengan mereka untuk membiayai sekolahku. Mereka sudah menganggapku sebagai anak mereka sendiri." jelasnya panjang lebar.
Adrian hanya diam menanggapinya.
"Apa tidak ada yang bisa dilihat di desa ini?" tanyanya.
"Tentu saja ada. Ada pantai yang bagus disini. Kau bisa menyelam juga jika kau mau. Ehm... ada pasar malam dan layar tancap juga. Apa kau mau melihatnya, tuan?"
"Besok saja. Aku lelah. Siapkan kamarku!" perintahnya sambil berjalan mendahului Anindya.
"Aduh! Aku lupa menyiapkan kamar untuknya." gumamnya sambil menepuk kepalanya. "Lagipula kenapa juga dia ingin menginap di rumahku. Padahal aku sudah menawarinya tidur di penginapan saja. Dasar pria aneh." lanjutnya.
*
"Apa kau yakin mau tidur disini, tuan! Apa tidak sebaiknya kau tidur di penginapan saja. Memang kondisi penginapan itu tidak sebanding dengan kamar tidurmu. Tapi setidaknya itu masih jauh lebih baik daripada kasur ini." jelasnya.
"Jika aku bilang di sini ya di sini. Kau tentu sudah tahu jika aku tidak suka di bantah." ucapnya.
__ADS_1
Anindya seketika menghela nafasnya. "Baiklah! Tapi jangan salahkan aku jika kau merasa tidak nyaman." ucapnya lalu meninggalkan Adrian di kamar itu untuk mengambil kasir tipis miliknya.
Tak lama ia kembali ke kamar dengan membawa kasur kesayangannya yang sudah menemaninya selama ia tinggal dirumah ini.
Adrian sudah berbaring di atas ranjang dengan nyaman. Ia melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu. Ia membentangkan sesuatu di atas lantai. Semacam karpet kusam tapi terlihat seperti kasur. Ia meletakkan bantal di atas karpet itu. Lalu membuka lemari dan mengambil sehelai selimut yang juga terlihat usang.
Ia lalu berbaring di atas karpet itu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut usang itu. Sebelumnya ia terlebih dahulu memadamkan lampu kamar.
"Apa kau selalu tidur di lantai selama ini?" tanyanya penasaran.
"Ehm.. iya. Nenek yang biasanya menggunakan ranjang itu." jelasnya. Kenapa pria ini jadi banyak bertanya seharian ini?
"Kau senang hidup seperti ini?" tanyanya lagi.
"Iya. Tentu saja. Aku lebih senang dengan kehidupan seperti ini. Karena aku merasa menjadi ditiku sendiri.
" Lalu kenapa kau memilih untuk ikut dengan kakek dan meninggalkan tempat ini? " Tanyanya lagi.
Anindya hanya diam. Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa dia memilih untuk ikut dengan Zein. Saat itu ia hanya berpikir ia mungkin bisa melupakan kesedihannya dengan pindah dari desa ini.
Namun untuk alasan pastinya, ia juga tidak tahu. Ia hanya menjawab, "Entahlah! Aku juga tidak tahu."
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1